
Bab 247. Father in Law
.
.
.
...ššš...
" Hati yang gembira dapat memanjangkan umur, dan semangat yang patah mendekatkan kita pada sakit!"
.
.
Dananjaya
Dengan bersiul ia melihat penampilannya di spion mobil yang baru saja ia parkir di depan rumah Shinta. " Perfect!" ucapnya seraya mengerlingkan matanya sendiri.
Shinta pasti akan jijik jika melihat aksi Danan yang mirip seperti Rojali.
Dengan menyugar rambutnya arah belakang, pria itu berjalan dengan penuh semangat. " Tumben gerbangnya terbuka" gumamnya.
Sedari pagi , Sundari lupa menutup pintu gerbang rumah Shinta usai belanja saat subuh tadi. Tapi hal itu ia tepiskan begitu saja, ogah mau ambil pusing. Toh hanya pintu gerbang, mungkin saja para ART nya sedang keluar, begitu pikir Danan.
Danan langsung mendorongnya handel pintu itu, sebab rumah Shinta sudah seperti rumahnya sendiri, sejak ia memperkejakan dua orang ART disana. Terasa begitu happy.
Dengan hati yang berbunga-bunga, ia langsung mendorong pintu itu sembari berucap dengan penuh semangat.
''Shinta i'm com....." ucapnya terjeda karena mendadak pemandangan di depannya memudarkan semangatnya.
Seketika jalaran rasa aneh yang tiba-tiba muncul itu membuatnya tercekat, demi melihat pemandangan yang tersaji.
" Siapa orang itu?"
" Seenaknya saja peluk- peluk!"
Bukannya menjawab ia malah sibuk bertanya kepada dirinya sendiri.
" Pria kurang ajar!, siapa kamu?" ucapnya menatap tajam Rudi.
"Mas.." Ucap Shinta seraya menyusut air matanya, sesaat setelah ia dan Rudi saling melonggarkan pelukannya.
.
.
" Oh..jadi begitu!" Danan kini belingsatan. Orang yang sempat ia curigai dan ia katai tadi rupanya tak lain dan tak bukan adalah calon bapak mertuanya.
Damned!
" Emm kalau begitu, ke- kenalkan pak sa-saya Danan, Dananjaya!" Ia langsung menyambar tangan Rudi yang menganggur diatas pahanya. Menyalaminya dengan takzim.
Shinta hanya tersenyum penuh arti, sementara Rudi bingung dengan sikap pria yang tadi mengacuhkannya bahkan berkata tidak sopan, namun kini langsung berubah seratus delapan puluh derajat menjadi sok kenal sok deket.
" Maaf, tadi...saya ..kira..." tergagap- gagap saat mengutarakan perkataan. Danan menjadi grogi.
__ADS_1
Shinta tergelak demi melihat perubahan raut wajah Danan, pria itu mirip orang yang kedapatan mencuri mangga milik tetangga. Panik dan berwajah pias.
"Sudah-sudah, mending kalian ngobrol dulu ya. Aku barusan buat kue, sebentar aku ambilkan!"
" Hah, mati aku!" ucap Danan dalam hati seraya meneguk ludahnya.
Kecemburuan yang tidak beralasan, benar-benar membuatnya rugi. Rudi dengan wajah datar memindai tampilan Danan yang jelas menandakan bila pria itu berasal dari golongan berada.
" Apa kabar Pak?" Danan memberanikan diri mencoba memecah keheningan.
" Emmm" Rudi bergumam karena sebatang rokok yang ia gamit menggunakan bibirnya, seraya mengangsurkan sebungkus rokok kretek kearah Danan.
Danan menggeleng " Tidak merokok Pak!" tolaknya halus dengan wajah keranjingan. Hatinya harap-harap cemas. Menyesalkan mulutnya yang bak kehilangan kanfas rem. Slong dan tiada tertahan.
" Jadi...kamu..." Rudi berkata seraya menyilangkan kakinya yang saling bertumpuk. Menikmati bakaran tembakau bersama cengkeh, yang terbungkus rapi.
Menatap sinis dan mendakwa bengis ke arah Danan yang terlihat makin ciut nyali.
" Em...em....." Lidah pria itu tercekat, dan entah mengapa Shinta yang tadi bilang ke dapur untuk mengambil kue, mendadak ia rasakan seperti mengambil paket ke Merauke. Lama dan tak kunjung datang.
" Jawab!" ucap Rudi membentak dan membuat tubuh Danan terperanjat sekaligus berjingkat kaget.
Namun sejurus kemudian,
" HAHAHAHAHAHA!" tawa renyah nan menggelegar itu membuat Danan melongo, apa dia baru saja di kerjai oleh calon bapak mertuanya?
"" HAHAHAHAHAHA!" lagi, tawa itu kian keras. Rudi terlihat menikmati wajah bodoh Danan yang kebingungan. Rudi senang telah berhasil mengerjai Danan.
" Eh...!" Danan menelan ludahnya dengan menundukkan kepalanya, menggaruk kepalanya yang sebenarnya tak gatal.
" Saya ini sudah lama tidak ketemu Shinta, maklum saya dan ibunya Shinta sudah hidup sendiri-sendiri!"
" Saya kerja seadanya, kerap keluar pulau. Jadi..."
" Wah.. wah baru kenal sudah akrab. Nih Pak dimakan dulu, tadi Shinta sengaja buat" Shinta datang dengan lapis legit buatannya. Menginterupsi percakapan dua manusia lintas usia usia itu.
" Rejekinya Bapak sama mas Danan berarti ini!" ucapnya seraya meletakkan dua potong kue itu, kehadapan Danan dan Rudi.
" Emm Shin!" lirih Danan namun tak di dengar oleh Shinta.
" Kalau gitu Shinta masak dulu ya pak, mumpung bapak disini. Kalian lanjut ngobrol dulu aja, Shinta masih kangen sama bapak, kita makan siang bareng nanti ya Mas aku tinggal dulu, kamu temeni bapak dulu ya!"
Oh sial, entah berapa lama Danan akan melebur kecanggungan itu seorang diri.
Danan hanya melongo saat mendengar Shinta yang berbicara panjang dan lebar. Dia ingin bermesraan dengan wanita itu, tapi....ah sudahlah. Agaknya ia harus putar haluan untuk memenangkan hati mertuanya dulu.
" Dia cerewet seperti ibunya!" Ucap Rudi saat Shinta baru saja berlalu dari hadapan mereka.
Danan tersenyum kikuk.
"Kamu ini teman atau....??" Rudi menatap Danan penuh selidik.
" Sa saya.." Danan bingung.
"Saya calon menantu Bapak " ucapnya dalam hati yang cekikikan.
" Saya calon suami anak bapak!" ucapnya langsung menunduk malu.
__ADS_1
Mana ada menantu yang berani mengatai "pria kurang ajar 'kepada mertuanya yang memeluk anaknya sendiri. Ia sangat malu.
Rudi tersenyum " Saya tahu, kalau gak ada maksud, gak mungkin kamu datang ke rumah anak saya yang saat ini janda!"
Danan terdiam, " Anda tidak tahu aja pak, apa yang selama ini kami alami!"
" Emm maaf Pak, tapi bisa tahu rumah Shinta dari mana ya ?" Danan tentu saja penasaran. Melihat Rudi yang sepertinya pria santai, ia lantas berani untuk berbincang lebih jauh.
Pria itu terlihat menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Danan.
" Saya..."
Rudi lantas menceritakan semua masa lalunya, ia kini mau terang-terangan mengakui bila ia pernah bersalah.
Tanpa tanggung-tanggung dan tanpa rasa canggung, Rudi membeberkan semuanya. Semuanya hingga hatinya kini merasakan lega.
" Saya ini sudah bau tanah. Ibaratnya tinggal menunggu mati. Begitu tahu Shinta hidupnya seperti itu, niat saya mau mencari. Saya mau bawa pergi, karena semua yang ada disini kan milik Rangga!"
" Kamu tahu sendiri lah apa maksud ucapan saya!"
Danan manggut-manggut, mungkin pria itu takut anaknya akan di tendang dari rumah itu. Mengingat Shinta belum memiliki anak dari Rangga. Tak ada pegangan bagi Shinta untuk bertahan dirumah itu.
" Saya masih mampu untuk sekedar memberi makan Shinta!" ucapnya kembali menyesap rokok itu.
Sejenak Danan tertegun, tak mengira bila hidup Shinta serumit itu. Background orang tua yang tak harmoni, kesulitan hidup, persolan Rangga yang menutupi kebenaran, membuat Danan semakin iba kepada Shinta.
Berjanji dalam hati, untuk membahagiakan wanita itu degan segenap kemampuannya.
" Saya minta maaf Pak, karena tadi..." Danan tentu saja sungkan.
" Tadi kamu kira saya siapa?"
" Emmm..." Danan menggaruk kepalanya .
" Masa kamu cemburu sama orang tua peot kayak saya!" ucap pria itu santai.
" Saya kan gak lihat Pak, orang tadi anda mengahadap ke sana!" lagi-lagi hanya berani menjawab dalam hati.
" Kamu bener mau sama anak saya?" tanya pria itu.
"Hah?" Danan malah seperti seorang pesakitan yang akan di interogasi oleh sipir. Duduk dengan rapi dan sedari tadi memainkan ujung tangannya karena grogi.
" Kamu dan anak saya sudah cukup berumur. Kalau memang sudah cocok, saya setuju. Saya mau mati dalam keadaan tenang karena masih bisa menjadi wali kembali untuk anak saya. Sepertinya Tuhan memang menuntun langkah saya kesini agar bisa bertemu dengan pria pemalu seperti kamu!"
" Pemalu?" ucap Danan terkikik dalam hati. Rudi tidak tahu saja Danan se bar-bar apa.
" Ngomong-ngomong, kamu ini juga duda anak berapa?"
Danan mendelik demi mendengar Rudi yang menebaknya duda. Apa tampangnya terlihat setua itu?
.
.
.
.
__ADS_1