The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 85. Dukungan ke-dua


__ADS_3

Bab 85. Dukungan ke-dua


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"The cure for all bitterness is, sorry!"


( Obat dari segala kepahitan adalah, maaf!)


Ketergesaan Dhira dalam menerima lamaran bukan tanpa alasan. Perkelahian yang di lakukan oleh Arya dan Abimanyu sewaktu di parkiran hotel tempo hari, membuat Dhira harus segera mengambil langkah konkrit, agar Abimanyu menjauh, dan melupakan dirinya.


Ia tak ingin lebih jauh lagi membuat hati orang di sekelilingnya di penuhi rasa ketidaktenangan. Meski ia sendiri merasa terluka. Ya, mereka saling menyakiti lebih tepatnya.


Semenjak mamanya di lamar oleh pria bernama Arya, Raka kembali sering murung. Hari Sabtu ini, seperti biasa ia ikut bersama Indra, untuk menginap di rumah Kakung Joko.


Raka malam itu terlihat gelisah, dan tak bisa tidur. Ia terlihat menggulir ponselnya sedari tadi. Kembali memandangi gambar proses lamaran yang sarat akan kesedihan.


"Kok belum tidur?" Indra menanyai putranya. Pria itu baru saja memastikan gerbangnya terkunci, usai ngobrol dengan tetangga sebelah rumah pak Joko.


"Belum pa, belum ngantuk aja!" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya.


Indra kini sudah berangsur menjadi pribadi yang lebih baik, meski belum seluruhnya. Tempaan ujian hidup, juga karma rupanya mampu menyisihkan akar pahit dalam hatinya.


"Cerita ke papa. Raka lagi mikir apa. HM?" Indra kini mendudukkan tubuhnya di samping Raka. Mereka duduk di sofa ruang tamu, berteman pendarnya cahaya lampu yang temaram.


Raka mengangsurkan ponselnya kepada Indra. Ia pikir, papanya juga berhak tahu tentang hidupnya. Indra menerima benda itu dengan wajar, namun matanya membulat seketika tatkala ia melihat foto Dhira yang tengah dalam posisi di semati cincin, oleh seorang pria yang tak ia kenal.


"Raka, ini..." Kini Indra sudah bisa menebak. Anaknya itu bersedih karena memikirkan mamanya.


"Raka..., kamu gak suka jika mama menikah kembali? Indra menebak isi hati serta pikiran anaknya.


Raka menggeleng," Raka ikhlas pa, jika papa atau mama menikah lagi. Raka gak akan menghalangi" Raka berbicara serius.


Sejenak hati Indra kembali dirundung kesedihan, ia merasa sangat bersalah. Andai dulu ia tak bodoh. Namun Indra sebenarnya lebih ke tidak percaya, bukankah mantan istrinya itu tengah dekat dengan mantan Direkturnya?


Lantas, kenapa sekarang justru Dhira menerima lamaran orang lain?.


"Tapi Raka gak tenang, kalau mama menikah bukan sama orang yang mama suka, bukan sama orang yang mama mau!"


Indra tertegun, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa semuanya berubah haluan begini. Pembicaraan mereka rupanya di dengar oleh Pak Joko.


"Siapa yang mau menikah?" suara Pak Joko tiba-tiba muncul dari arah belakang.

__ADS_1


"Ayah!" Inda menoleh ke arah dimana, ayahnya berdiri. Sedikit terperanjat.


"Apa yang membuat kalian ngobrol larut malam begini?" seperti bisa menebak. Indra memberikan ponsel Raka kepada ayahnya, ingin menunjukkan hal yang menjadi dasar kegelisahan putranya. Keterbukaan adalah hal yang musti di perbaiki, belajar dari pengalaman masa lalu.


"Apa ini?" tanya pak Joko, saat menerima benda pipih di tangannya.


"Foto siapa ini?" ucap pak Joko kembali.


"Mamanya Raka baru saja melangsungkan lamaran!" terang Indra.


Pak Joko membulat matanya, ia bukan terkejut karena melihat Dhira yang tengah dilamar seseorang. Melainkan melihat wajah yang membuat dadanya berdetak kencang.


"Indra siapa ini?" Tunjuk Pak Joko, ke arah Bu Kartika.


"Dia ibunya Dhira pa...?


"Apa?" Pak Joko membulatkan matanya. Benar-benar terkejut.


...šŸšŸšŸ...


Indra berniat menemuinya Abimanyu Senin pagi ini. Ia sebenarnya sudah tidak ada hak untuk ikut campur masalah Dhira. Namun ia kesini adalah sebagi seorang papa dari Raka.


Devan yang melihat Indra agak terkejut, ia tahu bila di depannya itu adalah mantan suami Andhira. Dan sudah di pecat oleh bosnya itu.


" Mau apa anda kemari?" tanya Devan saat ia menemui Tiara, lantaran resepsionis nya itu melapor bila ada seorang pria yang memaksa untuk bertemu atasan mereka. Kekeuh dan ngeyel.


"Saya ingin bertemu Abimanyu!" jawab Indra santai.


"Kalau begitu aku akan menunggu!"


"Tuan, anda jangan cari masalah disini. Sebaiknya anda pergi!" ucap Devan yang suudzon, bila pria di depannya itu akan melayangkan protes terhadap bos-nya. Mengingat hubungan keduanya tak baik.


"Apa maksudmu?" baru saja akan mendudukkan tubuhnya di sofa di depan pintu kaca lebar itu, ia harus membalikkan badannya guna menemui assisten tengil di depannya itu.


"Saya tahu anda ad...." mereka saling tunjuk.


"Ada apa ini?" suara Abimanyu membuat aksi mereka terhenti, Abimanyu bisa melihat bila assistennya itu tengah menahan emosi.


"Kau!, untuk apa datang kemari?" entah kapan terakhir Abimanyu melihat wajah Indra. Seingat dia, terakhir bertemu adalah saat ia berada di kantor BCS.


"Aku ingin bicara!" tukas Indra.


.


.


Abimanyu mengijinkan Indra untuk naik ke ruangannya, ruangan yang seumur-umur belum pernah Indra kunjungi.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Abimanyu datar.


Indra melipat kedua tangannya ke dada, ia duduk di sofa dengan santai." Aku hanya ingin mengatakan, kenapa kau membuat pertengkaran kita tempo hari sia-sia!" ucap Indra memandang wajah Abimanyu dengan tajam.


Abimanyu turut menatap tajam wajah Indra, " Apa maksudmu?"


Indra terlihat menggulir ponselnya , lalu menunjukkan sebuah foto. Foto prosesi lamaran Dhira.


Abimanyu sebenarnya terkejut, tak mengira jika mereka benar-benar melakukan hal itu. Hatinya mendadak goyah. Tubuhnya lemas. Benarkah tidak ada lagi celah untuk dirinya bersama Andhira?


Abimanyu mencoba menetralisir rasa gemuruh di hatinya dengan tersenyum simpul, bisa ia pastikan bila ia memasang wajah biasa saja.


"Kau pasti terkejut kan?"


"Aku pun sama!" ucap Indra mengambil kembali ponselnya.


Abimanyu masih diam, menyimak apa maunya mantan suami Dhira itu.


"Aku kesini hanya ingin mengatakan... Dhira tak bahagia, Raka juga tak bahagia!" Membuat Abimanyu mengernyit.


"Aku harus turut andil, dengan siapa anakku akan melanjutkan hidupnya bersama ayah sambung yang tepat!"


"Perkara Dhira, dia adalah masa laluku. Aku sudah berdamai dengan takdir!" Indra tersenyum getir.


Abimanyu kini gencar menyimak ucapan pria yang pernah ia hadiahi bogem mentah itu, namun agaknya Indra kini lebih lugas dan terlihat lebih pintar.


"Tapi....bisakah kau tidak menyerah secepat ini?"


Sejenak suasana hening. Indra dan Abimanyu saling menatap sebagai seorang pria dewasa.


"Bisakah kau berusaha lebih keras lagi." ucapan Indra seolah menampar Abimanyu. Ia tak menyangka bila mantan suami Dhira itu, rupanya masih memikirkan kebahagiaan mantan istri dan anaknya.


"Aku tahu Dhira punya perasaan yang sama denganmu. Kita bukan lagi pria kelas pelajar yang menyelesaikan apapun dengan tinju dan bogem!" sahut Indra lagi.


"Aku harus memastikan, Dhira harus lebih bahagia setelah berpisah denganku. Terlalu banyak kesalahan yang aku perbuat. Tapi melihat dia saat ini lebih tidak bahagia, hatiku rasanya seperti dihujam belati!"


" Masih bertunangan, Raka bilang masih ada waktu satu bulan untuk memporak-porandakan mereka!" Indra tersenyum, membuat Abimanyu turut tersenyum.


Dua dukungan, batinnya.


"Dan kebahagiaan Dhira, sebenarnya adalah kau !" sorot mata Indra terlihat memelas, seorang menyiratkan kepada Abimanyu bila ia hanya merelakan matan istrinya itu kepadanya.


.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2