
Bab 210. Babak Baru
.
.
.
...ššš...
" Relevan atau bertolak belakang, semua tergantung dari cara kita memandang"
.
.
" Semoga kamu tahu dan tidak terus menyalahkan anak saya atas semua ini nak. Kamu bisa melanjutkan hidup kamu setelah ini , bahagia dan memiliki anak dari pria yang akan mencintai kamu!" Pak Ali berucap seraya menatap Shinta yang kini sudah berada di terminal keberangkatan Bandara kota SM menuju kota J.
" Maafkan semua kesilapan mama, maafkan kami!" ucap Pak Ali dengan mata yang lekas menggenang oleh cairan bening.
Shinta memeluk ayah mertuanya itu dengan tangis. Ia tidak akan tahu kapan aku bertemu mereka kembali. Memeluknya untuk yang terakhir kali, sebelum papa mertuanya akan pindah ke kota U.
Shinta bahkan tak sanggup untuk sekedar membalas ucapan haru papa mertuanya. Janda Rangga itu terlalu larut dalam keharuan.
" Papa masih orang tua kamu. Hari ini, esok dan seterusnya. Jangan pernah ragukan itu!
"Jaga diri kamu baik-baik!" Pak Ali mengusap punggung Shinta dengan rasa haru biru.
" Semoga jika kita nanti bertemu, kamu sudah punya momongan ya nak?" Pak Ali kali ini benar- benar menangis, ia tahu wanita yang ia anggap anak kandung itu telah menghabiskan waktu dengan kesia-siaan.
" Berbahagialah!"
.
.
Setelah sekian purnama mereka tidak bertemu, pagi itu kini trio konglo itu tengah berkumpul di tempat yang sudah bertahun-tahun menjadi langganan mereka. Patrick star caffe.
" Sumpah , gue kira elu udah membusuk disana Dan!" ucap Wisang seraya menyerahkan sebungkus rokok namun di balas gelengan oleh Danan.
" Kayaknya dia beneran takut mati!" seloroh Abimanyu kemudian saat melihat Danan yang menolak batang sigaret tembakau itu.
Wisang dan Abimanyu terkekeh.
" Sialan kalian!!!" dengus Danan.
" Gue gak takut mati, gue cuma pingin sisa umur gue lebih berguna. Gue juga pingin nyebar benih kayak kalian!" ucapnya yang kini memesan orange jus, disaat dua temannya memesan minuman beralkohol dengan kadar rendah.
" Jadi...elu tetap nekat buat ngejar Shinta?" Wisang agaknya masih penasaran dengan sahabatnya itu.
Danan adalah pria yang tidak pernah serius dengan hal apapun, namun belakangan saat mereka mengetahui bila pria dengan wajah bule namun pemikiran paling primitif itu kini lebih bersikap kalem, jelas menandakan bila sesuatu sedang terjadi.
__ADS_1
" Gue sih pinginnya sekarang juga gue kawinin dia!" Danan membayangkan wajah ayu Shinta yang terkejut saat ia cium beberapa waktu yang lalu.
Abimanyu menyenggol lengan Wisang saat melihat wajah bodoh Danan yang terlihat seperti membayangkan sesuatu.
" Nikah dulu njing, kawin aja otak lu!" dengus Wisang.
" Itu maksud gue!" sahut Danan kemudian dengan wajah tak berdosa.
Abimanyu hanya menyebikkan bibirnya, " Emang dia mau secepat ini? Gercep juga lu!"
Danan mengembuskan napasnya, sejurus kemudian ia menceritakan rahasia Rangga yang di bongkar oleh Pak Ali kepada dirinya beberapa waktu lalu.
Dengan tak tanggung-tanggung, Danan membeberkan kenyataan yang sepertinya menitikberatkan persolan ini kepada mendiang Rangga.
" Apa? gila!!!, elu tahu berita segini pentingnya dan elu membisu tanpa ada niatan buat kasih tahu kita?" Wisang menjadi orang yang paling gencar mengajukan banding.
" Gue gak ada hak!" sahutnya cepat.
" Jadi Shinta selama ini...." Abimanyu mengerutkan keningnya.
" Gue yakin, istri lu juga belum tahu soal ini!" jawab Danan.
Abimanyu mengangguk, " Jadi, sekarang dia sama elu...?" Abimanyu masih penasaran.
" Gue gak tahu Bim. Tapi gue udah pernah bilang ke dia soal perasaan gue. Gue aja suka sama dia sewaktu si Rangga masih hidup!" ucap Danan mencomot dimsum dan melahapnya dalam satu suapan.
Mereka berdua tidak tahu, Danan saja sudah gercep dalam segala hal. Terumata sikap dalam menjaga Sinta dengan cara berbeda.
" Terus dia sekarang?" tanya Wisang.
Dan saat mereka bertiga tengah asik ngobrol, tiga konglo itu melihat seseorang yang mereka kenal.
" Bim, itu bukannya adik ipar elu?" ucap Wisang yang melihat Bastian tengah bersama seorang wanita cantik namun bukan Rania. Terlihat akrab dan terlibat obrolan serius.
Bastian, kenapa dia disana? Abimanyu memperhatikan mereka dalam diam.
.
.
Bastian
Ini adalah bulan ke tiga Bastian mengikuti birokrasi dalam pengembangan Dapur Isun. Ia banyak mendapat pelajaran dan ilmu dalam kiat menjadi seorang pengusaha sukses.
Di saat ia mengikuti serangkaian acara, tak di nyana salah satu Trainer nya mengajaknya untuk makan di cafe itu. Wanita itu berdalih akan membicarakan hal penting terkait menjadi enterpreneur yang berbakat, di cafe elite yang beromset ratusan juta. Semua itu agar Bastian lebih bersemangat dalam membangun kerajaan bisnisnya.
Tentu saja Bastian bersikap profesional, dengan tidak menolak ajakan Trainer itu, toh ia juga sudah menambatkan hatinya pada Rania. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Begitu pikirnya.
Tapi, agaknya tidak dengan wanita bernama Yuna itu. Wanita cantik itu agaknya menaruh rasa yang lebih kepada Bastian sejak pertama kali bertemu, sewaktu Bastian mengikuti pelatihan pertama di kota S. Pria yang selalu sopan dan ramah kepada semua orang itu, jelas menjadi incara para wanita karena sikap sopan dan wajah gantengnya.
" Emmm Mbak Yuna sering kesini?" Ucap Bastian basa-basi. Ia sebenarnya kurang nyaman. Kecanggungan mendadak mendominasi.
__ADS_1
" Jangan panggil mbak lah, kita seusia kan?" ini gila, jelas gila. Wanita itu bahkan dengan tidak tahu malunya berbicara seperti itu.
Yuna cantik, elegan dan pintar. Wanita itu terlihat mandiri dengan gaya bicara yang lugas dan dewasa.
" Emmm.." tentu aja Bastian kikuk. Bagaimanapun juga, Yuna adalah Trainer nya.
" Kalau diluar panggil aku nama aja ya, kita bisa berteman baik kan?" Yuna tersenyum menampilkan deretan gigi berbehel mahal itu.
Bastian hanya tersenyum, pria itu tak menaruh curiga. Bastian memilih mencari kesibukan guna membunuh kecanggungan, dengan cara menyibukkan dirinya membalas chat kekasihnya. Janda beranak satu, Rania.
Aku sibuk, akhir bulan banyak rekapan. Si Satrio sekarang suka telat kasih rekapan.
Bastian tersenyum saat berbalas pesan dengan Rania. Ia bisa membayangkan wajah Rania yang manyun jika sudah kesal.
Perlu bantuan kah?
Bastian yang tertawa riang itu di tatap lekat oleh Yuna. Yuna menatap Bastian dengan tatapan penuh selidik.
" Ehem?!!! kamu mau pesan apa Bas?" Yuna yang merasa di abaikan karena Bastian sibuk sendiri itu, berdehem guna memecah keheningan.
" Oh maaf, emmm samain aja deh sama kamu!" Bastian tersenyum simpul, kemudian terfokus kembali kepada ponselnya. Membuat Yuna kesal dengan sendirinya.
Mau banget, apalagi kalau kesini di bawain es Boba.
Bastian makin terkikik geli saat membaca pesan dari Rania. Bisa-bisanya kekasihnya itu selalu ingat dengan minuman kekinian yan di gemari bocah generasi menunduk dengan seragam putih abu-abu.
Yuna merasa penasaran, dengan siapa Bastian itu berbalas pesan.
Oke habis ini aku kesana, bilang sama satpam. Entar aku dikira mau balik kerja kesana lagi.
Bastian tersenyum, kekasihnya itu selalu saja bisa membuat moodnya bagus.
" Pacar?" tanya Yuna usai Bastian meletakkan benda pipihnya itu.
" Bisa jadi!" ucap Bastian, karena jauh dalam hatinya ia menganggap Rania adalah calon istrinya.
Yuna mengangguk seraya tersenyum, namun di balik senyumnya ia merasa kecewa. Tapi, entah mengapa ketertarikannya kepada Bastian seolah tak luntur.
Tanpa mereka sadari, interaksi mereka di tatap oleh ketiga pria konglo di meja pojok.
.
.
.
.
Hy reader, The love story'of Single Parents aku ganti dengan cover baru.
__ADS_1
Semoga makin banyak yang tahu karya Mommy ya setelah ini
.