
Bab 221. Sak Karepmu ( terserahmu)
.
.
.
...ššš...
" Cinta memang tak selalu berkilau, ia kerap rombeng jika sedang berteman dengan galau!"
.
.
Shinta
Lambat laun, ia tak bisa menepikan rasa aneh yang bersemayam di hatinya. Perasaan yang nyaris sama, saat berada di dekat Rangga.
Ia kini tengah berada di samping kolam rumah Danan, yang berada di belakang rumah. Ketakutannya akan Nyonya Alda benar-benar tidak terbukti. Wanita itu justru begitu ramah dan bersikap baik kepadanya.
Mertua idaman para wanita.
" Kamu jangan terbebani dengan kata-kata mama Shin!" Danan menyusul Shinta. Pria itu membuat lamunan Shinta buyar.
" Kamu sudah habis masa Iddah, kalau mau lanjut tidak masalah!"
" Kalian sudah sama-sama berumur. Lebih cepat punya anak lebih baik!"
" Untung saja Danan waktu masih jadi anak bengal gak ninggal bibit di sembarang tempat!"
Ucapan Nyonya Alda terus terngiang-ngiang di otak dan benaknya.
Shinta tersenyum simpul sesat setelah menoleh ke arah Danan" Jadi, udah berapa banyak?" tanya Shinta. Membuat alis Danan bertaut, dan keningnya berkerut " Apanya?" ucap Danan bingung .
" Jumlah wanita yang kau patahkan hatinya itu, ada batas dan jumlahnya. Setelah itu kau harus membayar mas!"
Oh sh*it!!!
Apa mamanya tadi bercerita aneh-aneh seputar dirinya yang kerap mengencani wanita yang haus uang.
Glek
Ludahnya bahkan terasa sulit untuk ia telan sendiri. " Emmm" Lidahnya mendadak kelu.
" Katakan, apa yang mas lakukan selama ini?" Shinta berjalan maju dengan bersidekap, sementara Danan berjalan mundur karena ia merasa mati kutu.
Shinta benar-benar akan mengulitinya.
" Emm Shin, aku bisa jelaskan. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Wisang bahkan juga..."
" Mas Wisang punya urusan sendiri, sekarang aku bertanya sama kamu mas, bukan mas Wisang!" Wajah Shinta masih datar, namun tatapannya berhasil mengintimidasi Danan.
Wow
Shinta menghela napas lalu memejamkan matanya. Ada banyak hal yang tidak ia ketahui rupanya.
" Apa jaminannya mas, tidak kembali berlaku seperti dulu?" Danan mentok dan terpaksa duduk di kursi santai di bibir kolam itu. Memandang Shinta seperti seorang pesakitan yang di berondong pertanyaan oleh sipir.
" Ok, aku akan katakan!" Danan menarik napas. Mungkin ini saatnya keterbukaan itu ia galangkan.
" Harus!" Shinta menatap tajam Danan.
__ADS_1
" Aku terbiasa hidup sendiri, mama sama papa selalu sibuk ke kota SIN. Bahkan aku lebih banyak menghabiskan hidupku bersama Abimanyu dan Wisang ketimbang orang tuaku sendiri"
Shinta menatap lekat Danan dengan posisi masih berdiri, dan pria itu mendongak ke arah Shinta.
" Abimanyu menikah dengan Gwen, dan tinggal aku dan Wisang saja yang masih free!"
" Kekosongan, kesendirian, kesepian. Aku pernah di tinggalkan seorang wanita yang aku cintai!" Danan tersenyum kecut demi mengingat kekasihnya dulu.
" Kamu tahu tahu kenapa? karena dia lebih memilih orang yang lebih kaya. Dan saat itu, aku memang belum se sukses saat ini!
Shinta mendadak iba kepada Danan.
" Aku gemar minum, dan merasa tidak mau di perbudak oleh pekerjaan. Pekerjaan yang membuat papa dan mama selalu meninggalkan aku sedari kecil!" Kini Shinta sedikit terenyuh dengan cerita Danan.
" Lalu sejak saat itu, aku berpikir jika semua wanita sama. Setialah dengan uangku, sebab tidak ada hati disini!"
" Aku mulai gigih dan tekun bekerja, sampai aku berada di titik ini!"
Shinta tercenung. Pria itu memiliki kisah yang tak mulus rupanya.
" Aku menghabiskan uangnya hanya untuk bersenang-senang. Bukankah itu yang mereka mau?"
Mata Danan memanas. Mengapa kebanyakan wanita melihat dari sisi finansial semata.
"Lalu dimana mantan kekasihmu?" Shinta penasaran. Hatinya mendadak mencelos. Padahal dia yang bertanya. Sungguh wanita itu memang mahluk kontradiktif.
"I don't know, maybe she's dead".
Danan berdiri, ia menatap Shinta " aku tidak peduli dengan masa laluku ataupun masa lalumu. Yang berlalu tak akan bisa menggoreskan hal yang sama lagi!"
" Terutama di masa depan!" Danan menatap tajam Shinta dengan rahang mengeras. Ia merasa lega sudah jujur tentang kebobrokannya selama ini. Pun dengan alasan di balik sikapnya itu.
Kini mereka tak berjarak, Danan menatap Shinta dengan dekat. " Sampai aku bertemu dengan kamu, wanita yang bahkan tidak terpengaruh dengan segala yang aku miliki!"
" Jangan pernah meragukanku Shin. Karena aku tidak pernah se yakin ini sebelumnya!" Danan mengusap pipi Shinta dari jarak dekat. Kedua netra mereka bertemu.
Danan menundukkan wajahnya, pria itu mengecup lembut bibir Shinta kembali. Suasana malam yang di temani pendaran cahaya lampu temaram di tepi kolam, membuat keromantisan mendominasi disana.
Kali ini Danan melu*mat bibir Shinta dengan sesapan dan gigitan kecil. Tangan kekar Danan meraba punggung Shinta. Soal urusan beginian, jangan di tanya lagi. Danan adalah master, ahlinya ahli.
Ciuman itu makin lama makin menuntut, membaut Danan meremas bokong Shinta. Sesuatu dibawah sana, kini meminta pertanggungjawaban.
" Danan kamu antar Shin..." Nyonya Alda h dak menemui Danan, namun ia mendadak tak melanjutkan ucapannya. Wanita itu justru tersenyum tatkala melihat dua anak manusia yang berciuman di tepi kolam.
Benarkah mimpinya untuk memiliki menantu dan cucu akan segera terealisasikan?
...ššš...
Dentang bel sekolah menjadi penanda jam pelajaran di sekolah telah pungkas. " Kenapa?" Jodhi bertanya kepada wajah Raka yang masam.
" Aku gak jadi ikut kamu Jo!" jawabnya lesu.
" Di jemput om Indra?" ini hari Sabtu. Sudah jadwalnya Raka ikut ke rumah Kakung Joko bukan. Namun, bukankah malam hari baru berangkat.
" Hemmm, tapi gak nginep ke Kakung!"
.
.
Rupanya Indra Sabtu ini sengaja menjemput Raka bersama Anggi. Anggi sangat antusias untuk memperkenalkan dirinya kepada calon anak sambungnya itu.
" Halo boy!" papa dan anak itu saling ber high five meski wajah Raka bermuram durja.
__ADS_1
" Hey, what's wrong? Indra menatap wajah putranya yang tak bersemangat.
" Kita mau kemana sih Pa?" Raka mengabaikan Anggi ang tersenyum sejak ia keluar dari gerbang sekolahnya.
" Kita, malam mingguan lah. Udah bilang mama kan tadi?" Indra mengusap puncak kepala Raka.
.
.
Anggi
Hati dan mentalnya sudah ia siapkan. Ia tahu, usianya yang terpaut hampir separuh usia Indra, akan sedikit menjadi pertanyaan bagi Raka.
Namun, ia menerima dengan lapang dada, segala masa lalu Indra dengan segala cerita buruknya. Ia pun juga bukan mahluk suci. Bukankah hati manusia mudah terbolak- balikkan?
Usai kejadian tempo hari, banyak karyawan Indra yang tahu bila Anggi rupanya dekat dengan Indra, lebih dari sekedar assiten dan Bos. Membuat mereka semua kini lebih segan kepada Anggi.
" Mas jadi kan kita ngajak Raka?" Anggi siang itu ngotot ingin ikut menjemput Raka.
" Raka orangnya pendiam. Kamu jangan diambil hati kalau dia cuek di awal ya!" tukas Indra saat mereka berdua berada di dalam mobil.
" Emm, pasti mas!"
" Aku tahu jadi Raka emang gak mudah!" Anggi tersenyum.
Indra mengakui hal itu. Raka adalah korban day perceraiannya dengan Dhira. Meski secara lahiriah putranya itu baik-baik saja, tapi ia tak bisa menyelami batiniah anaknya itu.
.
.
Raka
Papa jemput kamu sekarang, kita nanti malam mingguan sama Tante Anggi ya
Pesan dari papa begitu mengusik pikirannya. Bahkan pelajaran seni budaya di jam terakhir sama sekali tak ada yang masuk ke otaknya.
Alias ngelawus begitu saja.
Ia adalah bocah dengan usia yang kadang muncul sifat dan sikap yang fluktuatif. Itu bukan hal spesial. Masa remaja kerap di bumbui perasaan seperti itu bukan?
" Apa harus?"
" Apa wajib?"
Tapi, bukankah egois jika ia mengijinkan mama untuk menikah dengan papa Abimanyu, sementara papanya?
Tapi tunggu dulu, wanita itu terlihat seumuran mbak Sekar. Dan, apakah wanita itu benar-benar baik untuk papanya?
Tapi, bukankah ia terlalu kecil untuk bisa menjadi tim penyeleksian ibu sambung.
Entahlah, kita lihat dulu saja. Ia terlalu lelah untuk membantah. Meskipun ia menolak, toh papa sudah kadung membawa wanita itu bukan. Bedanya, ia lebih dulu kenal dengan om Abimanyu.
Sak karepmu
( terserahmu)
.
.
.
__ADS_1
.