The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 229. Danger for Wisang (1)


__ADS_3

Bab 229. Danger for Wisang (1)


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Dendam ada di mana-mana, di jantungmu di jantung hari-hari!"


~ Iwan Fals


.


.


Dua hari yang lalu


Mira


Ia adalah otak dari penyerangan serta sabotase mobil Wisang yang malah menewaskan suami Shinta tempo hari. Limpahan harta tak serta merta ia gunakan dengan bijak apalagi benar.


Mira bahkan murka saat mengetahui, jika yang mobil yang mereka sabotase malah menewaskan orang lain.


Sial!


Ia berhasil mengeluarkan satu anak buahnya yang tertangkap polisi dengan bantuan uang yang ia miliki. Anak buahnya hanya berada di hotel prodeo itu, selama tiga hari pasca tertangkap. Oknum yang khianat itu, selalu saja ada dimana-mana.


Hanya saja, salah satu kacungnya harus meregang nyawa karena melawan petugas saat penyergapan. It's so fucking about died.


" Apa rencanamu?" Mira berkata seraya merem melek saat tubuhnya di hentak oleh Wisnu, hentakan bertempo lambat dengan keadaan tubuh bagian bawah mereka yang masih saling menyatu.


" Ahhh!!!"


Ya, mereka berdiskusi sambil menyelam di lautan kenikmatan dunia yang memabukkan itu.


" Aku sudah minta Reymond untuk menyiapkan seorang wanita!" Wisnu dengan wajah datar terus menggerakkan tubuhnya, menghujam tubuh Mira yang sebenarnya terasa nikmat. Ia benar-benar mengambil keuntungan dari pekerjaannya itu.


" Lakukan per segera!"


" Habisi siapa saja yang menghalangi!"


" Ah!!!"


Benar-benar biadab.


.


.


Perempuan yang bernama Arif tempo hari tak lain dan tak bukan adalah anak buah mereka. Kini Reymond juga terlibat dari projek laknat besutan Mira dan Wisnu itu.


Uang mampu membutakan mata hati. Membuat jiwa mereka miskin, dan tak bisa melihat lagi sebuah kebenaran. Kuasa jahat jelas mereka ijinkan menguasai hati mereka yang gelap, hati yang tak pernah tersuluh sinar kasih sayang.


Hati mereka dingin dan beku oleh kebencian.


Sialnya, hari itu Wisang berhasil pergi sebelum Arif berhasil menjalankan aksinya. Menjebak Wisang.


Sebenarnya mereka berniat untuk membuat Wisang bercumbu dengan Arif, lalu ingin membuat Sekar hancur dengan mengirimkan hasil video erotis suaminya dengan wanita lain. Cara klasik yang agaknya masih kerap di gunakan orang jahat untuk balas dendam, pembunuhan karakter.


Namun ketenangan mereka bersifat fana, Arif yang waktu itu gagal menghubungi Mira dengan suara lemah harus menerima pedihnya makian dari Mira.

__ADS_1


" Bos dia pergi!" Charifa menghubunginya dengan suara ketakutan.


" Apa? kamu ini mengurus satu orang saja tidak bisa. Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus hancurkan reputasi pria itu!" Mira frustasi, bahkan membanting ponselnya, karena geram. Kenapa sulit sekali membuat Wisang jatuh dalam kehancuran.


Wisnu yang baru datang itu, memandangi serakan komponen ponsel mahal yang telah hancur berkeping-keping.


" Ada apa" Wisnu bertanya seraya menatap Mira yang mengatur napas dan terlihat begitu emosi.


" Aku sudah muak, aku tidak bisa seperti ini terus. Pakai semua orang yang bisa kita pakai. Aku mau menangkap mereka. Aku muak. Mereka harus hancur!"


" Argggggghhh!!!!"


Mira melempar sebuah lampu di nakas ranjangnya, ia benar-benar stres dan frustasi dibuat.


Ambisi, kepicikan hati, pemikiran yang dangkal serta ketidakmampuan mereka untuk mengelola hati.


Jelas, lambat laut beberapa dosa itu akan menggerogotinya. Ia tidak tahu, bahwa mencelakai orang lain, sama saja akan mencelakai dirinya sendiri.


.


.


Masa Sekarang


Wisnu alias Felix benar-benar mewujudkan titah Mira. Ia menghubungi kawan se profesi yang bertindak sebagai bajingan dunia hitam di ranah lain, kelompok mafia kelas menengah yang biasa di sewa oleh pemilik perusahaan yang tengah mengalami persoalan sengeketa.


Lagi lagi uang yang menjadi sebab musababnya.


" Apartemennya kosong, kemungkinan mereka sudah pindah!" ucap salah satu orang sewaannya, yang kini berada di apartemen Wisang melalui sambungan telepon.


" Cari dia, cari sampai dapat!" Ucapnya seraya menata persenjataan laras pendek. Magazen senjata itu, ia penuhi dengan peluru berkaliber yang sesuai.


Senjata ilegal yang memang mereka perlukan. Mereka tak kebingungan dalam urusan pasokan senjata. Karena di bumi ini tidak hanya di huni oleh milyaran orang baik.


Gila, benar-benar gila.


" As you wish!" sahut Wisnu.


Bahkan saat mereka hendak menyergap rumah Wisang, mereka masih sempat bercumbu dalam tempo lama. Dua manusia yang benar-benar dikuasi oleh kejahatan.


Jam sembilan pagi ponsel Wisnu menyala. " We found him!"


Gila, liar dan persetan dengan orang lain. Kedua manusia itu benar-benar mencapai puncak kedengkian yang mungkin, tidak benar.


Seringai licik muncul dari bibir Wisnu, " Saat yang tepat adalah sekarang!" ia tersenyum licik selicik- liciknya, ia lalu menatap Mira yang tertidur karena kelelahan.


Entahlah, beberapa bulan kerap menggagahi tubuh erotis Mira, membuatnya kini sedikit merasakan hal lain. Semacam perasaan yang tidak bisa ia jelaskan.


Wisnu menggelengkan kepalanya agar rasa aneh itu rontok dari pikirannya. " No, she's just a customer!"


.


.


Wisanggeni


Senin pagi selain ia harus mendecak kesal karena orang suruhannya tak berhasil mencari tahu siapa Charifa alis Arif, wanita biadab yang mencampuri minumannya dengan obat perangsang berdosis tinggi. Ia juga tak berminat masuk kerja karena Sekar kurang enak badan.


'Sepertinya dia orang sewaan orang bos'


Pesan dari Anton, sekretaris dan orang kepercayaannya. Anton mengklaim, bisa saja Arif adalah pekerja perusahaan asli, yang sudah di cuci otaknya.


" Mas, kamu berangkat aja. Aku gak apa-apa kok!" Sekar tak enak hati selalu menjadi beban suaminya.

__ADS_1


" Ada mbak Ani juga dibawah!" ucapnya mengingat pembantunya yang berusia paruh baya, yang selalu baik dan menjaganya bak ibunya sendiri.


" Enggak, aku gak mau ninggalin kamu dalam kecemasan. Kita ke dokter ya" Wisang mengusap pipi Sekar. Istrinya itu memang kerap sakit di masa kehamilannya ini.


Wisang mengecup bibir istrinya sekilas " Maaf udah buat kamu begini!" Wisang menatap Sekar muram, ia tak mengira perjuangan seorang ibu hamil akan beraneka ragam seperti saat ini.


" Beli obat di apotek saja mas, aku pusing kalau jalan jauh!" Ucap Sekar tersenyum.


" Baiklah, kamu tunggu ya!"


Ia segera menyambar kunci mobil. Apapun yang terucap dari bibir istrinya, ia anggap sebagi titah yang wajib hukumnya untuk ia lakukan.


" Ton, handle dulu ya. Saya gak masuk. Bu Sekar lagi sakit. Kamu email saja ke saya apa-apa yang jadi laporan hari ini!" ucapnya menghubungi Anton melalui sambungan telepon.


" Siap Pak, semoga Ibu lekas sehat!" jawab Anton, proaktif dan komunikatif.


" Mbak Ani, kunci gerbangnya ya!" titahnya kepada pembantunya itu.


Wisang merasa ada yang membuntuti mobilnya, namun saat ia menoleh ia tak mendapati apapun disana.


Ia mengembuskan napas panjang, ia benar-benar mencintai Sekar. Sampai-sampai ia tak tega untuk meninggalkan Sekar sebentar.


Insecure dengan sendirinya. Entah mengapa perasaannya tidak enak.


Usai mendapatkan beberapa obat yang ia perlukan, ia langsung kembali menuju kediamannya. Obat terbaik yang ia harapkan bisa membuat keadaan istrinya lebih baik. Sekar menikah untuk di periksa oleh dokter, ia juga menolak tawaran Wisang untuk memanggil dokter kerumah mereka.


Sekar sebenarnya merasa suaminya itu berlebihan. Itu adalah reaksi umum yang dirasa ibu hamil muda bukan. Cepat lelah dan kerap seperti orang sakit.


Tapi Wisang tetaplah Wisang. Suami yang over protective.


.


.


Sekembalinya ia dari apotek, kecemasannya tiada terbukti. Ia menunggu Ani membuka pintu gerbang rumah mereka. " Silahkan Pak?" Ani mengangguk hormat dan tersenyum kepada majikannya.


Namun, ia tak menyadari bahaya yang mengintainya sejak ia keluar dari apotek tadi. Bahaya yang tidak akan tahu, seburuk apa akan menerpanya yang tanpa persiapan itu.


Satpam yang menjaga rumahnya pagi ini ijin pulang kampung dua hari dengan alasan urusan penting yang tidak bisa terwakilkan. Urusan yang menyangkut pembagian warisan sawah, yang membutuhkan kehadiran dari yang bersangkutan.


Namun baru saja ia keluar dari mobilnya, puluhan orang berpakaian hitam menyerbu rumahnya.


Dor!


Ia menoleh saat terdengar suara tembakan. Matanya membulat sempurna dan dadanya berdegup kencang saat melihat Ani yang tersungkur karena tertembak tepat di jantungnya.


Dor!


Satu lagi tembakan yang menghancurkan Cctv-nya yang terpasang di pilar rumahnya itu.


Seketika Wisang mematung, dalam sepersekian detik otaknya di paksa untuk menelaah apa yang terjadi. Ia bak kehilangan kesadarannya saat obat yang ia genggam terjatuh begitu saja.


Wisang mendadak bingung dan dibuat tercekat dengan apa yang terjadi. Tubuhnya bergetar hebat saat ia melihat wanita yang tersenyum seraya mengangguk hormat kepadanya beberapa detik yang lalu, kini meregang nyawa.


Suasana seketika menjadi gaduh, ia yang teringat Sekar langsung berlari kedalam saat para orang berpakaian serba hitam itu sibuk melumpuhkan semua CCTV yang ada disana.


" Brengsek!!!!" Wisang mengumpat lalu secepat kijang ia berlari. Ia dan istrinya jelas dalam bahaya.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2