
Bab 169. Pelukan Seorang Saudara
.
.
.
...ššš...
" Kadang kala tak mengapa, untuk tak baik-baik saja. Kita hanyalah manusia, wajar jika tak sempurna..."
( Diambil dari lirik lagu Fiersa Besari ~ Pelukku untuk pelikmu)
.
.
Danan yang di bantu Sekar meletakkan tubuh Shinta yang tak sadarkan diri itu, kini tengah berwajah pias. Pikiran negatif memenuhi rongga otaknya.
" Ada apa ini!" suara bariton dari Richard terdengar berjalan ke arah mereka saat Sekar baru saja selesai memasang ampul infus di tempat yang sudah di sediakan.
Ya, Wisang dengan cepat menghubungi Richard sesaat setelah Danan memerintah.
" Kita gak tahu, buruan periksa dia!" ucap Danan khawatir. Ia tak mau memberitahu Richard sebab musabab Shinta pingsan karena turut menjadi korban keganasan mulut ibu mertuanya.
Sekar dan suaminya saling melirik. Kecemasan Danan yang kentara sedikit menggoyahkan keyakinan Wisang bila sahabatnya itu akan benar-benar tak melanjutkan perasaannya.
Richard terlihat memeriksa Shinta. Namun dari pemeriksaannya ia bisa menyimpulkan bila Shinta hanya terkena Syncope .
Dalam dunia medis, Syncope terjadi akibat tekanan darah yang begitu rendah. Aliran darah yang menuju ke otak berkurang, serta jantung tak cukup menyuplai oksigen ke otak. Ini terjadi karena stress atau keadaan yang penuh tekanan.
" Bagiamana Chad?" tanya Wisang yang malah melihat raut Richard datar-datar saja.
" Ini tidak apa-apa, saranku jangan buat Shinta stress dulu. Kita tidak tahu beban apa yang ada dalam pikirannya. Belum lagi ia pasti syok Karen Rangga belum sadar!" tutur Richard.
Terang saja ucapan Richard itu benar. Lawong Shinta saja habis di maki dengan kata-kata yang begitu menohok perasaannya sebagai wanita.
"Pingsan adalah gejala yang disebabkan oleh kurangnya aliran darah ke dalam otak. Kondisi ini biasanya terjadi karena saraf yang mengatur detak jantung dan pembuluh darah terganggu sesaat karena dipicu beberapa hal"
Ketiga manusia disana masih tekun mendengar penuturan Richard.
"Penyebabnya bisa beragam. Ini bisa terjadi karena hal yang sepele, seperti saat tegang, stress, tertekan dan lain- lain." Richard berbicara panjang lebar mendeklarasikan ilmu pengetahuan yang ia miliki.
Ada kelegaan menyelinap di hati Danan. Setidaknya itu bukanlah hal yang patut di khawatirkan.
.
.
Dari ketegangan, kita beralih ke kerumitan dan sejumput rasa penyesalan di hati Abimanyu. Pria itu tak bisa menghubungi ponsel istrinya. Ia memilih untuk pulang ke kediamannya.
" Mbak... Nyonya Dhira dimana?" Abimanyu yang terlihat panik itu tergopoh-gopoh mencari ART-nya. Membuat Yuni bingung.
" Loh, kan Ibu pergi sama Tuan tadi!" Yuni kebingungan. Mengapa majikannya itu, malah mencari Dhira sekarang.
__ADS_1
" Loh dia belum sampai?" Abimanyu seketika menjadi gelisah. Jika tidak pulang ke rumah, pergi kemana istrinya itu.
Ia akhirnya kembali menuju garasi mobilnya, berniat untuk mencari dimana istrinya itu berada. Ia tak mengira jika Dhira benar-benar se marah ini.
" Ran, Dhira ada disana?" tanya Abimanyu melalui sambungan telepon.
" Aku gak tahu kak, aku lagi di jalan ini habis jemput anak- anak. Bukannya tadi pagi kak Dhira telpon lagi sama kamu ya!"
" Coba telpon Oma!"
Abimanyu menelan ludahnya, kemana Dhira sebenarnya. Jika ia menghubungi Oma Regina, sudah pasti ia akan kena damprat. Apalagi omanya itu bila Dhira tengah mengandung cicitnya.
Ia akan menjadi manusia yang paling di salahkan oleh neneknya itu, bila Dhira menangis.
"Ya udah kalau gitu!"
Abimanyu tak mau basa-basi lagi. Ia takut akan makin di cecar pertanyaan oleh adiknya yang berjuluk Miss kepo itu. Membuat dirinya memungkasi panggilannya saat itu juga.
Dan satu lagi yang ia harus tanyai, menjadi opsi terakhir untuknya. Bastian.
Ia menggulir ponselnya mencari kontak adik iparnya itu. Menunggunya selama beberapa nada sambung.
" Halo kak Abi..."
.
.
Waktu hampir menunjukkan pukul dua siang. Usai membayar uang kepada supir taksi itu, Dhira melenggang masuk kedalam rumah ibunya.
Ya, Bastian kini sudah menjadi anggota Abimanyu bukan. Praktis pria berkulit kuning langsat itu sudah tak lagi memanggilnya dengan sebutan ' Pak' atau ' Tuan'.
Dhira tak menjawab. Ia langsung duduk di samping adiknya seraya memeluk lengan kekar adiknya itu. Menyenderkan kepalanya ke bahu Bastian.
" Hey... tunggu dulu. Ada apa ini?" Bastian langsung melipat keningnya demi melihat reaksi Dhira.
Namun belum sempat mendengar Dhira menjawab, ponselnya di meja itu menggelepar. Menandakan bila seseorang telah menghubunginya.
Kak Abimanyu calling
Ia masih harus mendudukkan kakaknya yang terlihat menangis itu ke sofa dengan benar. Sejurus kemudian ia meraih benda pipih itu dan menggeser tombol hijau yang menyala.
Untung saja kakaknya itu menurut.
" Halo Kak Abi..." ucapnya sesaat setelah ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
Mendengar nama Abi yang di sebut oleh adiknya itu, membuat Dhira mendongak ke arah Bastian.
"Jangan kasih tau kalau aku disini!" Dhira berucap dengan suara nyaris tak terdengar. Hanya mimik mulutnya saja yang bisa di baca oleh Bastian.
Bas, apa istriku ada disitu?
Bastian nampak menimbang-nimbang pikirannya sebelum ia menjawab pertanyaan kakak iparnya itu. Ia yakin, sesuatu telah terjadi diantara kakak dan kakak iparnya itu.
Bastian tak menggubris intimidasi Dhira. " Iya Kak, dia ada disini!" jawab Bastian seraya melirik Dhira yang terlihat mendelik gemas kepada Bastian.
__ADS_1
Ya sudah, jangan biarkan kakakmu pergi. Aku kesana sekarang!
" Kamu ini gimana sih Bas, udah aku peringatkan juga!" Dhira mencecar Bastian dengan omelan usai Bastian memutus sambungan teleponnya. Dhira merajuk. Bibirnya sudah manyun sepanjang lima senti.
Bastian terkekeh, " Jangan kayak anak kecil ah. Kasihan kak Abi. Lagian ada apa sih kak. Siang-siang gak ada angin ga ada hujan nangis begitu." ucap Bastian kembali menenggelamkan dirinya ke layar laptopnya.
" Kamu itu kayaknya bukan adik kandungku Bas. Semenjak aku nikah sama Abimanyu. Kamu jadi tim sukses dia terus!"
Bastian tergelak. " Karena aku tahu, gak mungkin kak Abi itu mengecewakan. Jika ada yang gak beres. Itu pasti karena kakak baper. Sabar ya nak, mama kamu pasti jadikan kamu alasannya merajuk!" Bastian mengusap calon keponakan keduanya, yang bersemayam di dalam perut rata Dhira.
Dhira berengut memandang Bastian.
" Bicara, selesaikan. Aku gak suka kakak begini. Banyak masalah yang gak selesai hanya dengan marah!" tukas Bastian mengusap lembut pipi kakaknya.
Sejurus kemudian Dhira tersenyum. Adiknya itu sedari dulu selalu menjadi best shoulder rest.
" Ibu mana?" Dhira terlihat menyusut sisa air matanya.
" Kerumah cing Tami. Biasa!" jawab Bastian.
" Kamu makin sibuk Bas!" Dhira melihat Bastian yang sibuk dengan beberapa aplikasi di laptopnya.
" Aku mau ikut pelatihan entrepreneur kak. Mungkin seminggu di Kota B!" ucap Bastian tanpa mengalihkan pandangannya.
" Kau sama Rania gimana?" tanya Dhira kemudian. Membuat Bastian menghentikan aktivitasnya.
" Aku udah kasih pengertian ke dia. Aku mau fokus ke Dapur Isun beserta perintilannya dulu. Aku minta dia sabar. Kakak tahu, aku gak mau kesana cuma modal dengkul doang kak. Aku laki-laki. Wajib prepare segalanya buat calon istri aku!" ucap Bastian mantap menatap kakaknya.
Dhira tersenyum menatap adiknya. " Kakak setuju, tapi kamu udah bilang ibu soal ini?"
Bastian menggeleng, " Sejauh ini hubungan kami baik. Aku maunya saat usahaku lancar, dan modalku cukup aku mau langsung ajak ibuk buat ngelamar Rania kak!"
Dhira memahami, adiknya itu memang pria yang bertanggungjawab. Ia adalah sosok yang penuh dengan perhitungan matang sebelum bertindak. Persis seperti mendiang bapaknya dulu.
Dhira memeluk Bastian penuh sayang. Ia tahu kini mereka semakin jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. " Semoga lancar dan sukses ya Bas apa yang menjadi niat kamu?!" Dhira mengusap punggung adiknya. Bastian malah terharu saat di perlakukan lembut oleh kakaknya itu.
" Ehem...!" Abimanyu yang baru datang itu berdehem saat matanya saat melihat istrinya berpelukan dengan adik iparnya.
.
.
.
Hay Readers yang budiman.
Jangan lupa tekan tombol jempol sama kasih komentar ya.
Aku suka baca komen kalian yang larut dalam cerita. Asli bikin mood booster mommy naik š¤š¤.
Mari dukung penulis dengan tidak menjadi pembaca gelap ya.
Berkah kesehatan selalu beserta para readers sekalian.
ššš
__ADS_1