The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 63. Gara - Gara Devan


__ADS_3

Bab 63.Gara - Gara Devan


.


.


.


...🍁🍁🍁...


"Semua orang akan mumet pada waktunya!"


Raka


Ia diam menyimak pembicaraan wanita yang berteriak itu, ia juga melihat ada Abimanyu disana. Wanita itu berbicara kasar kepada mamanya. Bahkan sekalipun gadis kecil itu menangis, tak di pedulikan oleh wanita itu.


Ia ingat wanita itu adalah istri dari Abimanyu, dan kenapa bisa ada di ruko itu. Ia masih belum tahu jawabannya. Ia juga memperhatikan seroang pria dengan baju yang tergulung sampai ke lengannya, pria tampan yang terlihat berwajah pucat, pucat karena takut atau karena sengatan matahari yang tengah panas- panasnya terpancar, ia sendiri tidak tahu.


Suaranya serak, tenggorokannya sakit karena meneriaki Abimanyu yang ia rasa cukup ngenyel untuk diminta pergi. Ia hanya Raka, Raka yang berusaha melindungi mamanya tercinta. Meski ia belum tahu betul, duduk persoalannya.


Ia tak rikuh jika harus di cap bocah tidak punya sopan santun, ia bahkan mendorong tubuh wanita cantik itu hingga terhuyung. Ia tak takut jika di cap bocah kurang ajar.


Ia hanya takut, mamanya terluka karena ucapan absurd wanita itu. Ia hanya berusaha membela wanita nomer satu di hidupnya itu, saat seluruh dunia memandangnya dengan sebelah mata, saat dunia dengan gampangnya menempelkan stigma ngawur, saat lidah mereka semua licin menghina mamanya.


Ia akan menjadi Raka yang lahir untuk menjaga mamanya.


.


.


Andhira


Ia masih terisak saat Raka mendudukkannya di sofa ruang tamu sempit yang terletak di samping ruko itu.


"Minum dulu ma!" putranya yang bahkan belum mengganti seragam sekolahnya itu, menyodorkan segelas air putih.


Tanpa menjawab, ia meneguk seperempat dari isi gelas itu. Berharap sesak di hatinya sedikit lega.


Raka mensejajarkan tubuhnya di samping Dhira, memegang lembut tangannya yang masih bergetar karena tangisan yang tak kunjung reda.


"Mama gak dengerin Raka!" terlihat raut kekecewaan dari wajah Raka.


"Mama kenapa terima om Abimanyu buat kemari?" ia yakin, pertanyaan yang di lontarkan Raka adalah karena anaknya melihat Abimanyu di saat terjadi pertengkaran tadi.


"Ini yang Raka takutkan ma, Raka gak ikhlas kalau mama di hina- hina kayak tadi!!" suara bocah itu kini bergetar, terlihat cairan bening menggenang di pelupuk mata bocah itu.


"Raka gak bisa maafin diri Raka sendiri, kalau sampai terjadi sesuatu sama mama!" ucapan bocah itu membuat Dhira makin terisak.

__ADS_1


Dhira merasa begitu bersalah, andai Raka tahu jika dirinya sudah terlalu dalam melangkah. Entah apa bocah kesayangannya itu masih akan berfikir untuk melindungi dirinya.


Ingatannya kembali akan perhelatan panas yang tak sengaja terjadi itu, kini pikiran Dhira terbelah. Antara sakit hati, dan juga merasa bersalah. Ia tidak tahu, sungguh takdir melempar dirinya kepada jalan rumit. Mengapa harus ada hati berperan disana, mengapa harus Abimanyu yang hadir untuk memuaskan dahaganya?, mengapa Gwen harus kembali saat dia lekas membuka hatinya?.


"Maafkan mama nak!" dengan suara bergetar ibu dan anak itu saling berpelukan, ia tak mengira Raka harus menjadi bocah yang kerap melihat pertengkaran sejak usia belia. Khawatir akan kondisi psikologis anaknya kelak, Dhira bahkan kini bingung.


"Mama tolong dengerin Raka, tolong ma!" Raka mengeratkan pelukannya degan tangis.


"Tolong jangan om Abimanyu!"


"Jangan ma!" bocah itu turut bergetar.


...🍁🍁🍁...


Antar Gwen kerumah, setelah itu temui aku ke apartemen!


Ucapan Abimanyu terdengar meradang saat Devan menempelkan benda pipih ke telinganya. Sudah pasti ia dalam masalah besar.


"Nyonya silahkan, saya harus kembali ke kantor!" Devan berucap dengan wajah datar, tak berekspresi. Dia kini lebih takut kepada Abimanyu yang sudah menunggunya di apartemen.


Tanpa berucap apa-apa Gwen turun dari mobil itu, ia membanting pintu mobil Devan.


Braaaaaak


"Terimakasih!" ucap Devan sendiri sesaat setelah pintu di dibanting oleh Gwen , seraya tersenyum kecut. Mengapa ia bisa terlibat dengan urusan rumit ini.


"Harus ku akui Taun, kau dan istrimu ini punya hobi yang sama. Membanting pintu mobil!" gerutu Devan.


Dengan hati berdebar, ia menuju apartemen Abimanyu. Entah akan menjadi apa dia nanti disana, ia hanya akan pasrah. Ia sadar ia salah.


.


.


Ia mengetuk pintu Apartemen itu dengan dada berdebar, antara takut dan malu. Benar- benar pasrah.


Tok! Tok Tok!


Abimanyu membukakan pintunya saat ia akan melakukan ketukan ke empat," Cepat masuk!" wajah Abimanyu sudah sangat tidak ramah.


Abimanyu duduk, ia ikut duduk.


"Siapa yang nyuruh kamu duduk?" Abimanyu menatap tajam Devan.


Pria berkulit kuning Langsat itu langsung berdiri kembali dengan wajah tegang.


"Saya sebenarnya malas lihat muka kamu Van!" Abimanyu mencoba mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Diam kamu!, saya gak nyuruh kamu bicara!"


"Cek semua rekam jejak perjalanan Gwen, kalau perlu datangi petugas imigrasi, cek semua jejak perjalanan saya gak peduli berapa duit yang musti keluar!"


"Pakai orang terbaik!!"


"Saya gak mau sampai gak beres!"


Dulu Abimanyu pernah mencari keberadaan Gwen namun tak membutuhkan hasil, tentu saja itu terjadi. Banyak sekali kemungkinan yang terjadi. Lagipula, dulu ia masih memiliki perasaan kepada Gwen, membuat dirinya bodoh dengan menunggu.


"Kamu cari tahu, kemana dia selama ini!"


Abimanyu bukannya tak mengerti, namun menatap mata bocah perempuan itu membuat jiwa kemanusiaannya tergugah. Ia manusia biasa yang tak bisa menepis semua prasangka itu. Namun kejadian tadi pagi bersama Dhira, terang saja menjadi titik balik dirinya untuk gencar menceraikan Gwen.


Ia menyadari kesalahannya sendiri yang lamban, ia berniat akan menggugat Gwen segera. Namun sialnya, Gwen lebih dulu mendamprat wanita yang ia sayangi.


"Jangan lagi memberikan informasi kepada wanita itu mengenai saya, kau dengar Van?"


"Baik Tuan!" Devan bernafas lega, pasalnya ia masih selamat. Harus ia akui, Tuannya itu sangat bijak. Meski dalam keadaan berang, tapi masih bisa mengontrol diri.


.


.


.


.


.


.


Hay Readers, mommy sampai up tiga bab hari ini.


Ada yang bertanya kenapa minggatnya 10 tahun anaknya 11 tahun?.


Mommy gak bilang 11 Lo ya, hampir 11. Karena dalam kandungan saja sudah 9 bulan. Dan perginya juga mommy katakan kurang lebih.


So, skip aja kalau kurang match dengan perasaan readers ya. Kurang lebih segitu kah usia anak Gwen😁😁😁


Kemudian ada yang sampai gemas karena Abimanyu terlihat lambat.


Mommy disini sengaja ingin membuat perasaan pembaca bak di dalam rollercoaster. Semua itu menandakan jika mommy berhasil membuat pembaca terbawa.


Tidak ada yang sempurna di dunia ini, pun karya mommy juga begitu. Terimakasih yang udah kasih saran ya.


Mommy bangga banget kalian sebegitu respect ke Mommy. Semoga Mommy bisa bikin karya yang lebih baik lagi ya.

__ADS_1


Love u


Mommy Eng πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2