The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 148. I am happy with you


__ADS_3

Bab 148. I am happy with you


.


.


.


...🍁🍁🍁...


" Kalau sudah urusan soal cinta, tai kucing b'rasa cokelat!"


.


.


Dhira mengikuti ucapan Richard lantaran ia tak percaya, juga tak mengerti maksud pria dengan wajah mirip orang Korea itu.


" Ya Benar, sindrom kehamilan simpatik!" jawab Richard mengangguk mantap.


" Apa itu Dok?"


" Sindrom kehamilan simpatik, terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor penyebabnya adalah rasa empati yang berlebihan dari suami kepada istri yang sedang mengandung. Biasanya terjadi saat istri mengandung di trimester pertama dan ketiga!" jawab Ricard lugas.


Dhira tertegun, ia lupa mengecek terakhir dia kedatangan siklus bulanannya bulan lalu. Tapi jika iya, mengapa ia tak merasakan apapun.


" Atau jika anda ragu, anda bisa melakukan tes mandiri. Tapi saya sarankan jika dugaan saya benar, segeralah menemui dokter kandungan!" Richard tersenyum.


" Baiklah dokter terimakasih banyak!" Dhira tersenyum sopan.


Dhira mengantar Richard hingga ke pelataran rumahnya. Ia menatap nanar kepergian mobil sedan licin milik Richard.


Ia tertegun, benarkah jika Tuhan sedang berbaik hati kepadanya? kegugurannya beberapa waktu yang lalu sempat membuat dirinya hopeless dan cenderung tak percaya diri. Sejenak ia berfikir untuk membeli alat uji kehamilan . Namun ia berniat untuk tak memberitahu suaminya dulu.


Jika itu benar adanya, ia ingin memberikan surprise untuk suaminya. Ia ingin rasa tak enak yang di alami Abimanyu itu, berubah menjadi sebuncah kebahagiaan.


Ia ingin memastikan sendiri lebih dulu, sejurus kemudian ia berniat menemui suaminya yang masih berada di kamar.


.


.


Gulita di hati Rania tersuluh oleh cahaya kasih dari Bastian. Pria itu mampu membuat hari-hari Rania kian berwarna.


Siang ini Bastian telah membuat janji bertemu dengan Rania untuk makan rujak cingur. Bastian sangat suka makanan khas Jawa timuran itu. Usai menjemput Rania di depan gedung Delta Group, Bastian membawa wanita cantik itu bersamanya menggunakan kendaraan yang ia miliki, meski tak se mewah milik Rania.


Rania tak keberatan dengan selera Bastian yang menurutnya menjunjung tinggi nilai kearifan lokal itu. Bastian adalah pribadi yang bersahaja, sama seperti Dhira. Tak pernah gengsi dengan apapun.


" Kamu beneran gak papa makan beginian?" Bastian menatap wajah Rania dengan senyum saat dirinya menarik tuas handbreak mobilnya sejuta umatnya.


" Ya ga apa-apa lah Bas, memangnya kenapa? kamu kok kesannya gimana gitu ke aku!" Rania cemberut, ia tak suka bila Bastian selalu meragukan sisi lainnya.


Bastian terkekeh, " Aku hanya memastikan, masa Bu Direksi makannya sama tukang kue yang ngajak makan di warung rujak!" Bastian kembali tergelak.


" Bas!!!" Rania mendelik, ia tak suka Bastian menggodanya terus menerus perihal hal seperti itu. Ia juga bisa menjadi wanita sederhana.


" Iya iya, jangan marah. Entar cantiknya hilang!" Bastian mencubit gemas pipi Rania. Membuat Rania tersipu akan perlakuan manis pria kuning langsat itu.

__ADS_1


Mereka masuk ke warung rujak cingur yang sudah menjadi langganannya bersama Satrio dan Bang Togar, sejak ia masih berada di bagian produksi pabrik Delta Group.


...Rujak Cingur Cak Ali...


Begitulah papan nama dengan foto sepiring rujak menggiurkan, yang sudah melegenda sejak beberapa tahun silam. Konon, warung itu sudah dikelola oleh generasi ke lima dari silsilah kakek buyut cak Ali. Tak heran, ke autentikan rasanya benar-benar bisa di acungi jempol.


" Cak biasae yo ( Cak biasanya ya)" ucap Bastian, kepada seroang pria dengan kumis tebal bak pak Raden, yang berlogat Madura.


" Bo abooo....Mas Bastian lama betool kesini, saya kira sudah ndak ingat sama saya, tau tau sudah bawa istri!" Ucap cak Ali yang sudah dekat dengan Bastian sedari dulu. Sejak menjadi pelanggannya tentunya.


Rania tersipu lantaran ucapan cak Ali, wanita itu menyunggingkan senyumnya. Ia menatap wajah Bastian yang ganteng karena mengenakan kaos pollo biru. Membuat pria itu terlihat ganteng walau dengan pakaian santai.


" Belum cak, doakan ya!" ucap Bastian mengusap punggung Rania. Wanita itu tersanjung dengan perlakuan Bastian.


" Raddin mas ( Cantik mas)" puji cak Ali kepada Rania. Bastian sedikit tahu bahasa yang di pakai cak Ali. Tapi Rania yang tak mengerti, hanya tersenyum.


" Ya sudah dodok saja dolo, biar di uleg sama mbakmu itu!" cak Ali menunjukkan mbak Mita yang masih sibuk meladeni pembeli lain.


Adalah Cak Ali, pria keturunan Jawa Madura itu meneruskan usaha keluarganya. Pria dengan usia setengah abad itu terkenal ramah, apalagi makanan lezat dengan kocek yang tak membuat kantong para karyawan menyusut itu, terus saja ramai setiap harinya. Membuat si pemesan harus rela antri.


Bastian mengajak Rania untuk duduk di meja dari kayu, dengan aksen kipas angin tak sejuk yang lelah menoleh kesana kemari sedari tadi. Bastian mengajak Rania untuk duduk di kursi yang agak dekat dengan jendela. Bastian khawatir Rania tak nyaman makan di tempat tak sejuk seperti itu.


Namun melihat Rania yang enjoy, kekhawatirannya rupanya tak terbukti.


" Kamu akrab banget sama orang tadi!" ucap Rania sesat setelah bokongnya mendarat sempurna di bangku kayu itu.


" Namanya Cak Ali, dia hebat Lo!! Dulu sempat cerita waktu merantau kesini itu karena usahanya di kampung di recokin orang. Dia udah generasi kelima yang buka warung ini!" Bastian antusias menceritakan pemilik warung itu.


" Aku sama Satrio sama bang Togar kalau pas lagi krisis sering makan disini!" Bastian terkikik geli, demi mengingat moment indah bersama dua sahabatnya itu. Moment blangsak lebih tepatnya.


" Jadi kamu ngajak aku kesini karena lagi krisi juga nih cerita?" Rania terkekeh.


" Oh tidak, kalau sekarang aku memang lagi pingin aja. Lagipula, kamu harus tahu makanan lezat nan merakyat seperti ini. Aku yakin, kamu belum pernah makan rujak cingur kan?" Bastian mengusap tangan Rania. Membuat jantung wanita itu berdebar.


Rania mengangguk, " Itu sih udah bisa ketebak, kamu seringnya makan di restoran mahal yang ber-AC!" goda Bastian.


" Bas!!!" Rania kembali mendelik karena Bastian selalu menyinggungnya.


Bastian tergelak," Oke oke, aku minta maaf!" Bastian menahan tawanya.


" Aku pingin kayak cak Ali Ran. Punya usaha sendiri, gak harus terikat sama bos terus. Biarpun kecil, tapi itu usaha kita , kita bisa jadi bos!"


Rania terpukau dengan impian Bastian. Bastian berbeda, ia adalah pria bertanggung jawab. Kilasan ingatan Rania kembali saat Bastian rela mengadaikan mobilnya demi membutakan tempat usaha kakaknya dulu.


" Aku harap kamu terus sabar ya, jika Pembangunan Ruko udah selesai, Dapur Isun udah jalan, aku janji bakal dateng buat lamar kamu!" tangan putih Rania di genggam erat oleh Bastian.


Ruko yang di kelola Dhira kini sedang di lebarkan sayapnya oleh Bastian. Pria itu bahkan tak mau merepotkan Dhira. Ia meminjam dana di Bank dengan agunan sertifikat rumah, dan BPKB mobilnya. Ia nekat maju dengan segala daya upaya darinya sendiri.


Dan Bastian tak menceritakan hal ini kepada Dhira. Sebagai lelaki, pantang baginya untuk tak berjuang. Dia juga sudah meminta Bu Kartika untuk tak melibatkan kakaknya yang baru saja keluar dari penderitaan itu, untuk mengetahui segala hal yang kini menjadi impiannya.


Rania terharu akan hal itu, Bastian sangat manis sekali pikirnya. Padahal dia bisa saja membiayai seluruh pernikahan mereka dengan uangnya. Tapi ia tak mau menyentil harga diri Bastian pikirnya.


" Maaf karena kita masih harus begini-begini aja. Aku ...belum mampu..."


" Ssssttt udah, aku ngerti kok. Aku mau nunggu kamu!" Rania setulus hati menjawab keresahan Bastian.


" Ini mas...cabai sembilan dan ini cabai tujuh!" tukas cak Ali, meletakkan dua porsi makanan dari lontong itu secara bergantian, lengkap dengan saus kacang khas, berisikan beberapa jenis sayur dan potongan daging dari cingur sapi.

__ADS_1



" Makasih Cak, jeruk hangatnya dua ya!" ucap Bastian.


" Siap mas!!"


" Kok anget?" tanya Rania usai pria berkaos merah putih dengan garis horizontal itu, berlalu pergi. Ia banding, karena mengapa Bastian malah memilih minum hangat saat cuaca panas begini.


" Kamu suka pedes, aku juga. Kalau minum yang di dingin, rasa mulut yang kebakar lama ilangnya. Kudu minum yang hangat. percaya deh sama aku!"


" Udah ayo makan!"


Rania lekas menyuapkan sesendok makanan itu. Rania mengangguk senang, rasa legit, manis , gurih, pedas dalam makanan itu sangat pas. Rasa petis Madura dari olahan itu juga bisa ia kecap dengan baik.


" Ini enak Bas!" Rania tersenyum berbinar. Membuat Bastian juga membalas senyumnya.


" Enak banget malah!" Rania dengan mulut penuh terus saja mengomentari rasa sip pada makanan itu.


" Habiskan, kalau perlu nambah!" Bastian senang, meskipun Rania adalah wanita kaya. Namun wanita itu tak menggerutu saat diajak makan di tempat sederhana seperti itu.


Dan tanpa membutuhkan waktu lama, kedua manusia itu saling ber- huh hah karena sensasi mulut mereka yang seolah terbakar. Rasa pedas nagih membuat mereka tak bisa berhenti melahap.


" Minum jeruk angetnya. Ayo!" Bastian mengangsurkan minuman hangat itu, meski saat pertama menyeruput minuman itu mulut kita langsung seperti nyoooosss, namun sejurus kemudian rasa pedas di mulutnya itu berangsur berkurang.


" Gimana bener kan?" Bastian tersenyum.


" Kamu kok tahu sih?" Rania mendapat ilmu baru dari Bastian.


Bastian menepukkan tissue wajah , ke kening Rania yang berkeringat. Wanita itu pasti sangat merasa kepedasan batinnya.


Rania yang di perlakukan lembut oleh Bastian menjadi baper. Pria di depannya itu sungguh membuat Rania bak menjadi perawan kembali.


" Makasih!" ucap Rania yang tersanjung dengan perlakuan so sweet Bastian. Rania tersenyum memperlihatkan giginya yang rata.


Rania tersenyum senang, namun wajah Bastian malah menatapnya dengan lekat dan kernyit terpampang menghiasi wajahnya.


" Aku tahu aku cantik, gak usah begitu!" Rania sebenarnya grogi, ia menutupi semua itu dengan mencibir Bastian seperti itu.


Bastian menyebikkan bibirnya, " Pede!!!, orang ada cabe merah itu di gigi kamu!" jawab Bastian seraya terkekeh.


" Hah????" demi apapun yang ada di dunia ini, Rania malu setengah mati.


Oh noooo!!!!!


.


.


.



Babang Ibas siang itu😁😁


Keterangan :


Foto rujak diambil dari Facebook

__ADS_1


__ADS_2