The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 93. Bleeding


__ADS_3

Bab 93. Bleeding


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


"Jangan lagi kau pergi, dari hidupku. Takkan mudah untukku, bila sendiri. Biar kita miliki rasa bahagia, ingin selalu bersama di dalam ruang dan waktu"


( Diambil dari lirik lagu Titi DJ feat. Agnes Mo ~ Hanya Cinta)


.


.


Darah yang dianggap Dhira sebagai haid , adalah darah implantasi. Pendarahan implantasi adalah keluarnya bercak darah dari alat kewanitaan pada masa awal kehamilan. Ketika mengalami hal itu, banyak wanita yang menganggap bahwa hal ini merupakan gejala menstruasi, sehingga tidak menyadari bahwa dirinya sedang hamil.


Proses penempelan embrio pada dinding rahim inilah yang menyebabkan terjadinya perdarahan implantasi. Dhira tak mengetahui hal itu, lantaran saat ia mengandung Raka dulu ia tak mengalami hal seperti itu.


Tidak semua ibu hamil mengalami Implantasi, hal itu membuat Dhira tak mengetahui. Ia juga tak merasakan gejala mual saat mengandung Raka dulu. Semua berjalan normal. Membuat dirinya mempercayai, jika ia hanya sakit karena kelelahan dan kurang darah.


Untuk mengetahui kehamilan memang harus dilakukan dengan tes lebih lanjut. Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter tempo hari adalah pemeriksaan general. Lagipula, kasus seperti Dhira itu adalah hal biasa. Mengingat wanita memang makhluk yang rentan mengalami kelelahan, akibat pekerjaan sehari-hari.


Berguling dari lantai dua setinggi lima meter, membuat Dhira tak sadarkan diri. " Mama!!" Raka pucat pasi melihat mamanya tak sadarkan diri. Bu Hana dengan langkah tergesa menyusul Dhira.


Sekar mencampakkan tumpukan pakaian itu ke sembarang arah. Ia bahkan bingung harus berbuat apa. Sementara Arya, dia mendadak tubuhnya mematung. Ia merasa langkahnya berat.


Sejurus kemudian lantaran menyadari kesalahannya, ia langsung menapaki tangga dengan cepat, menyusul Bu Hana yang lebih dulu telah berada di samping Dhira.


Diwaktu bersamaan Bastian rupanya datang bersamaan Bu Kartika," Astaghfirullah!! kenapa ini?" Bu Kartika terlonjak kaget saat melihat Dhira sudah tergeletak di lantai.


Andai Bu Kartika melihat kejadian tadi, entah apa yang ada di benaknya kemudian.


"Kak Dhira, kenapa ini Bu?" Bastian panik bukan kepalang. Ia adalah pria yang begitu menyayangi kakaknya.


Bu Hana tak bisa menjawab, ia hanya bisa menangis.


"Kita bawa kerumah sakit, aku bisa jelaskan nanti!" ucap Arya sekuat hati. Ia bahkan tak bisa berfikir.


Bastian mengangkat tubuh kakaknya, namun saat ia berdiri ia terlonjak, " Darah?!" Bastian mendelik.


Bu Kartika, Bu Hana, Arya, Sekar dan Raka juga turut melihat darah yang mengalir sepanjang paha Dhira. Dhira yang setiap pagi selalu mengenakan daster itu, membuat semuanya mudah untuk melihat darah segar yang mengalir hingga ke betis Dhira.


Bu Hana makin terisak demi melihat darah yang keluar dari tubuh Dhira. Raka bahkan sudah menangis dengan tak malunya. Ia tak terima dengan keadaan ini. Mamanya terkulai lemah tak sadarkan diri, dengan keadaan memprihatinkan.


"Dhira!!!!" Bu Kartika seketika lemas begitu melihat anaknya yang mengeluarkan darah dari alat kewanitaannya. Detik berikutnya, wanita tua itu turut tak sadarkan diri.


"Sekar, kamu tutup ruko dulu. Kamu nyusul ke rumah sakit Griya Husada!!" ucap Arya. Ia akan membawa Dhira menuju rumah sakit dimana ia mengabdikan diri.


Dengan dua mobil mereka membawa dua orang tak sadarkan diri itu. Bastian bersama Bu Hana bersama Dhira. Sementara Arya bersama Bu Kartika.

__ADS_1


Dalam mobil Bastian.


"Bu, sebenarnya apa yang terjadi?" Bastian tak bisa menahan dirinya untuk diam saja.


Bu Hana terlihat memangku kepala Dhira yang wajahnya makin pucat. Bu Hana tak hentinya menangis, panik cenderung merasa bersalah. Entah bagaimana nyawa janin yang ada di dalam rahim Dhira. Sebagian seorang bidan, tentu panggilan jiwanya terusik.


"Dhira hamil nak Bastian, ibu baru tahu tadi!" akhirnya Bu Hana dengan suara terbata-bata menceritakan kejadian tadi. Tentang kecurigaannya terhadap calon menantunya itu, juga perihal Arya yang tak sengaja membuat Dhira terpelanting jatuh, hingga membuat wanita itu berguling ke bawah melewati puluhan anak tangga.


"Apa?, b-bagaimana bisa?"


"Ya Allah!" Bastian gusar, hatinya berkecamuk di saat bersamaan.


Bastian mengusap wajahnya kasar, kini ia bingung siapa yang harus si salahkan. Siapa yang harus bertanggungjawab kalau sudah seperti ini. Semua diluar kendalinya.


Ia meraih ponsel di dasbor mobilnya, menekan nomor atasannya. Teringat akan sesuatu. Mungkin belum terlambat.


Dua kali nada tunggu , teleponnya sudah tersambung.


"Halo Bu, maaf saya tidak bisa masuk hari ini. Laporan nanti biar di backup sama Satrio !" Bastian teringat bila hari ini ia harus menyerahkan laporan penting kepada Rania.


"Kamu kenapa Bas?, semuanya baik-baik saja kan?" Rania seperti bisa menebak situasi saat ini. Suara Bastian cenderung panik, dan tergesa-gesa.


"Kak Dhira pendarahan Bu, saya harus membawanya ke rumah sakit. Saya tidak masuk kantor hari ini!" Bastian tidak peduli dapat ijin atau tidak, yang jelas ia mau jujur saja prihal alasannya untuk alpa pagi ini.


Sementara itu, di mobil Arya.


Ia melihat Bu Kartika yang terbaring di kursi penumpang belakang, wanita itu tidur dengan posisi miring sepanjang jok mobil Arya.


Ia menyesali dirinya yang tak bisa mengatur emosi. Andai dia bisa lebih tenang, ia pasti tak akan membuat Dhira celaka. Namun hatinya begitu sakit, ia kini teringat dengan alat tes kehamilan yang kini masih ada di kantong celananya.


Arya menitikkan air mata, ia merasa terkhianati namun juga merasa bersalah karena membuat dhir dalam keadaan seperti ini.


Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, gusar sekaligus di penuhi amarah.


"Abimanyu!!!" ia mengeraskan rahangnya


...šŸšŸšŸ...


"Pendarahan?" Rania berucap dengan terbengong, sesaat setelah sambungan telepon itu terputus. Ia mencoba menghubungi kakaknya, ini menyangkut Andhira. Sudah pasti kakaknya harus di beri tahu.


Rania mengumpat kesal, puluhan kali menghubungi kakaknya namun negatif. Sia sia.


Ia terpaksa menuju ruangan kakaknya, yang terletak agak jauh, dari devisi yang ia kuasai.


"Kemana sih, giliran ada berita penting aja. Nomer gak aktif!" gerutu Rania. Rania melempar sepatu hak tingginya, lalu mengganti dengan flatshoes yang bisa ia gunakan untuk berjalan cepat.


Rania bahkan tak menanggapi anggukan serta sapaan penuh hormat dari beberapa pegawainya. Saat membuka pintu ruangan kakaknya, ia mendelik. Ruangan itu kosong melompong.


"Dimana dia?" ucap Rania berbicara kepada dirinya sendiri.


Dan saat hendak berbalik arah, ia menabrak tubuh seseorang.


Brukkkk

__ADS_1


" Aduh!" Rania mengaduh, seraya mengusap jidatnya.


"Kenapa Ran?" rupanya Abimanyu yang menabrak Rania.


"CK, kakak dari mana aja sih, di telpon gak bisa, ga di jawab maksudnya terus aku kesini ga ada!"


"Ini kan aku ada!" sahut Abimanyu.


"CK, udah ah. Jangan mendebatku dulu!" gerutu Rania. Rania agak syok, kakaknya itu berwajah pucat, kantung matanya menghitam. Dalam hati Rania menebak, jika kakaknya itu pasti beberapa hari ini tak cukup tidur. Kegalauan pasti melanda hatinya. Apalagi Rania menangkap wajah muram, sejak Abimanyu keluar dari kamar Dhira tempo hari.


Belum sempat Rania berucap, datang Wisang dengan tergopoh-gopoh. Berwajah panik.


"Bim!!"


"Abimanyu!!!" Wisang berteriak, di sepanjang koridor ruangannya.


"Apalagi ini!" gumam Abimanyu. Mengapa dua orang terdekatnya sepagi ini sudah membuatnya berkali- kali melipat dahi. Rania bahkan juga menoleh ke arah Wisang yang ngos-ngosan.


"Bim, lihat ini!" Wisang mengusap benda pipih mahalnya, kemudian menggulir benda itu dengan terburu-buru, lalu menunjukkan sebuah video kepada Abimanyu.


Tinggi badan Abimanyu yang tak bisa ia samai. Membuat Rania yang juga penasaran akan video itu ,harus berjinjit .


Abimanyu seketika merasa darahnya mendidih, rahangnya mengeras, matanya merah menahan amarah. Apalagi ada sebuah perkataan yang menenangkan jika Dhira tengah mengandung anaknya, di tambah video dalam durasi 5 menit itu menerangkan jika Dhira terdorong oleh Arya.


Rania mengatupkan kedua tangannya ke mulutnya, ia benar-benar terkejut.


"Astaga kak Dhira?" seketika Rania yang paham isi video itu, menangis. Membayangkan bagaimana rasanya menjadi wanita itu saat ini.


"Brengsek!!!" Abimanyu menggertakan giginya, rahangnya mengeras. Ia mencampakkan ponsel Wisang ke tangan Rania.


Rania yang sudah tahu info dari Bastian bahkan tak sempat menyampaikan berita itu, Abimanyu keburu melesat keluar tanpa berucap apapun.


"Kau kenapa disini? tanya Wisang.


"Aku baru mau memberitahu kakak kalau kak Dhira pendarahan" jawab Rania bermuram muka.


"Siapa yang kasih tahu?" tanya Wisang.


"Assiten aku di kantor, dia adiknya kak Dhira!"


"Kak Wisang dapat itu dari mana?" Rania bertanya setelah Abimanyu pergi, ia juga penasaran dari mana pria itu mendadak menjadi up to date soal Dhira.


"Dari assistennya Dhira!" jawab Wisang.


Rania mendelik, sejak kapan sahabat kakaknya itu mau berhubungan dengan wanita?. Dan tunggu dulu, assistennya kak Dhira?.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2