The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 140. Apes


__ADS_3

Bab 140. Apes


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Yang di namakan rasa, yang dilihat rupa!"


.


.


Ludah licin mendadak susah untuk Indra telan. Haruskah Anggi tahu yang sebenarnya saat itu juga. Ia bahkan belum memiliki antisipasi atas kemungkinan yang terjadi jika ia jujur. Haruskah ia kehilangan untuk kesekian kalinya?


Tok Tok Tok


Pintu itu terketuk dengan santainya.


" Masuk!" sahut Indra dari dalam.


Pintu yang terbuka itu memperlihatkan Dina, seorang karyawannya yang biasa menjadi seksi riwa-riwi. " Pak ada orang tuanya pak Indra dibawah !" ucap Dina.


Anggi menatap ke arah Indra, pria itu terlihat senang akan kedatangan orang tuanya. " Langsung suruh masuk!" titah Indra, membuat Dina segera menjalankan perintah bos-nya.


" Saya permisi dulu kalau begitu pak!" ucap Anggi undur diri. Membuat Indra sedikit lega akan hal itu. Ia pasti akan menceritakan sisi gelap hidupnya, tapi tidak sekarang. Karena sungguh, ia menaruh rasa terhadap Anggi.


Dua menit kemudian, Pak Joko beserta Bu Novi serta Dea terlihat memasuki ruangannya. Mereka sempat berpapasan dengan Anggi. Anggi sempat menunduk hormat kepada orang tua dari bosnya itu.


Dea terlihat tertidur diatas gendongan pak Joko. Bocah itu nampaknya sangat kelelahan.


" Ayah kok gak bilang kalau mau kesini?" Indra menyongsong kedatangan orang tuanya, kemudian menyalami tangan keduanya takzim.


" Kamu pasti lagi repot. Tiwi lagi ikut suaminya ke luar kota. Jadi Dea tak bawa kesini, biar dia gak nyariin mamanya terus!" sahut pak Joko.


" Dea di tidurkan di sana aja Bun, ada kasur kecil kok!" Indra menggiring bundanya menuju sebuah ranjang ukuran 140 x 200 yang berada di sisi kanan ruangannya.


Pak Joko membaringkan cucunya yang masih lelap itu. Sejurus kemudian yang ia kembali dan duduk di sofa ruangan Indra. Ruangan bercat kuning itu tak terlalu luas, namun memiliki satu toilet plus kamar mandi, satu tempat istirahat plus lemari, dan di depan ada sebuah meja kerja yang di lengkapi sebuah komputer plus printer, satu set sofa, dan di sudut terdapat water showcase mini.


Ruangan yang berada di lantai dua ruko satu itu, seringnya menjadi rumah tinggal kedua untuk Indra, semenjak ia punya usaha itu. Kini ia jarang menyatroni rumahnya yang dulu ia tinggali bersama Dhira. Ia hanya memperkerjakan satu ART untuk rutin membersihkan kediamannya itu.


" Gimana prospek kerjaan kamu?" tanya pak Joko seraya melempar punggungnya ke sandaran sofa.


" Ya lebih baik lah Yah. Meskipun kita sambil harus terima orderan untuk mau ngantar. Kalau gak jemput bola kayak gitu, orang belum tahu toko Indra Yah!" ucap Indra sesuai mengangsurkan dua botol air minum dingin, yang barusaja ia ambil dari water showcase.


" Ya, sambil nyari karyawan yang inovatif. Mereka promo-promo ke medsos. Jaman sekarang musti ngikutin digitalisasi!" imbuh Indra


" Ayah mau kopi aja kalau ada!" ucap Pak Joko.


" Kamu kok agak kurusan ndra?" tanya Bu Novi, memandang wajah anaknya yang memang terlihat lelah.


Tentu saja, Indra kini benar-benar sibuk. Ia masih mengatur kekurangan usahanya itu. Belum lagi, ia masih harus riwa-riwi ke Disperindag ( Dinas perdagangan dan industri) untuk mengurus ijin. Ia benar-benar memulai semuanya dari nol. Dan legalitas usahanya itu penting.


" Ya biasa lah Bun, berakit- rakit kehulu..." Indra menjawab dengan tersenyum, ia memberikan sebuah perumpamaan tentang kita yang musti bersusah-susah dahulu jika ingin mendapatkan sebuah kesenangan. Tak ada yang instan bukan di dunia itu.


Indra menelpon Anggi untuk membawakan dua cangkir kopi ke ruangannya. Dan dalam beberapa menit saja, Anggi sudah membawa sebuah nampan berisikan dua cangkir kopi panas.


" Monggo Pak , Buk Niki unjuk'ane ( ini minumannya)" ucap Anggi seraya menghidangkan minuman itu .

__ADS_1


Pak Joko dan Bu Novi saling tatap, wanita di depannya itu berbahasa Jawa halus kepada mereka. " Kamu pinter banget kromo Inggil ( bahasa Jawa halus)" tanya Bu Novi.


" Enggeh Bu, tiang Jawi nggih musti njawani ( Ya Bu, orang Jawa musti tahu)" sahut Anggi tertunduk hormat.


Detik berikutnya Anggi pamit undur diri, membuat Indra tersenyum saat melihat orang tuanya yang tak hentinya menatap Anggi.


" Dapat karyawan bagus dari mana kamu ndra?" tanya pak Joko.


Bagus dalam artian di jaman modern seperti saat ini, masih ada anak muda yang fasih berkata bahasa kromo halus kepada orang tua macam Joko dan Bu Novi. Secara tak langsung, Anggi mendapat nilai plus untuk hal itu.


Indra tanpa ragu menceritakan asal muasal Anggi. Tentang dirinya yang pernah kena grebek, tentang sepenggal perjuangan hidup Anggi yang pelik, tentang semuanya. Bahkan tentang dirinya yang menaruh rasa terhadap wanita itu.


Pak Joko dan Bu Novi tertegun mendengar penuturan Indra. Putranya itu sudah banyak berubah mereka rasa. Tidak ada salahnya jika anaknya akan memulai lembaran baru untuk hidupnya. Karena hati memang harus di obati dengan hati, tentunya dengan sikap hati- hati pula.


" Semua orang punya masa lalu, ayah cuman berpesan jangan sampai dua kali jatuh ke lubang yang sama. Ayah rasa semua yang menimpa kamu sudah cukup untuk memberimu pengajaran!" Tukas Pak Joko.


Indra terpekur menatap cangkir keramik miliknya, saat pak Joko lekas memberikan petuahnya. Dan semua yang di katakan pak Joko benar. Ia sudah banyak belajar dari semuanya. Arti sebuah kehilangan itu berat.


" Ayah merestui jika kamu mau menikah lagi, tapi jangan lupa selalu libatkan Raka dalam urusan apapun. Bocah itu harus jadi prioritas utama kamu!"


...šŸšŸšŸ...


Dua hari berlalu, sebuah rumah di kawasan perumahan elite sudah terbeli. Meskipun Dhira menolak untuk membeli rumah yang berlebihan


, tapi Abimanyu selalu pintar berdalih rupanya.


" Kamu jangan khawatir, rumah kita nanti pasti bakal rame karena suara anak-anak!" goda Abimanyu tersenyum licik.


Dhira mendengus," Itu terus yang di bahas!"


" Itu karena aku sayang kamu Dhir. Aku pingin kasih yang terbaik buat kamu!" Abimanyu menyambar bibir istrinya yang manyun.


Rencananya Abimanyu hari ini, akan membereskan rumah barunya dengan melibatkan para pasukannya untuk membantu.


Ya, meski mereka sudah memanggil jasa untuk membantu mereka. Tapi mereka ingin seru-seruan hari itu.


Dan sudah bisa di tebak, Shinta pasti mejadi yang paling dulu datangnya. Sikap ke- ontimeannya layak di acungi jempol.


" Duh Dhir, rumah kamu luas banget!!" Shinta berkacak pinggang seraya memutar menyapu pandangan. Dhira masih seorang diri disana, lantaran Abimanyu kembali ke lantai atas. Entah apa yang di lakukan suaminya itu.


" Laiya itu, aku aja pusing Shin!" sergah Dhira.


" Ngapain pusing, suamimu banyak duit. Pasti urusan gaji menggaji pembantu urusan sipel."


Obrolan mereka terinterupsi karena kedatangan Wisang dan Sekar. Dan sejurus kemudian, datang Bastian bersamaan Rania yang rempong karena membeli beberapa makanan untuk mereka nanti.


" Akhirnya datang juga. Lemot amat!" dengus Abimanyu dari arah lantai dua rumah barunya.


" Lu kayak gak kuat bayar orang aja buat beberes!" ucap Wisang yang sebenarnya malas.


Ia langsung di senggol oleh Sekar karena berucap demikian. Membuat Abimanyu merasa menang.


" Itulah gunanya aku punya kalian. Jangan lelah untuk aku repotkan. Karena semua akan merepotkan pada waktunya!" Abimanyu terkekeh geli.


Wisang mencibir ucapan Abimanyu, membuat pria itu tergelak dengan kencangnya.


"CK, si anjing malah belum datang lagi!" gerutu Wisang karena belum melihat Danan diantara mereka.


" Iya ya, tumben!" sahut Rania.


" Biasanya kan nempel kak Wisang!" kekeh Rania.

__ADS_1


Dhira turut tersenyum mendengar selorohan Rania.


Bastian dan Sekar hanya diam. Sementara Shinta lebih bersyukur karena pria itu tak ada diantara mereka. Pria yang sempat memegang susunya dengan kurang ajarnya tempo hari. Dan hal yang ia sebut kurang ajar itu, sebenarnya adalah sebuah ketidaksengajaan.


.


.


Agenda mereka hari ini adalah membantu menata ulang perabot. Ya, walaupun tidak semuanya sih karena Abimanyu dan Dhira juga sudah menyewa jasa pembersih rumah.


Mereka semua memakai baju santai. Dress code yang sudah di berikan oleh Abimanyu. Mana mungkin kerja bhakti pakai jas dan sepatu pantofel. Mereka lebih ke menata aksesoris pada rumah baru Abimanyu, dan acara akan dilanjutkan untuk makan bersama nanti.


Menata Foto, lukisan , stiker dan desain untuk kamar Raka, menata belanjaan di dapur, mengatur letak furniture dan lain- lain.


Hal itu terjadi, karena calon pembantu yang sudah di rekomendasikan oleh Bik Surti dari kampungnya, belum tiba di kota. Lagipula, Dhira senang melakukan pekerjaan rumah tangga seperti itu. Makanya membuat Abimanyu mencetuskan ide semacam ini.


Tanpa membuang waktu lagi, pagi itu mereka menyebar ke berbagai ruangan bersama para pekerja. Danan belum menunjukkan batang hidungnya. Entah mengapa pria itu kali ini terlambat.


Sudah hampir satu jam berlalu, mereka semua sudah mengerjakan lebih dari separuh tugas mereka. Shinta saat itu kebagian menata kamar tamu yang berada di lantai dasar.


Bastian dan Rania nampaknya sibuk di dapur memenuhi isi kulkas, Wisang dan Sekar berada di lantai atas bersama Abimanyu dan Dhira.


Shinta terlihat sibuk membantu memasang sprei dan juga menata beberapa tumpuk baju di lemari di lantai dasar itu. Ia sesekali menyapu keningnya yang berkeringat.


Ia membuka kaosnya karena gerah, Membuat dirinya kini hanya mengenakan teng tong hitam saja. AC disana masih belum terpasang sempurna karena masih akan di kerjakan setelah itu. Membuatnya menjadi bersimbah keringat.


Banyak sekali orang yang berseliweran kesana kemari di rumah itu, karena memang hari itu hari sibuk untuk penataan rumah baru Dhira.


Shinta yang sudah selesai segera membawa tumpukan kardus itu untuk keluar. Ia membawa kardus itu dalam tumpukkan yang tinggi, membuat pandangannya sedikit tertutup julangan kardus bekas yang ia bawa.


Dan saat ia sudah berada di ambang pintu, tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang kelihatannya tengah sibuk dengan sebuah ponselnya, hal itu bisa ia simpulkan karena saat bertabrakan ponsel milik pria itu terpelanting ke lantai.


Bruaaak


" Aduhhh!!!" Shinta mengaduh karena ia ambruk tepat diatas dada seroang pria, membuat tumpukan kardus itu menyebar ke lantai dengan suara gaduh.


Mata Shinta membulat demi melihat siapa orang yang berada di bawah tubuhnya. Tubuh mereka menempel, bahkan pria itu sempat melirik dua benda kenyal milik Shinta yang terpelenet, karena tertekan ke dada bidang pria yang membuatnya kesal beberapa waktu yang lalu.


" Kau!!!" Pekik Shinta seraya melotot, saat melihat Danan yang berada di bawah tubuhnya, tengah tersenyum berbinar.


" Hay, kita bertemu lagi!" jawab Danan sembari melipat keduanya tangannya untuk di jadikan alas kepalanya, seraya menikmati pemandangan indah diatas tubuhnya.


.


.


.


.


.


Dananjaya



Shinta



Rangga

__ADS_1



__ADS_2