
Bab 190. Seremonial Pertama
.
.
.
...ššš...
" Musuh terberat itu sebenarnya melawan diri sendiri!"
.
.
Abimanyu nampak biasa saja meskipun Devan sudah frustasi. Dengan tanpa berucap, Abimanyu langsung berdiri dan menuju pintu keluar.
" Yan..woy Wayan...Bantuin!!!" Devan meneriaki pria seusianya dengan lengan yang penuh dengan tato serta memakai udeng khas kota itu.
" Oh ok...!" Wayan membuang puntung rokok yang ia hisap ke tong sampah seraya memungkasi obrolannya dengan para supir taksi disana dan langsung menyongsong kedatangan Abimanyu.
" Welcome to BL Pak Abimanyu...tiang Wayan!" Wayan mengulurkan tangannya untuk menjabat Direktur salah satu perusahaan yang akan mengikuti Family Gathering di kota itu.
Bukan Family Gathering lagi untuk Abimanyu, karena dia datang tidak bersama keluarganya. Melainkan bersama Devan. Ya, anggap saja Devan itu keluarganya.
" Terimakasih Wayan, senang bertemu denganmu!" Abimanyu dengan segala kewibawaannya menyambut uluran tangan Wayan.
Wayan adalah supir dari sebuah event organizer, yang kali ini di sewa oleh panitia penyelenggara kegiatan itu.
Hotel Alira, adalah tempat yang menjadi gelaran acara itu. Hotel terbaik di kawasan pantai Sinaria , menjadi tempat berkumpul para petinggi pebisnis di bidang produksi makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya itu.
" Istri endak ikhut Pak?" Wayan adalah sosok yang komunikatif, wajar saja. Ia bekerja di sektor pariwisata musti pandai mengelola lidah.
" Sedang hamil muda, jadi saya tidak mengajaknya!" sahut Abimanyu.
Wayan menganggu paham.
Mereka melewati tol keluar area bandara itu, dengan pemandangan bentangan garis pantai yang nyaris tak memiliki batas dengan langit. Indah dan menyejukkan mata.
Devan sibuk dengan ponselnya, pria itu tengah gencar mengurus dan membaca group WA yang berisikan para sekretaris dari semua tamu undangan, untuk mengetahui hal apa saja yang wajib ia kerjakan nanti.
" Jadi cuma berdua saja sama Devan?" Wayan kembali bertanya.
" Kau ini cerewet sekali Yan!" Devan mendengus karena bisa-bisanya Abimanyu bersikap B aja kepada Wayan, dan kerap bersikap menyebalkan saat bersama dirinya.
Abimanyu terkekeh " Tidak ada yang se setia Devan kepada saya!" jawab Abimanyu. Membuat Devan langsung melayang karena pujian itu.
" Tumben!" Devan mencibir dengan suara pelan yang tak di dengar oleh Abimanyu.
Dan tak sampai lama, mereka sampai di kawasan jalan Sinaria. Mobil tersebut terlihat memasuki lobi hotel dengan papan besar bertuliskan
...Alira Hottel...
...Your traveling companion...
Dengan lambang lima bintang yang berjejer rapih di bawahnya. Bangunan hotel itu menjulang tinggi, memiliki ratusan unit kamar.
__ADS_1
Devan dengan sigap membukakan pintu untuk Abimanyu, sementara Wayan membuka bagasi mobilnya untuk mengeluarkan empat koper.
" Mari Pak!" Masing-masing peserta di jemput oleh panitia disana, dan ratusan rekan Wayan juga bekerja seperti dirinya. Menjemput dan mengawal hingga ke kamar hotel.
Terlihat di dalam ada meja khusus bertuliskan
...Wellcome to...
...Family Gathering Manufaktur Sky alliance 20xx...
Dari sana Devan bisa melihat bahwa ia harus melaksanakan registrasi disana. Banyak sekali peserta disana, namun orang yang di kenal Abimanyu belum ada satupun yang sampai.
" Selamat siang Pak, bisa di isi nama peserta dan dari perusahaan mana!" Seorang petugas dengan cepol rambut berbicara ramah kepada Devan.
Devan dengan cekatan menulis Iis sesuai kolom yang di pertanyaan di kertas itu.
" Baik, silahkan ini kunci ada. Dan jangan lupa untuk terus mengaktifkan group di WA untuk informasi kegiatan ya Pak!
Petugas itu tak hanya memberikan kunci dan sebuah paper bag berisikan seragam trining, topi, souvernir, hampers dan juga name tag dalam bentuk kalung yang bertuliskan event tersebut.
Petugas dengan name tag Komang Ariska itu mengucapkan salam dengan mengatupkan kedua tangannya, seraya tersenyum kepada Devan.
Banyak banget bidadari di pulau ini, tapi maaf aku tidak tertarik kepadamu, aku sudah menemukan tutup ku di bandara.
Devan terkekeh usai mengucapkan kata itu dalam hatinya saat ia berbalik selepas mengambil dua kunci tadi.
" Ngapain lu Van, cengengesan kayak orang gila?" Abimanyu menyipitkan matanya saat melihat Devan yang cekikikan bak orang gila.
" Palingan dia terpesona sama si Komang itu Pak!!" sahut Wayan yang mulai mendorong koper itu diatas troli.
" Oh tidak bisa....!" Devan menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri. Membuat Wayan tergelak.
Tiga orang itu harus melangkah lagi menuju koridor satunya, untuk sampai ke kamar mereka. View hotel itu menampilkan pemandangan Samudra yang luas, hotel itu dekat dengan laut.
" Dua kamar kan Van, jangan sampai aku tidur sama kamu!" ucap Abimanyu ketus.
" Tenang, saya juga tidak mau saat saya halu nanti di ganggu sama bapak. Ini kunci anda, dan ini milik saya. Kamar kita bersebelahan!" tukas Devan seraya memberikan kunci hotel itu.
" Saya sudah selesai Pak, saya mau turun dulu. Kalau ada apa-apa langsung saja telpon saya!" Wayan dengan logat khas itu kini undur diri. Ia merasa tugas pertama dengan beres.
" Yok!! makasih Yan!"
.
.
Usai mengistirahatkan tubuhnya sejenak, Abimanyu melihat jam di nakas menunjukkan pukul lima sore waktu setempat.
" Astaga aku belum telpon Dhira!" Abimanyu segera menyambar ponselnya yang ia letakkan di bibir meja.
"Halo sayang"
Mas udah di hotel?
" Iya sory tadi langsung tidur, ini belum ganti baju malahan. Aku kangen!"
Abimanyu melakukan video call dengan istrinya.
__ADS_1
" Kamu dimana ini?" sambungnya.
Aku di jalan ini, habis pulang dari rumah Oma. Itu Jodhi ikut, mau nginep di rumah nemenin aku mas!
Dhira tersenyum mengarahkan layarnya ke dua bocah yang tenang melambaikan tangan ke arah Abimanyu.
Abimanyu membalas lambaian tangan itu, juga dengan melambai.
" Jaga Bunda Jo, titip kak Raka ya!" Abimanyu berucap kepada keponakannya yang bandel itu.
" Siap Yah, jangan lupa bawakan oleh-oleh yang banyak dari sana!" teriak Jodhi.
" Beres!!" jawab Abimanyu mengacungkan jempol.
" Ada anak-anak ya, aku jadi malu mau ngobrol hal lain. Ya udah aku tutup dulu ya, ntar aku telpon lagi!"
Abimanyu tak mengeluarkan kata- kata mautnya. Ia tahu disana ada Nanang dan juga kedua bocah, yang setiap saat bisa meledaknya.
Abimanyu hanya melakukan gerakan mencium bibir, tanpa mengeluarkan suara. Tanpa di nyana Dhira membalas aksi kocak Abimanyu itu.
.
.
Malam berganti, jadwal pertama adalah pembukaan di ballroom hotel itu sekaligus acara makan malam.
Devan tak mengira pesertanya akan sebanyak ini, ballroom yang luas itu kini sudah di isi dengan meja- meja bundar yang kesemuanya sudah di tata berbagai minuman.
Di ujung gedung itu, terdapat panggung kecil bertuliskan sama dengan tema yang sama saat mereka melakukan registrasi tadi.
...Wellcome to...
...Family Gathering Manufaktur Sky alliance 20xx...
...Grow together in intimacy...
Berbagai acara seremonial dilakukan, sambutan- sambutan dari ketua aliansi juga ketua panitia nampak silih berganti mengisi kegiatan pada malam itu.
" Membosankan!" Abimanyu menguap, pria itu sebenarnya tidak terlalu senang dengan acara bertele-tele seperti itu. Tapi semua demi kemajuan perusahaannya. Akan banyak penjalin kerjasama yang bisa ia temui disana. Peluang pelebaran usahanya pun, semakin besar.
Sementara Devan, nampak senyum- senyum sendiri dengan terpaku pada layar ponselnya. Pria itu terlihat seperti mendapat jackpot saja. Membuat Abimanyu menghela napas. Anak muda memang begitu.
Acara terasa lambat dirasa oleh Abimanyu. Ia memilih untuk mengirim chat kepada Dhira.
" So boring!!" itulah caption yang di sematkan di bawah foto dirinya yang tengah bosan. Abimanyu gelisah menanti balasan dari Dhira.
Dan saat Abimanyu tengah asyik mengirim pesan kepada istrinya, terdengar suara seseorang yang mendekat ke tempatnya duduk.
" Maaf bolehkan saya bergabung disini!"
.
.
.
.
__ADS_1
.