The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 193. Perjalanan jauh


__ADS_3

Bab 193. Perjalanan jauh


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Semua ada harganya, tapi tidak semua juga di jual. Termasuk harga diri!"


.


.


" Titip rumah ya Mbak. Saya kalau gak besok, lusa udah balik!" Dhira berucap kepada Yuni saat berada di pelataran rumah mereka. Bersiap untuk masuk ke mobil.


" Hati-hati Ya Nyonya!"


" Duh Mbak, udah berapa kali saya ngomong. Panggil saya Bu Dhira aja ya!" Dhira menyentuh pundak ART nya itu dengan lembut. Membuat hati Yuni menghangat, sungguh ia beruntung diberikan majikan seperti Dhira.


" Ayo Nang!" Ajak Dhira.


" Nggeh ( iya) Bu!" Nanang memasukkan koper hardcase warna merah maroon milik Dhira ke dalam bagasi mobil.


Pria itu memutari mobilnya usai menutup pintu bagasi mobil, lalu masuk ke dalam ruang kemudinya. Bersiap untuk mengantarkan majikannya memberantas bibit wanita tidak benar.


Jam masih menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Sementara jadwal pesawatnya pukul 09.00 waktu setempat. Namun Dhira ingin menunggu di bandara saja. Ia ingin sedikit bernostalgia pagi itu.


" Kamu tinggal saja Nang, saya langsung masuk setelah ini!" turut Dhira usai Nanang menyerahkan kopernya.


" Tapi Bu!" Nanang tak enak hati kalau harus meninggalkan majikannya yang lembut itu.


" Ini perintah!" Dhira sedikit tegas kali ini. Membuat pria lajang itu ciut nyali.


Dhira masuk ke pintu keberangkatan menuju counter check in. Ia lebih dulu memasuki pintu X-ray yang di jaga puluhan personel Aviation Security yang berseragam rapih dan memiliki postur yang tak mengecewakan itu.


Sejenak ia teringat dengan mendiang Rangga, yang juga berprofesi sama dengan para pria di depannya itu. Rangga adalah komandan satuan personel keamanan yang menjadi garda depan di sektor penerbangan itu.


Rasa rindu kepada Shinta menyelinap ke relung sanubari Dhira. Karena kesibukan, ia belum sempat berkunjung kembali ke kediaman sahabatnya itu, malah sekarang ia harus membereskan sedikit kutu yang hendak menyentil kehidupannya.


" Tas, ponsel , jaket, ikat pinggang mohon di masukkan ke X-ray!" ucap salah seorang petugas Avsec ( Aviation Security) itu, saat beberapa penumpang hendak masuk ke dalam. termasuk Dhira.


Dhira yang dulu juga sempat bekerja disana, sebagai customer service itu tentu sudah hapal dan familiar dengan prosedur naik ke pesawat. Ia meletakkan koper dan tasnya ke dalam baki, lalu memasukkannya kedalam mesin pemeriksaan itu.


Dhira masuk ke pintu pemeriksaan metal detektor dengan di sambut senyum ramah dari petugas perempuan berhijab ,yang standby di depan alat itu. Dhira yang tengah mengenakan jam tangan itu, lupa melepas dan akhirnya mengeluarkan bunyi saat ia melewatinya pintu pemeriksaan itu.


" Permisi ya Bu!" wanita itu terlihat meraba Dhira, memeriksa dengan pemeriksaan Body Search ( pemeriksaan menyeluruh dengan meraba menggunakan tangan ke sekujur tubuh).


" Terimakasih!" ucap petugas Avsec wanita itu, saat selesai memeriksa Dhira.


Dhira membalas anggukan seraya tersenyum ramah.


Dhira pagi itu mengenakan jumpsuit yang nyaman bagi ibu hamil seperti dirinya, dan sebuah blazer senada. Tampilan Dhira benar-benar casual dan terlihat sangat cantik.

__ADS_1


Dari ruang X-ray, Dhira melangkah menuju deretan counter check in yang berjajar rapih di depannya. Ia mencari logo maskapai yang sudah di pesankan Devan.


Ia masih menarik koper maroonnya, sembari mencari keberadaan maskapai yang akan ia naiki.


Andanu Airlines. Maskapai plat merah terbaik milik pemerintah itu, masih menjadi best Airlines sejak ia bekerja di sana hingga saat ini. Banyak sekali perubahan yang terjadi, setelah lebih dari satu dekade Dhira resign dari tempat itu.


Dhira melihat bandara itu kian besar, dan banyak sekali anak-anak muda berkompeten yang menjadi karyawan disana. Sejenak ia teringat dengan dirinya dulu, yang di masa muda, pernah riwa-riwi disana untuk meminta data penumpang ke anak-anak Ground Handling.


Ia menuju meja check ini khusus jalur bisnis class, dengan logo Andanu Air AA 202.


" Selamat pagi pelanggan Andanu Air!" Sapa petugas check in dengan ramah. Petugas dengan seragam coklat itu terlihat menjalankan SOP Passenger Handling ( penanganan penumpang) dengan baik.


" Selamat pagi mbak, saya mau check in!" tutur Dhira.


" Baik Bu, mohon di tujukan tiket dan kartu tanda pengenalnya!" Ucap petugas dengan nama meja Rinjani. Nama yang seperti nama sebuah gunung.


Dhira menarik senyum, saat membaca nama meja yang terpasang di meja counter gadis muda dengan cepol rambut rapih itu.


Dhira mengeluarkan ponsel milik Raka yang ia bawa, menunjukkan e-tiket kepada Rinjani dan juga mengeluarkan sebuah KTP.


" Satu orang penerbangan dari Kota J menuju Kota BL ya Bu!" Rinjani mengkonfirmasi tiket yang di booking oleh Dhira.


" Benar mbak, dan oh ya saya sedang hamil dan ini surat pernyataan dari dokter!" Dhira terlihat membuka tas yang ia kenakan, ia mengambil sebuah amplop berisikan surat dari dokter Septa.


Mendengar kata hamil, seorang petugas wanita lain menghampiri Dhira.


" Bu Dhira ya?" sapa petugas itu.


" Iya benar saya Dhira!" Dhira menjawab dengan wajah terkejut, karena ada orang yang mengenalnya, sementara dia tak mengenali orang itu.


" Oh baik mbak!" Rinjani seketika mundur dari meja check in itu, dan membiarkan wanita itu untuk melayani Dhira.


" Perkenalkan saya, Alexa. Saya sudah di informasikan oleh Mas Devan terkait perjalanan ibu!"


Devan? sejak kapan pria itu dekat dengan anak airport?


Dhira membatin, seraya menatap wajah manis Alexa yang berkulit eksotis khas Indonesia itu.


" Saya sudah check in kan di kursi nomer 7C Bu, maaf spesial passenger atau penumpang dengan kebutuhan khusus seperti bayi, ibu hamil, dan lansia harus kami tempatkan di gang ya Bu!" Alexa begitu lihai dalam melayaninya pelanggan. Dari penampilannya, Dhira bisa memprediksi jika Alexa adalah senior Rinjani.


" Untuk suratnya, kami bawa untuk di berikan kepada cabin crew di pesawat nanti. Ibu sudah ada copy-nya?" tanya Alexa.


" Sudah mbak, ini satu lagi di tas saya!"


" Baik Bu. Kalau begitu, ini saya ambil ya!" sahut Alexa.


" Wah terimakasih kalau begitu ya mbak, ini saya ada bagasi satu koli" terang Dhira.


" Oh baik Bu!"


Alexa meminta porter lapangan untuk menaikkan bagasi milik Dhira ,ke conveyor timbangan di sebelah meja check ini.


Alexa dengan cepat menginput bagasi dalam sistemnya, kemudian melabel bagasi itu lengkap dengan label priority.


" Baik silahkan Bu, satu orang tujuan kota BL kita boarding pukul 08.30 di gate 1 ya Bu. Ini label bagasi saya tempel di balik boarding pass. Terimakasih Bu Dhira, have a nice flight !" Alexa mengatupkan kedua tangannya seraya memberikan salam hormat kepada Dhira.

__ADS_1


Dhira yang tersanjung dan puas akan perlakuan dan pelayan hangat Alexa, seketika ingat sesuatu. Ia kembali ke meja Alexa.


" Buat beli minum ya, bagi sama Rinjani!" Dhira menjatuhkan dua lembar pecahan bergambar Proklamator ke meja Alexa. Membuat Alexa seketika terkejut dan senang.


" Terimakasih banyak Bu Dhira!" ucap Alexa girang.


Dhira merasa saat ini memiliki kelebihan dalam hal rejeki, dan ia tahu hal kecil seperti tadi pasti bisa membuat orang lain senang.


.


.


Abimanyu


Pria itu gelisah dan uring-uringan kepada Devan. Bahkan pagi ini, ia malas turun untuk sarapan. Ia juga absen mengikuti satu kegiatan di pagi itu yang menurutnya tidak penting.


" Kamu aja yang pergi Van. Aku lagi sakit!" ketus Abimanyu membuka laptopnya. Sejak semalam, ponsel Dhira tidak bisa di hubungi.


" Bilang saja, kalau saya mendadak tidak enak badan jika kau di tanya panitia itu. Nanti malam saja aku akan ikut kegiatan selanjutnya!"


Anda memang sakit, otak dan hati anda kan yang sakit?


Dengan bersidekap, Devan membatin seraya memandang lekat bosnya itu. Abimanyu tak menyadari akan hal itu.


Sejurus kemudian ponsel Devan berbunyi.


Bu Dhira sudah datang, aku di kasih tek- tekan ( semacam sebutan untuk menyebut upeti / tips yang di dapat dari pelanggan) mas!


Caption itu di tulis oleh Alexa, di bawah foto Dhira yang berjalan usai dia melakukan check-in ke meja Alexa.


Ya, Alexa adalah wanita yang menyenggolnya, saat berada di kabin pesawat. Wanita yang ia sebut sebagai tutup yang ia temukan.


Devan tertarik saat pandangan pertama kepada Alexa. Devan sengaja menulis kertas yang ia robek dengan buru-buru. Membuat sobekan kertas itu menjadi Asimetris.


Aku bisa memprotesmu jika kau tidak segera menghubungiku untuk minta maaf secara benar .


+6285777222xxx


TTD


Pria yang kau senggol di dalam pesawat.


Tulisan itu sengaja digunakan Devan untuk bisa menjalin komunikasi dengan wanita yang menyenggolnya itu.Ia sudah tak bisa berfikir panjang lagi waktu itu.


Kini Devan terkikik geli, karena ia merasa tengah terlibat dengan aksi gerilya Dhira. Ia tak sabar melihat bagiamana raut wajah Abimanyu saat istrinya itu datang.


Dari penuturan Dhira secara sekilas, istri bosnya itu tahu bila suaminya di buntuti oleh wanita yang kemaren bergabung di meja mereka.


Tapi Devan tak mau memberitahu Abimanyu. Kapan lagi ia balas dendam dengan cara begini kan?


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2