The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 74. Pemandangan Mengejutkan


__ADS_3

Bab 74. Pemandangan Mengejutkan


.


.


.


...🍁🍁🍁...


"Apa yang kau cari wanitaku?, apa yang kau cari?"


( Diambil dari Lirik lagu Noah ~ wanitaku)


Niat Dhira dalam hati terbuktikan dengan tindakannya, ia memblokir nomer Abimanyu dengan tega tidak tega, ia juga menugaskan Shinta untuk menghandle Dapur Isun sementara.


Selama itu pula Shinta selalu berkelit, tiap Abimanyu datang untuk menanyakan keberadaan Dhira. Shinta akhirnya turut menjadi pendosa besar, karena sudah rutin berbohong kepada Abimanyu.


Sementara Dhira, malam Minggu ini lebih memilih untuk menginap dirumah ibunya. Abimanyu pasti akan nekat pikirnya, "Kak?" ucap Bastian sore itu, adiknya Terlihat tampan dengan mengenakan pakaian rumahan.


"Kakak mau kemana?" Bastian duduk di sofa ruangan tengah, duduk segaris di depan kakaknya yang memijat keningnya.


"Gak ada, Bu Hana mau kemari, jadi aku ganti baju!!" terang Dhira yang masih pening, karena hati dan pikirannya masih bersama Abimanyu.


Dan benar saja mobil Arya terlihat sampai di depan rumah Bu Kartika, Dhira dan Bastian sontak berdiri dan menyambut kedatangan mereka.


"Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam!" ucap Bastian dan Dhira bersamaan.


"Ibuk gimana?" Bu Hana bertanya usai mereka saling salaman.


"Udah mendingan kok Buk!"


Bu Kartika di rawat langsung oleh dokter rekan Arya, tentu saja atas bantuan Arya mereka tak perlu memikirkan cost dari rumah sakit itu. Bu Kartika semakin senang dengan pria itu.


Mereka berempat berduyun-duyun masuk ke kamar Bu Kartika, rupanya ibunya tengah terduduk menghadap ke arah jendela.


"Bu!" sapa Bu Hana.


"Eh, Bu Hana!" Bu Kartika segera membenarkan letak hijab instannya, saat hendak menyapa kedua tamu spesial itu.


"Herman udah ngontrol tiap hari kan?" tanya Arya. Bastian heran, bahkan pria itu sungguh intens memperhatikan kesehatan ibunya. Tapi, entah mengapa ia jadi teringat dengan Abimanyu.


"Terimakasih nak Arya, harusnya tidak perlu repot-repot untuk minta temen nak Arya buat riwa- riwi kesini!" Bu Kartika sungkan, calon mantu harapannya itu terlampau baik.


Arya memang tulus membantu, ia senang apalagi Dhira kini juga sudah tidak se kaku kapan hari.


Mereka mengobrol kesana kemari, Bu Hana terlihat sumringah begitu juga dengan ibunya Dhira. Dhira yang melihat pancaran rona kebahagiaan yang nyata itu, hanya bisa menghembuskan nafasnya ibuk bahagia banget kalau Arya kemari Dhira membatin dalam hati.


"Emm Bu aku mau jalan dulu ya, udah di tunggu Satrio. Bu, mas saya pamit dulu ya!" Bastian berpamitan, sebagai orang bujang ia tak mau jika harus menghabiskan malam minggunya hanya untuk menonton sinetron mewek di TV ikan terbang.


"Oh iya, nak Bastian jangan main sama temen mulu, cepat cari gandengan juga!" tukas Bu Hana.


Bastian menjadi belingsatan dibuat, mereka semua tertawa kecuali Dhira.


"Nak Arya juga sebaiknya jalan sana, saya kepingin ngobrol sesuatu sama ibunya nak Arya. Dhir, kamu siap siap sana!" ucap Bu Kartika.


Dhira mau tidak mau menuruti perintah ibunya, ia menuju kamarnya dulu dan meraih tas selempangnya. Ia sejenak mematut dirinya ke cermin," Tunaikan baktimu, jangan kau pikirkan hatimu!" ia mensugesti dirinya sendiri lewat pantulan dirinya yang berada di cermin dengan penuh ironi.


.


.


Abimanyu telah menghabiskan banyak sekali puntung rokok di kamarnya, ia yang biasanya malam Minggu selalu bersemangat untuk menemui Dhira, kini menjadi seperti seoang pesakitan yang menunggu jam besuk tiba.

__ADS_1


Bulu halus di sepanjang rahangnya terlihat tak terawat, wajahnya terlihat sayu kurus tak terurus.


Pintu kamarnya terbuka, Nyonya Regina dengan tongkat berjalan pelan ke arah balkon. Berniat menemui cucunya.


"Oma.." lirih Abimanyu segera menggerus puntung rokok ke asbak kristal miliknya.


Ia membantu Nyonya Regina untuk duduk di sofa kamarnya," Disni saja Oma, diluar dingin.


Nyonya Regina mendudukkan dirinya ke sofa yang berada di kamar Abimanyu," ceritakan ke Oma!"


Nyonya Regina sudah paham, bila cucunya itu mengurung diri dikamar, pasti tengah terlibat persoalan." Tidak ada Oma!" Abimanyu tak mau membebani pikiran wanita tua kesayangannya itu, apalagi neneknya itu mengidap hipertensi.


"Meskipun kamu sudah tua, tapi aku jauh lebih tua darimu!"


"Katakan, apa wanita ular itu masih mengganggumu?"


Abimanyu langsung menggelengkan kepalanya," Bukan Oma, Gwen sudah menjalani hidupnya sendiri"


"Oma cuma mau bilang, kalau kau hanya diam begini dikamar, masalahmu tidak akan pernah selesai. Temui wanita itu, tanyakan langsung. Minta kejelasan, sekarang atau tidak sama sekali. Jangan cuma kuat di ranjang, tapi juga di tindakan!" Abimanyu mendelik, mendengar nyonya Regina bersabda.


"Dhira menolakku Oma!"


Nenek tua itu terdiam sejenak.


"Mustahil... aku melihat cinta dimata wanita cantik itu. Aku juga menyukainya!"


Suasana senyap beberapa detik.


"Entahalah Oma, baru kali ini aku merasakan cinta yang kuat. Kegalauan ku melebihi saat Gwen pergi. Rasa yang tak bisa aku jelaskan"


Abimanyu juga menjelaskan bila tempo hari, Dhira pernah mengemukakan alasan terkait ibunya.


" Bim, wanita itu hanya ingin tak mengulang kesalahannya dulu. Rania sudah bercerita banyak tentang Dhira kepadaku, kau yang salah. Kenapa dari dulu tak kau ceraikan saja Gwen. Aku sudah berkali-kali mengingatkanmu!" Nyonya Regina sebal sekali dengan cucunya yang dinilai lamban itu.


"Ia pasti tidak ingin hubungannya dengan ibunya memburuk kembali"


.


.


Abimanyu malam itu ingin menemui Wisang ke Patrick Star.


"Kau ini selalu mau bertemu denganku bila ada kasus aja Bim!" tukas Wisang yang menggulir ponselnya.


Abimanyu terkekeh, bertemu dengan Wisang agaknya bisa mengurangi kegalauan yang melanda dirinya.


"Ada apaan, kusut banget!" ucap Wisang.


"Suruh Danan kesini!" ucap Abimanyu.


"Dia gak bis di ganggu, lagi coblosan dia !"


"Sialan emang laki-laki itu, nyelup aja kerjaannya!"


"Dari pada elu kerjanya galau sambil rajin ngerecokin gue terus!" sahut Wisang. "


"Semua akan ngerecokin pada waktunya, sekarang giliran gue. Ntar juga elu bakal begitu!"


"Gue sih ogah, ogah mumet kayak kamu!" Wisang tak mau kalah.


"Belom aja!"


"Udah cepetan ada apa, keburu penasaran gue ini!" Wisang meletakkan ponselnya, menatap serius ke arah Abimanyu.


"Gwen lagi?" tebak Wisang.

__ADS_1


"Bukan!"


"Banyak banget persoalan elu!"


"Persoalan kalau di ikuti gak ada habisnya, soal lama pergi soal baru datang!"


"CK, itu sih kata- kata Iwan Fals monyet!!" Wisang meninju udara di depannya.


Abimanyu kembali terkekeh," Soal Dhira!"


"Ngapain lagi, bukannya elu udah enak-enakan sama dia. Gwen juga udah gue singkirin sesuai mau elu, apa lagi sekarang?


Abimanyu mengehela nafas," Anak sama ibunya kagak setuju sama aku!"


"Huft!" Wisanggeni menarik nafasnya.


Senyap beberapa detik.


"Alasannya?"


Abimanyu akhirnya menceritakan apa yang di ucapkan Dhira tempo hari, tanpa ragu ia membeberkan bila ibunya Dhira hanya ingin nama anaknya bersih.


"Ibunya gak salah sih Bim, yang salah itu elu. Elu lambat dari dulu!"


"Elu kayak Oma gue aja!" Abimanyu memberengut kesal.


Saat mereka masih ngobrol dan belum Nemu solusi, mata Wisang melotot demi melihat penampakan yang begitu membuat kepalanya nyut-nyutan.


"Arah jam 12!" perintah Wisang kepada Abimanyu, untuk menoleh ke arah sewaktu dia pernah salah paham kepada Bastian dulu.


"Dhira!!" Darah Abimanyu serasa mendidih, wanita yang dua kali ia gumuli itu tengah bersama seorang pria dengan tangan menempel di pinggang Dhira, dan Dhira hanya diam.


Wanita yang yang beberapa hari ini seolah menghilangkan, wanita yang memblokir nomernya tanpa alasan itu kini bersama laki-laki lain, dengan keadaan yang begitu dekat.


"Apa - apaan ini!" Abimanyu ingin segera beranjak, namun dengan sigap Wisang menahan.


"Tunggu, gue jadi ragu jika alasan Dhira karena ibunya yang gak setuju!"


"Mereka main cantik, kita harus lebih cantik!"


"Tapi Wis! Abimanyu sudah tak tahan lagi.


"Percaya sama gue, elu jangan permalukan diri elu sendiri disini. Ingat elu seorang Direktur, kalau elu gebukin orang disini bisa hancur reputasi elu, ingat nama besar keluarga elu!"


Abimanyu menatap tajam ke arah Dhira yang kini tengah duduk berhadapan dengan pria itu, posisi Dhira yang membelakangi dirinya, membuat wanita itu tak mengetahui bila Abimanyu turut berada di cafe itu.


Apa sebenarnya yang terjadi Dhir?


.


.


.


.


.


.


.


Novel ini bertajuk Adult Romance. ( Novel Dewasa) Jika suka silahkan lanjut, if you dislike author legowo. Karena mustahil menyenangkan hati setiap pembaca.


Buat yang masih suka, don't forget to tap like ya..

__ADS_1


Matur nuwun readersku tercintaaaaaah😘😘


__ADS_2