The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 59. Let's Do It Now!


__ADS_3

Bab 59. Let's Do It Now!


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


Andhira


Senin ini Dhira berencana akan menyetorkan uangnya ke bank, biasanya ia menyetorkan ke agen. Namun karena hari ini ia akan bertemu dengan seorang yang akan memesan kuenya, ia sekalian jalan.


Orang ini berani membayar lebih kepada Dhira, ia tahu nomer telepon Dhira dari medsos yang di buat Dhira untuk promosi kedai Dapur Isun. Dhira memang akan menutup rukonya untuk hari ini.


Orang itu ingin Dhira membawakan sampel kue, karena ia ingin tahu rasanya. Dhira yang memang membutuhkan tambahan uang untuk pelunasan hutang kepada Bastian, rela melakukan cara apapun yang dirasa dijalur yang benar.


Hari itu, Dhira mengendarai taksi sekalian mengantar Raka. Berencana akan bertemu dulu dengan wanita yang sudah membuat janji dengannya itu, di sebuah cafe sederhana di pinggir jalan utama .


Pertemuannya berjalan lancar, pesanan kue itu diminta dalam satu box berisi 7 jenis kue, dan orang itu memesan sebanyak seribu box. Rencana akan diberikan kepada panitia mushola, karena akan ada gelaran pengajian di daerah rumahnya pada Kamis mendatang.


Setelah fix dan memberikan DP, Dhira keluar dengan hati sumringah. Ia senang karena akan dapat pesanan sebanyak itu.


Dhira menunggu taksi ataupun angkutan umum yang biasa lewat disana, entah mana yang datang dulu Dhira akan menyetop. Namun saat dia sibuk mengetik pesan di ponselnya seraya menunggu, ia terkejut dengan bunyi klakson.


"Mas Abimanyu?"


.


.


Abimanyu


Moodnya pagi ini rusak karena percakapannya dengan Gwen selalu berakhir dengan pertengkaran di dalam kamar. Abimanyu bahkan tak sempat sarapan, ia sudah keburu malas.


Ia sering membawa mobil sendiri belakangan ini, sementara Jodhi sering bersama Rania dan Bagus. Hidupnya benar-benar kosong, tak pasti arah. Ia melihat sosok yang merajai pikirannya selama ini," Dhira" ucapnya memicingkan mata guna memastikan, apa itu benar mamanya Raka.


Tin Tin


Ia mengklakson Dhira, membuat wanita itu berjingkat." Maaf!" Abimanyu berucap sesaat setelah kaca mobilnya ia turunkan, terkekeh karena melihat keterkejutan Dhira. Namun ia senang, setidaknya bisa bertemu pagi ini.


Untuk jalanan masih sepi, membuat Abimanyu tidak terlalu mengganggu laju kendaraan lain karena ia memarkirkan mobilnya di bibir jalan, dan tengah mengobrol dengan Dhira.


"Naiklah, aku antar!"


"Tapi mas" Dhira sudah berjanji untuk tidak mau dekat dengan pria itu.


Tin Tin


Baru saja merasa jalanan masih sepi, rupanya mobil Abimanyu lekas menjadi biang kemacetan. " Cepat naik, sebelum aku di damprat supir lain!"


Tak pelak ucapan Abimanyu barusan membuat Dhira dengan cepat membuka handel pintu, lalu masuk. Dengan harapan kericuhan yang lekas terjadi, segera berakhir.


"Kamu pakai sabuknya!" ucap Abimanyu sambil menjalankan mobilnya, ia tahu bila dia salah. Tapi ia tak peduli, yang penting ia bisa bersama Dhira saat ini.


"Mau kemana? atau dadi mana?" Abimanyu berucap seraya fokus dengan kemudinya.


"Dari ketemu pelanggan, terus mau ke bank" Dhira menatap Abimanyu yang terlihat ganteng sekali pagi itu. Rambut yang tersisir rapi serta setelah jas yang membuat pria di sampingnya itu sungguh terlihat sultan banget.

__ADS_1


" Aku antar!"


"Dan tolong jangan di tolak!"


Tak perlu lama Dhira melakukan transaksinya itu, setelah print out buku rekening di berikan oleh seorang teller cantik itu, ia melangkahkan kakinya keluar. Terlihat Abimanyu yang sedang berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.


"Baik aku kabari nanti!" ucap Abimanyu kepada seseorang di telepon, sesaat setelah melihat Dhira sudah di samping mobilnya.


"Udah?"


Dhira mengangguk," mas berangkat aja, aku bisa pulang sendiri! ucap Dhira yang merasa tak tenang, mengingat Abimanyu adalah suami orang.


"Aku belum makan, kamu masak apa? aku ingin makan disana!" Abimanyu membukakan pintu untuk Dhira, sesaat Dhira tertegun. Namun lagi-lagi ia adalah orang yang paling tidak bisa mendengar orang yang sambat kepadanya.


.


.


Mereka diam dan larut dalam pikirannya masing- masing. Sepanjang perjalanan hanya diam, Abimanyu menyalakan radio di dasbor mobilnya.


Aku mencintaimu


Sepenuh hatiku


Aku menginginkanmu


dengan sepenuh jiwaku


Meski tak seindah yang kau mau


Tak sesempurna cinta yang semestinya


Alih- alih membuat suasana tidak canggung, namun lagu itu malah membuat Abimanyu tersindir. " CK, malah berisik jadinya ya. Aku matiin aja"


Padahal Dhira tak meminta apapun, " terserah mas aja" memangnya mau berkomentar apa lagi.


Ruko Dhira masih tutup, Shinta hari ini tengah quality time bersama Rangga yang tengah off duty. Makanya Dhira bisa keluar, karena sengaja akan tutup ruko untuk hari ini.


Ya, ruko Dhira tak tentu jadwal tutupnya. Itulah salah satu enaknya punya usaha sendiri, meskipun belum besar tapi dia adalah bosnya. Mengatur sesuka hatinya.


Mobil Abimanyu diparkiran di belakang, Dhira berdalih agar tak ada pelanggan yang mengira ruko itu buka. Dhira dan Abimanyu masuk lewat pintu belakang, sebenarnya Dhira tak enak karena harus berdua saja dengan Abimanyu. Namun, sekali saja tak apalah memberi makan orang baik itu, pikirnya.


"Maaf mas, masih berantakan. Aku belum sempat beberes" Dhira sungkan, karena ia lewat pintu belakang, yang notabene adalah dapur kotor.


"Enggak apa apa, yang penting aku bisa makan. Laper banget Dhir!" ia mengusuk perutnya, memasang wajah kelaparan.


Hati itu Dhira masak cumi saus tiram dengan sayur kangkung, tak sempat masak lain lain karena memang ruko tidak buka.


"Maaf mas, tadi yang penting Raka bisa sarapan dulu, jadi seadanya!" Dhira menata nasi dan piring serta lauk, ke atas meja makan kayu itu.


"Cocok banget ini Dhir, aku udah lama gak makan kangkung!" dengan wajah berbinar Abimanyu mulai mengambil makanan lezat itu.


"Aku ke atas dulu ya mas, mau naruh ini!" Dhira menunjukkan tas yang ia bawa tadi, berisikan buku Rekening juga buku catatan khusus pelanggan yang melakukan pemesanan.


"Iya tinggal aja" Abimanyu tersenyum.


Abimanyu makan seraya mengamati setiap sudutnya dapur Dhira, tak terlalu besar dan tak terlampau kecil. Hatinya nyeri menatap perabot yang masih kotor dan teronggok begitu saja..


Dalam hati berucap, mungkin saja belum cukup untuk menggaji karyawan lagi. Ia menepis pemikiran itu, masakan Dhira memang enak, pantas kalau Jodhi selalu rela berdebat dengan Rania soal rasa makanan yang dibuat mama Raka itu.

__ADS_1


Ia meneguk segelas air putih yang sudah di siapkan Dhira, sejenak ia merasa bak memiliki istri idaman. Wanita cantik, makanan lezat, perhatian tulus. Oh, andai Dhira tak menolaknya.


"Aaaaaaaa!!" suara jeritan Dhira dari lantai atas membuat khayalannya menguap ke udara.


"Dhira!" tanpa menunggu, ia berlari menapaki anak tangga dari keramik itu. Khawatir dengan Dhira yang yang menjerit.


"Ada apa?" tanya Abimanyu panik.


"Itu ada tikus!!" Dhir rupanya hendak ganti baju, terlihat dari pakaian yang tadi ia kenakan tengah berada di dekat kasurnya. Ia hanya mengenakan tengtop berwarna hitam. Abimanyu merasa tertantang, hanya dengan melihat Dhira yang berpakaian seperti itu.


"Mana!" Abimanyu mencari keberadaan binatang pengerat itu, dengan celingukan.


"Disana!" tunjuk Dhira ke dalam sebuah lemari plastik. Dhira berada di balik punggung Abimanyu, ia merasa geli dengan binatang itu.


Abimanyu membuka dan berusaha menggerakkan lemari itu, rupanya benar. Tikus itu bersembunyi disana. Abimanyu mengambil sebuah sapu yang tergantung di belakang pintu kamar Dhira. Mengusir binatang itu tanpa berniat menyakiti.


"Tikusnya udah pergi!" Abimanyu berucap menatap Dhira dari dekat. Membaut wanita itu tersenyum lega.


Dhira tidak takut, tapi geli dan jijik. Ia mengatur nafasnya, berniat dalam hati akan membersihkan tempatnya setelah ini.


Abimanyu malah fokus pada dua benda yang bersembunyi di balik tengtop hitam itu, mereka saling menatap. Dhira merasa ada desiran aneh saat mereka bersama.


Suasana yang gaduh, seketika menjadi hening. Masih dengan posisi saling menatap.


Abimanyu menyapu wajah Dhira dengan pandangannya. Menelisik dalam, lalu tangan Abimanyu membelai rambut Dhira yang sedikit berantakan.


Dhira masih diam, dadanya berdebar sekaligus berdesir tatkala tangan Abimanyu menyentuh telinganya. Detik itu juga, kedua tangan Abimanyu menangkup wajah Andhira, ia menempelkan bibirnya ke bibir Dhira yang menggoda.


Dhira awalnya terkejut dengan perlakuan Abimanyu, ia bahkan bisa melihat bulu mata Abimanyu dari jarak yang begitu dekat. Ia yang merasa terhanyut dengan sentuhan lembut Abimanyu turut terbuai. Ia yang memang sudah sangat lama tak mendapat sentuhan itu kini malah turut larut, Dhira bahkan memejamkan matanya merasakan lidah Abimanyu yang menyapu bagian bibirnya.


Tangan Abimanyu bergerak ke belakang tengkuk Dhira, lalu meraba punggung Dhira hingga ke bokong Dhira yang selalu terbayang dalam pikirannya itu.


Sesaat Abimanyu merasa Dhira juga menyambut ciumannya, saling menyesap, saling me lu mat, saling bertukar Saliva.


Tanpa melepaskan ciuman yang saling bertaut, Abimanyu menggiring tubuh sintal Dhira menuju ranjang bersprei putih bersih itu. Sejenak ciuman itu terlepas saat tubuh Dhira sudah rebah di kasur itu, Abimanyu memandang wajah Dhira sendu begitu juga dengan wanita itu.


Sungguh mereka hanyalah manusia yang tiada bisa menolak tawaran indahnya gelombang paling melenakan saat ini, Abimanyu kembali menyambar bibir itu dengan rakusnya, Dhira pun logikanya telah memudar, ia tak bisa melawan gejolak dalam dirinya yang menuntut lebih. Ia hanyalah wanita yang selama ini ingin disentuh dengan lembut.


Dhira adalah wanita yang sudah meracuni pikirannya beberapa bulan ini, wanita yang membuatnya mengerti arti jatuh cinta setelah ditinggal Gwen. Ia bahkan tak sekedar suka, tapi sudah tumbuh rasa sayang kepada wanita itu.


Abimanyu mengecup leher Dhira, membuat wanita itu mendesah. Kemudian turun ke dua gundukan yang paling membuat dirinya penasaran dengan ukurannya. Dhira bahkan tak mampu untuk sekedar berucap, ataupun mencegah. Sungguh Abimanyu melakukan semuanya dengan sangat lembut, sentuhan yang diberikan Abimanyu membuah Dhira merasa di sayangi. Hal yang sudah sangat lama tidak ia dapatkan.


Abimanyu melucuti pakaian Dhira, setelah semua pakaian Dhira teronggok tanpa melepas ciumannya Abimanyu melepas pakaiannya. Dua gundukan itu kini ia raih, menyesap benda itu secara bergantian. Membuat Dhira menggelinjang. Ini salah, jelas salah tapi mereka saat ini benar-benar tak bisa menepikan buncahan rasa yang membuat mereka dibutuhkan satu sama lain, rasa cinta dan kasih sayang yang selama ini hilang.


Ciuman mereka berhenti, mereka saling menatap tanpa berbicara, hanya ada suara kendaraan yang berlalu lalang di seberang jalan. Sorot mata mereka seolah mengatakan, let's do it now.


Kejantanannya sudah bersiap, menembus batas kegilaan yang akan membawa mereka terbang menuju langit. Dhira mencengkeram bahu kekar Abimanyu yang terlihat basah. Mungkin karena kamar Dhira yang tak memiliki AC. Dhira memejamkan matanya sesaat setelah benda penting milik Abimanyu memasuki dirinya. Rasa yang berbeda kini disajikan lembut oleh Abimanyu. Ini gila, benar-benar gila.


Hentakan Abimanyu benar-benar membuat Dhira tak lagi bisa membedakan benar dan salah, dada bidang nan liat itu tak luput dari sapuan tangan Dhira. Abimanyu kembali menyambar bibir Dhira, wajah wanita itu sudah terlihat pasrah cenderung menikmati.


Dalam durasi lama penyatuan itu terjadi, sampai hentakan terakhir yang membuat mereka menuju puncak tertinggi keindahan. Abimanyu memeluk Dhira hangat, mengecup kening wanita itu.


"Maaf!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Abimanyu, sesaat setelah penyatuan mereka selesai dengan dibarengi dengan peluh yang terproduksi dalam jumlah banyak.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2