
Bab 226. Will you marry me?
.
.
.
...ššš...
"Orang yang di terpa cinta memang kerap kali menjadi bodoh"
.
.
Dananjaya
Usai melayangkan ciuman dan tanpa mendapat penolakan dari Shinta, agaknya itu sudah menjadi sinyal yang membuktikan jika langkahnya sepertinya akan semakin terbuka lebar.
" Njing, tadi aku nitip Shinta ke rumahmu!" ucapnya melalui sambungan telepon kepada Abimanyu.
" Mulutmu sialan, kayak bicara di hutan aja lu. Sakit telinga gue, elu dari mana emang?" sahut sahabatnya itu.
" Dari rumah Shinta lah. Kasihan dia kesepian dirumah. Jadi sengaja aku ajak ke tempat ini lu biar dia ada temen. Ini aku lagi dijalan, mau otewe rapat!" jawabnya.
" Balik, cepet putar balik!" ucap Abimanyu.
" Hah? kenapa?"
.
.
Abimanyu
Ia melimpahkan semua tugas kepada Devan. Itulah enaknya menjadi bos. Pria itu mengurangi pertemuan dengan relasi yang bergender wanita.
Tak mau kecolongan apalagi sampai jatuh ke lubang yang sama. Ia lebih senang bila Dhira mengomel, dari pada harus di diamkan.
Membayangkannya saja sudah ngeri.
Ia tak mau ambil resiko, apalagi ia tahu bila Dirut Caterpillar Group adalah wanita yang beberapa bulan yang lalu, sempat membakar istrinya dalam buncahan rasa cemburu. Ya, walau akhirnya keadaan melandai.
Tapi ia sudah kapok, ogah-ogahan untuk sekedar menjajal.
" Kamu yang datang Van!"
" Jawab sesuka hati kamu, intinya perusahaan kita mau kerja sama!"
" Saya udah janji sama istri saya untuk tidak membuatnya cemburu!"
" Saya percaya, kamu akan menjaga Delta Group, seperti kamu menjaga harga diri kamu sendiri!"
Devan mendengus demi mendengar ucapan gendeng bos-nya itu. Bagiamana bisa harga dirinya di samaratakan dengan kredibilitas perusahaan.
Wong edan!
( orang gila)
Selain harus men-standby kan ponselnya dua puluh empat jam, agaknya gaji fantastis yang didapat Devan juga termasuk ongkos untuk menjadi kambing hitam di moment- moment tertentu, seperti saat ini.
Damned!
Well, karena pagi ini urusan sudah di backup oleh Devan, ia menjadi lebih santai. Sampai pada akhirnya ponselnya bergetar karena panggilan seorang sahabat.
"Njing, tadi aku nitip Shinta ke rumahmu!" Abimanyu mendengus saat mendengar suara Danan yang memekakkan telinganya.
Sopan sekali dia? Abimanyu menggerutu dalam hati.
"Mulutmu sialan, kayak bicara di hutan aja lu. Sakit telinga gue, elu dari mana emang?" Jawabnya seraya mendengus.
" Dari rumah Shinta lah. Kasihan dia kesepian dirumah. Jadi sengaja aku ajak ke tempat ini lu biar dia ada temen. Ini aku lagi dijalan, mau otewe rapat!"
" Balik, cepet putar balik!" titahnya.
" Hah? kenapa?"
" Elu ini bos, minta staff elu buat beresin kerjaan. Mumpung Shinta dirumah, kita bolos aja hari ini. Kita bisa, semacam kencan ganda!"
.
.
Ajakan gendeng Abimanyu yang tanpa perencanaan itu, malah langsung di setujui Danan.
" Kamu catat hasil rapat pagi ini, evaluasi manager yang gak produktif kalau perlu rotasi beberapa Devisi!"
" Rekrut beberapa wanita yang good looking buat pembukaan di cabang baru!"
" Pastikan customer service yang baru minimal menguasai bahasa Inggris!"
" Cek dan pastikan semua Security punya license ( lisensi) yang masih aktif, suruh mereka recurrent terlebih dahulu bila lisensi mereka mati!"
Semua titah Baginda Dananjaya, terhaturkan kepada sekretarisnya melalui sambungan telepon. Sesekali tak apalah. Toh ajakan Abimanyu kali ini, sedikit menguntungkan.
.
.
Adalah Nanang, pria itu tengah asik ngopi dan makan sepotong pisang goreng panas buatan mbak Yuni bersama Sugeng di pos satpam.
" Kopi susu anget- anget!" Sugeng berdendang.
" Asek- asek!" sahut Nanang turut bersenandung.
" Gedang goreng panas pisan ( pisang goreng panas sekalian!" lagi Sugeng menyanyi.
" Yo ha...!" lirik lagu daerah yang akan di nyanyikan Nanang bertemakan pisang goreng itu, menguap percuma ke udara.
Mereka terkejut dengan datangnya dua mobil yang mengklakson secara beruntun. Membuat pisang goreng yang ia pegang tak jadi ia lahap.
" Cepat buka pak, jangan nyanyi terus. Itu si bos kenapa balik cepet ya?" tukas Nanang berlari terbirit-birit.
Sugeng dan Nanang berdua tergopoh-gopoh begitu melihat dua pria yang turun dari dua mobil yang berbeda itu. Abimanyu yang turun dari mobil yang berada di depan, dan seroang pria lain yang turun dari sedan mahal di belakang mobil bos mereka.
Tak berani bertanya apalagi kepo.
" Amankan Nang!" Abimanyu melempar kunci mobilnya kepada pria muda itu.
Hap
Sekali tangkapan, Nanang berhasil menangkap.
__ADS_1
" Siap Pak!"
" Punyaku sekalian!" tukas Danan menepuk pundak Nanang seraya memberikan kunci mobilnya. Membuat pria itu tersenyum.
" Wah!" Nanang terperangah, itu artinya ia akan menjajal mobil sedan keluaran terbaru itu.
Ya, Abimanyu dan Dananjaya tak mau terlalu lama meninggu pintu gerbang itu dibuka. Ia memilih menugaskan Nanang, untuk memarkirkan mobilnya dan mobil sahabatnya kedalam.
Awalnya mereka berjalan biasa dengan perasaan hati yang berbunga-bunga, namun saat samar-samar terdengar suara tangisan membuat Abimanyu memelankan langkahnya.
" Kenapa?" ucap Danan.
" Ssssstttt, denger!" ucap Abimanyu meletakkan jari telunjuk ke depan bibirnya.
" Tunggu sebentar!" Danan memasangkan telinga dengan seksama.
"Baik aku maupun kamu memiliki pertempuran kehidupan masing-masing. Berhenti menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain, coba ganti mindset kamu dengan percaya jika semua ini adalah cara yang kuasa untuk membuat kita lebih bahagia!"
Ucapan istrinya itu membuat dada Abimanyu nyeri. Dua pria gagah itu tertegun demi mendengar interaksi dua sahabat itu.
" Aku mendapat kebahagiaan seperti saat ini, juga gak datang begitu aja kan? aku juga pernah ngelewatin hal gak enak dulu kan?"
Abimanyu menelan ludahnya, Danan juga terlihat memasang wajah serius. Mereka berdua mendadak menjadi penguping.
" Kamu tahu, mas Indra bahkan juga sudah bersama orang yang tepat. Gak ada hal di dunia ini yang terjadi ,tanpa seijin pemilik kehidupan Shin!"
Baik Abimanyu maupun Danan, kini saling menatap dan melempar senyum. Hidup memang tidak ada yang tahu.
" Makasih Dhir!"
Saat Abimanyu dan Danan mendengar ucapan Shinta itu, mereka berdua tiba-tiba berpelukan. Seperti mendapat sebuah sugesti. Saling menepuk punggung.
Namun sejurus kemudian,
" Ngapain loh!" Abimanyu yang sadar dengan tingkah menjijikan mereka langsung melempar tangan Danan yang menempel di tubuhnya, Danan pun juga mendengus kesal. Bisa-bisanya mereka berdua menjadi orang edan seperti itu.
" Sialan Lo!" cibir Danan m
" Elu yang sialan, main peluk- peluk aja!" Abimanyu mendengus sembari bergidik ngeri.
" Berhenti untuk memusingkan ucapan orang lain yang kurang perlu. Bahagia itu kita sendiri yang ciptakan!"
Kini Abimanyu menelan ludahnya saat mendengar suara bergetar istrinya. " Itu istriku, bijak dan lembut!" bisiknya kepada Danan yang hanya menyebikkan mulutnya, usai mendengar ucapan Abimanyu.
" Istri elu emang bijak dan lembut. Gak kayak suaminya yang gak waras ini!" cibir Danan.
" Matamu Dan!" dengus Abimanyu yang membuat Danan tergelak namun menutup mulutnya.
Mereka berdua cekikikan tidak jelas.
" Doakan juga aku bisa seperti kamu ya Dhir?" ucap Shinta terlihat mengusap lembut perut besar Dhira Dhira.
Danan tertegun saat mendengar suara Shinta mengatakan hal itu. Jika di tanya, ia tentu sudah siap untuk membuat Shinta hamil. Apalagi restu dari kedua orangtuanya sudah ia kantongi. Cihaaa!!
" Pasti, tapi...." Abimanyu kian menyipitkan matanya saat mendengar istrinya menggantungkan kalimat.
" Tapi apa?" Hati Danan menjadi dag dig deg dur saat melihat wajah Shinta yang terlihat menanti.
Membuat Danan gatal untuk menyahut. Pria itu tak tahan saat melihat Shinta dirundung kesedihan macam itu.
"Tapi nikah dulu sama aku!" Ucap Danan yang berjalan seraya menginjak kaki Abimanyu. Kini pria itu melipat kedua tangannya sembari tersenyum menatap dua wanita yang melongo.
" Danan, kau brengsek sekali sialan!" Abimanyu meringis seraya mengumpat dengan suara tertahan. Kakinya ngilu karena di injak Danan.
.
.
" Tuh, si anj..." Abimanyu mendelik kepada Danan, memberikan warning agar jangan menggunakan bahasa absurd saat bersama para wanita itu. Membuat Danan meneguk ludah.
"Eemmm Abimanyu sengaja ngajak pulang!" sahut Danan tersenyum. Membuat Abimanyu kesal.
" Si anjing apa gak bisa cari alasan lain. Brengsek sekali!" Entah sudah berapa kali Abimanyu dibuat mengumpat.
" Beneran mas, ada acara apa tapi?" Dhira tak tahu apa-apa. Wajar jika dia bertanya.
" Emmm...Emmmmm" Abimanyu bahkan lupa mencari alasan yang relevan " Kita jarang sekali bisa kumpul, jadi ..kita bisa jalan-jalan mungkin, atau melakukan sesuatu yang menyenangkan!"
Kril krik krik
Dua wanita itu senyap. Dan saling menatap tidak mengerti. Ini hari Senin, hari yang selalu menjadi pilihan para pekerja untuk menggempur kesibukan. Tapi mengapa suaminya itu mendadak menjadi seperti itu.
.
.
Shinta dan Dhira bahkan berselancar di Instagram, untuk mencari tempat bagus pagi itu. Pilihan jatuh kepada pasar jajan klasik, di kawasan Alas Kobong.
Namun , yang di gadang-gadang untuk bisa pergi keluar gagal total karena mendadak hujan mengguyur di jam sembilan lewat tiga belas menit pagi itu. Padahal, mereka ingin menuju street food baru yang ada di kawasan hutan Alas Kobong yang Senin ini adalah pembukaan pertama.
"Kayaknya bukan rejeki deh Shin!" tukas Dhira.
" Kalau hujan mana asik!" imbuh Dhira.
" Masak sendiri aja yuk!" Dhira dan Shinta kompak dalam berucap. Membuat mereka berdua tergelak.
" Eiitttsss jangan!" Abimanyu dan Danan juga kompak menjawab. Bahkan mereka sendiri juga bingung, kenapa bisa barengan.
" Kenapa?" sahut Dhira
" Kamu hamil, dan jangan capek- capek!" ucap Abimanyu.
Danan mengangguk setuju sejurus kemudian, " Dan kamu, aku kesini biar bisa lama-lama sama kamu, tapi kalau kamu tinggalin ya sama aja!" ucapnya berengut.
Shinta langsung merona wajahnya karena ucapan Danan yang mengandung kadar kegombalan dua puluh persen, sisanya adalah sebuah kenyataan.
Sementara Dhira dan Abimanyu menggeleng seraya tersenyum. Orang yang di landa cinta memang kerap kali menjadi aneh ya.
" Ya sudah kita pesan makanan saja, kita ke belakang setelah ini. Biar aku minta mbak Yuni siapkan tempat!"
" Aku mau ganti baju dulu!" sahut Abimanyu.
" Pinjami aku bajumu, masa iya aku piknik dengan jas dan pantofel begini!" Danan memanyunkan bibirnya.
" Di kamar tamu banyak, pilih saja sesuai seleramu!" sahut Abimanyu seraya berjalan menapaki tangga.
" Mas ambil saja sendiri jangan sungkan, aku mau ke belakang dulu ya. Mau cari mbak Yuni!" Dhira pamit kepada dua insan itu.
" Shin, aku tinggal bentar!"
Menyisakan Shinta yang sibuk menggulir ponselnya, untuk memesan beberapa makanan.
" Shin!" seringai licik muncul dari wajah Danan.
__ADS_1
" Ya?" ucapnya tanpa memandang Danan.
" Ambilkan baju dong!"
Shinta menoleh ke arah Danan. " Ambil sendiri mas!" ia merasa keasikannya di interupsi oleh Danan.
" Please!" Pria itu menampilkan puppy eyes yang membuat Shinta mendecak, dan terpaksa mau untuk mengambilkan.
" Aku gak tahu selera kamu!" ucap Shinta.
" Biasakan untuk tahu!" bisik Danan yang membuat kuduk Shinta meremang.
" Jangan protes jika pilihanku salah!"
" Tidak akan!" ia tersenyum penuh kemenangan.
Danan senyam-senyum saat melihat Shinta berjalan menuju kamar tamu. Pria itu terlihat memastikan sesuatu. " Oke aman!"
" Ajak istri elu langsung ke belakang, aku mau menyelesaikan sesuatu!" Danan berkirim pesan kepada Abimanyu.
" Ngapain, awas inget nikah dulu baru kawin!" Balas Abimanyu.
" Aman njing, emang elu!" balas Danan lagi.
" Yang itu jangan ditiru, cukup gue aja. Lagian itu kan juga saran dari elu sableng!! š"
Balasan terkahir Abimanyu membaut Danan terkikik geli, demi mengingat perjalanan cinta sahabatnya itu. Dan tentu saja ide gilanya.
Danan mengendap-endap mengikuti Shinta. Untungnya, pintu kamar itu Shinta biarkan terjeblak. Membuat dia lebih mudah untuk nyelonong masuk.
" Loh mas?" Shinta terperanjat saat mengetahui Danan ngeloyor masuk dan langsung memutar anak kunci pintu kamar tamu, di rumah Abimanyu itu.
Shinta makin dibuat meneguk ludahnya berkali-kali saat Danan langsung membuka kemejanya tanpa permisi, menampilkan tubuh yang liat beserta enam cetakan otot perut yang mirip roti bantal.
" Mas kamu!" Shinta menjadi takut. Takut jika Danan berbuat macam-macam.
" Cepat carikan baju, aku sudah kedinginan ini, mana diluar hujan lagi!" Danan berkacak pinggang. Otot lengannya membuat Shinta menatapnya nanar. Pria di depannya itu benar-benar memiliki tubuh bagus, yang selalu tertutup kemeja.
Suit suit!
Shinta langsung menyibukkan diri dengan memilih beberapa lipatan kaos degan harga tak murah, yang di sediakan Dhira dan Abimanyu untuk para tamunya.
Dan saat Shinta sibuk dengan degup jantung yang tidak beraturan, Danan meraih sesuatu dari kantong celananya. Sebuah kotak beludru warna hitam berisikan sebentuk cincin dengan mata berlian yang indah. Cincin keluaran terbaru berharga fantastis.
Danan adalah pemilik galeri perhiasan terbaik di kota itu, bukan hal sulit baginya untuk memberikan barang cantik itu kepada Shinta.
" Shin!" Ucap Danan membuat wanita itu menoleh dengan wajah polos.
" Will you marry me?"
Dengan bertelanjang dada, dan dengan menyuguhkan sebentuk cincin kepada Shinta. Membuat wanita itu mematung dan lidahnya kelu tercekat.
Mata Shinta berkaca-kaca, Shinta meneguk ludahnya dengan pelupuk matanya sudah tergenang oleh cairan bening yang kini mulai merembes turun. Pria di depannya itu benar-benar serius rupanya.
" Maukah kamu mengandung anak-anak dariku?"
Kembali Danan berucap seraya menahan laju air matanya saat mengatakan itu. Pria itu belum pernah serius ini.
" Maukah kamu, menemaniku di hari-hari mendatang?"
" Menemaniku di saat sehat dan sakitku?"
" Menemaniku di saat kurang dan kebihku?"
Suara Danan bergetar saat mengatakan hal itu, ia tahu usia mereka terbilang matang saat ini. Tapi jodoh memang menjadi salah satu bagian misteri yang tidak akan pernah di ketahui kapan datangnya bukan?
" Maukah kamu melengk..."
Shinta menubruk tubuh Danan dengan menangis, membuat ucapan Danan terjeda. Ia memeluk tubuh kekar yang tengah tak terbalut apapun itu, dengan erat.
" Life must go on!" ucapan Dhira tiba-tiba melintas di pikirannya.
" Papa merestui kamu jika kamu mau melanjutkan hidupmu nak!" kini ucapan pak Ali juga tiba-tiba melayang di otaknya.
" Kamu adalah wanita pertama yang di bawa anak saya kerumah!" ia juga ingat akan ucapan nyonya Alda tempo hari.
Dan sebuah bunga serta senyuman dari Rangga yang kerap hadir dalam mimpinya, mendadak menyelinap di dalam pikirannya. Benarkah semua ini pertanda dukungan baginya untuk merasakan kebahagiaan bersama Danan?
Kebahagiaan yang selama ini ia idamkan untuk memiliki seorang putra?
" Yes, I want to!" suara Shinta bergetar saat menjawab lamaran simbolis dari Danan. Pria itu bahkan turut menangis.
" Terimakasih Shin, terimakasih!" hati Danan meledak bak diliput kembang api. Ia terlalu bahagia, Finally, happiness is in sight.
Ia benar-benar bahagia saat ini, Thank you God for giving me happiness just in time.
Mereka sejenak melepas pelukan. Danan mengambil sebentuk cincin itu, lalu menyematkan ke jari manis sebelah kiri Shinta. Lamaran yang unik karena terjadi di kamar yang pernah Danan gunakan bersama Wisang untuk mendebat aksi bodohnya, saat ia jatuh cinta kepada istri orang saat itu.
" Cantik mas!" Shinta menatap harinya yang kini di hiasi kilauan berlian mahal itu.
" Secantik calon istriku!" usai mengatakan hal itu, Danan menangkup wajah Shinta dan melu*mat bibir Shinta dengan penuh gairah dan rasa cinta.
Kini Shinta lebih ekspresif, Wanita itu terlihat meraba dada bidang Danan yang terbuka saat ia membalas kecupan mesra dari Danan. Menyusuri otot lengan hingga punggung kokoh Danan, dengan des*ahan yang lolos begitu saja.
Ciuman yang kini mengandung kebahagiaan, bukan lagi ciuman pemaksaan yang kerap membuat Shinta terkejut.
Decakan bahkan terdengar di kamar itu, kini tinggal beberapa langkah lagi bagi Danan untuk dapat memiliki Shinta seutuhnya.
" I love you so much!" Ucap Danan menempelkan dahinya ke dahi Shinta, saat ciuman itu mereka akhiri. Sejurus kemudian Danan mengecup kening Shinta lama dan memeluk wanita itu erat. Seolah tak ingin membiarkannya untuk pergi dan menolaknya lagi.
.
.
.
.
.
.
.
Buebo ini udah panjang ya ššš. Semua akan mumet dan bahagia pada waktunya š¤£š¤£š¤£
Oh ya mommy tengah menggarap projects baru nih. Novel romansa yang MC prianya dari golongan rakyat biasa yang justru membuat MC wanita dari golongan kaya menjadi jatuh cinta.
Boleh Ramaikan kisah Pandu dan Serafina serta tokoh lainnya di "Falling in Love the series"
( Hanya cover bukan visual pemeran)
__ADS_1
Mommy harap karya baru Mommy bisa se ramai the love story'of Single Parents. ššš¤