The Love Story' Of Single Parents

The Love Story' Of Single Parents
Bab 262. Jodoh pada waktunya


__ADS_3

Bab 262. Jodoh pada waktunya


.


.


.


...šŸšŸšŸ...


" Jika aku, memang tercipta untukmu. Ku kan memilikimu. Jodoh pasti bertemu!"


( Jodoh pasti bertemu ~ Afgan)


.


.


Jodhistira


Ia akan ujian siang itu. Masuk di sift kedua bersama Raka karena banyaknya murid di Tunas Bangsa.


" Mama sudah ke kantor?" tanyanya kepada Oma Buyut yang sibuk menonton drama romansa.


" Tadi mau ke Dapur Isun dulu katanya. Kenapa Jo?"


"Bu Retno protes Oma. Beliau minta undangan gara- gara dulu pas nikahannya bunda Dhira guru-guru di sekolah ga ada yang diundang!" Jodhi berucap seraya menjajalkan ponselnya kedalam tasnya.


" Susul aja ke Dapur Isun!" tukas Oma santai tanpa mengalihkan pandangannya ke arah televisi layar lebar.


" Mas Bagos! Antar aku sekarang aja ya!"


Di Dapur Isun.


" Cari apa dek?" tanya Nindi kepada Jodhi.


" Cari yang punya Dapur Isun!" ucapnya dengan wajah datar seraya terus berjalan masuk. Ia tak suka kepada Nindi karena terlambat menyambutnya dan justru asik ngobrol dengan karyawan lainnya.


" Loh dek, kok...!" Nindi terkejut saat melihat Jodhi yang langsung ngeloyor masuk. Nindi tak tahu jika Jodhi adalah anak Rania. Ia tergolong karyawan baru disana.


Dengan panik Nindi terus meneriaki Jodhi untuk berhenti.


Jodhi tak memperdulikan teriakan Nindi yang membabi-buta. Ia langsung naik ke lantai dua, dan menuju sebuah ruangan dengan pintu stainless steel, kemudian langsung menarik tuas pintu itu dengan sekali tarikan.


"Om Bas, apa mama...!"


Ia berjingkat saat melihat mamanya yang menempel dengan Om Bastian.


" Aku tidak melihatnya sungguh!"


.


.

__ADS_1


Jodhi menunduk dengan wajah muram. Dia memang tak melihat apapun selain tubuh keduanya yang sangat tak berjarak. Selain itu, ia tak melihat apapun. Sungguh.


" Kebiasaan kamu ini!" Rania memarahi Jodhi di ruangan Bastian usai meyakinkan Nindi jika Jodhi adalah anaknya.


" Gak pernah mau ngetuk pintu!"


Jodhi menunduk muram sementara Bastian kikuk. Sedari tadi menggaruk kepalanya belingsatan.


" Sekarang mau apa?" Rania menatap wajah Jodhi dengan sebal. Nyaris saja mata anaknya ternoda. Salahnya juga sih, tak mengamankan kondisi dengan memastikan pintu terkunci.


" Bu Retno , Bu Winda, Pak Jajat .....sama guru yang lainnya protes karena dengar mama mau nikah tapi gak dapat undangan!" Jodhi berengut seraya memutar-mutar kursi kebesaran Bastian yang kini ia duduki.


Kesal karena mendadak ia mirip seperti seorang pesakitan.


Rania menatap Bastian sekilas, pria itu terkekeh. Sepertinya Jodhi merupakan garda terdepan dalam urusan penyebaran berita membagikan itu.


" Jadi?"


" Jadi apa? ya aku minta undangannya lah. Kan undangannya di mama!" Jodhi mendengus. Membuat Rania mengembuskan napas.


Bastian bangkit, mungkin kini ia harus ambil bagian dari keruwetan yang tersaji di hadapannya itu.


" Oke, jadi butuh berapa undangan lagi. Atau Jodhi ada mau ngundang teman Jodhi?" Bastian berjongkok dan menatap calon anak sambungnya dengan tersenyum.


Jodhi tersenyum, calon papa sambungnya itu agaknya lebih bisa diajak kompromi ketimbang mamanya.


...šŸ‚šŸ‚šŸ‚...


Bastian


Terlepas dari bagaimana cara Abimanyu dengan Andhira yang penuh persoalan kompleks namun berakhir bahagia.


Pun kisah Wisang bersama Sekar yang gencar melawan bahaya sembari menghadapi kerasnya bentangan kasta yang tercipta. Dan hidup hanya tentang perjuangan dan kesabaran.


Juga Dananjaya bersama Shinta yang masuk kedalam jurang takdir, dalam melawan getirnya nasib romansa dengan cara yang tak biasa. Mengoyak keteguhan hati sebagai insan Tuhan yang memiliki keyakinan akan cinta sejati.


Dan dari semua itu, terjadi sesuai porsi dan kemampuan masing-masing atas izin Tuhan.


Pun dengan dirinya dan seorang single parents bernama Rania. Pertemuannya yang tanpa sengaja sejak dia menjadi karyawan di perusahaan milik keluarga Aryasatya itu, menjadi titik dasar dirinya masuk dalam labirin percintaan yang abnormal.


Dia menyukai ipar kakaknya.


Namun uniknya, cintanya rupanya tak bertepuk sebelah tangan. Alias sama-sama suka. Sama- sama memiliki perasaan yang sama.


Ia yang minder dengan keadaannya yang jauh dibawah Rania dari segi finansial, berjuang semampunya demi memantaskan diri bagi janda beranak satu itu.


Rejeki memang enggak kemana. Agaknya kini ia percaya dengan pepatah kuno itu.


Kini, ia siap lahir batin untuk memulai kehidupan yang sebenarnya ,dengan wanita yang telah berhasil mengusik serta merebut hatinya sejak ia masih menjadi karyawan perusahaan manufakturing itu.


Rania Qirani.


.

__ADS_1


.


Rania


Ia mematut dirinya di cermin berukuran besar yang memperlihatkan dirinya yang cantik dalam balutan gaun pernikahan. Ia ingat, pernikahannya degan Chandra dulu tak seperti saat ini.


Rasa haru karena kebahagiaan jelas membuat dirinya tak kuasa menahan laju buliran bening yang lolos begitu saja.


" Berbahagialah selalu! Restu Oma untuk kalian!" Oma datang dengan memeluk dirinya penuh kasih.


Ketidakhadiran orang tua jelas membuat Rania teramat mengahru biru.


Babak baru hidupnya akan segera dimulai, bersama Bastian dan juga Jodhi putranya.


" Siap?" Abimanyu sebagai saudara laki-laki kini menggantikan posisi almarhum Bisma. Tersenyum menatap adiknya yang akan menyudahi status Single Parents yang selama ini di sandang.


Rania mengangguk, ia menautkan tangannya di lengan kokoh kak Abi. Menarik napasnya dalam-dalam sebelum ia duduk berdampingan bersama Bastian dan mendengar kalimat yang jelas akan amat sangat ia kenang selamanya.


Ijab kabul.


.


.


Mereka menikah di rumah kediaman Aryasatya sesuai permintaan Oma. Telah hadir petugas pencatatan sipil dan semua keluarga. Bedanya, resepsi akan di gelar di hotel.


Di waktu yang berbeda.


Rania dan Bastian ingin lebih memanfaatkan momentum ijab kabul mereka dengan mendekatkan diri kepada sanak saudara dan para sahabat dekat.


Mengingat, jika mereka merupakan ipar dan ipar yang dianugerahi rasa cinta, yang akan menjadikan mereka sebagai suami istri yang sah dimata negara dan juga agama.


Abimanyu sendiri yang akan menikahkan adiknya dengan adik iparnya itu. Tentu saja dibawah bimbingan dan pengawasan serta pengarahan dari pihak yang berkompeten. Dalam hal ini petugas catatan sipil dari kantor urusan agama setempat.


" Saudara Bastian Bagaspati Bin Wahyu Laksono almarhum, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan adik kandungku yang bernama Rania Qirani Binti Bisma Aryasatya alamarhum, dengan maskawin emas dua puluh empat karat seberat lima ribu gram dibayar Tunai!"


Abimanyu menggoyang kuat tangan Bastian seraya menatapnya lekat. Menanti dengan wajah tegas penyerahan jiwa raga adiknya itu kepada Bastian.


" Saya terima nikah dan kawinnya Rania Qirani Binti Bisma Aryasatya alamarhum dengan maskawin yang tersebut dibayar tunai!"


Kesemua undangan yang disana menengadahkan tangan sembari mengamini untaian doa yang di ucapkan oleh petugas di samping Abimanyu itu.


Bang Togar menangis haru sembari memeluk Satrio di sampingnya. Membuat Satrio menepuk pundak sahabatnya itu dengan melas.


" Aku sedih Sat. Sekarang tinggal kamu yang gak laku- laku!"


Satrio mendelik, ia langsung mencubit kecil perut gembrot bang Togar dengan penuh kegeraman. Membuat pria bertubuh tambun itu menggeliat bak anaconda.


Ciaaattttt!


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2