
Bab 196. Misi Dhira (3)
.
.
.
...ššš...
" Hidup dalam prasangka buruk itu berat!"
.
.
Devan
Pria itu sudah senam jari sedari menit ke lima, lepas dari jam tujuh malam. Ketidakfokusan Abimanyu dalam mengikuti acara itu, membawa keuntungan tersendiri bagi pria perfeksionis itu.
Bu Dhira, anda bisa turun sekarang
Usai menekan tombol send, Devan kembali mengawasi bosnya itu dari jauh. Jika dilihat, Abimanyu benar-benar terlihat bermuram durja. Sosok Dhira benar-benar membawa pengaruh besar bagi bos-nya itu.
Devan pandai berkilah, serta bersilat lidah. Ia sengaja meninggalkan Abimanyu. Dan benar saja, wanita bernama Melinda itu datang sesaat setelah dirinya enyah dari sana. Ia memandang tak suka dengan Melinda yang duduk mendaratkan tubuhnya dengan santai.
Sejurus kemudian, istri bosnya itu sudah sampai di lantai dasar.
Devan terperangah dengan dandanan Dhira malam itu. Ia sampai pangling. Dhira yang tak pernah bermake-up tebal itu, kini menjelma menjadi orang yang benar-benar luar biasa.
" Pak Devan, apa ada yang aneh?" Dhira sampai merasa insecure karena mulut Devan yang membentuk huruf O saat menatap dirinya, sewaktu Dhira sampai ke lantai dasar bangsal itu.
" Anda cantik sekali Bu!" ucap Devan. Dhira tersenyum simpul mendengar alasan Devan yang rasional.
" Cantik mana sama Alexa?" Dhira masih sempat menyinggung soal petugas Ground Handling berambut pendek di bandara tadi siang.
Devan meringis, " Doakan ya Bu, saya sudah lelah berkelana!" tukas Devan terkekeh. Dhira sudah tau, jadi sekalian saja ia membuka rahasianya.
" Pasti!" jawab Dhira membalas dengan senyuman.
" Emmm Bu..." Devan menunjuk-nunjuk ke arah jam 12 tepat dari koordinat tempatnya berdiri. Dengan menggerakkan kedua alisnya.
Devan benar-benar merasa merinding saat melihat tangan sialan Melinda yang bergelayut di tangan Abimanyu dengan tidak tahu malunya.
Ia menatap wajah santai Dhira yang menunjukkan tatapan yang sulit di artikan.
.
.
__ADS_1
Andhira
Ia menggunakan rencana B. Ia harus tampil cetar malam itu. Mengerahkan seluruh kemampuannya dalam merias dirinya sendiri. Untung saja ia menuruti ucapan Rania untuk membawa pakaian baik malam itu. Dan pakaian baik itu, jatuh kepada sebuah gaun dengan belahan punggung yang terbuka.
Dhira sengaja melakukan hal ini, agar Abimanyu tahu bila istrinya juga bisa seperti wanita-wanita karir diluar sana.
Mata Dhira menatap tajam wanita yang menggelayuti lengan kokoh suaminya. Dhira tahu saat itu Abimanyu terlihat risih dengan wanita itu. Ia paham, bila suaminya itu pasti tengah menjaga norma kesopanan disana.
Apalagi, wanita itu pasti juga salah satu orang penting disana. Dan ia merasa, waktu yang tepat adalah sekarang.
"Maaf tolong jaga sikap anda, saya sudah memiliki istri!" samar-samar Dhira mendengar intonasi tak ramah dari mulut suaminya.
Ia bisa mendengar serta melihat dengan jelas aura ketidaksukaan dari wajah suaminya. Tapi Dhira memaklumi sikap suaminya yang masih menjaga perasaan wanita kurang ajar itu. Mereka orang-orang terhormat, sebisa mungkin tak menciptakan keributan di perhelatan akbar itu.
" Istri? istri apa? jika anda memiliki istri, tentu anda tidak sendiri di acara ini!" jawab Melinda ketus.
Dhira seraya ingin merobek mulut wanita di depannya itu, sejenak ia merasa Dejavu . Dhira juga pernah berurusan dengan wanita perusak sewaktu ia memergoki Indra di kamar hotel bersama Renata dulu.
" Suami saya tidak sendiri!" Dhira merasa tak tahan lagi. Agaknya ia benar-benar harus menunaikan tugasnya per segera.
.
.
Dhira seketika beranjak dari meja itu. Untung saja meja itu berada di barisan paling belakang. Devan rupanya sudah menyeting sedemikian rupa, agar memudahkan Dhira untuk pergi.
" Sayang kamu mau kemana?" Abimanyu benar-benar merutuki dirinya. Kini masalah besar benar-benar menghadang.
Devan yang tahu Dhira menuju ke arahnya, seketika memasang wajah pura-pura baru dari luar. Dhira tak menyapa Devan, tapi Devan sudah tahu akan hal itu.
" Kau!" Abimanyu menunjuk wajah Devan.
Devan hanya memasang mimik wajah, ada apa, aku tidak tahu!
Abimanyu mengeratkan giginya seraya melotot ke arah Devan. Seolah mengisyaratkan jika Deva pasti tahu semua ini.
" Gantikan aku dulu, catat semua yang penting!" titahnya seraya berlalu dengan gusar.
Abimanyu lebih memilih mengejar istrinya yang jika dilihat dari mata kalbunya, terdapat kobaran api yang menari-nari diatas sanggul rambut istrinya.
" Hehhhh...sudah di ujung tanduk, masih saja suka mengintimidasi orang. Aku berhutang padamu Bu Dhira!" Devan terkekeh dengan hati riang. Baginya,. melihat Abimanyu belingsatan seperti itu adalah kesenangan yang langka.
.
.
Lantai 31 kamar 07
__ADS_1
" Sayang tunggu dulu, aku bisa jelaskan. Itu semua gak seperti yang kamu lihat!" Abimanyu frustasi, ia tak sanggup bila istrinya itu mendiamkannya begini.
Dhira tak menjawab, wanita itu gencar menuju lift dan ingin naik ke kamarnya. Mata Abimanyu membulat, saat Dhira menekan angka 31.
" Kamu mau kemana?"
Dhira diam tak menyahut. Saat pintu lift itu terbuka, Dhira masuk dengan mode diam, Abimanyu dengan cepat mengekor Dhira.
" Duh sayang aku gak ngapa-ngapain loh, aku gak enak mau bentak dia. Apalagi disana banyak Direktur dari berbagai wilayah!"
" Kamu jangan marah begini dong?"
" Aku gak tertarik sama wanita manapun. Aku gak mungkin mengkhianati kamu!"
Dhira masih diam dengan wajah datar, menyiratkan kekecewaan.
" Andhira Avanti, istriku!!! aduh aku harus gimana biar kamu percaya?" Abimanyu mulai kehilangan kata-kata. Pria itu benar-benar terlihat nestapa sekali.
Dhira bahkan berkali-kali menghempaskan, mengibaskan, serta melemparkan tangan Abimanyu yang mencoba menyentuh lengannya.
Andai Devan melihat wajah bodoh penuh ketakutan yang nampak jelas di wajah berahang kokoh milik Abimanyu itu. Sudah pasti Devan akan tergelak dengan tiada hentinya.
Pintu lift terbuka, Dhira terus melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Ia berhenti di pintu dengan nomor 07.
Abimanyu kini mengerti, istrinya itu bisa saja tinggal di kamar itu. Pria itu masih mengekori pergerakan istrinya.
Kamar luas dengan ranjang king size, dan view hamparan laut lepas menjadi suguhan yang begitu indah. Kamar terbaik yang digunakan Dhira membuat Abimanyu kini tahu, istrinya itu memiliki sisi lain yang baru ia ketahui jika marah.
Dhira menutup pintu itu, tak memperdulikan Abimanyu yang masih rewel dengan segala dalih dan penjelasan, serta nota pembelaan yang tak di gubris oleh Dhira.
Dhira melepas heels yang ia kenakan, melemparnya sembarang. Membuat Abimanyu menelan ludahnya. Karena nyaris saja, heels itu mengenai wajah Abimanyu.
Sejurus kemudian ia melepas penjepit sanggul rambutnya, dan menggerakkan kepalanya. Membuat rambut ikal itu menjuntai dengan indahnya. Seketika Abimanyu menelan ludah untuk kedua kalinya, karena istrinya itu terlihat sexy dan menantang.
Sejurus kemudian, Dhira menutup gorden putih lebar guna menutupi pandangan transparan dari dinding kaca itu.
" Sayang tolong maafin aku. Oke aku salah. Katakan aku harus bagai..."
Dhira dengan berjinjit menyumpal mulut suaminya yang sedari tadi dengan tak lelahnya mengoceh. Abimanyu lagi-lagi di buat terkejut oleh Andhira. Dhira menjadi wanita atraktif dan sangat berbeda.
Istrinya malam itu benar-benar liar.
.
.
.
.
__ADS_1