
Bab 126. Menemukanmu
.
.
.
...đđđ...
Well you only need the light when itâs burning low
(Jadi kau hanya butuh cahaya saat dia meredup)
Only miss the sun when it starts to snow
(Hanya rindukan mentari saat meredup)
Only know you love her when you let her go
(Hanya tau kau mencintainya saat kau membiarkan dia pergi)
Only know youâve been high when youâre feeling low
(Hanya tau bahwa ternyata kau tinggi saat kau merasa rendah)
Only hate the road when youâre missing home
(Hanya membenci jalan saat kau rindukan rumah)
Only know you love her when you let her go
(Hanya tau kau mencintainya saat kau membiarkan dia pergi)
And you let her go
(Dan kau membiarkan dia pergi)
Staring at the bottom of your glass
(Memandang bawah gelasmu itu)
Hoping one day youâll make a dream last
(Berharap suatu hari nanti kau membuat mimpi lalu)
But dreams come slow and they go so fast
(Tapi mimpi datangnya lambat dan mereka terlalu cepat)
You see her when you close your eyes
(Kau melihatnya saat kau menutup matamu)
Maybe one day youâll understand why
(Mungkin suatau hari nanti kau akan mengerti mengapa)
Everything you touch surely dies
(Semua yang kau sentuh telah mati)
Well you only need the light when itâs burning low
(Jadi kau hanya butuh cahaya saat dia meredup)
Only miss the sun when it starts to snow
(Hanya rindukan mentari saat meredup)
Only know you love her when you let her go
(Hanya tau kau mencintainya saat kau membiarkan dia pergi)
__ADS_1
Only know youâve been high when youâre feeling low
(Hanya tau bahwa ternyata kau tinggi saat kau merasa rendah)
Only hate the road when youâre missing home
(Hanya membenci jalan saat kau rindukan rumah)
Only know you love her when you let her go
(Hanya tau kau mencintainya saat kau membiarkan dia pergi)
Staring at the ceiling in the dark
(Menatap langit-langit dalam gelap)
Same old empty feeling in your heart
(Sekosong perasaan dalam hatimu)
Cause love comes slow and it goes so fast
(Karena cinta datang pelan dan itu pergi dengan cepat)
Well you see her when you fall asleep
(Jadi kau melihatnya saat kau tertidur)
But never to touch and never to keep
(Tapi tak pernah menyentuh dan tak pernah menjaganya)
Cause you loved her too much and you dived too deep
(Karena kau terlalu mencintainya dan kau menyelam terlalu dalam)
( Passenger ~ Let Her Go)
.
.
Di tempat yang sama, di waktu yang sama pula mantan suami Dhira masih duduk tenang diantara Ayah dan bundanya. Yang membuat berbeda adalah, saat ini Abimanyu dan Dhira tengah berada bersamanya.
"Selamat ya nduk. Bunda turut bahagia!" Bu Novi berucap dengan penuh ketulusan. Meskipun terdengar aneh, lantaran mantan mertuanya mengucapkan kata selamat untuk Dhira.
Abimanyu terus menggenggam tangan Dhira sepanjang mereka mengobrol. Pak Joko juga terus mengembangkan senyum, saat mereka berbicara.
"Terimakasih Bun, Terimakasih Ayah!" Dhira masih memanggil mantan mertuanya dengan sebutan yang sama. Abimanyu kini tahu, wajah orang yang tempo hari sempat berdebat dengan Bu Kartika.
Definisi nyata dari kata move on, sudah nyata ia lakukan. Ia sudah tidak memakai perasaannya lagi terhadap Indra. Indra sudah benar- benar menjadi orang lain bagi Dhira.
Abimanyu juga bersikap tenang dan tak terlihat baper, bersikap ngalem ataupun sebangsanya. Ia adalah pria dewasa yang lihai memainkan perasaannya.
Ada rasa nyeri di hati Indra. Secara terang-terangan, kedua orang tuanya memberikan selamat kepada wanita yang telah memberinya seorang putra itu. Wanita yang pernah ia sia-siakan.
Ia tahu berharganya Dhira, saat wanita itu sudah bukan miliknya lagi. But, life must go on bukan. Dan membiarkan mantan istrinya itu bahagia, ia rasa itu adalah hal benar yang bisa ia lakukan.
Dan kini, ia tahu betapa kehilangan itu menyakitkan. Ia tahu penyesalannya sudah tiada berguna. Dhira sudah terlihat jauh lebih bahagia saat ini.
Indra tak berucap sepatah katapun. Hanya sesekali tersenyum, saat Abimanyu berkelakar bersama kedua orangtuanya. Saat ia sibuk memindai sekeliling gedung itu, ia lagi-lagi seperti melihat Anggi diantara para pelayan disana.
Anggi, batin Indra berbicara.
Tak mau kehilangan jejak untuk kedua kalinya, ia permisi dari antara empat orang yang masih larut dalam obrolan ringan namun menghibur itu.
"Saya mau ketemu teman dulu, kalian lanjut!" Indra kini lebih bisa bersikap profesional.
Ke empat manusia di meja itu mengangguk kompak.
Sembari menjamkan pandangannya, alis tebal yang turut bertaut di kening Indra itu fokus mengikuti seorang wanita berpakaian pramusaji. Matanya menyipit guna menghindari hilangnya jejak Anggi.
Ia sesekali meminta maaf kepada orang yang ia tabrak secara tak sengaja, karena terburu-buru.
__ADS_1
"Maaf Tuan saya tidak sengaja"
"Permisi!"
"Sorry!!"
Dan masih banyak kata lainnya, yang ia lontarkan akibat sikap buru-burunya dalam mengejar Anggi. Dan ia sangat yakin jika itu Anggi. Tapi mengapa wanita yang sudah lama ia cari bisa berada di tempat ini, agaknya Indra harus mengorek informasi lebih dalam lagi.
Ia menyusuri koridor hingga ujung tembok berwarna putih itu. Ia melihat Anggi tengah mengelap keringat di dahinya, sembari duduk di kursi panjang tempat istirahat para karyawan itu. Disana hanya ada beberapa teman Anggi yang sibuk mengambil minuman untuk di edarkan ke tamu.
Ia berjalan cepat. Anggi tak menyadari kedatangan Indra karena dia sibuk memijat betisnya yang pegal. Sudah pasti. Wanita itu jelas bekerja keras malam ini.
Dan begitu sampai di depan Anggi Indra langsung duduk, bersejajar dengan wanita yang selama ini kerap mengganggu pikirannya itu. Membuat Anggi terperanjat.
"Tuan??"
"Anda di.. sini?" Anggi bak melihat hantu.
Indra dengan wajah tampannya mampu menghipnotis Anggi malam itu, masih sama dengan beberapa waktu saat ia tak sengaja menghirup aroma tubuh Indra di gang sempit akibat ulah hewan pengerat.
.
.
Indra mengajak Anggi untuk pergi dari sana. Jam kerja yang sudah sedikit longgar bisa ia manfaatkan saat itu. Indra tak banyak bicara selama dia berjalan di depan Anggi yang terlihat kikuk.
Indra mengajak Anggi untuk duduk di kursi yang berada di belakang. Menampilkan view hamparan taman bunga di lantai dasar hotel itu.
Mereka duduk bersejajar.
"Aku sudah lama mencarimu, tapi tetanggamu bilang kau tidak tinggal disana lagi!" ucap Indra memecah keheningan.
Suasana senyap kembali.
"Aku juga datang ke club' beberapa kali, namun kau juga sudah tidak bekerja disana. Ada apa?" Indra menatap Anggi.
"Apa ada masalah?"
Tanpa tedeng aling-aling Indra to the poin saja. Ia sebenarnya hanya ingin sekedar mengucapkan terimakasih kepada Anggi. Wanita malam itu baginya sudah lebih dari sekedar penolong untuknya.
Terlepas dari semua stigma yang melekat pada wanita di depannya itu, Indra merasa manusia bisa berbuat baik lewat caranya masing-masing.
"Saya memang sudah tidak bekerja disana lagi Tuan!" Anggi berbicara dengan tatapan menerawang kedepan. Terpancar kesedihan yang mendalam disana.
Indra memandang wajah ayu Anggi, yang kini di bubuhi banyak sekali keringat. Kini ia yakin bila Anggi pastilah orang yang sama, yang ia temui di rumah ibunya Dhira tadi pagi. Wanita itu telah bekerja seharian pikirnya.
"Kenapa?" Indra lekat memandang Anggi.
Anggi tersenyum kecut. " Persaingan rupanya tak hanya saat kita bekerja halal saja. Rupanya pekerja haram sepertiku juga turut merasakan hal itu" Anggi tersenyum ironi.
" Aku memang wanita kotor. Tapi aku tidak menjual diriku. Memangnya mereka siapa, berani menghakimi diriku. Apa mereka pernah tau rasanya menahan lapar hingga berhari-hari. Aku juga tak pernah meminta sebutir nasi dari mereka, lalu kenapa mereka sibuk mengurusi pekerjaanku?" Anggi seolah meluapkan seluruh isi hatinya yang ia pendam.
Anggi menangis.
Indra menelan ludahnya saat wanita yang terlihat kuat itu, kini rapuh. Apa yang sebenarnya terjadi. Hatinya iba memandang wanita di depannya itu.
Indra merengkuh tubuh Anggi yang bergetar itu. Ia tahu sesuatu telah terjadi dalam hidup Anggi.
"Aku hanya menyambung nyawaku sebisaku Tuan. Tapi mengapa mereka seolah tak membiarkan ku untuk mengais rejekiku!" Anggi berucap dengan suara bergetar. Sesak di dadanya kini tercurah.
Indra tanpa ragu mengusap punggung Anggi. Mencoba memberikan kekuatan lewat sentuhan lembut yang tulus.
"Kita pergi dari sini, hm. Aku akan membawamu!" Indra melepas pelukannya, ia menatap wajah kacau Anggi akibat deraian air mata. Ia berniat akan mencari tahu sebab musabab Anggi terlihat seperti saat ini nanti.
Anggi menatap Indra yang turut berwajah muram menatapnya.
"Kita bicara nanti lagi, ikutlah aku!" Indra juga menatap manik mata Anggi penuh keyakinan. Hembusan nafas satu sama lain bisa mereka rasakan. Membuat kuduk mereka meremang.
Anggi mengangguk seraya kedua netranya lekat menatap wajah Indra yang kian tampan itu.
.
.
__ADS_1
.
.