
Bab 240. Selamat untukmu 'Bas
.
.
.
...ššš...
" Jika sudah terbiasa dengan badai, lantas mengapa harus kuatir dengan gerimis?"
.
.
Lima hari berlalu. Dan dalam kurun waktu itu, banyak hal yang di urus Wisang. Mulai dari mengebumikan Armaan dengan cara terbaik dan sewajarnya, mengurus kepulangan jenazah Ani serta memberikan santunan kepada keluarganya.
Arman dikebumikan di halaman belakang rumah Nyonya Lisa. Wanita itu ingin terus mengenang calon cucunya yang harus meregang nyawa lebih dulu. Bagiamanapun juga, Armaan adalah bagian dari mereka yang tak akan pernah lekang oleh gempuran zaman, walau berada di dimensi yang berbeda.
Beruntung, keluarga Ani tidak menuntut dan menerima hal itu sebagai sebuah takdir Tuhan yang asli. Membaut keluarga Wisang berlega hati
Banyak hal yang hilang dari hidup Wisang dan keluarganya. Calon anak, rumah yang porak-poranda, pabrik milik papanya yang juga hancur, luluh lantak. Serta banyak kerugian yang tak terhitung banyaknya.
Namun, terlepas dari semua hak mengerikan itu. Ia bersyukur. Kini, sang mama telah melihat sebuah kebenaran, dan mau menerima istrinya dengan tangan terbuka.
Sebuah pencapaian yang pasti membuat Wisang bernapas lega. Ia percaya, segala sesuatu yang diizinkan terjadi oleh yang kuasa, pastilah membawa kehidupan untuk ia dan keluarganya.
...ššš...
Pagi ini Sekar di nyatakan sehat dan boleh untuk meninggalkan rumah sakit. Richard berkata, ia yang akan mengontrol Sekar nanti.
" Kalau bisa jangan sampai istrimu kerap sendiri. Kesepian bisa menyebabkan hati istrimu bergejolak kembali!"
Pesan Richard agaknya terus terngiang-ngiang di kepala Wisang. Dan pagi ini, Nyonya Lisa dan Tuan Wikarna turut menjemput Sekar dan membawanya pulang ke kediaman mereka.
" Kamu istirahat dulu, nanti mama bawakan makan untuk kamu ya. Mama berharap belum terlambat untuk bisa menjadi mama yang baik buat kamu!"
Suasana senyap, baik Sekar maupun nyonya Lisa tenggelam dalam haru.
" Tolong terima mama ya nak, mari kita mulai dari awal!" Nyonya Lisa memeluk Sekar. Membuat istri Wisang itu larut dalam tangis.
Sekar mengangguk seraya mengulum bibirnya karena menahan laju air matanya, " Terimakasih Ma, sudah mau terima Sekar!" Sekar membalas pelukan mertuanya. Terasa melegakan.
Suasana di kediaman tuan Wikarna mendadak mengharu biru.
Rupanya benar, saat Tuhan mengambil sesuatu dari kita, tak lain karena Tuhan akan menggantinya dengan sesuatu hal yang lebih baik.
Wisang menitikan air matanya, meski ia dirundung duka namun kejadian di depannya itu membuat hatinya bahagia.
" Semua sudah berlalu!" Tuan Wikarna menepuk pundak anaknya yang tengah menyusut air matanya.
...ššš...
" Nang!" Ucap Abimanyu memanggil supir Raka itu sembari berjalan mengancingkan bajunya.
Hari ini hari Minggu, baik Raka maupun Abimanyu berada di rumah hari ini. Raka tidak menginap di rumah Indra karena kabar yang beredar, beberapa hari lagi papanya akan menikah dengan wanita yang tempo hari memasakkan rawon untuknya.
" Saya Pak!" seperti biasa, selalu tergopoh-gopoh. Namun, pagi ini tampilan Nanang nampak kinclong.
" Wangi banget kamu mau kemana?" tanya Abimanyu menatap Nanang penuh kecurigaan.
__ADS_1
" Kalau boleh saya mau keluar sebentar Pak, enggak lama!" jawab Nanang yang hari itu adalah hari liburnya.
Abimanyu menggelengkan kepalanya " Kamu mau pacaran ya? Antar kami dulu ke tempat adiknya Ibuk ya!"
Nanang meringis " Baru kenal Pak!"
Abimanyu terkekeh, dari raut wajahnya, Nanang benar-benar tengah berbunga-bunga. " Bawa mobil yang satunya Nang, nanti boleh kamu pakai buat kencan!"
" Yang benar Pak?" Nanang terperanjat sekaligus merasa senang.
.
.
Di pagi yang sama, namun di tempat yang berbeda, terlihat geliat kesibukan karena sebuah acara di jalan Silasona.
Ya, Bastian pagi ini akan membuka Dapur Isun. Bangunan dua lantai berhiaskan papan nama tempat usahanya yang besar , dengan banyak sekali karangan bunga yang berjajar rapih di depan tempat usahanya itu, menarik perhatian banyak orang.
Tempat itu kini terlihat luas dan desainnya lebih futuristik. Masih berlantai dua namun kini bangunannya memanjang ke barat. Bastian juga menambah beberapa menu yang tengah viral di tempat makannya itu.
Brand Dapur Isun nyatanya sudah sangat familiar di telinga para pelanggan. Etalase- etalase besar nan terlihat bersih dan berharga fantastis juga sudah Bastian pesan khusus.
Singkatnya, bangunan itu kini menjelma menjadi tempat yang banyak menjual varian kue yang banyak, dan juga makanan lezat olahan chef yang ia rekrut dengan tahapan ketat.
Segala perijinan dan birokrasi administrasi sudah lengkap. Kini secara legal Dapur Isun dibawah naungan Bastian.
" Selamat Bas, kami turut bangga!" Danan hari itu hadir dan tentu saja bersama Shinta.
" Terimakasih Kak Danan!" Pria itu kini merubah nama panggilan kepada para sahabat kakak iparnya.
Shinta hanya tertunduk malu seraya melingkarkan tangannya ke lengan kokoh Danan.
" Nanti juga tahu!" Danan menepuk lengan Bastian yang masih penasaran. Apa mereka berdua tengah dekat.
Oh, sayangnya Bastian ketinggalan berita karena terlalu sibuk mendalami ilmu enterpreneur berbulan-bulan terkahir.
Wisang sudah mengirimkan karangan bunga untuk Bastian, pria itu tidak dapat hadir lantaran istrinya baru saja pulang dari rumah sakit, dan Bastian tentu tidak mempersoalkan hal itu.
" Om!!!" Si biang rempong datang, ia datang bersama dengan Abimanyu, Dhira dan Raka.
Rania pagi ini tak bisa menghadiri acara Bastian, karena terbentur jadwal dengan pertemuan penting koleganya, di luar kota. Urusan yang tak bisa di wakilkan oleh siapapun. Dan rencananya akan pulang besok Senin malam.
" Wah dua jagoan Om datang nih!" Bastian mengajak dua anak yang beranjak remaja itu untuk ber high five.
" Iya dong Om, kan mau makan-makan gratis, iya enggak Ka!" sahut Jodhi kepada Raka.
Raka hanya mengangguk, adiknya itu makin hari makin jadi bocah bar-bar.
" Aman kalau itu, mau sekarang juga ga papa. Itu ada Uti di meja sana. Ayo pada Salim dulu!"
Tak mengundang banyak orang memang, hanya tasyakuran sederhana yang di hadiri oleh kerabat dekat dan juga beberapa sahabat. Mengingat, ini adalah pertama kalinya Bastian akan berbisnis.
" Akhirnya jadi bos juga kau Bas, selamat ya, sering-seringlah kau kasih awak makan gratis ya!" Bang Togar terlihat hadir bersama Satrio.
" Cih, maumu bang!" cibir Satrio.
" Itu benar lah, itu sangat bagus untuk pria macam aku. Ngirit ongkos untuk si Liliana. Makanya cepat-cepat lah nikah kelen biar tahu nikmat orang menikah yang pusing bagi gaji!"
Satrio memutar bola matanya malas " Beda lah bang, kalau Bastian nikah dah jadi sultan dia, emang Abang ternak anak mulu"
__ADS_1
Bastian tergelak, ia sangat senang degan kehadiran dua sahabatnya sewaktu masih menjadi karyawan di Delta Group itu.
Masih sama menyenangkan dan bermulut Combe.
" Sudah- sudah masuk dulu sana, nanti buat Kak Liliana dan untuk anak Abang si Butet, cincay lah. Ada stok untuk mereka!" Bastian mendorong dua tubuh sahabatnya sembari tertawa.
Acara itu lebih mirip ke acara sarasehan sarapan bersama. Sifat bersahaja keluarga Bu Kartika memang tak di ragukan lagi.
Sejurus kemudian Bastian kembali ke luar dan menyambut beberapa keluarga lainnya.
" Selamat untukmu, semoga menjadi jalan rezeki ya Bas. Kakak senang dan bangga sama kamu!" Dhira memeluk adiknya, mengusap lembut lembut punggung lebar adiknya penuh kasih.
" Ehem!" Meskipun Dhira adalah saudara kandung Bastian, tapi agaknya melihat keduanya berpelukan lama membuat tenggorokan Abimanyu gatal.
Mereka berdua akhirnya melonggarkan pelukan itu. " Mas!" Dhira menginjak kaki suaminya.
" Auwhhh, sakit sayang!" bisiknya.
" Kamu sih, orang sama adik sendiri juga!" dengus Dhira.
Bastian hanya terkekeh, " Oke oke, aman kak kalau itu. Temui Ibu dulu sana!" tukas Bastian yang tahu Abimanyu sedikit resah.
Dhira berjalan lebih dulu untuk menemui ibunya. Meninggalkan Abimanyu bersama adiknya.
" Selamat Bas, kalau menemui kesulitan jangan sungkan untuk melibatkanku!" Abimanyu menjabat tangan adik iparnya dan memeluk tubuh Bastian.
" Terimakasih kak Abi!"
Acara berlangsung khidmat, meski tak ada seremonial pemotongan pita atau sejenisnya. Tapi semua ini adalah bentuk rasa syukur Bastian atas upayanya selama ini. Ia berharap, usahanya berjalan dengan lancar, dan bisa menjadi sumber berkat untuk orang lain. Dalam hal ini, lowongan pekerjaan.
Kini, semua yang hadir masih terlihat obrolan seru di dalam Gedung Dapur Isun. Sementara Bastian, ingin menelpon Rania yang tengah berada di luar kota.
" Uhhh, pasti disana lagi rame ya? Jodhi mana?" Rania berucap saat video call mereka telah tersambung.
" Ada di dalam, lagi apa?" ucap Bastian menyapa Rania.
" Baru selesai makan, gimana lancar? selamat ya" Rania tersenyum.
" Thanks!" jawab Bastian sambil memandangi wajah Rania yang cantik malam itu.
Mereka saling diam dan menatap kagum.
Namun ,saat Bastian asyik berbincang melalui layar ponselnya itu, seorang wanita datang dan langsung memeluk serta mengecup pipi Bastian.
" Selamat atas pembukaannya ya Bas, kamu aku panggil gak dengar!"
Wanita itu memeluk dan mengecup pipi Bastian saat ponsel itu masih melangsungkan video call .
Membuat Rania yang melihat adegan itu dari sambungan telepon, langsung membulatkan matanya.
" Bu Yuna..." Bastian mendelik saat itu juga, lebih sialnya Rania pasti sudah melihat dengan jelas pipi Bastian yang di cium oleh wanita yang menjadi Trainernya itu.
" Oh sial...!"
.
.
.
.
__ADS_1