
Bab 30. Berkunjung
.
.
.
...ššš...
"Jalan hidup memang laksana misteri, yang si empunya kadang juga tak bisa menerka. Sesekali berputar bak roda pedati"
Temaram lampu kamar membuat suasana kian menghangat, namun kontras dengan perasaan si pemilik kamar.
Adalah Abimanyu, pria tampan yang fakir cinta. Menatap nyalang langit-langit di kamarnya.
Perasaannya dingin, kosong serta ruang ruang di relung hatinya juga gelap.
Ia masih gencar memproduksi kepulan asap putih, dari atas balkon kamarnya.
Menghisap rokoknya dalam dalam, seraya memejamkan matanya.
Pertemuannya dengan seorang orang tua tunggal dari teman keponakannya itu, jelas membuat seberkas cahaya terang merasuk ke rongga hatinya.
Dan hari ini, ia cukup senang. Pasalnya Devan telah menjalankan titahnya dengan baik.
"Maaf Tuan, saya lupa momfoto hasil buruan saya"
"Ini terlalu enak"
"Saya menyesal tidak menyisakan untuk anda š"
Laporan kocak Devan membuatnya tersenyum, itu berarti hari ini kedai milik Andhira akan memiliki pelanggan kedepannya.
Namun jujur, hatinya merasa nyeri tatkala tahu bila wanita itu kesulitan keuangan.
Tak mungkin juga ia menyerobot untuk langsung membantu tanpa alasan yang relevan. Sikap Dhira yang selalu malu cenderung menghindar jelas menjadi kesulitannya saat ini.
"Apa mantan suaminya itu tak pernah membantunya sama sekali" gerutunya.
Ia tahu, biaya sekolah di TUNAS BANGSA tidaklah murah.
"CK, kenapa aku berfikir sejauh ini" Abimanyu mengusap wajahnya kasar.
Lagi dan lagi, pikirannya justru terpusat kepada wanita itu.
Ia Menggerus batang rokok ke dalam asbak kristal di mejanya, sejurus kemudian ia memilih untuk melempar tubuhnya ke atas kasur ukuran king size-nya.
Memejamkan matanya, berharap mimpi jauh membawanya.
.
.
.
Devan yang tengah berada di ruangan Abimanyu, terlihat duduk dengan wajah menunduk.
"Bagiamana menurutmu Van?"
"Bagaimana apanya?" batin Devan.
"Saya tidak tahu tuan" jawabnya singkat.
Ya, Abimanyu rupanya tengah meminta saran kepada asistennya itu.
Ia ingin datang ke kedai itu, namun dengan alasan yang relevan.
Akan sangat aneh bila ia tiba tiba datang kesana, tanpa tedeng aling-aling.
Devan merasa jengah, lagipula kenapa tidak langsung saja kesana bila ingin membeli, kenapa musti ribet begini.
Nanti ujung-ujungnya dia yang kena.
Belum selesai pembicaraan mereka, terdengar suara ribut dari arah luar.
Devan membuka pintu, dan betapa terkejutnya mereka melihat Jodhi yang berada disana.
__ADS_1
.
.
Abimanyu masih menatap keponakannya, yang melakukan aksi bolos itu.
Devan juga masih berdiri di belakang tempat duduk Jodhi, menatap lekat bocah itu.
"Kenapa bolos?"
"Bosan" ketus Jodhi.
Abimanyu menghela nafas.
"Kan ada Raka"
"Raka belum pulang, masih ikut timnya buat tanding" Jodhi menatap tajam Abimanyu.
"Astaga, kenapa aku bisa lupa"
" Jadi?" Abimanyu bertanya, seraya menatap keponakannya itu.
"Antar aku kerumah tante Dhira!!!!"
ššš
Devan akhirnya mengambil tugas sementara Abimanyu, lantaran rengekan membabi buta Jodhi membuat Abimanyu tak memiliki pilihan.
Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ya, ungkapan ini cocok bukan untuk menggambarkan keadaan Abimanyu saat ini.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, ia yang awalnya bingung dengan alasan apa datang ke kedai milik Dhira, dengan kehadiran Jodhi yang mendadak itu kini kepalanya seolah mendapat lampu kuning dari Albert Einstein.
Ide yang brilian.
"Loh kok lewat sini yah" Jodhi merasa ini bukan jalan yang tempo hari ia lalui bersama Raka.
"Tante Dhira pindah, dia buka ruko!" terangnya.
"Kok Raka gak pernah cerita"
"Raka kan masih karantina sama timnya"
Tanpa terasa, kini mereka telah sampai di depan bangunan baru berlantai dua.
Tepat di sebelah perempatan Jln. Melati.
Terlihat beberapa orang yang keluar masuk ke tempat itu, sepertinya sudah ada geliat transaksi jual beli.
Visual Ruko Dhira
( Credit foto from google)
.
.
Abimanyu
Ia mengidentifikasi bangunan itu, saat setelah ia telah turun dari kuda besinya. Memasukkan tangannya kedalam dua kantong saku celananya.
Mengedarkan pandangannya, "lumayan" batinnya berbicara.
Ia melihat Jodhi yang terlebih dahulu masuk, sepertinya keponakannya itu sedikit memiliki garis keturunan darinya.
Berani.
Hatinya mendadak nyeri, demi mengingat ucapan Rania.
"Kasihan kak, mobilnya dia gadaikan buat pembangunan ruko mbak Dhira"
Ia menghela nafas.
Ia berdesis tak percaya, bisa bisanya ia berfikir sejauh ini.
Membantu?, tapi atas dasar apa?
__ADS_1
Cih, benar benar menyedihkan.
Ia bukanlah laki laki yang baru tau cinta monyet, ia adalah pria dewasa yang lebih mengedepankan logika.
.
.
Andhira
Sejak kejadian mendadak kemaren sore, ia benar benar mendaulat Shinta untuk membantunya.
"Mas Rangga ngijinin Dhir" ucapan riang Shinta lewat sambungan telepon tadi malam, jelas membuat dirinya senang sekaligus tenang.
Ia juga tak menyangka, saran Bastian akan prospek usahanya bersama Bu Kartika bisa diberi kelancaran. Bahkan di saat hari pertama buka.
"Aku goreng ini di belakang dulu" ucap Shinta, membawa sebuah loyang besar berisi Risoles, yang akan menuju proses penggorengan.
Dan dibalas anggukan olehnya, yang tengah sibuk menata berbagai kue yang sudah ia buat sebelumnya.
Ya, mereka selalu membuat aneka panganan itu dalam jumlah yang tidak banyak, namun selalu baru. Guna menjaga kualitas makanan.
Tempat yang tidak terlalu besar, namun bersih dan rapih.
Terlihat juga beberapa kue yang telah jadi, sudah tersaji apik di dalam cake showcase di bagian depan.
Di sisi kanan, terdapat deretan makanan hasil masakan Bu Kartika.
Ia sempat terkejut, saat melihat bocah yang ia kenal datang menuju tempatnya kini berada.
"Jodhi!!"
.
Jodhi
Bocah itu sedari di sekolah benar benar kehilangan moodnya.
Apalagi permusuhannya dengan Chiko, rupanya masih berlanjut hingga saat ini.
Ketidakhadiran Raka jelas membuat segala sesuatunya menjadi tak menarik, ia menyambar tasnya kemudian berjalan dengan wajah datar menuju gerbang.
"Maaf, ini masih jam sekolah Den " ucap Pak Tejo, seorang petugas satpam di sekolah itu.
Jodhi mengeluarkan selembar uang pecahan berwarna merah, dengan gambar Proklamator.
Membuat satpam tersebut menelan salivanya dua kali, apakah ia di suap?.
"Maaf Den, saya nanti yang kena" tentu saja satpam itu tahu siapa Jodhi, ia adalah cucu sultan nomer Wahid di kota itu.
"Ambilah, dan kau aman" paksa Jodhi.
Sepertinya, wajah dingin Jodhi mampu mengintimidasi pria tua itu.
Ia melenggang bersama sebuah taksi yang kebetulan lewat di depannya, membuatnya dengan mudah untuk kabur.
.
.
Ia berjalan menuju ruko dengan bau khas cat baru itu, menyeruak di rongga hidungnya.
Sampai akhirnya sebuah sapaan dari mama Raka, menyambut kedatangan dirinya.
"Jodhi!!"
"Hay Tante, ia tersenyum ceria kepada Andhira"
Namun mamanya Raka itu terlihat membelalakkan matanya, saat melihat sosok di belakangku.
Terkejut, sudah seperti baru melihat hantu saja.
"Pak Abimanyu" ucap tante Dhira kini memanggil ayahnya dengan sebutan Pak.
.
.
__ADS_1
.
.