
“Pendekar bumi? Tidak mungkin!” Kepala Keluarga Gu yang bernama Gu Ao menahan tebasan pedang Jing Yang dengan sekuat tenaganya. Jika dia terlambat sedikit, maka kedua matanya bahkan setengah kepalanya akan menghilang.
‘Dunia ini tempat yang kejam dan tidak seperti yang aku impikan saat kecil.’ Jing Yang memutar tubuhnya dan mengayunkan kedua pedangnya dari samping, ‘Aku telah bersumpah padanya. Malam ini akan kupastikan kau mati ditanganku!’
Ekspresi Gu Ao berubah setelah melihat tatapan mata Jing Yang.
“Bocah yang mencapai pendekar suci. Jangan bilang dia...” Gu Ao menyadari identitas Jing Yang, seketika nafsu membunuh dalam dirinya lebih besar.
Gu Ao mengamati Jing Yang dengan seksama. Walau muda dan berbakat, instingnya mengatakan bahwa Jing Yang memiliki suatu ilmu yang dapat membantu perkembangan cepatnya.
‘Anak dari Tuan Putri Ketiga dan merupakan pewaris tahta Kekaisaran Jiang. Malam ini aku mendapatkan keuntungan besar. Aku berbeda dengan bangsawan lain yang menjilati kaki Jiang Feng, aku memiliki caraku sendiri!’
Gu Ao melompat ke udara dan melepaskan tebasan dari kejauhan. Bersamaan dengan tebasan pedang dari jarak jauh, Jing Yang memperpendek jarak setelah tubuhnya dipenuhi kilatan petir.
“Amarah Pedang Petir : Kilat Emas!”
Jing Yang melepaskan energi pedang dan auranya yang berubah menjadi petir berwarna emas. Jarak keduanya semakin dekat, sehingga Jing Yang melepaskan tebasan yang mematikan kepada Gu Ao.
Gu Ao memilih menghindari tebasan tersebut walau beresiko, setelah menghindar, Gu Ao menemukan darah segar menetes mengenai kedua bola matanya.
Gu Ao menyentuh keningnya yang terkena goresan tajam tebasan pedang, “Kau telah melakukannya, tuan muda sialan!”
Walau seorang bangsawan, penampilan Gu Ao sangat kasar karena dia berasal dari keluarga cabang dan melakukan pembunuhan massal pada keluarga utama. Orang yang membantu Gu Ao untuk bertindak demikian tak lain adalah orang yang ada di belakang Mao Gang.
Bersamaan dengan Jing Yang dan Gu Ao yang bertarung sengit, di bawah terlihat Ye Xiaoya dapat mengatasi tiga puluh pendekar hitam yang tak lain adalah saudara dari Gu Ao sendiri.
“Mereka telah mati. Jadi aku adalah Bangsawan Gu yang tersisa. Akhirnya tujuanku tercapai...” Gu Ao tertawa lantang sambil melepaskan tebasan yang mematikan dan membuat Jing Yang terpental ke belakang.
Ye Xiaoya melebarkan aura tubuhnya untuk mengecek keadaan disekitarnya. Setelah memastikan di Kota Shendu hanya ada Gu Ao, segera Ye Xiaoya menghampiri Jing Yang.
__ADS_1
“Guru Xiaoya, serahkan yang satu ini padaku! Aku telah berjanji padanya...” Jing Yang langsung memandang Ye Xiaoya yang berniat membantunya.
Ye Xiaoya sendiri menatap Jing Yang dengan seksama. Setelah melihat tatapan matanya, akhirnya Ye Xiaoya menghela napas panjang.
“Baiklah, jangan sampai mati. Karena ada hal yang ingin aku beritahu padamu dan ada hal yang ingin kutanyakan padamu.” Ye Xiaoya tersenyum lembut pada Jing Yang sebelum terbang tinggi menuju bukit.
Dua pendekar bumi dari Menara Pilar Hitam akan menjadi lawan yang merepotkan. Ye Xiaoya sadar jika dirinya harus membunuh salah satu dari mereka.
Setelah Ye Xiaoya menjauh, Gu Ao mengangkat alisnya, “Kenapa dia menuju bukit? Jangan bilang...” Langsung matanya menatap Jing Yang dan banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan pada pemuda itu.
Jing Yang sudah berada di depan Gu Ao sambil mengayunkan kedua pedangnya. Benturan pedang menggema di udara, Jing Yang dan Gu Ao bertukar serangan dengan hebat.
Kemampuan Gu Ao berada di atas Jing Yang karena dia telah mencapai pendekar bumi. Sementara Jing Yang dapat mencapai pendekar bumi karena kondisi Tanda Mata Naga.
Belasan jurus saling berbalas. Benturan yang keras dan ledakan mewarnai langit malam Kota Shendu. Jing Yang terus memaksa Gu Ao menjauh dari kota.
Gu Ao menyambutnya, namun dia tidak mengira Jing Yang akan memaksanya keluar kota dengan tendangan yang tepat mengenai wajahnya menggunakan pisau kakinya.
Setelahnya Jing Yang mengibaskan salah satu pedangnya dan mendekati Gu Ao. Dalam satu kali tarikan napasnya, Jing Yang melakukan puluhan tebasan pedang yang tajam.
“Memaksaku bertarung di luar kota agar tidak melukai penduduk? Cara berpikirmu sangat berbeda degan pamanmu itu!” Gu Ao menyeringai sambil menatap tajam Jing Yang.
Jing Yang menghitung jumlah tenaga dalamnya, jika dia dapat membunuh Gu Ao, ada beberapa hal yang ingin dia coba tetapi ini masih belum waktunya.
‘Dia dapat bersikap tenang, seolah-olah aku tidak menjadi hambatannya.’ Jing Yang mengamati tangkisan pedang Gu Ao dengan seksama. Selepas bertukar serangan dengan singkat, Jing Yang menyadari jika Gu Ao kurang lebih memiliki kemampuan yang sama dengan pendekar aliran hitam dalam kudeta Istana Sembilan Naga yang menggunakan pil misterius.
“Kemampuanmu ini tidak akan bertahan lama. Aku akan menahanmu dan memberikan siksaan hidup padamu.” Gu Ao berkata dengan nada merendahkan.
Jing Yang tidak menggubris, melainkan terus melancarkan serangan demi serangan kepada Gu Ao. Untuk membunuh pendekar bumi seperti Gu Ao bukanlah hal yang mudah, Jing Yang sangat menyadari itu sehingga dia tidak ragu menggunakan energi yang tersimpan di Tungku Jiwa Naga.
__ADS_1
Setelah pertukaran serangan yang lama, Jing Yang kembali bergerak maju, melepaskan tebasan petir, Gu Ao bergerak hampir bersamaan dengan Jing Yang.
Bilah pedang yang dipenuhi energi pedang bertemu. Jing Yang melakukan serangan beruntun tanpa henti membuat kedua pedangnya menimbulkan gelombang angin yang berhembus kencang.
Tekanan gravitasi di atas udara juga semakin berat, Jing Yang menatap Gu Ao yang baru menyadari perubahan. Setelah menggunakan kekuatan gravitasi, tentu saja dia memiliki kesempatan besar membunuh Gu Ao yang terkejut.
Serangannya tidak hanya cepat, setiap tebasannya dipenuhi energi pedang dan aura yang membara. Permainan pedang Jing Yang yang lincah berhasil memaksa Gu Ao ke dalam posisi bertahan.
‘Jika rumor bocah ini diangkat sebagai Tetua Istana Sembilan Naga adalah sungguhan, maka aku harus membunuhnya! Bagaimana bisa manusia sepertimu mencabut Pedang Dewa Naga!’ Gu Ao semakin terdesak, pertahanannya semakin rapuh setelah pakaian yang dikenakannya penuh bekas sobekan dan darah.
Jing Yang tidak membiarkan Gu Ao menjaga jarak darinya, setiap Gu Ao hendak melompat, Jing Yang langsung menekan pergerakannya menggunakan kekuatan gravitasi dari Yue Wang.
Sekarang Jing Yang memang berhasil mendesak Gu Ao, tetapi efek Tanda Mata Naga tidak bertahan lama. Masih ada waktu dua puluh menit dalam kondisi Tanda Mata Naga, Jing Yang berniat tidak akan menyia-nyiakannya.
“Akhirnya mereka tiba! Percuma kau menahanku, karena disana ada dua pendekar bumi. Kalian akan binasa disini bersama kepala Shen Yunxuan dan Shen Ho!”
Gu Ao tersenyum menyeringai dan mengaliri bilah pedangnya dengan tenaga dalam sebelum menyambut serangan Jing Yang.
“Biar aku perlihatkan kekuatan mutlak yang sebenarnya...”
Gu Ao mendorong tubuh Jing Yang dan melompat ke belakang, kemudian dia mengeluarkan pil yang diambilnya dari saku.
Setelah Gu Ao menelan pil misterius tersebut, seketika rambutnya menjadi panjang dan berwarna merah. Sementara kedua bola matanya juga dipenuhi urat-urat merah yang mengerikan.
Kekuatan yang terpancar dari tubuh Gu Ao bertambah pesat, bahkan membuat Jing Yang menahan napasnya selama sesaat karena merasa Gu Ao seperti makhluk lain selain manusia.
“Jurus Darah Iblis!”
Gu Ao tersenyum menyeringai dan menatap tajam Jing Yang. Bersamaan dengan perubahan yang terjadi pada Gu Hao, suara benturan pedang dari arah bukit yang dekat dengan Kota Shendu terdengar keras.
__ADS_1