
Jing Yang duduk dengan tenang di atas puncak sebuah bukit bersama seorang kakek tua. Pemandangan yang tersaji dari atas bukit terlihat indah, terlebih semilir angin tipis-tipis membawa ketenangan malam dalam kesejukan.
“Anak muda, kau begitu muda dan telah mencapai pendekar agung. Mungkin ini sebuah kebetulan kau datang kemari atau memang perkataan mendiang Ibuku tentang ramalan adalah sebuah kebenaran...” Kakek tua itu menatap langit malam yang dengan bintang-bintang penuh makna dan dalam, “Apapun itu, aku rasa kau pernah mendengar nama Sembilan Kekacauan Surgawi, bukan?”
Jing Yang mengernyitkan keningnya, dia pernah mendengar tentang Sembilan Kekacauan Surgawi ataupun sekilas ingatan tentang ayahnya. Andai saat itu ayah Jing Yang benar-benar dapat mengambil sikap yang tegas, maka Ye Xiaoya tidak akan menderita.
Pada akhirnya ayahnya melimpahkan semuanya kepada dirinya. Jing Tian lebih memilih melarikan diri dan hidup bersama Jiang Lian, wanita yang dia temui di tempat asing.
Jing Yang menghela napas panjang sebelum dia mendengarkan penjelasan dari Roh Sang Hitam.
‘Di dunia ini terkadang ada seseorang yang terlahir dengan kemampuan langka, salah satunya dapat meramalkan kejadian di masa depan.’ Suara lembut Roh Sang Hitam membuat Jing Yang tenang. Bagi dirinya perempuan cantik Roh Dewi Naga Hitam ini adalah Guru sekaligus Ibu angkatnya, ‘Kekuatan ini juga merupakan sesuatu yang diwariskan secara turun-temurun...’
Jing Yang mendengarkan suara dan ucapan Roh Sang Hitam dengan baik. Sekarang dia sudah siap menerima takdirnya, dan dia yang akan menentukannya.
“Siapa namamu anak muda?” Kakek tua itu berbicara panjang lebar bersamaan dengan Roh Sang Hitam yang menjelaskan kemampuan langka diwariskan secara turun-temurun kepada Jing Yang.
“Namaku Jing Yang...” Secara singkat Jing Yang menjawab.
“Namaku Kung Taoji. Maukah kau mendengar sedikit ceritaku ini, Junior Jing?” Kakek tua itu bernama Kung Taoji. Memiliki kemampuan pendekar roh, dan itu membuat Jing Yang benar-benar tidak berkutik saat bertarung melawannya.
“Ya, aku juga ingin mengetahui lebih jelas tentang Sembilan Kekacauan Surgawi.” Jing Yang mengira Kung Taoji akan menceritakan tentang Sembilan Kekacauan Surgawi kepadanya, sehingga Jing Yang sangat tertarik untuk mendengarkannya.
Kung Taoji bercerita tentang ramalan mendiang ibunya yang mati di tangan pemilik Tubuh Dewa Iblis. Saat-saat sebelum kematiannya, mendiang Ibu Kung Taoji mengatakan sesuatu yang membuatnya tetap ingin hidup dan melihat sendiri bagaimana sepak terjang seorang pendekar yang telah diramalkan dan dijanjikan di masa depan nanti.
__ADS_1
“Harya, kekayaan, kekuasaan dan wanita. Dia memiliki semuanya...” Kung Taoji menyebutkan ciri-ciri orang yang dikatakan mendiang ibunya. Seketika Jing Yang menggelengkan kepalanya pelan.
‘Aku pikir Senior Kung akan menceritakan kepadaku tentang Sembilan Kekacauan Surgawi...’ Dengan berat hati Jing Yang mendengarnya, karena bagaimanapun bagi Jing Yang, dirinya sama sekali tidak memiliki ciri-ciri orang yang dikatakan mendiang Ibu Kung Taoji.
“Di masa depan nanti akan ada seseorang yang memikul takdir dan harapan orang-orang di benua ini. Dia ada orang yang akan membuka era baru. Dengan tujuh Jelmaan Dewi yang menyinari jiwanya...” Kung Taoji mengatakan hal yang membuat Jing Yang mengernyitkan keningnya. Dia sedikit memahami makna perkataan Kung Taoji, tetapi dia masih sulit untuk mempercayainya.
“Apa maksud Senior Kung, orang itu adalah aku atau...” Jing Yang menahan perkataannya, dia menggelengkan kepalanya dan tertawa pelan.
“Aku rasa orang yang dinanti dan diramalkan mendiang Ibuku adalah kamu, Junior Jing. Tujuh Jelmaan Dewi yang menyinari jiwanya bisa diartikan kelak kau akan memiliki tujuh pendamping hidup...” Kung Taoji menjawab, membuat Jing Yang menelan ludah.
“Hah? Tidak mungkin, aku masih kecil...” Jawaban Jing Yang membuat Kung Taoji tertawa.
“Jika bukan dirimu, maka orang yang diramalkan itu adalah anakmu.” Kung Taoji kembali berkata.
“Lagipula perkataan Senior Kung tidak ada kebenarannya dan tidak dapat di percaya.” Jing Yang sendiri tidak begitu mempercayai perkataan Kung Taoji, tetapi Roh Sang Hitam mengatakan padanya bahwa dia memiliki takdir yang berbeda setelah bertemu dengan Roh Sang Putih ataupun Roh Sang Hitam.
Jing Yang merasakan tekanan intimidasi yang mengerikan dari Kung Taoji. Dia bisa mengetahui jika Kung Taoji tersinggung atas perkataannya, walau Jing Yang sendiri tidak berniat menyinggungnya.
“Senior Kung, maksudku, bagaimana senior bisa mengatakan jika aku adalah orang yang diramalkan? Aku sendiri tidak merasa memiliki ciri-ciri orang senior maksud?” Jing Yang dengan sopan menenangkan Kung Taoji yang secara perlahan mulai menekan aura pembunuhnya.
“Kharisma karena mendapatkan Peri Kecil Istana Bulan Biru dan Ratu Es Xue Rong. Hanya dari mengamatimu saat berada di restoran di bawah kaki bukit ini, aku bisa mengetahuinya...” Kung Taoji menjelaskan, dan itu membuat Jing Yang kembali mengernyitkan keningnya.
Jing Yang ingin mengatakan sesuatu tetapi Kung Taoji menepuk pundaknya, “Aku pergi dulu, cepat atau lambat kau akan mengetahui identitasku...”
__ADS_1
Setelah berkata demikian, Kung Taoji menghilang dari pandangan Jing Yang dan pergi entah kemana. Jing Yang menggaruk kepalanya dan mengacak rambutnya sendiri.
“Guru, kenapa kamu tertawa?” Jing Yang merasa diledek oleh Roh Sang Hitam yang tertawa di alam bawah sadarnya.
‘Tidak apa-apa, aku hanya merasa bahagia karena dapat bertemu denganmu...’ Seketika suasana hening, Roh Sang Hitam tidak melanjutkan perkataannya dan hanya diam. Sementara Jing Yang memerah wajahnya, dia tidak menyangka Roh Sang Hitam akan berkata demikian.
“Guru, katakan sekali lagi!” Ucap Jing Yang penuh antusias.
‘Jangan salah paham, dasar bodoh! Aku hanya bahagia bisa merawat anak manusia sepertimu dan melihatmu tumbuh!’ Roh Sang Hitam langsung diam seribu bahasa. Sementara Jing Yang kepikiran dengan perkataan Kung Taoji, hanya saja dia merasa bahwa dirinya tidak akan memiliki tujuh pendamping hidup.
“Apa sebenarnya yang menarik dari diriku?” Jing Yang menggumam pelan dan menatap langit malam yang berbintang.
‘Kakak, kamu adalah laki-laki yang hebat! Lingling juga mencintaimu!’
‘Cebol sepertimu tidak akan menjadi selir calon kaisar yang menjadi tuan kita ini! Setidaknya Saudaraku Jing Yang lebih menyukai perempuan seksi sepertiku...’
Lingling dan Yue Wang berdebat hebat di alam bawah sadar Jing Yang.
Lingling dan Yue Wang menyadari bahwa Jing Yang memiliki sifat berbeda dari manusia lainnya. Dia memanglah bocah naif yang masih muda dan butuh kasih sayang, tetapi sifat tegar saat dia menyembunyikan perasaannya membuat Lingling dan Yue Wang berulang kali tersentuh.
Biasanya Roh Pedang ataupun Roh Pusaka tidak akrab dengan pemiliknya jika tidak memiliki pandangan yang sama, tetapi Jing Yang dapat membuat Lingling dan Yue Wang percaya pada dirinya sekaligus menjadi teman akrabnya.
‘Kakak, pilih aku atau nenek tua bangka ini?’ Lingling berkata dengan suara yang menggemaskan.
__ADS_1
Yue Wang mengernyitkan keningnya, ‘Siapa yang kau panggil nenek tua bangka?!’
Jing Yang hanya tersenyum tipis dan tidak menjawab perkataan Lingling dan Yue Wang. Kemudian dia melompat ke udara untuk kembali ke penginapan yang ditempati Xue Bingyue.