
‘Kenapa aku harus berakhir seperti ini?!’ Seorang gadis berusia tujuh belas berlari mencoba melepaskan diri dari kejaran para pendekar Benteng Naga Besi.
Nafas gadis tersebut putus-putus dan samar-samar pandangannya mulai kabur karena gadis itu sempat terjatuh dan kepalanya membentur batu.
“Tidak kusangka Tuan Putri melarikan diri sampai ke Kota Luodao!”
“Sebelum menyerahkannya pada Kaisar Xuanyuan, apa kita nikmati dulu tubuhnya?”
“Hahahaha, apa kau ingin dibunuh Patriark Guang? Apa kalian pernah mendengar tentang pemakaman diujung kota?”
“Aku pernah mendengarnya jika Kaisar Xuanyuan membunuh istrinya disana karena salah satu pendekar aliran putih bermesraan dengannya.”
“Ya, tetapi semua itu adalah rencana Patriark Guang. Selir kesayangan Kaisar Xuanyuan sebenarnya tidak berselingkuh melainkan diperkosa Patriark Guang.”
“Hentikan, kau tidak terlalu banyak berbicara!”
“Aku mengerti, aku hanya terbawa suasana karena akhirnya rencana kita untuk menguasai Kekaisaran Shi tercapai dengan Kaisar Xuanyuan sebagai bonekanya!” Tawa pendekar tersebut menggema.
Seluruh tubuh gadis cantik itu lemas mendengar ucapan para pendekar Benteng Naga Besi yang mengepungnya. Gadis cantik itu ingin menggigit lidahnya namun bayangan kematian orang tuanya menggema, terlebih saat Ayahnya diikat dan Ibunya diperlakukan lebih parah dari seekor binatang dihadapannya.
Gadis cantik itu membuka matanya dan telah bersumpah akan membunuh siapapun yang terlibat dalam pembantaian itu bahkan kakak kandungnya sendiri. Tetapi dunia tidak semulus keinginannya dan dunia tidak sebaik yang dia pikirkan.
‘Dewa, apa kesalahanku sampai harus merasakan semua ini?!’ Gadis cantik itu memejamkan matanya dan pasrah.
Para pendekar Benteng Naga Besi menyeringai dan mulai mengelilingi tubuh gadis cantik itu namun sebelum mereka melakukan aksinya, sebuah hembusan angin kencang diserta hawa dingin membekukan tubuh seluruh pendekar Benteng Naga Besi kecuali sang gadis cantik.
Mata sang gadis cantik terbuka dan pandangannya jatuh ke arah seorang gadis kecil yang umurnya empat tahun lebih muda darinya. Gadis kecil itu berdiri diatas pedangnya yang tertancap ditanah dan terlihat begitu anggun.
“Dewi...” Gadis cantik itu bergumam melihat kecantikan gadis kecil yang tak lain adalah Xue Bingyue.
__ADS_1
Xue Bingyue menoleh dan tersenyum, “Dewi? Namaku Xue Bingyue.” Setelah berkata demikian Xue Bingyue turun dari gagang pedangnya dan menginjak tanah, sementara telapak tangannya memegang pedangnya dan mengibaskan pedangnya.
“Muncul gadis cantik yang lain-” Salah satu pendekar membebaskan diri saat tubuh dibekukan namun belum sempat dirinya bergerak leluasa, sebuah tebasan melesat kearahnya dan mengenai dadanya disusul dengan sebuah tendangan ringan namun dipenuhi tenaga dalam.
Tubuh pendekar tersebut terpental jauh ke belakang dan dinyatakan tewas seketika. Xue Bingyue melakukan itu dengan sungguh-sungguh, dia menekan kelemahannya sebisa mungkin. Untuk berdiri disamping Jing Yang, dia membutuhkan semua ini.
“Kalian berasal dari Benteng Naga Besi bukan? Kebetulan aku memiliki dendam pada sekte kalian!” Xue Bingyue menatap dingin para pendekar yang menjaga jarak darinya.
“Yueyue, jangan bunuh mereka semua. Kita membutuhkan informasi.” Bai Xianlin terbang rendah dan berdiri disamping Xue Bingyue sambil memijat keningnya karena melihat tatapan dingin dari sang gadis kecil, “Kau terlalu tergesa-gesa. Lagian gadis itu terlihat seperti seorang bangsawan, tidak aku sempat mendengar dia dipanggil Tuan Putri...”
Bai Xianlin berbalik sementara tangannya mengulur didepan Xue Bingyue, “Berikan pil untuknya. Sepertinya dia terluka parah.”
Xue Bingyue mengeluarkan pil dari Cincin Dewa dan memberikannya kepada Bai Xianlin, “Aku akan mengurus mereka. Tenang saja Bibi Xianlin, aku tidak akan membunuh mereka.”
Xue Bingyue tersenyum sebelum menghilang dari pandangan Bai Xianlin. Wanita itu hanya menghela nafas panjang melihat Xue Bingyue sudah bertukar serangan dengan para pendekar Benteng Naga Besi.
“Telan ini. Mungkin sedikit pahit tetapi itu dapat memulihkan kondisimu.” Bai Xianlin membantu sang gadis cantik berdiri dan menatap pertarungan Xue Bingyue.
“Terimakasih... Bibi-” Gadis tersebut mengucapkan terimakasih kepada Bai Xianlin namun bingung harus memanggil Bai Xianlin dengan sebutan apa.
Penampilan Bai Xianlin memang cantik dan mempesona dengan lekuk tubuh dewasa yang menggoda terlebih bagian dada dan kulitnya yang putih mulus. Terlebih paras Bai Xianlin menurut sang gadis lebih tua tiga sampai empat darinya.
Bai Xianlin tersenyum lebar karena mengetahui gadis cantik tersebut terpesona akan penampilannya.
“Kau bisa memanggilku Bibi Xianlin...” Bai Xianlin memegang kepala gadis itu dan meremas rambutnya sebelum menambahkan, “Tunggu disini sebentar, aku ingin mengorek informasi dari mereka.”
Bai Xianlin segera melesat mendekati Xue Bingyue dan menahan pergelangan tangan gadis kecil itu yang hendak menghunuskan pedangnya kearah leher salah satu pendekar.
“Cukup, Yueyue. Sisanya serahkan padaku." Bai Xianlin menatap tajam Xue Bingyue yang menatap dirinya. Gadis kecil itu mengibaskan pedangnya dan berjalan menjauh dari Bai Xianlin.
__ADS_1
Xue Bingyue menenangkan dirinya dan mengembalikan Pedang Salju Suxue sambil berjalan mendekati gadis cantik yang ditolongnya.
“Jadi bisa kita memulainya?” Bai Xianlin tersenyum manis sambil mengalihkan pandangannya menatap para pendekar yang terkapar.
Sementara Bai Xianlin sibuk mengorek informasi, Xue Bingyue mengobrol ringan dengan gadis cantik tersebut. Xue Bingyue sendiri memperhatikan kondisi para pendekar yang terlihat memprihatinkan.
Beberapa dari mereka tidak sadarkan diri dan beberapa yang lain tubuhnya dipenuhi luka tebasan bahkan ada beberapa yang patah tulang karena terkena pukulan dan tendangannya.
Beberapa saat kemudian Xue Bingyue memejamkan matanya begitu juga dengan sang gadis cantik yang duduk disampingnya. Terdengar suara teriakan keras dari para pendekar Benteng Naga Besi.
Bai Xianlin terlihat menyiksa seluruh pendekar Benteng Naga Besi sambil mengorek berbagai informasi yang dicarinya. Setelah teriakan keras dari para pendekar terus menggema akhirnya selang beberapa menit suasana sunyi.
Terlihat Bai Xianlin membunuh seluruh pendekar dan menguburkannya sendirian. Wanita itu tersenyum lebar seolah-olah menikmati pembunuhan membuat gadis cantik yang melihat itu menelan ludah.
“Bibi Xianlin melarangku untuk membunuh tetapi kenapa Bibi Xianlin membunuh mereka semua?!” Xue Bingyue berjalan mendekati Bai Xianlin dan mengembungkan pipinya karena kesal.
Bai Xianlin tertaaa pelan, “Ingat perjanjian yang kita buat, Yueyue. Aku tidak ingin kau terbiasa membunuh. Boleh saja membunuh, tetapi belum saatnya bagimu terbiasa membunuh.”
Xue Bingyue diam dan tidak membantah karena mengetahui Bai Xianlin mengkhawatirkan dirinya.
“Baiklah, sekarang katakan identitasmu yang sesungguhnya kepada kami, Tuan Putri.” Bai Xianlin mengalihkan pembicaraan dan menatap sang gadis cantik yang baru dirinya dan Xue Bingyue selamatkan dengan tatapan mata penuh selidik.
Sang gadis cantik terlihat ragu, namun dia tidak memiliki siapapun untuk dia minta tolong. Terlebih melihat keanggunan Xue Bingyue dalam bertarung dan senyuman lebar Bai Xianlin saat membunuh para pendekar dari Benteng Naga Besi membuat gadis cantik tersebut terpesona dan kagum.
“Terimakasih Kakak... Bibi Xianlin...” Cukup kikuk gadis cantik itu berbicara, “Terimakasih Nona Xue, kalian berdua telah menyelamatkanku. Aku tidak tahu harus memberikan apa kepada kalian.”
“Berhenti, sesama perempuan sudah seharusnya mesti saling menolong.” Melihat gadis cantik itu membuat Bai Xianlin mengingat sedikit masa lalunya dan itu tentu membuatnya bersimpati.
“Aku mengerti.” Gadis itu berusaha menenangkan dirinya sebelum memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
“Perkenalkan namaku Shi Surao, anak ketiga dari Kaisar Shi sebelumnya...” Identitas gadis cantik tersebut membuat Bai Xianlin dan Xue Bingyue terkejut.
Gadis cantik bernama Shi Surao menceritakan kejadian dimana dirinya berakhir seperti sekarang ini.