Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 195 - Kain Langit Suci Menghilang


__ADS_3

“Tuan Putri? Apa yang kau bicarakan pria kurus berwajah bulat?! Dia adalah anakku!” Bai Xianlin menatap dingin pendekar yang mengarahkan goloknya pada leher Xue Bingyue.


“Janda sepertimu menghina wajahku!” Pendekar tersebut membalas tatapan dingin Bai Xianlin dengan ayunan pedangnya.


Xue Bingyue melepaskan hawa dingin dan membekukan tangan pendekar tersebut, “Paman seharusnya tahu kalau benda ini bukanlah mainan.” Jari telunjuk Xue Bingyue menunjuk golok yang hampir bersentuhan dengan kulit mulus lehernya.


Empat pendekar yang melihat kemampuan Xue Bingyue terkejut. Keempatnya refleks menjaga jarak saat mengetahui Xue Bingyue merupakan seorang praktisi es.


“Tanganku!” Pendekar yang tangannya dibekukan Xue Bingyue tersentak kaget.


“Anakku merupakan Tuan Putri Es dari Kekaisaran Es Utara. Kalian salah orang. Jika ingin mencari masalah dengan kami, maka aku bersama anakku ini dengan senang hati akan melayani kalian!” Bai Xianlin melepaskan aura pembunuh yang membuat kelima pendekar yang mengepungnya tersedak dan kesulitan bernafas.


“Kekaisaran Es Utara? Aku? Kebohongan macam apa yang kau bicarakan Bibi Xianlin?!” Xue Bingyue memelankan suaranya dan setengah berteriak pada Bai Xianlin.


“Diam Yueyue. Cukup ikuti sandiwara ini mengerti?” Bai Xianlin tersenyum lebar sambil melepaskan selendangnya.


Selendang yang diisi tenaga dalam itu memancarkan cahaya berwarna merah muda, dimana cahaya itu semakin lama semakin terang.


“Kalian berlima berasal dari sekte mana?" Bai Xianlin tersenyum manis kearah lima pendekar membuat kelimanya menelan ludah secara bersamaan.


“A-aku berasal dari Sekte Lembah Darah.” Salah satu pendekar menjawab sementara yang lain menganggukkan kepalanya.


“Sekte Lembah Darah? Nama ini tidak asing...” Bai Xianlin bergumam pelan pura-pura tidak mengetahui nama tersebut.


“Jika kau tidak mengenal Sekte Lembah Darah! Aku akan membuatmu mengingatnya!” Pendekar yang memegang golok dimana tangannya dibekukan Xue Bingyue berteriak, “Janda sialan!”


“Hah?" Bai Xianlin mengerutkan keningnya menatap dingin pendekar tersebut, “Siapa yang kau sebut janda?!”


Selendang Bai Xianlin melilit tubuh pendekar tersebut sebelum cipratan darah berceceran. Tubuh pendekar yang memegang golok terlilit selendang Bai Xianlin hingga tubuhnya hancur.


Suara tulang menggertak menggema dan jeritan tertahan terdengar. Xue Bingyue memejamkan matanya sementara Bai Xianlin tersenyum lebar.


“Dia membunuhnya! Seharusnya pengasuh Tuan Putri sudah mati ditangan Patriark Benteng Naga Besi!” Salah satu pendekar hendak melarikan diri tetapi dengan cepat Bai Xianlin melempar selendangnya dan mengikat tubuh pendekar tersebut.


“Tidak ada yang bisa melarikan diri. Kalian semua akan mati disini.” Setelah itu Bai Xianlin melepaskan tenaga dalamnya sebelum membunuh satu demi satu pendekar dari Sekte Lembah Darah.


Xue Bingyue menahan nafas melihat Bai Xianlin dengan santainya membunuh pendekar dari Sekte Lembah Darah. Setelah Bai Xianlin mengibaskan selendangnya berulang kali, wanita itu menatapnya tajam.


“Yueyue, kita pergi!” Bai Xianlin menarik tangan Xue Bingyue dan terbang rendah secepat mungkin menjauh dari lokasi kejadian.


“Bibi Xianlin apa kau menyadarinya?” Xue Bingyue sekilas merasakan samar-samar aura besar yang mendekat kearah lokasi kejadian.

__ADS_1


Bai Xianlin menghela nafas, “Ya, aku bisa saja menghadapi orang dengan aura sebesar itu. Hanya saja dengan jumlah pendekar di Kota Luodao, kita tidak bisa bertindak gegabah.”


‘Gegabah? Dan kau sudah membunuh lima pendekar dari Sekte Lembah Darah, Bibi Xianlin.’ Xue Bingyue menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan Bai Xianlin.


“Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Yueyue.” Bai Xianlin tersenyum kearah Xue Bingyue sambil menyipitkan matanya, “Tetapi itu bukan kesalahanku sepenuhnya. Lagipula mereka yang mencari masalah dengan kita terlebih salah satu dari mereka memanggilku janda!”


Xue Bingyue tertawa lirih mendengar ucapan Bai Xianlin sebelum dirinya mendarat didekat pemakaman. Bai Xianlin ikut tertawa lirih sambil tangannya menunjuk kesatu arah.


Xue Bingyue tidak mengetahui bahwa Bai Xianlin rela mengotori tangannya karena tidak ingin Xue Bingyue terbiasa membunuh dan kehilangan kondisi kejiwaannya. Kurang lebih Bai Xianlin tidak ingin Xue Bingyue berakhir sepertinya dimana dirinya selalu mendapatkan mimpi kelam masa lalunya.


“Disana adalah kuburan milik kakak perempuanku...” Bai Xianlin tersenyum manis dan berjalan. Xue Bingyue tahu senyuman manis itu adalah topeng yang menyembunyikan perasaan Bai Xianlin.


Xue Bingyue ingin mengatakan sesuatu tetapi dirinya sendiri merasa tidak pantas memberikan kata-kata semangat ataupun nasehat kepada Bai Xianlin. Terlebih umur Bai Xianlin yang sudah tua dan wanita itu tidak pernah dia bisa tebak jalan pemikirannya.


“Semua laki-laki itu sama. Mereka adalah bedebah menjijikkan. Aku tidak ingin ada orang yang berakhir seperti mendiang kakakku. Semenjak hari itu aku tidak pernah merasakan perasaan jatuh cinta pada laki-laki. Aku akan membunuh setiap laki-laki yang mencoba melecehkan perempuan.” Bai Xianlin berkata dengan suara dingin membuat Xue Bingyue mengerutkan keningnya.


Xue Bingyue menebak jika tindakan Bai Xianlin seperti ini karena masa lalu yang memimpa mendiang kakaknya. Kurang lebih dia memahaminya dan Xue Bingyue bisa melihat sorot mata yang mengekspresikan kesepian, kesedihan dan kemarahan besar.


“Bibi Xianlin.” Xue Bingyue melirik Bai Xianlin yang memejamkan matanya dan menghela nafas panjang setelah dirinya memanggil namanya.


“Ada apa Yueyue?” Bai Xianlin melirik kearah Xue Bingyue yang berdiri disampingnya.


“Semua laki-laki itu sama... Menurutku tidak.” Xue Bingyue tersenyum dan memegang telapak tangan Bai Xianlin penuh kelembutan, “Yangyang adalah contohnya. Dia berbeda. Aku bisa melihat jika Guru memiliki perasaan padanya dan aku sendiri merasa hangat saat berada disampingnya.”


Bisikan Bai Xianlin membuat Xue Bingyue tersedak. Gadis itu mengembungkan pipinya dan menghentakkan kakinya ketanah merasa kesal. Matanya menatap sengit Bai Xianlin menunjukkan tanda tidak mau mengalah.


“Bibi Xianlin!”


Bai Xianlin tertawa. Dia senang karena Xue Bingyue bisa bersikap terbuka padanya. Gadis itu bisa berekspresi sesukanya. Mengingat beberapa tahun lalu dirinya melihat Xue Bingyue murung bahkan sikap dingin gadis itu itu membuat beberapa jenius muda dan anak bangsawan berpikir dua kali mendekatinya.


Namun seiring berjalannya waktu banyak yang mengirim surat lamaran kepada Xue Bingyue, namun dalam ingatannya yang membeku Xue Bingyue menolak semuanya.


“Aku tidak tahu mengapa saat bersama Bibi Xianlin, aku bisa merasa bebas. Apa karena Bibi Xianlin mirip dengan mendiang Ibuku?” Xue Bingyue tanpa sadar meneteskan air matanya membuat Bai Xianlin memeluk tubuhnya.


“Kami pernah bertemu dimasa lalu. Aku tidak tahu pastinya, tetapi beberapa kenalan yang telah tiada pernah berkata padaku jika diriku dan mendiang Ibumu sangat mirip. Bahkan banyak yang mengira kami kakak beradik.” Bai Xianlin tersenyum jahil setelah melihat Xue Bingyue terlihat tenang, “Dan yang menjadi pembeda adalah ukuran dadaku dan tentunya-”


Xue Bingyue mencubit perut Bai Xianlin membuat wanita itu menjerit. Xue Bingyue tertawa lirih melihat ekspresi Bai Xianlin.


“Sudah cukup, Bibi Xianlin. Aku ingin menghiburmu justru kamu yang menghiburku. Ini sangat memalukan.” Xue Bingyue menarik nafas panjang dan tersenyum lepas.


Bai Xianlin tersenyum dan menatap batu disamping pemakaman, “Baiklah, kita akan mengambil Kain Langit Suci dan segera pergi dari sini.”

__ADS_1


Xue Bingyue menganggukkan kepalanya lembut, “Semoga saja Kain Langit Suci dapat mengembalikan kondisi Yangyang.”


Xue Bingyue dan Bai Xianlin menggali lubang disamping kuburan mendiang kakak Bai Xianlin. Terlihat Xue Bingyue menciptakan sejumlah tombak dari es dan mengendalikan tombak es tersebut untuk menggali.


“Aku tidak perlu turun tangan.” Bai Xianlin tertawa pelan dan memperhatikan tombak es Xue Bingyue.


Setelah lubang yang Xue Bingyue gali cukup dalam, keduanya tidak menemukan Kain Langit Suci melainkan peti kosong yang tidak terdapat apapun didalamnya.


Bai Xianlin mengerutkan keningnya, “Kosong? Ini tidak mungkin! Kain Langit Suci adalah pusaka Klan Bai! Siapa yang mengambilnya?!”


Bai Xianlin tanpa sadar melepaskan aura pembunuh dan menyapu pandangannya menatap ke segala arah kuburan. Pandangan matanya jatuh kepada sebuah batu bertuliskan ‘Shi Xuanyuan.’


“Sejak kapan ada batu itu disini? Kenapa pemakaman ini menjadi milik Shi Xuanyuan?” Belum sempat Bai Xianlin menemukan jawabannya terdengar suara langkah kaki yang mendekat.


“Aku mendengar ada suara tawa perempuan! Aku tidak mungkin salah mendengar!”


“Pemakaman itu adalah milik Kaisar Xuanyuan! Disana terdapat tubuh salah satu selir kesayangannya yang terbunuh oleh dirinya sendiri!”


“Tangkap penyusup itu dan bunuh mereka!”


Sebelum sejumlah pendekar yang mengetahui keberadaan mereka sampai di pemakaman, Bai Xianlin dan Xue Bingyue bergerak dengan kecepatan tinggi meninggalkan pemakaman dari arah berlawanan dan terbang dengan kecepatan tinggi.


“Yueyue, kita harus menemukan keberadaan Kaisar Shi yang baru! Kain Langit Suci sangat berharap untukku!" Bai Xianlin mengepalkan tangannya dan menggigit bibir bawahnya.


Xue Bingyue bisa melihat Bai Xianlin mengatakan hal yang sejujurnya, “Aku mengerti, Bibi Xianlin. Kita akan merebut kembali Kain Langit Suci.”


Setelah itu Bai Xianlin dan Xue Bingyue terbang dengan kecepatan tinggi meninggalkan kota. Dengan waspada dan penuh kehati-hatian Bai Xianlin dan Xue Bingyue terbang karena keduanya menyadari ada beberapa pendekar yang memiliki kemampuan kurang lebih sama seperti Bai Xianlin.


Sesampainya di hutan yang jaraknya lumayan jauh dari Kota Luodao, Bai Xianlin mengajak Xue Bingyue untuk bergegas menuju Ibukota Shilin.


“Yueyue, sebaiknya kita tinggalkan Kota Luodao secepatnya!” Bai Xianlin menyapu pandangannya menatap kebawah begitu juga dengan Xue Bingyue.


“Baik, Bibi Xianlin.” Xue Bingyue menjawab lalu menoleh kebelakang memastikan tidak ada orang yang mengikuti dirinya.


Setelah menjauh dari Kota Luodao, Bai Xianlin dan Xue Bingyue memperlambat kecepatannya. Pandangan mata Xue Bingyue jatuh kesatu arah dimana dibawah sana terlihat seorang gadis berusia tujuh belas tahun dikelilingi puluhan pendekar bersenjata lengkap.


“Bibi Xianlin, lihat disana ada perempuan yang butuh bantuan!” Xue Bingyue menunjuk kesatu arah yakni keberadaan seorang gadis yang dikepung puluhan pendekar bersenjata lengkap.


“Yueyue, kita tidak bisa membiarkannya bukan?” Bai Xianlin tersenyum sebelum terbang rendah. Xue Bingyue mendahului dan membuka telapak tangannya.


“Berhembuslah, Suxue!”

__ADS_1


Seketika hembusan angin kencang diserta hawa dingin memenuhi sekitar Xue Bingyue bersamaan dengan sebilah pedang yang tersarung rapi keluar dari telapak tangannya.


__ADS_2