Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 35 : Kota Shendong


__ADS_3

“Yang‘er, kau masih muda. Tetapi tulang dan otot-ototmu kurang lebih sama seperti Hewan Buas...” Ye Xiaoya terkekeh melihat wajah kesal Jing Yang.


Ye Xiaoya mempercepat langkah kakinya dan melirik Jing Yang yang sedang mengejarnya. Dalam perjalanan keduanya justru terkesan sedang saling mengejar.


Tidak butuh waktu lama bagi Jing Yang dan Ye Xiaoya sampai di Kota Shendong. Bukit-bukit serta jalanan yang luas sedang mereka lewati. Sebuah gerbang besar yang dijaga ketat, bahkan ada ratusan orang antre menunggu giliran untuk masuk ke dalam Kota Shendong.


“Merepeotkan...” Ye Xiaoya mendengus kesal. Perempuan berumur dua puluh dua tahun itu meremas rambut Jing Yang untuk menghilangkan kebosanannya.


Kota Shendong adalah kota besar yang makmur dan megah. Kota yang berada di Kekaisaran Jiang itu memiliki sejarah yang erat dengan Keluarga Shen. Dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi, Keluarga Shen memimpin Kota Shendong menjadi kota yang makmur dan sejahtera.


Tak heran jika banyak orang yang berharap bisa menjadi bagian penduduk Kota Shendong. Keluarga Shen sangat memperhatikan rakyatnya. Kediaman milik salah satu dari lima Keluarga Bangsawan di Kekaisaran Jiang itu sangat luas.


Bangunan-bangunan yang terbuat dari batu bata terlihat megah. Kota Shendong juga menjaga kebersihan di setiap sudut kota. Tempat sampah disediakan, suasana damai dan asri membuat Kota Shendong menjadi tempat yang paling layak huni di Kekaisaran Jiang.


Setelah menunggu cukup lama. Akhirnya giliran Jing Yang dan Ye Xiaoya untuk melakukan pemeriksaan di gerbang kota. Petugas mulai mengecek Jing Yang dan Ye Xiaoya hanya dengan menatap.


“Mohon maaf, apa Nona Muda bersama anaknya adalah seorang pendekar?” Salah satu penjaga kota bertanya kepada Ye Xiaoya, sambil mengelus dagunya.


“Hah? Apa aku setua itu?!” Ye Xiaoya tampak emosi. Jing Yang memegang tangan Ye Xiaoya dan menariknya.


“Guru, tunggu!” Jing Yang berteriak membuat Ye Xiaoya menghela napas panjang.


“Maaf, aku kelepasan...” Ye Xiaoya tersenyum ramah pada Jing Yang tanpa merasa bersalah.


“Pamam, sebenarnya..." Jing Yang menunjukkan kartu beserta sebuah surat. Dalam sekejap dua penjaga gerbang kota langsung mempersilahkan Jing Yang dan Ye Xiaoya masuk ke dalam Kota Shendong.


Rencananya setelah sampai di Kota Shendong, Jing Yang berniat langsung menuju kediaman Keluarga Shen. Tetapi Ye Xiaoya ingin mampir terlebih dahulu ke salah satu kedai makan yang menyediakan masakan laut.


Jing Yang dan Ye Xiaoya masuk ke dalam kedai makan. Suasana di dalam kedai makan tersebut termasuk ramai, hanya saja para pelanggan terlihat makan dengan canggung.


“Pelayan, aku pesan, udang, kepiting, cumi-cumi. Terus, lobster, ikan ini juga enak. Aku juga pesan ikan yang digoreng ini...” Pesanan Ye Xiaoya membuat Jing Yang tersedak. Tangan Ye Xiaoya meminta uang kepada Jing Yang.

__ADS_1


“Guru, bukankah ini berlebihan?” Jing Yang mengambil kepingan emas dengan satu genggaman tangannya, lalu memberikannya pada Ye Xiaoya.


“Apa yang kau katakan? Justru aku menunjukkan padamu bagaimana caranya menikmati hidup. Ingat hidup itu cuma sekali, selagi bisa makan cumi-cumi, maka makanlah jangan menundanya lagi...” Ye Xiaoya berkata penuh percaya diri. Sementara Jing Yang terdiam tanpa ekspresi.


‘Kata-katanya sangat bermakna.’ Pikir Jing Yang, karena perkataan Ye Xiaoya ada benarnya. Tetapi bukan itu yang ingin dia dengar.


Tidak lama dia pelayan datang membawa makanan yang telah dipesan. Ye Xiaoya dan Jing Yang langsung menikmati hidangan yang ada di depan meja. Berbeda dengan pengunjung lain yang terlihat ketakutan, Ye Xiaoya dan Jing Yang justru memakan hidangan dengan lahap.


Ye Xiaoya meminum segelas air dan tersenyum penuh kenikmatan. Bersamaan dengan rasa kenikmatannya itu, terdengar suara pria yang membanting gelas.


“Arak! Cepat berikan aku arak lima guci!” Pria dengan rambut panjang itu terlihat sedang mabuk. Tatapannya beralih menatap Ye Xiaoya.


“Kau! Perempuan cantik yang duduk disitu, sini temani aku!” Jari telunjuk pria tersebut memberi tanda pada Ye Xiaoya.


Semua pengunjung mulai menatap ke arah meja makan Ye Xiaoya dan Jing Yang. Wajah mereka terlihat mengasihani Ye Xiaoya dan Jing Yang.


“Pelayan. Ini uangnya. Terimakasih. Makanannya sangat enak.” Ye Xiaoya justru memberikan uang kepada pelayan dan mengelap bibirnya.


“Baru mencapai pendekar kaisar saja sudah seperti ini. Jangan terlalu angkuh, memiliki ilmu tinggi itu harus merunduk, jangan selalu mendongak ke atas. Pantas saja kau hanya mencapai pendekar kaisar selama puluhan tahun...” Ye Xiaoya berkata dengan sinis sambil tersenyum tipis ketika pria itu menghampirinya.


“Jangan cari masalah denganku?! Aku adalah salah satu murid dari Gunung Pedang Tunggal! Kau harus tahu akibatnya jika mencari masalah denganku!” Pedang yang tersarung justru dia tarik. Pria itu penuh percaya diri hendak menyerang Ye Xiaoya.


“Melawanmu. Aku hanya perlu menggunakan ini...” Pisau makan yang digunakan untuk memotong hidangan menjadi senjata Ye Xiaoya. Permainan pedang pria tersebut tak berkutik di depan Ye Xiaoya.


“Walau kau memiliki pedang pusaka sekalipun. Kau tidak akan mengalahkanku...” Ye Xiaoya mempercepat tangkisannya, dan menusuk dada pria tersebut. Memang tidak dalam, hanya saja tindakan Ye Xiaoya membuat pemilik kedai makan dan pengunjung berkeringat dingin.


“Seekor katak yang menjadi penguasa kolam kecil, tak akan pernah tahu seberapa ganasnya seekor hiu yang ada di lautan...” Ye Xiaoya berjalan keluar kedai makan sambil memberi tanda pada Jing Yang untuk mengikutinya.


“Dasar wanita sialan! Aku, Chun Lan, bersumpah akan membalasmu!”


Seluruh pengunjung perlahan keluar kedai makan. Tak lama Ye Xiaoya dan Jing Yang melihat pria yang bernama Chun Lan berjalan ke luar Kota Shendong.

__ADS_1


Jing Yang sekarang kagum dengan kemampuan Ye Xiaoya. Pilihan Roh Sang Hitam memang tidak salah. Mungkin sifat Ye Xiaoya sering berubah-ubah, namun seiring berjalannya waktu, Jing Yang akan terbiasa.


Sesampainya di kediaman yang luas. Pagar rumah mewah juga dijaga ketat oleh penjaga. Bahkan ada pos tersendiri. Jing Yang mendekati pos yang dekat dengan dengan gerbang rumah.


Penjaga kediaman terkejut setelah mengetahui Jing Yang membawa kartu dan surat milik Shen Mi. Tidak butuh waktu lama bagi Jing Yang dan Ye Xiaoya sampai di pintu rumah yang mewah itu.


Pintu mewah dengan ukiran bunga itu terbuka. Pria dengan perawakan yang tinggi, datang menyambut Jing Yang dan Ye Xiaoya dengan senyuman ramah yang alami.


Penjaga kediaman menjelaskan kepada pria yang pemilik kediaman sekaligus Walikota Kota Shendong yang bernama Shen An tersebut.


“Aiya, mari masuk..." Shen An dengan ramah membuka pintu dan menyuruh Jing Yang dan Ye Xiaoya masuk ke dalam rumah.


Pelayan langsung membawa Jing Yang dan Ye Xiaoya menuju ruangan dengan meja makan yang besar. Baru saja mereka makan di kedai makan, kini telah disambut dengan jamuan yang lezat.


Shen An terus bercerita jika selama ini dia tidak pernah bertemu dengan menantu dan cucunya. Selama empat tahun belakangan ini, hanya anaknya saja yang selalu dia temui di Kota Xuedong.


“Walikota Shen, maafkan karena aku memotong, tetapi kedatangan Yang‘er kesini untuk membahas masalah itu.” Ye Xiaoya tidak ingin berbasa-basi. Tatapannya memberi perintah pada Jing Yang untuk menceritakan keadaan Shen Mi.


Jing Yang menjelaskan pada Shen An tentang kudeta Pulau Salju Rembulan yang berakhir dengan terkena imbasnya Keluarga Walikota Xuedong. Masalah ini berhubungan langsung dengan politik, dan Pulau Salju Rembulan menutupi kegelapan di Kota Xuedong dengan sangat baik.


Shen Liu, Walikota Xuedong, dikurung di suatu tempat yang ada di kediaman Walikota Kota Xuedong bersama istri dan adik kandung Shen Mi. Mendadak wajah Shen An pucat pasi beserta marah bercampur menjadi satu.


“Aku akan mengirim surat ke ibukota! Aku yang akan membunuh orang bernama Chang Feng dan Chang Xuan dengan tanganku ini!” Shen An berteriak cukup keras. Namun setelahnya mulutnya batuk berkepanjangan.


“Walikota Shen, aku ada rencana. Anggap saja ini sebagai balas budi atau hutang yang harus kau bayar seumur hidupmu. Aku akan menyelamatkan anak, menantu beserta cucu kesayanganmu itu...” Ye Xiaoya ingin mengajak Shen An bekerjasama.


“Tetapi masalah ini adalah masalah besar. Bersangkutan dengan politik, tentu saja aku mengharapkan bantuan Keluarga Shen untuk murid kesayanganku ini...”


Jing Yang melirik Ye Xiaoya, sedangkan telinganya mendengar Roh Sang Hitam yang berbisik padanya. Ternyata Ye Xiaoya berniat membantu Jing Yang. Rencana yang dipikirkan Ye Xiaoya sangat matang, bahkan membuat Roh Sang Hitam mempercayai gadis yang sebenarnya berumur dua puluh dua tahun itu.


‘Yang‘er pernah memberitahu jika dia adalah anak dari Tuan Putri Ketiga, Kaisar Jiang. Aku menjadi penasaran dengan dua kakak kandung mendiang ibunya yang mencurigakan itu...’

__ADS_1


Ye Xiaoya tersenyum tipis sambil menatap Jing Yang. Lalu dia menjelaskan rencananya kepada Shen An.


__ADS_2