
Beberapa hari telah berlalu, Xue Bingyue memandang Jing Yang yang masih tertidur diatas ranjang. Walau Kain Langit Suci telah melingkar di lehernya, Jing Yang belum terbangun dan menurut Tetua Agung Istana Bulan Biru, Jing Yang sudah tidak memiliki semangat untuk hidup.
“Semua tergantung pada dirinya. Kau yang paling dekat dengannya, Yueyue. Apa kau mengetahui alasannya seperti ini?” Tetua Agung Istana Bulan Biru bertanya sambil melirik Xue Bingyue yang duduk ditepi ranjang.
Mendengar sebuah pertanyaan dari Tetua Istana Bulan Biru, Xue Bingyue terdiam karena dirinya merasa sama sekali tidak mengerti apa yang dirasakan dan dipikirkan Jing Yang.
Tetua Agung Istana Bulan Biru mengelus kepala Xue Bingyue penuh kasih sayang dan tersenyum lembut, “Yueyue, apa yang ingin kau lakukan sekarang? Apa kau akan menetap di Istana Bulan Biru atau pergi?”
“Aku...” Xue Bingyue menelan ludahnya sambil menatap wajah Jing Yang. Setelah hatinya merasa yakin, barulah Xue Bingyue melanjutkan, “Aku akan mengikuti Yangyang. Aku akan menunggunya terbangun, berapa lama pun itu.”
“Gunakan kamar ini sebagai kamar pribadimu agar kau bisa merawatnya.” Tetua Agung Istana Bulan Biru tersenyum ramah sebelum keluar kamar yang digunakan Jing Yang dan menemui Bai Xianlin.
Xue Bingyue masih duduk ditepi ranjang memperhatikan Jing Yang. Tak lama Xue Rong datang dan duduk disamping Xue Bingyue.
Tidak ada percakapan dari keduanya dan tidak ada yang memulai pembicaraan. Xue Bingyue dan Xue Rong terdiam lama sebelum keduanya membicarakan tentang Jing Yang.
Xue Bingyue mendengar cerita perjalanan Jing Yang dari Xue Rong yang menurutnya Jing Yang mengagumi dirinya.
Bagi Xue Bingyue justru dirinya yang mengagumi sosok Jing Yang dan menyanjung namanya.
“Apa kau akan meninggalkan tempat ini, Yueyue?” Xue Rong menebak Xue Bingyue akan meninggalkan Pegunungan Suxue dan mengikuti Jing Yang berkelana.
Xue Bingyue menganggukkan kepalanya, “Aku akan menemaninya, jika dia meninggalkan Pegunungan Suxue dan berkelana maka aku akan mengikutinya.”
“Aku akan mendukung apapun jalan yang kau pilih, Yueyue. Jangan lupa tempat ini juga adalah rumahmu. Aku akan selalu menanti kedatanganmu bersama Junior Yang.” Xue Rong tersenyum manis begitu juga dengan Xue Bingyue.
“Manisnya...” Keduanya tidak menyadari Bai Xianlin yang baru saja datang dan melihat mereka berdua.
Xue Rong dan Xue Bingyue segera menyapa Bai Xianlin. Ketiganya berbincang singkat sebelum Jing Yang terbangun secara mendadak.
Jing Yang langsung terbangun dalam posisi duduk bersamaan dengan suara tulang retak yang menggema. Kejadian ini membuat Xue Bingyue, Xue Rong dan Bai Xianlin tersentak kaget.
‘Raja Neraka, terimakasih karena telah memberiku peringatan. Aku akan tetap menjadi diriku dan aku tidak akan seperti yang kau ceritakan dimasa depan.’ Jing Yang memegang kepalanya dan tersenyum tipis.
Jing Yang sekarang ingin menanggung kematian Xue Qinghua dan Jing An dipundaknya. Tidak ada gunanya menyalahkan dirinya sendiri dan Jing Yang menyadari itu. Tetapi saat pandangan matanya melihat seorang gadis kecil yang sebaya dengannya, kedua bola berkaca-kaca.
“Yueyue?” Jing Yang ingin menyapa Xue Bingyue dan berharap gadis kecil itu telah terlepas dari ingatan yang membelenggu.
Refleks Xue Bingyue memeluk tubuh Jing Yang erat. Dirinya menghamburkan tubuhnya kedalam dekapan anak muda yang sebaya dengannya.
“Yangyang, maafkan aku...” Xue Bingyue meneteskan air matanya dan menenggelamkan wajahnya kedada Jing Yang, “Aku...”
__ADS_1
Jing Yang tersenyum dan mengelus kepala Xue Bingyue penuh perhatian, “Aku mengerti. Semua akan baik-baik saja.”
Dibalik senyumannya, Jing Yang menyembunyikan perasaan bersalahnya, ‘Yueyue, justru aku yang seharusnya meminta maaf padamu. Tetapi dengan tangan yang berlumuran darah ini, aku tidak pantas mendapatkan maaf darimu.’
Xue Rong dan Bai Xianlin tersenyum melihat keduanya yang saling melepaskan kerinduan. Kedua mata Xue Rong dan Bai Xianlin berkaca-kaca, keduanya bisa melihat bagaimana perasaan Jing Yang dan Xue Bingyue yang saling menyatu.
____
Sekarang Jing Yang berada dipuncak Pegunungan Suxue dan menatap kebawah.
“Bagaimana pemandangan dari atas sini, Junior Yang?” Xue Rong bertanya saat Jing Yang memandang gunung yang es membentang luas disekitarnya.
“Ketenangan...” Jing Yang bergumam pelan sambil menatap kebawah, “Tenang, itulah yang aku rasakan saat melihat pemandangan gunung es dari atas sini.”
Xue Rong tersenyum mendengar tanggapan Jing Yang. Terlihat Jing Yang begitu menikmati pemandangan dari atas Pegunungan Suxue.
“Selendang *****, aku ucapkan terimakasih padamu karena telah membantu Yueyue.” Jing Yang melirik kearah Bai Xianlin sebelum membungkuk.
Bai Xianlin mengernyitkan keningnya, “Selendang *****? Apa kau tidak mengingat namaku? Aku Bai Xianlin, ingat itu!” Bai Xianlin menjitak kepala Jing Yang membuat Xue Bingyue dan Xue Rong menganga tidak percaya.
Jing Yang bangkit dan menatap Bai Xianlin yang tersenyum penuh makna kearahnya.
“Ceritakan padaku Bibi Xianlin tentang kain putih ini, tentang dunia luar...” Jing Yang memegang Kain Langit Suci yang melingkar di lehernya. Kemudian dia duduk diatas tanah bersalju sambil melapisi tubuhnya dengan aura sehingga dirinya tidak basah.
Bai Xianlin menceritakan jika diluar Benua Dataran Tengah terdapat beberapa benua besar, dimana disana merupakan tempat para petarung hebat dan pendekar yang memiliki kekuatan dahsyat.
“Kekaisaran Jia telah berubah menjadi Kekaisaran Sembilan Iblis. Orang-orang yang kita temui di Menara Dewa adalah para petinggi yang memegang jabatan penting di Kekaisaran.” Bai Xianlin menambahkan jika sosok orang yang menjadi Kaisar Kekaisaran Sembilan Iblis adalah orang yang berasal dari Kekaisaran Tang.
“Benua Suci merupakan tempat mengerikan. Jika bukan karena Tujuh Raja Iblis Agung yang memegang masing-masing wilayah didunia ini, mungkin Kekaisaran Tang telah menguasai Benua Suci bahkan dunia.” Ucapan Bai Xianlin menarik perhatian Jing Yang.
“Tujuh Raja Iblis Agung?” Jing Yang mengerutkan keningnya mendengar cerita Bai Xianlin.
“Aku sendiri tidak terlalu mengetahui tentang Tujuh Raja Iblis Agung, tetapi sebelum meninggalkan Benua Bintang Timur, aku mendapatkan beberapa informasi bahwa Tujuh Raja Iblis Agung merupakan musuh yang paling ditakuti Kekaisaran Tang.”
Bai Xianlin tersenyum kecut saat menceritakan tentang bagaimana menakutkannya dunia luar. Pembantaian yang dilakukan Bangsa Trost membuat Kekaisaran Jia jatuh, namun penyerangan itu berubah menjadi perang besar.
“Kaisar Jia, tidak Kaisar Sembilan Iblis membantai penduduk tak bersalah dan memenangkan perang besar melawan penjajah keji dari Bangsa Trost yang merupakan salah satu dari Tujuh Raja Iblis Agung.”
Bai Xianlin terdiam cukup lama sebelum dirinya kembali menceritakan tentang jatuhnya Kekaisaran Jia.
“Setelah dipikir kembali perang besar itu adalah rencana kedua Raja Iblis Agung yang bekerjasama.” Bai Xianlin mengakhiri ceritanya karena dia sendiri baru menyadari dua orang yang merupakan dua dari Tujuh Raja Iblis Agung bekerjasama untuk menjatuhkan Kekaisaran Jia.
__ADS_1
“Oh, tentang Kain Langit Suci itu... Bagaimana ya menjelaskannya..." Bai Xianlin menunjuk kain putih yang usang dan memandang wajah Jing Yang yang menatapnya, “Bisa dibilang itu adalah harta pusaka Klan Bai. Konon Kain Langit Suci digunakan untuk menekan aura pembunuh ataupun orang yang memiliki kemampuan sepertimu, Tubuh Raja Neraka. Dan aku sendiri tidak tahu secara pastinya. Apa kau merasakan perbedaan setelah memakai kain itu?”
“Perbedaan...” Jing Yang memegang Kain Langit Suci dan terdiam lama sebelum tersenyum, “Kain ini membuatku merasa tenang. Entah mengapa saat memakai kain ini, aku bisa tidur dengan tenang tanpa harus takut akan mimpi itu...”
‘Mimpi?’ Reaksi Bai Xianlin, Xue Bingyue dan Xue Rong sama. Ketiganya penasaran dengan ucapan Jing Yang barusan namun diantara mereka bertiga tidak ada yang membahasnya.
Jing Yang bangkit berdiri dan kembali berkata, “Bibi Xianlin, kau menceritakan semuanya kepada kami. Apa ini tidak masalah bagimu?”
Bai Xianlin tersenyum mendengar perkataan Jing Yang. Menurutnya semua itu tidak masalah karena dia sendiri merasa empat orang yang sedang berada di puncak Pegunungan Suxue terikat takdir yang tidak terduga.
“Mungkin karena aku sedikit berharap kita berempat mampu melakukan sesuatu pada benua ini. Pemilik Tubuh Yin, pemilik Tubuh Yang, Tubuh Raja Neraka dan aku Badan Perawan Suci. Ini tidak terduga, tetapi aku merasaa kita berempat terkait takdir yang tidak terduga.” Bai Xianlin tersenyum mengatakan apa yang ada didalam pikirannya.
Jing Yang sendiri baru mengetahui Xue Rong adalah pemilik Tubuh Yang dan Bai Xianlin pemilik Badan Perawan Suci. Jing Yang melihat Bai Xianlin dan Xue Rong yang mengobrol berdua setelah Bai Xianlin mengungkapkan kondisi tubuhnya.
“Yangyang, jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?” Xue Bingyue bertanya karena jawaban dan tujuan Jing Yang juga adalah jawaban dan keinginannya.
Jing Yang menjelaskan pada Xue Bingyue jika dirinya akan kembali ke Kekaisaran Jiang dan memberitahu Sheng Long tentang rencananya untuk menyerang Pulau Iblis Tengkorak. Setelah mendengar cerita Bai Xianlin, Jing Yang berpikir dirinya akan menerima posisi yang diberikan padanya sebagai seorang Kaisar Jiang, terlebih kakeknya sudah menjadikannya pewaris tahta.
Jika Jing Yang menjadi Kaisar Jiang, maka dirinya akan berniat melakukan kerjasama dengan Istana Sembilan Naga serta sekte aliran putih yang lain untuk memperkuat pasukan militer serta pendekar sebelum melakukan penyerangan terhadap Pulau Iblis Tengkorak.
“Semua ini tergantung jawaban Kakek Sheng. Aku sendiri tidak ingin menjadi seorang kaisar, tetapi aku tidak boleh selamanya berpikir seperti bocah yang hanya memikirkan dendam. Lagipula sudah membentuk sebuah asosiasi bernama Rumah Lima Warna dan aku ingin membuat Benua Dataran Tengah menjadi tempat yang sesuai dengan pikiranku. Aku akan memulainya dari Kekaisaran Jiang.”
Jing Yang tidak mengetahui apa yang terjadi pada Istana Sembilan Naga serta gejolak yang akhir-akhir menimpa Kekaisaran Jiang.
Xue Bingyue melebar matanya mendengar keinginan Jing Yang tersebut, “Yangyang, aku tidak bermaksud menyembunyikan hal ini darimu. Dalam perjalanan menuju Kekaisaran Shi, aku mendengar kabar burung yang tidak mengenakkan...”
Xue Bingyue menceritakan tentang Istana Sembilan Naga yang telah dibinasakan Pulau Iblis Tengkorak dan sekarang Istana Sembilan Naga benar-benar sudah tiada.
Mendengar itu Jing Yang bergetar hebat tubuhnya, “Istana Sembilan Naga binasa katamu?” Tidak mungkin, Jing Yang mengetahui jika Istana Sembilan Naga merupakan sekte terkuat di Kekaisaran Jiang.
Tetapi saat Bai Xianlin ikut menanggapi ucapan Xue Bingyue, semuanya jelas. Jing Yang berpikir campur tangan Tang Mu pada Pulau Iblis Tengkorak membuat Istana Sembilan Naga binasa. Namun dia tidak pernah menyangka dirinya tidak ada saat Istana Sembilan Naga diserang.
Jing Yang tertawa pelan membuat Xue Bingyue, Bai Xianlin dan Xue Rong terdiam. Mereka bertiga melihat Jing Yang seperti bocah yang despresi dan mempertahankan kewaspadaannya.
“Yueyue, apa menurutmu aku bisa membalaskan kematian orang tua kita?” Jing Yang memperlihatkan senyuman tipis dan melempar sebuah pertanyaan.
Xue Bingyue memperhatikan ekspresi Jing Yang, “Yangyang, kau pasti bisa melakukannya. Tidak, kita berdua akan melakukannya.”
Jing Yang menundukkan kepalanya mendengar jawaban Xue Bingyue. Sebenarnya dia tidak ingin melihat Xue Bingyue membunuh seseorang ataupun terlibat dalam dunia persilatan yang menurutnya terlalu bengis, kejam serta memilukan.
“Membuat keputusan yang tepat itu sulit. Saat berhasil menyelamatkan seseorang, disaat yang bersamaan harus kehilangan seseorang...” Sambil mendongak keatas menatap langit Jing Yang menambahkan, “Jalan untuk meraih mimpiku masih jauh ya... Saat seperti ini seolah-olah perkataannya benar-benar nyata dan terjadi.”
__ADS_1
Jing Yang tersenyum karena tidak menyangka ucapan Raja Neraka benar apa adanya.