Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 27 : Tugas Rahasia Untuk Lin Fan


__ADS_3

Jing Yang terbang menunggangi Naga Hitam yang tak lain adalah Roh Sang Hitam yang mengubah wujudnya menjadi Naga Hitam. Tebing yang tinggi menjulang terus Roh Sang Hitam lewati.


‘Tidak kusangka, ternyata Tebing Dimensi Hitam adalah dunia yang berbeda. Tempat kuno yang tersegel. Lautan awan ini adalah buktinya...’ Jing Yang tersenyum tipis ketika melihat segel Tebing Dimensi Hitam berada tepat di depan matanya.


Cahaya kegelapan langsung terlihat. Jing Yang telah memasuki kedalaman yang paling dalam dari Tebing Kesepian. Butuh waktu setengah hari untuk Roh Sang Hitam sampai di atas Tebing Kesepian. Kedua sayap Naga Hitam mengepak. Jing Yang tersenyum gembira ketika melihat secercah cahaya yang semakin lama semakin membesar.


“Itu dia...”Angin berhembus membuat pusaran salju. Jing Yang menatap Pulau Salju Rembulan dari atas. Ternyata tempat dia terjatuh adalah tempat yang dekat dengan lautan. Ya, Tebing Kesepian, begitu dekat dengan lautan.


Ada sesuatu yang berbeda. Jing Yang melihat pertanian sumber daya milik penduduk Pulau Salju Rembulan telah dipagari. Bahkan matanya bisa melihat pendekar laki-laki yang menjaga pertanian sumber daya tersebut.


“Guru, turunlah di Tebing Kesepian. Aku tadi sekilas melihat pemuda yang aku kenal...” Jing Yang merasa ada yang berbeda dari Pulau Salju Rembulan dari yang dia ingat.


Roh Sang Hitam turun di dekat Tebing Kesepian. Di sana Jing Yang melihat pemuda yang menangis tersedu-sedu sambil mencoba berdiri karena terkubur tumpukan salju.


“Lin Fan...” Jing Yang turun dari punggung Roh Sang Hitam dan menghampiri Lin Fan. Tangan kanannya mengulur dan disambut oleh Lin Fan.


”Aku tidak menyangka akan terkena badai salju...” Lin Fan menyeka air matanya dan mencoba menatap pemuda di hadapannya. Dia merasa pemuda tersebut bukanlah pemuda sembarangan.


“Kau siapa?” Lin Fan menjaga jarak dari Jing Yang.


“Aku...” Jing Yang tersenyum tipis dan menyentuh mata kirinya yang tertutup, “Ini aku, Jing Yang. Apa Nenek dan Yueyue baik-baik saja?”


Lin Fan menggelengkan kepalanya sebelum terduduk di tanah. Pemuda dihadapannya sangat dia kenal. Bahkan dia pernah memukulnya. Selama bertahun-tahun, Lin Fan terus mencabuti rumput yang tumbuh di Tebing Kesepian dan selalu menyepi menatap batu nisan yang tertulis nama “Jing Yang” dalam huruf besar.


“Ini mimpi. Tidak mungkin kau Jing Yang. Dia sudah meninggal lima tahun yang lalu. Aku selalu menunggunya disini setelah kepergian Nona Muda Bingyue! Tidak mungkin kau adalah Jing Yang!” Lin Fan menatap wajah Jing Yang baik-baik dan sekarang dirinya merasa yakin jika pemuda didepannya adalah Jing Yang.


“Pergi? Yueyue pergi kemana? Katakan padaku!” Jing Yang menyentuh pundak Lin Fan dan menggoyangkannya.


Lin Fan menggigit bibir bawahnya dan menangis. Pemuda itu memukul wajahnya dan berdiri, “Jing Yang! Balas aku! Tolong pukul aku! Aku tidak ingin merasa bersalah padamu setiap malam, setiap waktuku!”

__ADS_1


Jing Yang melebar matanya. Ternyata selama ini ada orang lain yang menyesal karena telah memukul dirinya di masa lalu. Jing Yang mengingat Lin Fan yang hendak menghentikan Lin Song dan Lin Feng yang memukulinya.


“Tenang, Lin Fan. Aku sudah memaafkanmu. Sekarang ceritakan padaku setelah aku terjatuh dari Tebing Kesepian. Jika kau tidak menceritakan padaku, maka aku tidak akan pernah memaafkanmu!” Jing Yang menatap tajam Lin Fan dan mengintimidasinya karena sekarang dirinya merasa ada sesuatu yang terjadi pada Xue Qinghua dan Xue Bingyue.


Lin Fan terduduk di tanah. Pemuda itu mulai menceritakan kudeta yang dilakukan Lin Song beserta pendekar laki-laki Pulau Salju Rembulan untuk membunuh Xue Qinghua beserta pendekar perempuan Pulau Salju Rembulan.


Kudeta itu berhasil membunuh seribu pendekar perempuan. Sedangkan Xue Qinghua berhasil membuat pendekar perempuan yang tersisa dan masih mengikutinya untuk pergi ke tempat kenalannya.


Xue Qinghua dikirim ke suatu tempat yang tersembunyi setelah dijual sebagai budak. Sedangkan Xue Bingyue dijual sebagai budak ke Kekaisaran Qing.


“Lin Fan! Apa kau dan ayahmu itu juga termasuk orang yang membuat Nenek dan Yueyue sampai seperti ini?!” Jing Yang menarik kerah baju Lin Fan dan mendorongnya ke pohon.


“Ayahku sudah berusaha menghentikan tindakan kakaknya, maksudku, Paman Lin Song. Tetapi Paman Lin Song didukung oleh salah satu orang berpengaruh di Kekaisaran Jiang dan beberapa sekte besar. Sekarang aku, ayahku dan lima pendekar yang mengabdi pada Ketua Xue Qinghua menjadi mata-mata untuk Paman Lin Song...” Lin Fan menatap Jing Yang dengan wajah seperti memohon.


“Kekaisaran Qing?” Jing Yang memejamkan matanya dan menutupnya dengan telapak tangannya, “Lin Fan. Aku merasa titik meridianmu dilumpuhkan. Aku bisa menyembuhkanmu. Ini mungkin akan membantumu mengawasi Lin Song.”


Lin Fan terkejut. Ada perasaan berharap dan bahagia karena titik meridiannya dapat disembuhkan oleh Jing Yang. Namun dia tidak pantas ditolong oleh Jing Yang. Pemuda itu kembali menunduk menatap tanah dan menyesali masa lalunya.


“Saat ini kau tidak punya pilihan. Ini perintah dariku. Aku akan membuka titik meridianmu kembali. Awasi setiap gerak-gerik Lin Song, dan cari identitas orang yang berpengaruh di Kekaisaran Jiang serta nama sekte besar yang membantu kudeta itu. Lupakan masa lalu. Saat ini kau dan aku adalah teman.” Jing Yang mengulurkan tangannya kepada Lin Fan.


“Kau sungguh baik hati, Jing Yang. Aku tidak bisa menolak kebaikan hatimu ini. Seumur hidup aku akan mengingat ini.” Lin Fan hendak menunduk di tanah, namun Jing Yang menahan kepala Lin Fan.


“Kau sudah lama menderita. Mulai sekarang kau bisa melatih lagi ilmu bela dirimu yang tertinggal dari Lin Feng dan Lin Xiang.” Jing Yang membuka portal menuju Tebing Dimensi Hitam dan menarik tangan Lin Fan.


“Apa ini? Tunggu!” Lin Fan melebar matanya melihat hutan. Sekarang dia berada di Tebing Dimensi Hitam bersama Jing Yang.


“Berendam di kolam air panas itu. Aku akan membuka titik meridianmu.” Jing Yang memberi perintah kepada Lin Fan.


Tanpa membantah. Lin Fan membuka jubahnya dan berendam di kolam air panas hanya memakai celana panjangnya.

__ADS_1


Lin Fan mulai melepaskan aura tubuhnya dan memadatkannya pada kesepuluh jari-jari tangannya. Dengan cepat Jing Yang mulai memberi rangsangan pada titik meridian Lin Fan yang tertutup agar terbuka secara perlahan.


Titik meridian Lin Fan belum sepenuhnya lumpuh. Hanya saja tertutup sebagian karena ulah Lin Song. Jika Jing Yang memberinya rangsangan maka titik meridian Lin Fan akan kembali terbuka dan pemuda itu masih memiliki kesempatan untuk menjadi seorang pendekar.


Ketika sore hati tiba. Jing Yang telah selesai membuka titik meridian Lin Fan yang tertutup. Tanpa menunggu lebih lama lagi. Jing Yang kembali membuka portal menuju Tebing Kesepian.


“Cepat. Kita tidak punya waktu. Aku akan mencari keberadaan Nenek dan Yueyue!” Jing Yang tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Xue Qinghua dan Xue Bingyue saat ini. Hanya dengan memikirkan dan mengkhawatirkan kedua orang yang paling berharga bagi hidupnya saja sudah membuat Jing Yang tidak berpikir secara jernih.


“Terimakasih, Jing Yang...” Lin Fan tersenyum bahagia. Kemudian tangannya di tarik oleh Jing Yang agar kembali ke Tebing Kesepian.


“Tidak kusangka, kau memiliki kekutan teleportasi.” Lin Fan menatap Jing Yang lama. Kemudian dia memukul udara dengan kedua tangannya.


Jing Yang memberikan sebuah tugas penting pada Lin Fan sebelum dia pergi meninggalkan Pulau Salju Rembulan.


Lin Fan menangis dan mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada Jing Yang. Tidak pernah dia sangka orang yang telah dia pukuli dari kecil adalah orang yang menyelamatkannya dan memberi kesempatan kedua untuk dirinya agar menjadi seorang pendekar.


“Kalau begitu, aku pergi dulu Lin Fan. Tugas penting ini, kuserahkan padamu...” Jing Yang mengarahkan kepalan tangannya pada Lin Fan.


“Ya, tahun depan. Kita akan buat kejutan dan kekacauan!” Lin Fan menyentuhkan kepalan tangannya pada kepalan tangan Jing Yang.


Jing Yang langsung naik ke punggung Roh Sang Hitam. Melihat itu, mata Lin Fan terbelalak karena melihat Jing Yang mengambang di udara dan terbang meninggi, semakin tinggi hingga tak terlihat.


“Terimakasih, Jing Yang! Aku akan akan membalas jasamu walau harus mengorbankan nyawaku!” Lin Fan berteriak. Dan tersenyum bahagia mengeluarkan air mata.


“Fan‘er? Tadi ayah merasa ada aura besar disini...” Lin Fang datang menghampiri Lin Fan, anaknya, yang sedang menyeka air matanya.


“Ayah. Jing Yang telah tumbuh menjadi pemuda yang luar biasa. Umurku delapan belas tahun. Sedangkan Jing Yang masih dua belas tahun. Namun dia lebih dewasa dariku. Suatu saat pasti, aku akan membalas jasanya...” Lin Fan menyentuh batu nisan dan tersenyum penuh makna.


Lin Fang kebingungan melihat sikap anaknya, “Fan‘er, mari pulang. Ayah sudah membuat sup hangat kesukaanmu.”

__ADS_1


“Baik, ayah...” Lin Fan tersenyum sumringah dan berjalan bersama ayahnya menuju ke rumahnya.


Sementara itu Jing Yang meminta pendapat pada Roh Sang Hitam untuk mencari keberadaan Xue Qinghua dan Xue Bingyue.


__ADS_2