
Jing Yang tidak tahu jika dirinya masuk kedalam sebuah dimensi ilusi dimana disana hanya ada dirinya dan sosok Jing An.
Dimensi Neraka itulah sebuah dimensi yang Jing Yang tempati sekarang. Tatapan Jing Yang tertuju pada sebuah reruntuhan yang terbakar dan sapuan matanya jatuh pada Jing An yang sedang duduk diatas batu dan menatapnya.
“Jadi kau anak Tian‘er?” Jing An menatap Jing Yang prihatin dan penuh rasa bersalah, “Jangan diam saja, kemari duduk.”
Jing An memberi isyarat pada Jing Yang untuk duduk sampingnya. Ini adalah dunia yang berbeda, dimana hanya pemilik Tubuh Raja Neraka dan Tubuh Ratu Neraka yang bisa memilikinya.
Jing Yang melebarkan matanya dan merapatkan giginya, “Kau... Apa kau tidak mengerti apa yang telah kau lakukan?!”
Mendengar Jing Yang membentak, Jing An tersenyum kecut, “Tidak ada yang bisa kulakukan. Tubuhku yang ada diluar sana dikendalikan oleh orang bernama Tang Mu. Jiwa dan rohku akan tetap berada di Dimensi Neraka ini sebelum kau membunuhku, cucuku.”
“Dikendalikan?” Jing Yang mengerutkan keningnya dan mengepalkan tangannya, “Walau kau mengatakan yang sebenarnya, tetapi Nenek...”
Jing Yang tahu Xue Qinghua tidak akan pernah kembali. Dihadapannya kini berdiri sosok Jing An yang merupakan kakeknya, Ayah dari Jing Tian.
“Aku mengerti, semua itu murni kesalahanku. Kau bisa melampiaskan semua kemarahanku padaku.” Jing An berdiri dan berjalan mendekati Jing Yang.
“Kau telah melalui penderitaan yang menyakitkan. Jangan menundukkan kepalamu, cucuku. Tegak dan tatap aku!” Jing An sekarang berdiri dihadapan Jing Yang dan tersenyum, lalu telapak tangannya mengelus kepala Jing Yang.
“Andai masa lalu tidak seperti itu, mungkin kita akan memiliki obrolan antara kakek dan cucu.” Jing An mengusap kepala Jing Yang dan memberikan seluruh ingatannya tentang Tubuh Raja Neraka padanya.
“Kakek...” Jing Yang menatap Jing An dan mengetahui bahwa ingatan pemilik Tubuh Raja Neraka sebelum ayahnya adalah kakeknya sendiri.
“Ada apa?” Jing An sebenarnya tidak ingin memberikan beban pada Jing Yang untuk membunuhnya. Bagaimanapun dia sudah lelah tubuh dan jiwanya dikendalikan untuk membunuh orang tak bersalah dan membuat kekacauan.
Jing Yang mengepalkan tangannya, dia mengerti keinginan Jing An. Tidak ada cara lain selain dirinya membunuh kakek dihadapannya itu.
“Apa dunia luar itu menakutkan? Apa ada tempat untuk orang sepertiku?” Jing Yang bertanya.
Jing An tersenyum dan bercerita, “Dunia luar adalah tempat dimana para orang-orang kuat saling menjatuhkan. Jika kau tidak memiliki tekad dan keinginan, kau akan tenggelam dan binasa. Dunia luar tempat yang seperti itu. Dimana yang kuat bebas membunuh yang lemah.”
Jing An memperhatikan raut wajah Jing Yang, dia mengetahui cucunya memiliki potensi yang mengerikan. Tetapi disaat yang bersamaan, dia tidak ingin memberikan beban pada cucunya.
“Namamu Jing Yang bukan?” Jing An bertanya, sedangkan Jing Yang menjawab dengan anggukan.
__ADS_1
“Aku tidak bisa menuntaskan tugasku dan membuat semuanya menderita. Kau tidak perlu merasa terbebani, aku ingin kau hidup sesuai keinginanmu, Yang‘er. Apa yang ingin kau lakukan?” Jing An menatap Jing Yang yang menatapnya tajam.
“Aku ingin melindungi semuanya.” Jing Yang mengepalkan tangannya dan memejamkan matanya, “Melindungi mereka yang berharga untukku. Aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi.”
Jing An tersenyum, “Kau pasti bisa melindungi mereka semua, Yang‘er?”
Setelah berkata demikian, Jing An merasakan sesuatu dalam tubuhnya terasa seperti meledak. Saat itu juga Jing Yang mendapatkan penglihatan misterius tentang Bangsa Trost dan negeri dari Benua Suci yang memperluas kekuasaan mereka di Benua Bintang Timur.
“Kakek!” Jing Yang memegang kepalanya dan menatap tubuh Jing An yang hancur lebur.
“Mengejutkan...” Sosok pria yang memakai topeng iblis berwarna hitam berdiri dihadapan Jing Yang.
“Jadi kau anak Jing Tian? Ini lebih mudah...” Pria itu mencekik leher Jing Yang dan kembali mengatakan, “Kakekmu sudah tidak berguna lagi. Selanjutnya adalah dirimu.”
“Bagaimana kau bisa memasuki tempat ini?” Jing Yang bertanya.
“Sederhana, karena aku yang telah mengendalikannya selama ini. Aku Tang Mu, Raja Iblis Malam. Mulai saat ini kau adalah pionku yang berharga. Rencana untuk menumbalkan semua orang di Benua Dataran Tengah akan kita lanjutkan. Persiapkan dirimu Tubuh Raja Neraka.” Pria yang mencekik leher Jing Yang bernama Tang Mu.
Kedua bola mata Jing Yang melebar. Seketika emosionalnya meledak. Jing Yang tidak peduli lagi jika dirinya membunuh Tang Mu ataupun dibunuh Tang Mu. Dalam keputusasaan itu, sebuah suara menggema ditelinganya.
‘Kau ingin melindungi semuanya bukan? Aku bisa melakukannya untukmu! Selama ini aku bersemayam dalam dirimu, Tubuh Raja Neraka!’ Saat suara itu kembali terdengar Jing Yang memejamkan matanya.
“Aku sudah lelah... Aku tidak peduli lagi... Bunuh mereka semua...” Bagaimanapun mental Jing Yang hanyalah seorang bocah berusia tiga belas tahun. Dalam keputusasaannya akhirnya Jing Yang menyerahkan jiwa dan rohnya pada Raja Neraka.
Seketika api hitam menyebar di tubuh Jing Yang bersamaan dengan kedua bola mata Jing Yang berwarna merah menyala.
“Kau sangat pandai bersandiwara!” Raja Neraka mencekik leher Tang Mu lalu melempar tubuhnya.
“Kau cukup kejam membuat cucumu seperti ini, Jing An!” Raja Neraka dalam tubuh Jing Yang berteriak lalu tertawa, “Aku sendiri tidak peduli, dibandingkan dengan kau dan Jing Tian, tubuh bocah manusia ini memiliki potensi.”
Tubuh Tang Mu berubah menjadi Jing An. Terlihat Jing An menyeka darah yang keluar dari mulutnya dan menatap Jing Yang.
“Tidak ada cara lain. Aku selalu berpikir bagaimana cara untuk mengalahkan orang-orang dari Kekaisaran Tang dan Bangsa Trost. Setelah semua hal yang aku lalui, aku percaya padamu, Raja Neraka. Tetapi jangan remehkan cucuku itu, aku yakin dia bisa mematahkan kutukanmu dan mengembalikan roh serta jiwanya.” Jing An bangkit berdiri dan tersenyum lebar.
Raja Neraka mengerutkan keningnya, “Bocah ini tidak akan hidup lama. Sekarang dia berumur tiga belas tahun. Saat dia berumur dua puluh tahun, maka dia akan mati. Kau tahu, setelah Pemilik Tubuh Raja Neraka memberikan roh serta jiwanya padaku, maka mereka akan mati dalam kurun waktu lima sampai tujuh tahun.”
__ADS_1
“Itu cukup. Dan cucuku itu tidak akan mati.” Jing An kembali menanggapi ucapan Raja Neraka.
“Kau gila. Walau kau mengetahui bahwa Tubuh Roh Dewi yang bisa meredam kutukan ini, tetapi apa kau yakin bocah ini bisa membuat pemilik Tubuh Roh Dewi mencintainya?”
Jing An terkekeh, “Kita tidak mengetahuinya.” Sambil menggenggam Pedang Raja Neraka, Jing An menebaskan pedangnya pada Raja Neraka.
“Aku akan mengakhiri penderitaanmu!” Saat Jing An mendekat kearahnya, Raja Neraka menghindari tebasan itu dan memegang kepala Jing An lalu menghancurkannya.
Seketika tubuh Jing An terbakar dan lenyap. Raja Neraka tersenyum dingin dan tertawa.
“Dunia ini selalu dipenuhi kekacauan. Semua ini tidak membuatku bosan.” Bersamaan dengan Raja Neraka yang mengatakan itu, sekarang Jing Yang keluar dari Dimensi Neraka. Tetapi tubuhnya dikendalikan Raja Neraka itu sendiri.
Mata Tinju Api, Selendang Nafsu, Golok Serakah, Pedang Amarah, Xue Rong dan Bing Hen melebar melihat Jing Yang terus memukul Jing An yang telah mati.
“Junior Yang...” Xue Rong bergetar hebat tubuhnya ketakutan melihat tubuh Jing An sudah tidak dikenali.
“Junior Yang berhenti!” Xue Rong berteriak.
Mendengar teriakan Xue Rong membuat Raja Neraka kembali kealam bawah sadarnya. Saat Jing Yang mendapatkan kembali kesadarannya, dia terkejut melihat tubuh Jing An berlumuran darah dibawahnya.
Kedua bola mata Jing Yang tiba-tiba sayu dan sekujur tubuhnya terasa membeku. Saat itu juga kesadaran Jing Yang terjebak dalam Dimensi Neraka. Jing Yang dalam keputusasaan tidak memiliki keinginan untuk hidup, perasaan bersalah atas kematian Xue Qinghua dan membunuh kakeknya membuat Jing Yang tenggelam dalam kubangan keputusasaan.
Xue Rong segera berlari kearah Jing Yang, sementara itu Tinju Api memperhatikan es yang mengekang tubuh Fu Xinghe. Ada keanehan karena sebuah aura mematikan datang dari lantai teratas.
“Ini tidak seperti yang diperkirakan...” Kedua bola mata Tinju Api melebar melihat sosok pria yang menggunakan topeng iblis berwarna hitam.
“Jing An telah mati dan Fu Xinghe disegel bahkan Menara Dewa sudah hancur. Sepertinya pergerakan kami di Negeri Kabut Tersembunyi harus berakhir...”
“Tang Mu... Bagaimana mungkin?” Tinju Api tidak menyangka Tang Mu berada di Menara Dewa dan mengawasi pertarungan mereka.
“Fu Xinghe, aku akan mengikuti rencanamu. Aku tidak akan membunuh mereka semua.” Tang Mu melempar sebuah jarum kearah Rantai Dosa. Seketika Rantai Dosa bergerak dan mengikat tubuh Golok Serakah dengan rantainya sebelum membunuhnya.
“Rantai Dosa...” Tinju Api tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat.
“Tenang saja, kau akan menyusulnya, Bai Huo.” Tang Mu berkata dengan suara tenang membuat Tinju Api murka.
__ADS_1