Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 174 - Empat Bing Lainnya


__ADS_3

“Mulai darisini aku bisa melihat apa yang muncul dalam ingatanku...” Jing Yang bersender pada pohon yang ada di bagian ujung Desa Api.


Xue Rong bisa melihat jika Jing Yang seperti memendam sesuatu sendirian, sehingga dia memilih untuk bertanya “Junior Yang, ada apa denganmu? Setelah kita melakukan perjalanan kemari, aku merasa sikapmu berubah. Rasanya seperti kau ingin pergi dari dunia ini...”


Mata Jing Yang melebar mendengar ucapan Xue Rong barusan, “Senior Rong, apa yang membuatmu tertarik padaku? Apa karena kepolosanku?”


Deg!


Jantung Xue Rong berdetak kencang melihat tatapan mata dingin Jing Yang. Umur keduanya terpaut jauh, memang Xue Rong menyukai kepolosan dan kejujuran Jing Yang, tetapi dihadapannya sekarang sosok Jing Yang yang dia kenal seperti tidak ada.


“Aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa... Jika bukan karena Guru yang mendidikku, mungkin aku-” Jing Yang tidak melanjutkan perkataannya saat penyesalan dalam hidupnya semakin menumpuk.


Tidak ada yang menyadari beban berat yang ditanggung olehnya. Selama ini dia selalu menunjukkan senyuman polosnya dan bersikap baik-baik saja. Tetapi jauh didasar hatinya dia menginginkan sebuah kasih sayang. Dia tidak lebih dari seorang anak kecil yang lemah.


“Senior Rong, maukah kau berjanji padaku sama seperti aku berjanji untuk membawamu pergi dari tempat itu suatu hari nanti?” Tatapan dingin Jing Yang memudar menjadi tatapan hangat yang menghangatkan jiwa.


Xue Rong dengan anggun mengangguk lembut, Jing Yang tersenyum sambil menatap langit yang kian malam.


“Dahulu aku memiliki sosok perempuan yang selalu memarahiku saat aku berbuat konyol dan melakukan sesuatu yang nakal. Dia sangat mengagumkan dimataku. Aku selalu berpikir ingin membalas budi atas semua yang telah dia berikan padaku suatu hari nanti.” Saat Jing Yang mulai bercerita singkat, tubuh Xue Rong tiba-tiba bergetar dan dadanya merasa sesak karena saat ini Jing Yang terlihat begitu rapuh.


‘Apa yang dia maksud adalah mendiang Ibunya?’ Xue Rong menebak dan melihat senyuman polos Jing Yang.


“Aku melihat dirimu ini memiliki sisi seperti dirinya, Senior Rong.” Jing Yang menatap Xue Rong cukup lama sebelum tersenyum, “Jika suatu hari nanti aku melenceng dari jalanku dan kehilangan arah, tolong marahi aku.”


“Junior Yang...” Xue Rong tersenyum dan segera memeluk Jing Yang penuh kasih sayang, “Aku pasti akan memarahimu. Kau tidak akan kehilangan arah karena kau adalah lelaki yang hebat, Junior Yang.”


Kemudian Xue Rong melepaskan pelukannya dan menatap mata Jing Yang dalam, “Dimataku kau hanyalah seorang anak kecil yang lemah. Tidak apa kau terlihat untuk kuat, tetapi kau bisa membagi beban yang ada dipundakmu ini padaku. Kau tidak sendirian, Junior Yang.”

__ADS_1


Jing Yang menghela nafas panjang lalu tersenyum hangat, “Senior Rong, terimakasih.”


Setelah itu Jing Yang pergi menuju kearah seorang kakek tua yang menghampirinya. Xue Rong menyusulnya dari belakang.


“Penyelamat, perkenalkan dia adalah Li Ho sang Kepala Desa Api yang terkenal dengan pukulan Singa Api.” Dengan bangga Cao Ji memperkenalkan sosok Kepala Desa Li kepada Jing Yang.


“Hentikan, kau membuat Kepala Desa Li terlihat lemah bodoh...” Liang Fan berbisik dan menjitak kepala Cao Ji cukup keras, “Lagian, apa yang kau maksud dengan pukulan Singa Api? Apa kau ingin melawak?”


“Hah?! Apa kau ingin berkelahi denganku?!” Cao Ji menatap Liang Fan penuh kemarahan.


“Siapa takut?!” Liang Fan membalas tatapan Cao Ji yang penuh akan kemarahan.


Kepala Desa Api yang dipanggil Li Ho segera memegang kedua pundak pria itu lalu berkata, “Kalian berdua menghalangi jalanku.”


Segera Li Ho berjalan mendekati Jing Yang setelah melerai pertengkaran adu mulut antara Liang Fan dan Cao Ji.


“Hentikan, Kakek Li. Aku melakukannya dengan ikhlas, lagian sudah semestinya kita saling menolong. Jadi bisakah kau ceritakan padaku apa yang terjadi padamu sampai-sampai kau terkena Racun Kalajengking Neraka?” Jing Yang berharap bisa menemukan informasi yang menarik dari Li Ho.


Li Ho mengelus jenggotnya dan menatap Jing Yang dengan seksama, kemudian mengalihkan pandangannya untuk menatap Xue Rong.


‘Apa mereka berdua sepasang kakak beradik?’ Pikir Li Ho. Bagaimanapun Jing Yang dan Xue Rong memiliki paras yang menunjukkan keduanya berasal dari keluarga bangsawan.


“Tentu saja bisa anak muda. Tetapi kau sudah mendengar ceritanya dari mereka berdua bukan?” Li Ho tersenyum kecut setelah berkata demikian, tak lama dia menambahkan, “Semua ini karena kelemahanku.”


“Daripada bercerita aku lebih khawatir dengan empat pria yang terluka parah. Kurang lebih kondisinya sama sepertiku...” Li Ho terlihat begitu khawatir kemudian dia mengajak Jing Yang dan Xue Rong pergi menuju sosok empat pria yang dimaksud Li Ho.


Berada diantara para lelaki membuat Xue Rong risih, beruntung ada Jing Yang jika tidak maka Xue Rong akan memilih pergi dari tempat ini secepatnya.

__ADS_1


Sesampainya ditempat yang dimaksud Li Ho, Jing Yang melihat Bing Hen yang sedang mengobrol hangat dengan keempat pria yang umurnya lebih tua dari Bing Hen.


“Junior Hen, seperti yang aku perkirakan orang-orang yang menyerang Desa Api adalah orang yang sama dengan orang yang menghancurkan Gunung Es Utara. Mereka adalah iblis yang mengincar Gulungan Dewa Api milik Kepala Desa Li.” Pria berparas tampan yang menunjukkan ekspresi khawatir berbicara kepada Bing Hen.


“Saudara Mu...” Pria yang lain menatap pria berparas tampan tidak percaya.


“Sepertinya kalian berempat sudah siuman? Syukurlah kalian baik-baik saja.” Li Ho menyapa keempatnya dan membuat mereka tersadar.


“Kepala Desa Li.” Keempat pria itu serentak terkejut melihat Li Ho.


‘Jadi mereka orang yang dimaksud Kakek Li...’ Jing Yang memperhatikan ekspresi keempat pria itu dengan seksama, ‘Aneh.’


“Syukurlah kau baik-baik saja, Kepala Desa Li. Kami sangat khawatir padamu.” Pria berparas tampan yang bernama Bing Mu mendekati Li Ho dan memberi hormat.


Kemudian Bing Hen mendekati Jing Yang sebelum memperkenalkan keempat pria yang memakai jubah yang sama dengannya.


“Mereka berempat adalah seniorku. Kami berlima berasal dari Klan Bing yang selamat pada kejadian hancurnya Gunung Es Utara.” Bing Hen mulai memperkenalkan keempat pria itu kepada Jing Yang dan Xue Rong.


Pria berparas tampan yang memberi hormat pada Li Ho itu bernama Bing Mu, kemudian pria yang sempat menatap tidak percaya akan ucapan Bing Mu adalah Bing Jia. Lalu dua pria yang belum berbicara sepatah katapun bernama Bing San dan Bing Diwang.


“Mu‘er, tadi kau berkata mereka mengincar Gulungan Dewa Api, bagaimana mereka bisa mengetahui ini?” Li Ho bertanya.


Bing Mu menjelaskan jika dirinya bertarung melawan iblis yang memiliki kemampuan menggunakan api. Kemungkinan besar iblis itu telah lama mengetahui Gulungan Dewa Api dan mengincarnya.


“Aku sendiri tidak mengetahui darimana dia tahu akan Gulungan Dewa Api. Tetapi aku rasa cepat atau lambat sekelompok iblis itu akan menyerang tempat ini kembali.” Bing Mu menjawab, kemudian pandangan matanya tertuju akan kecantikan gadis yang berdiri disamping Jing Yang.


Bing Mu menunjukkan ketertarikan pada Xue Rong, namun dia tidak gegabah karena bagaimanapun dirinya tidak ingin terlihat begitu tertarik pada kecantikan Xue Rong.

__ADS_1


Li Ho mengelus jenggotnya kemudian menatap Jing Yang cukup lama sebelum mengajak mereka semua untuk makan malam bersama.


__ADS_2