
Beberapa menit sebelumnya, pertarungan hebat tersaji saat Salju Dendam, Selendang Nafsu dan Golok Serakah bertarung melawan Shan Zuan.
Kemampuan Golok Serakah tidak bisa dianggap remeh walau sekujur tubuhnya dipenuhi luka. Permainan tongkat Shan Zuan mampu mengimbangi permainan golok dari Golok Serakah.
Saat keduanya beradu serangan, Salju Dendam membantu Golok Serakah begitu juga dengan Selendang Nafsu. Serangan dari tiga arah tidak menghentikan pergerakan Shan Zuan yang agresif dalam memainkan tongkatnya.
Putaran tongkatnya mampu membuat serangan selendang dari Selendang Nafsu tidak berarti dihadapannya. Bahkan saat Salju Dendam membekukan tubuhnya, Shan Zuan masih dapat menghancurkan es tersebut.
“Kemampuan kalian melebihi perkiraanku! Walau demikian aku tidak akan membiarkan kalian melewati lantai ini dengan mudah!” Shan Zuan mengalirkan tenaga dalam pada tongkat kesayangannya.
Terlihat tongkat tersebut dipenuhi api yang membara. Shan Zuan mengincar Selendang Nafsu yang terlihat kewalahan mengikuti pergerakan Salju Dendam dan Golok Serakah.
“Kau meremehkanku!” Selendang Nafsu mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar pada selendangnya hingga selendang tersebut menjadi tajam dan bergerak dengan sendirinya.
Shan Zuan tersenyum lebar, “Jadi ini rencanamu? Aku akan meladeninya!” Saat selendang yang menajam menyerangnya, Shan Zuan segera memutarkan tongkat kesayangannya.
Dengan lincah Shan Zuan terus menangkis dan memberikan serangan perlawanan yang membuat Selendang Nafsu dipaksa keposisi bertahan.
Salju Dendam tidak diam saja saat melihat Selendang Nafsu terdesak. Dengan membentuk sebuah tombak es yang berjumlah sepuluh. Salju Dendam memanipulasi aura tubuhnya dan menggerakkan kesepuluh tombak es tersebut untuk mengincar Shan Zuan.
“Menyebalkan! Kau akan mendapatkan gilirannya! Jadi tunggulah sebentar!” Shan Zuan kembali melepaskan tenaga dalam pada tongkat kesayangannya dan menghancurkan kesepuluh tombak es tersebut.
Bersamaan dengan itu, Golok Serakah menyerangnya dari arah kiri. Shan Zuan memutarkan tubuhnya dan menciptakan pusaran api yang membuat Salju Dendam dan Selendang Nafsu menjaga jarak.
Golok Serakah menyambut serangan Shan Zuan dan membalasnya berkali-kali lipat. Walau dengan kondisi yang tidak memungkinkan, Golok Serakah memberikan perlawanan yang sengit.
Golok Serakah mencoba memberikan celah pada Salju Dendam dan Selendang Nafsu untuk melancarkan serangan kombinasi mereka. Namun untuk melakukan itu, bukanlah hal yang mudah karena Shan Zuan tidak memberikan sedikitpun celah untuk dirinya melakukan serangan yang membuat lawannya itu terdesak.
“Kau masih dapat bergerak cepat mengimbangiku dengan tubuh dipenuhi luka seperti itu? Aku tidak akan menahan diri untuk memuji perjuanganmu!” Shan Zuan memanipulasi aura tubuhnya menciptakan api dal jumlah besar dan bercampur dengan angin.
Golok Serakah tersenyum lebar, “Aku ucapkan terimakasih atas kepedulianmu. Tujuan kalian adalah menangkap Tubuh Raja Neraka dan Tubuh Yang bukan?”
Shan Zuan mengerutkan keningnya dan melepaskan aura pembunuh berjumlah besar pada Golok Serakah.
“Siapa orang dibalik semua ini? Seharusnya Klan Jing telah lama binasa, walau Jing Yang merupakan keturunan Klan Jing, tetapi rencana kalian ini berjalan sangat sempurna seolah-olah kalian telah mengintai Jing Yang sejak lama?!” Golok Serakah menjaga jarak saat merasakan tekanan intimidasi.
Shan Zuan menggelengkan kepalanya dan terkekeh, “Kau akan mengetahuinya. Drama ini sangat menyedihkan, bahkan aku tidak sabar melihat pertemuan mereka.”
Golok Serakah mengerutkan keningnya, “Apa maksudmu?” Sambil melepaskan aura pembunuhnya yang tersisa, Golok Serakah menekan tekanan intimidasi tersebut dan maju kedepan.
Shan Zuan kembali memainkan tongkat kesayangannya. Kali ini setiap sodokan dan putaran tongkatnya dipenuhi api yang besar dan membara. Berkat unsur angin yang mendukung, Shan Zuan memberikan perlawanan sengit dan membuat Golok Serakah dalam posisi terdesak.
Salju Dendam berulang kali menyerangnya dari kejauhan, tetapi semuanya tidak berguna karena es yang dia ciptakan akan meleleh saat bersentuhan dengan bara api dari putaran tongkat Shan Zuan.
Selendang Nafsu mencari celah titik kelemahan Shan Zuan, namun lawannya itu tidak menunjukkan celah sedikitpun. Satu-satunya harapan adalah Golok Serakah yang mampu membuat Shan Zuan menunjukkan celah.
Golok Serakah sebisa mungkin menghindari setiap serangan tongkat Shan Zuan yang agresif. Permainan goloknya sulit mengimbangi permainan tongkat Shan Zuan.
‘Penjaga lantai atas sangat berbeda dari yang sebelumnya... Ini tidak mudah...’ Golok Serakah menarik nafas panjang dan memusatkan konsentrasi untuk membaca setiap serangan Shan Zuan.
Butuh waktu lama bagi Golok Serakah untuk kembali mengimbangi permainan tongkat Shan Zuan. Celah demi celah mulai terlihat, pergerakan lincah Shan Zuan mulai melemah dan berulang kali sayatan golok mengenai tubuhnya.
__ADS_1
“Sepertinya pergerakanmu mulai melemah! Tidak sia-sia aku melepaskan seluruh aura pembunuhku!” Golok Serakah melepaskan sejumlah tebasan golok yang tajam dan dipenuhi tenaga dalam.
Shan Zuan membagi konsentrasinya pada Salju Dendam dan Selendang Nafsu sehingga serangan Golok Serakah mengenai tubuhnya dengan telak.
Selendang Nafsu melepaskan aura tubuhnya dan melempar selendangnya kearah Shan Zuan. Selendang tersebut mengejar Shan Zuan yang menjauh dan berusaha melilitnya.
Shan Zuan mendecakkan lidahnya karena dirinya dipojokkan. Pandangannya menoleh kearah Quan Shang namun temannya itu terbunuh oleh Jing Yang dan Xue Rong yang melakukan serangan kombinasi.
“Tidak mungkin-” Shan Zuan melihat Quan Shang berakhir mengenaskan. Dalam keterkejutannya, tubuhnya dililit selendang yang terbakar.
Shan Zuan dengan segenap kemampuannya melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar. Namun sebuah tebasan golok dari kejauhan melesat cepat kearahnya.
Shan Zuan terus memberontak hingga akhirnya melepaskan diri dari lilitan selendang dan melompat keatas. Namun diatasnya terlihat Salju Dendam sudah menciptakan pedang es dari aura tubuhnya.
Salju Dendam menggenggam pedang es tersebut dan memotong kepala Shan Zuan dalam satu kali ayunan tebasan pedang es miliknya.
‘Aku tidak akan berakhir disini!” Shan Zuan menjerit sebelum kepalanya benar-benar terpisah dari tubuhnya.
Tubuh Shan Zuan terjatuh dengan kecepatan tinggi ke tanah lalu lenyap tak berbekas sama seperti halnya dengan Quan Shang.
“Aku tidak pernah menyangka akan melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, manusia iblis.” Salju Dendam turun ketanah dan berdiri disamping Selendang Nafsu.
“Pertarungan ini sangat menguras tenaga. Kita harus sampai kelantai teratas apapun yang terjadi.” Selendang Nafsu mengatur aliran napasnya sambil memulihkan tenaganya sebisa mungkin.
Didekat mereka terlihat Liong Wang yang terus memberikan serangan mematikan lewat pukulannya. Benturan pukulan berulang kali terjadi saat Liong Wang dan Tinju Api bertukar serangan.
“Mereka berdua mati? Ini tidak pernah kuperkirakan sebelumnya, sepertinya Ketua Fu akan membunuhku atas kegagalan ini.” Liong Wang menghindari pukulan Tinju Api dengan santai sebelum melepaskan serangan balik.
Pedang Amarah hendak membantu, tetapi dia tidak menemukan celah saat melihat pertarungan Tinju Api dan Liong Wang berlangsung sengit.
Tidak ada yang mengalah, keduanya terus melakukan pertukaran serangan yang dahsyat. Tinju Api tidak memberikan celah pada Liong Wang, begitu juga dengan sebaliknya.
Setiap pukulan Tinju Api yang dipenuhi tenaga dalam berhasil melukai tubuh Liong Wang, tetapi luka-luka tersebut akan kembali pulih bahkan Tinju Api sudah mematahkan tulang rusuk serta tangan Liong Wang, namun luka itu akan memulih dengan sendirinya.
“Bahkan satu menit untuk beregenerasi, kau masih tidak memberikanku waktu memulihkan tenagaku...” Liong Wang membunyikan lehernya dan memusatkan tenaga dalam pada tangan kanannya.
“Kau benar-benar menyebalkan, Bai Huo!” Pukulan Liong Wang terlepas sepenuhnya kearah Tinju Api.
Tinju Api menyambutnya hingga kedua benturan pukulan api menciptakan ledakan keras yang menggema. Tubuh Tinju Api terpental jauh kebelakang dan dengan segera Liong Wang bergerak cepat kearahnya.
“Satu seranganku ini akan membunuhmu!” Kedua tangan Liong Wang yang mengepal dipenuhi api merah yang berkobar.
Saat pukulan tangan itu hampir menyentuh perut Tinju Api, sebuah pedang menahannya. Pedang Amarah yang memperhatikan pertarungan tersebut akhirnya ikut andil didalamnya.
“Kerja bagus, Pedang Amarah. Saatnya mengakhirinya.” Tinju Api tersenyum menyeringai melihat ekspresi wajah Liong Wang yang terkejut.
Tinju Api melepaskan tenaga dalam lebih besar dari sebelumnya. Lalu melancarkan sejumlah pukulan pada tubuh Liong Wang. Tinju Api berniat memberikan luka pada tubuh Liong Wang sebanyak mungkin. Walaupun Liong Wang dapat beregenerasi, tetapi setiap pukulan Tinju Api yang tepat mengenai badannya membuat sekujur tubuhnya dipenuhi luka karena regenerasinya tidak mampu mengikuti serangan tersebut untuk menyembuhkan.
Pedang Amarah sudah mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar serta melepaskan energi pedang yang mematikan.
Menunggu isyarat dari Tinju Api, Pedang Amarah terus menahan pergerakan Liong Wang. Terlihat Liong Wang mulai kesulitan untuk bergerak, celah untuk memberikan serangan balasan atau melarikan diri benar-benar telah diblokir sepenuhnya.
__ADS_1
“Kalian sangat menyebalkan...” Liong Wang melepaskan aura pembunuh dalam jumlah besar, namun tekanan intimidasi tidak terlalu berpengaruh saat Tinju Api ikut melepaskan aura pembunuhnya.
“Sekarang, Pedang Amarah!” Tinju Api melompat keatas dan melepaskan sebuah pukulan dari kejauhan yang langsung mengincar perut Liong Wang.
Sementara Pedang Amarah mengincar leher Liong Wang. Serangan dari dua arah ini tidak diantisipasi oleh Liong Wang. Saat pukulan tangan yang berapi mengenai perutnya dengan telak, mulut Liong Wang mengeluarkan darah.
Saat itu juga Pedang Amarah mencabut nyawanya dengan satu kali tebasan pedangnya. Kepala Liong Wang terpisah dari anggota tubuhnya. Sama halnya seperti Quan Shang dan Shan Zuan, tubuh Liong Wang lenyap tak berbekas setelah kepalanya terpotong.
Pedang Amarah menghela nafas panjang, “Akhirnya kita sejauh ini, tinggal satu langkah lagi...” Pedang Amarah menatap lantai selanjutnya dimana Ruangan Mawar berada.
Tinju Api menanggapi, “Siapkan diri kalian, walau nyawa sebagai taruhannya. Kita tidak boleh membiarkan Fu Xinghe mati dengan mudah!”
“Aku tidak akan menahan diri.” Selendang Nafsu tersenyum dari balik topengnya.
‘Dengan ini akhirnya aku bisa mengembalikan ingatan Yueyue-’ Saat Salju Dendam berpikir demikian, sebuah aura mematikan muncul dari arah Ruangan Mawar.
Tidak ada yang mengetahuinya dan tidak ada yang melihat pergerakannya. Seorang kakek tua yang memegang pedang menghunuskan pedangnya pada perut Salju Dendam.
“Salju Dendam!” Selendang Nafsu berteriak setelah melihat perut Salju Dendam tertusuk pedang.
“Aku tidak dapat melihat pergerakannya!” Golok Serakah sendiri tidak merasakan hawa keberadaan kakek tua yang menghunuskan pedangnya pada perut Salju Dendam.
Tinju Api melebar matanya melihat sosok kakek tua tersebut, “Bukankah dia... Ini tidak mungkin, seharusnya dia sudah lama mati...”
Sementara itu Pedang Amarah melepaskan aura pembunuh dalam jumlah besar dan bergerak dengan kecepatan tinggi kearah Salju Dendam.
Kakek tua itu melompat kebelakang sambil menarik pedangnya, lalu mengincar Xue Rong. Namun saat pedangnya hampir menyentuh leher Xue Rong, Jing Yang menahannya.
“Nenek!” Jing Yang melihat perut Xue Qinghua bersimbah darah. Mengetahui kakek tua dihadapannya yang menghunuskan pedangnya pada Xue Qinghua membuat emosi Jing Yang memuncak.
“Aku akan membunuhmu!” Jing Yang melepaskan Aura Raja Naga dan menebaskan pedangnya sekuat tenaga.
Tebasannya itu membuat kakek tua terpental jauh kebelakang, bersamaan dengan itu suara tepuk tangan terdengar.
“Akhirnya seluruh orang berkumpul disini. Bukankah ini sangat mengharukan? Kakekmu menusuk Nenekmu, anak Jing Tian!” Sosok orang yang ingin Jing Yang bunuh muncul, dia adalah Fu Xinghe.
“Kau siapa?!” Jing Yang menatap sinis pria tersebut.
Mata Tinju Api, Pedang Amarah, Golok Serakah dan Selendang Nafsu dipenuhi amarah saat melihat sosok pria tersebut.
“Fu Xinghe! Akhirnya kau menampakkan diri!” Tinju Api berteriak penuh kemarahan pada Fu Xinghe.
“Kau tidak mengenalku? Itu tidak bisa masalah. Bagaimana jika aku mengatakan padamu, diriku ini yang membuat teman masa kecilmu itu kehilangan ingatannya.” Pria itu berbicara dengan nada memprovokasi.
Jing Yang tersulut emosi, “Oh, jadi kau orangnya?” Saat itu juga sebuah aura dalam tubuh Jing Yang meledak.
Jing Yang menghilang dan sudah bergerak dengan kecepatan tinggi kearah Fu Xinghe.
“Menakjubkan...” Mata Fu Xinghe melebar saat melihat berada dihadapannya dan sudah bersiap melepaskan tebasan pedangnya.
Tebasan pedangnya memotong tangan Fu Xinghe. Tidak ada serangan balasan dari Fu Xinghe, selain gelak tawa merendahkan.
__ADS_1
“Jadi apa kita bisa memulainya?” Fu Xinghe menatap kearah kakek tua sambil meregenerasi tangannya yang putus, “Jing An.”