
“Saudara Jing Yang. Apa kau baik-baik saja?” Qiao Xi kembali bertanya karena sempat merasakan aura yang samar-samar terasa begitu mencekam dari tubuh Jing Yang.
Jing Yang tersenyum dan menyentuh rambut Qiao Xi, “Aku baik-baik saja. Maaf telah membuat Saudari Qiao Xi khawatir...” Baru kali ini Jing Yang merasa ingin membunuh seseorang karena ada orang yang menghina Ye Xiaoya.
Dia memiliki sifat yang penyabar. Hanya saja jika ada orang yang menghina orang yang telah dia kenal dengan baik, terutama Ye Xiaoya. Kemarahan serta emosinya memuncak.
“Kalian berdua terlalu dekat. Saudara Jing Yang jangan memberi harapan palsu pada Qiao Xi.” Mei Hua tiba-tiba menegur Jing Yang. Memang pemuda yang duduk disampingnya memiliki sifat yang tidak sombong dan penyabar.
Mei Hua sendiri merasa Chun Lan telah mengatakan hal yang membuat Jing Yang marah. Hanya saja Jing Yang dapat menyembunyikan kemarahannya di depan dirinya dan Qiao Xi dengan cukup baik.
“Harapan? Maksud Saudari Mei Hua?” Jing Yang justru bertanya untuk memastikan.
Qiao Xi memerah wajahnya dan menatap mata kiri Jing Yang yang tertutup. Jantungnya berdetak lebih cepat karena ingin mendengar langsung perasaan Jing Yang.
“Saudara Jing Yang. Apa boleh aku bertanya satu hal padamu?” Mei Hua memiringkan kepalanya dan melirik Jing Yang.
“Tentu boleh.” Jing Yang menjawab dan menoleh menatap wajah Mei Hua.
Jing Yang dan Mei Hua saling berpandangan sebelum senyuman tipis menghiasi wajah Mei Hua.
“Saat ini apakah ada sosok seseorang yang mengisi hati Saudara Jing Yang?” Mei Hua yang berumur lima belas tahun telah mengenal tentang cinta ketika dia membaca sebuah buku di Perpustakaan Bunga Persik.
Semenjak Mei Hua melakukan perjalanan pulang menuju Istana Bunga Persik bersama Ye Xiaoya dan Jing Yang. Ada hal yang ingin dia tahu, sehingga Mei Hua membaca sebuah buku tentang perasaan seperti kasih sayang dan cinta.
Jing Yang memejamkan matanya dan menatap Roh Sang Hitam. Bagi Qiao Xi dan Mei Hua, saat ini Jing Yang sedang menatap langit di atas sana.
“Saat ini dia telah mengisi hatiku. Saat ini juga aku dan dia terpisah oleh jarak. Sekarang aku dalam pencarian untuk menemukannya...” Jing Yang tersenyum penuh makna ketika melihat senyuman indah Roh Sang Hitam.
Qiao Xi dan Mei Hua terkejut mendengar jawaban Jing Yang. Perasaan asing yang baru mereka berdua rasakan mulai merayapi sekujur tubuh keduanya, perlahan perasaan itu menyesakkan dada mereka.
Mei Hua tersenyum dan membatin lirih dalam hatinya, ‘Ah, jadi ini yang namanya patah hati...’ Kemudian Mei Hua menatap wajah Jing Yang yang tersenyum itu.
Qiao Xi memegang dadanya tanpa sadar. Gadis itu kebingungan dengan perasaan asing yang baru dia rasakan.
‘Luka dalam...’ Qiao Xi berpikir jika dirinya memiliki luka dalam. Namun dia tidak mengetahuinya karena Qiao Xi baru pertama kali merasakan jatuh cinta.
Jing Yang menatap ke arah panggung tanah dan mengamati peserta dari Istana Sembilan Naga dan Sekte Bukit Angin.
Mei Hua dan Qiao Xi mencoba untuk tetap tenang. Mei Hua dengan cepat menenangkan dirinya, sedangkan Qiao Xi menatap Jing Yang dengan tatapan yang berkaca-kaca.
Di waktu yang bersamaan. Saat ini Ye Long sedang menjelaskan peraturan pertandingan pada Duan Zhaoyang dari Istana Sembilan Naga dan Feng Xian dari Sekte Bukit Angin.
Selepas Ye Long selesai menjelaskan peraturan pertandingan. Dia langsung menyuruh kedua peserta untuk menjaga jarak, “Ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku!”
Ye Long menatap Duan Zhaoyang dan Feng Xian yang saling menatap tajam satu sama lain. Setelah itu Ye Long menarik napas dan memulai aba-aba pertandingan.
“Dimulai!”
__ADS_1
Feng Xian terlihat lebih agresif dan langsung menarik pedangnya menyerang Duan Zhaoyang. Pergerakannya juga cepat dengan hembusan angin di setiap tebasan pedangnya.
Sementara itu Duan Zhaoyang memilih untuk bertahan dan mengamati langkah kaki Feng Xian. Keduanya terus bertukar serangan hingga akhirnya Duan Zhaoyang menyadari kecepatan langkah kaki Feng Xian.
“Kau menggunakan langkah angin bukan?” Duan Zhaoyang bertanya di sela-sela pertarungan, sambil terus memainkan pedangnya menahan tebasan pedang Feng Xian.
“Seperti perkataanmu barusan. Aku menggunakan langkah angin dan ilmu meringankan tubuh secara bersamaan untuk mempercepat langkah kakiku!” Feng Xian menyerang Duan Zhaoyang dari berbagai arah.
Keduanya terus bertukar serangan dengan sengit. Feng Xian menggunakan jurus demi jurus dari Sekte Bukit Angin. Tebasan pedangnya dapat menghempaskan tubuh Duan Zhaoyang yang membuat pemuda dari Istana Sembilan Naga itu kehilangan keseimbangan.
Feng Xian tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan ayunan yang cepat, Feng Xian menebaskan pedangnya yang berisi tenaga dalam pada Duan Zhaoyang.
Selepas Duan Zhaoyang terkena tebasan pedang Feng Xian di dadanya, keduanya kembali bertukar serangan. Tubuh Duan Zhaoyang memiliki beberapa luka goresan dan sayatan yang terpampang jelas di jubahnya yang robek.
Duan Zhaoyang mulai melepaskan aura tubuhnya dan melancarkan serangan demi serangan untuk membalas tebasan pedang Feng Xian pada dadanya. Setelah bertukar serangan lebih dari tiga puluh serangan, akhirnya Duan Zhaoyang dapat mengimbangi kecepatan Feng Xian.
“Keras kepala!” Feng Xian menebaskan pedangnya membentuk mulut harimau berwarna hijau dan mengarahkannya pada Duan Zhaoyang.
Di waktu yang hampir bersamaan. Duan Zhaoyang juga menebaskan pedangnya membentuk tebasan pedang berbentuk elang berwarna merah.
Kedua tebasan itu melesat cepat ke arah keduanya. Ledakan terjadi ketika tebasan pedang Duan Zhaoyang dan tebasan pedang Feng Xian berbenturan.
Tubuh Feng Xian terpental ke belakang, begitu juga dengan Duan Zhaoyang. Mereka berdua tidak mengantisipasi serangan dengan baik sehingga tidak mampu menahan energi pedang yang saling membentur di udara itu.
Ye Long menatap Feng Xian yang keluar arena pertandingan. Kemudian dia memeriksa Duan Zhaoyang yang hampir keluar arena pertandingan.
Penonton terdiam lama karena mengira keduanya sama-sama belum keluar dari arena pertandingan. Namun keputusan wasit sudah bulat dan mereka tidak membantahnya karena percaya Istana Sembilan Naga tidak akan membiarkan pertandingan yang curang.
Di bangku penonton terlihat Mei Hua sudah bersiap-siap untuk melakoni pertandingan terakhir babak enam belas besar.
Qiao Xi yang masih bingung harus bersikap seperti apa sehingga dia langsung menatap Mei Hua dan memberi nasihat pada teman seperguruannya itu.
“Mei Hua. Kau harus berhati-hati dengan lawanmu itu. Jangan dengarkan perkataannya. Kau harus fokus karena lawanmu telah mencapai pendekar tahap kaisar.” Qiao Xi segera memberitahu tentang Yan Shangxuan sebisa mungkin pada Mei Hua.
“Terimakasih karena telah mengkhawatirkanku, Qiao Xi. Aku akan lebih berhati-hati.” Mei Hua tersenyum menatap Qiao Xi, lalu dia tersenyum manis pada Jing Yang sebelum melompat ke panggung tanah.
Kini Mei Hua dan Yan Shangxuan dalam posisi yang saling berhadapan sembari mendengarkan penjelasan dari Ye Long.
“Ambil jarak dan tunggu aba-aba pertandingan dariku!” Selepas selesai menjelaskan peraturan pertandingan pada Mei Hua dan Yan Shangxuan, dengan cepat Ye Long memberi tanda pada keduanya agar menjaga jarak.
“Dengan ini pertandingan terakhir babak enam belas besar dimulai!”
Selepas Ye Long mengumumkan aba-aba pertandingan, Yan Shangxuan bergerak dengan kecepatan tinggi memegang tangan kanan Mei Hua yang hendak menarik pedangnya.
“Hua‘er, kau sangat manis. Aku tidak tega menyakiti kulit putihmu ini...” Yan Shangxuan mencolek tangan halus Mei Hua.
“Dasar sampah!” Mei Hua langsung menendang perut Yan Shangxuan walau pemuda itu berhasil menghindarinya.
__ADS_1
Yan Shangxuan memamerkan ilmu meringankan tubuh yang begitu cepat. Walau Mei Hua telah menarik pedangnya dan menyerangnya dari kejauhan, Yan Shangxuan dapat menghindari semua itu dengan mudah.
Tak lama Yan Shangxuan berdiri di belakang Mei Hua sembari memegang tangan kanan Mei Hua dengan erat.
“Antara aku dan anak buta itu. Siapa yang kau suka?” Pertanyaan dari Yan Shangxuan membuat Mei Hua marah.
“Tarik kembali kata-katamu itu! Saudara Jing Yang adalah laki-laki yang luar biasa. Dia tidak bisa dibandingkan sampah sepertimu!” Mei Hua melepaskan aura tubuhnya dan mulai memainkan pedangnya dengan gemulai.
Mendengar jawaban Mei Hua yang membuat dirinya marah. Yan Shangxuan segera menerjang Mei Hua dengan tebasan pedangnya. Dia tidak segan-segan dengan sengaja memusatkan serangannya pada jubah yang dikenakan Mei Hua.
Senyuman lembut Yan Shangxuan memudar. Sekarang terlihat pemuda itu tersenyum penuh nafsu, “Aku akan mempermalukanmu. Lihat saja, setelah Istana Bunga Persik jatuh ke tangan kami. Kalian pendekar perempuan hanya pantas menjadi pelayan kami!”
Mei Hua tidak menggubris perkataan Yan Shangxuan. Dia sebisa mungkin menghindari serangan Yan Shangxuan yang dengan sengaja mengincar jubahnya.
Mei Hua dan Yan Shangxuan mulai beradu jurus, bertukar serangan dan saling mengayunkan pedangnya dengan cepat.
Semakin lama keduanya bertukar serangan, situasi Mei Hua semakin tidak diuntungkan karena jubahnya robek, sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya pada semua pasang mata yang menatap tajam pertarungan tersebut. Lekuk tubuh Mei Hua terlihat sangat jelas di mata Yan Shangxuan.
Penonton yang merupakan pendekar dari Istana Sembilan Naga justru lebih memuji pendekar aliran hitam dibanding aliran putih setelah melihat pertarungan Yan Shangxuan.
Mei Hua tidak dapat bergerak bebas. Pakaian dalam yang dia kenakan hampir terlihat, sebaliknya Yan Shangxuan justru tersenyum menyeringai dipenuh nafsu karena melihat lekuk tubuh Mei Hua yang dalam pertumbuhan itu dan terlihat begitu indah.
“Kau akan matang jika berada disampingku dan menjadi milikku. Setelah Gunung Pedang Tunggal menaklukkan kalian, aku akan menjadi orang pertama yang mencicipimu, Hua‘er...” Napas Yan Shangxuan memburu. Walau dilihat ribuan pasang mata, Yan Shangxuan tidak peduli.
Ye Long tidak bisa melihat peserta perempuan dipermalukan, sehingga dia langsung melepaskan hawa membunuh pada Yan Shangxuan.
“Berhenti! Jangan kau lanjutkan tindakan kotormu ini!” Ye Long berkata dengan wajah yang dingin, dia menatap tajam Yan Shangxuan yang memucat wajahnya sesaat.
Ye Long melepas kain berwarna merah yang mengikat pinggangnya. Kain milik Tetua Ilmu Naga menutupi tubuh Mei Hua. Beruntung hari ini Ye Long memakai kain merah itu sehingga dia bisa menutupi tubuh Mei Hua.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Mei Hua selain kemarahan karena dipermalukan. Saat ini dia menyadari kebencian Qiao Xi pada Yan Shangxuan.
Mei Hua berjalan dipenuh rasa malu yang luar bisa. Dalam kesedihannya dia terkejut karena melihat Jing Yang dengan cepat turun ke panggung tanah dan memegang tangannya.
“Aku akan memberinya pelajaran!” Jing Yang berkata dengan dingin. Dengan cekatan Jing Yang langsung menggendong tubuh Mei Hua dari depan tanpa persetujuan dari gadis muda yang sedang murung itu.
Semua orang terkejut melihat Jing Yang yang menggendong tubuh Mei Hua, bahkan Qiao Xi berdiri dari bangku dan langsung menghampiri Mei Hua untuk menghibur teman seperguruannya itu.
Ye Xiaoya tertawa cukup keras, sedangkan Murong Liuyu menarik napas dalam-dalam menahan amarahnya.
“Saudari Liuyu. Lihat Yang‘er...” Ye Xiaoya berhenti tertawa dan mengatur napasnya, “Dia pasti akan membalaskan kekalahan Hua‘er...”
Murong Liuyu tersenyum tipis, “Jing Yang adalah pemuda yang dapat diandalkan...”
Tak lama Ye Long kembali melepaskan aura tubuhnya. Seketika nama-nama peserta yang ada di udara meledak menjadi asap aura berwarna jingga.
Ma Xinxuan, Duan Zhaoyang, Dong Yuan, Gu Hao, Gao Zhimao, Qiao Xi, Jing Yang, Yan Shangxuan. Itulah kedelapan nama peserta yang namanya terukir di langit selama lima menit sebelum asap aura berwarna jingga benar-benar menghilang.
__ADS_1