
Sesampainya di Paviliun Bulan Salju, Xue Qinghua sudah duduk menunggu kedatangan Jing Yang dan Xue Bingyue.
“Yang'er, dimana Yueyue?” Xue Qinghua bertanya pada Jing Yang yang datang sendirian. Dia tidak melihat cucu kesayangannya datang bersama Jing Yang. Mengingat mereka berdua lari pagi bersama.
“Yueyue sedang berlatih di hutan tempat biasa dia berlatih Nek,” jawab Jing Yang sembari duduk di tanah bersalju dan meluruskan kakinya.
Xue Qinghua menyuruh Jing Yang beristirahat terlebih dahulu sebelum memulai latiuan di bawah bimbingannya.
“Yang'er, istirahat lah selama lima menit untuk meregangkan otot-otot kakimu. Setelah itu barulah kita berlatih,” ujar Xue Qinghua mengingatkan.
“Iya Nek,” jawab Jing Yang dengan cepat.
Setelah lima menit duduk di atas tanah yang bersalju, Jing Yang memulai latihan dengan pemanasan ringan bersama Xue Qinghua.
Latihan yang diberikan Xue Qinghua sesuai porsi Jing Yang. Mengingat fisik Jing Yang lemah dan penyakit yang dimiliki anak muda itu, Xue Qinghua tidak melatih fisik Jing Yang terlalu keras.
Di tengah latihan, seperti biasa wajah Jing Yang terlihat pucat pasi dan hidungnya mengeluarkan darah.
Walau hanya melatih pukulan dan tendangan, Jing Yang terlihat memiliki fisik yang lemah dari anak seusianya. Titik tenaga dalam Jing Yang yang terkunci bahkan lumpuh karena Racun Iblis Neraka.
Menyadari pergerakan Jing Yang mulai melambat. Xue Qinghua langsung menghentikan proses latihan. Dengan cepat dia membantu Jing Yang untuk duduk di teras Paviliun Bulan Salju.
”Yang'er, besok kita bertiga pergi ke tempat kenalan Nenek. Kemungkinan dia bisa menyembuhkanmu, mengingat dia memiliki julukan Ratu Pengobatan. Nenek yakin teman Nenek bisa menyembuhkan Yang'er,” ucap Xue Qinghua penuh rasa khawatir.
Jing Yang hanya tersenyum dan memejamkan matanya. Tidak berapa lama dia pingsan. Tubuhnya ambruk ke tanah yang bersalju.
Pagi hari berlalu dengan cepat, Xue Qinghua yang hidup seorang diri karena suaminya telah meninggal mulai memasak sarapan untuk Jing Yang dan Xue Bingyue.
Ketika siang hari tiba, Xue Qinghua menyuruh Jing Yang yang telah bangun dan sadar sepenuhnya untuk mencari Xue Bingyue.
“Yang'er, tolong cari Yueyue. Nenek ingin kita makan siang bersama-sama,” ujar Xue Qinghua pada Jing Yang.
“Iya Nek. Aku akan mencari Yueyue.” Dengan penuh semangat, Jing Yang langsung berlari menuju permukiman penduduk tempat pendekar laki-laki sering berkumpul. Kemudian dia berlari ke arah hutan.
Namun sebelum sampai di hutan, Jing Yang terkejut melihat Lin Song menghadang dirinya bersama Lin Feng, Lin Fan dan Lin Xiang.
“Apa maumu, Lin Feng?” Jing Yang menjaga jarak dari Lin Feng, namun raut wajah Lin Feng bersama yang lainnya langsung terlihat panik.
__ADS_1
“Aku tahu kau mencari Yue'er. Aku melihat dia menangis di Tebing Kesepian!” Perkataan Lin Feng membuat Jing Yang panik.
“Bodoh sekali! Kenapa kau meninggalkan Yue'er sendirian!” Lin Song angkat bicara dengan nada yang tinggi. Terkesan menggertak.
Jing Yang tidak menggubris perkataan mereka dan langsung menuju Tebing Kesepian.
“Yueyue, tunggu aku! Maaf, aku meninggalkanmu sendirian!” Jing Yang membatin merasa bersalah.
Namun alangkah terkejutnya Jing Yang ketika sampai di Tebing Kesepian. Tidak ada siapapun di sana dan yang ada hanyalah rerumputan yang membeku dan dipenuhi salju. Rerumputan itu tumbuh dengan suburnya di sekitar Tebing Kesepian.
“Dasar anak cacat!” Lin Song mencekik leher Jing Yang dan melemparnya ke arah pohon.
“Aku dengar kau telah dijodohkan dengan Yue'er? Apa itu benar, anak cacat?” Lin Song menendang wajah Jing Yang sebelum mundur dua langkah ke belakang.
“Argh!” Jing Yang meringis kesakitan. Mulutnya mengeluarkan darah. Dia tidak menyangka sosok Tetua Pulau Salju Rembulan akan turun tangan dalam urusan anak kecil.
“Dasar sampah! Kau kemarin menyentuh rambut Yue'er!” Lin Feng memukul wajah Jing Yang hingga pemuda itu memiliki luka lebam di wajahnya.
Tidak berapa lama senyuman lebar menyeringai di wajah Lin Feng, “Dasar anak buta!” Tendangan kaki Lin Feng mengenai mata kiri Jing Yang.
Lin Feng tertawa terbahak-bahak melihat Jing Yang meringis kesakitan dan tergeletak di tanah.
“Sepertinya kita berlebihan. Lebih baik kita hentikan saja ini. Kasihan dia.” Lin Fan terlihat tidak tega melihat Lin Feng dan Lin Song menyiksa Jing Yang. Dia sendiri hanya ikut dalam pergaulan mudanya bersama Lin Feng. Namun Lin Fan sendiri tidak menyangka akan seperti ini.
Namun karena perkataannya, Lin Fan terkena pukulan tangan Lin Song yang berisi tenaga dalam. Pukulan Lin Song tepat mengenai titik aliran tenaga dalamnya.
Wajah Lin Fan pucat pasi dan terkejut, “Kenapa Paman Lin memukulku?”
Lin Song tersenyum sinis, “Aku tidak butuh bawahan yang memiliki hati lemah sepertimu,” ucap Lin Song sembari memukul ulu hati Lin Fan hingga pemuda itu pingsan.
”Xiang'er, bawa anak ini kembali ke Paviliun Salju Merah,” perintah Lin Song pada Lin Xiang.
“Baik, Guru.” Lalu Lin Xiang menggendong tubuh Lin Fan menuju Paviliun Salju Merah.
Setelah melihat Lin Xiang menjauh, Lin Song kembali memukul dan menendang Jing Yang hingga pemuda itu mengalami pendarahan di kepalanya.
“Ayah. Jika dia mati, maka aku akan dekat dengan Yue'er lagi seperti dulu,” ucap Lin Feng sembari menatap Jurang Kesepian.
__ADS_1
Lin Song tersenyum lebar, “Lagipula dia adalah aib Pulau Salju Rembulan. Anak dari luar sekte diperlakukan istimewa. Ini sungguh keterlaluan.” Tangan Lin Song mencekik leher Jing Yang dan melemparnya ke arah Jurang Kesepian.
Tubuh Jing Yang tersungkur di ujung Tebing Kesepian. Tubuhnya bersimbah darah dan luka. Mata kiri dan hidungnya juga mengeluarkan darah.
“Manusia lemah tidak berhak memilih cara untuk dia mati, dasar sampah!" Kaki Lin Song menginjak kepala Jing Yang.
Perkataan Lin Song membuat Jing Yang mengingat Mao Gang.
“Jing Yang, mulai besok, Yue'er akan menjadi milikku.” Tangan Lin Feng menarik telinga Jing Yang.
“Biar Ayah yang melempar anak cacat ini ke jurang itu.” Lin Song memegang rambut Jing Yang dan menjambaknya.
Lin Feng hanya tersenyum lebar, “Rasakan itu, sampah!” Kata-Kata hinaan terus keluar dari mulut Lin Feng.
“Sama seperti orang itu...” Jing Yang berkata lirih karena mulutnya penuh dengan darah, “Aku telah mengingat wajah kalian...”
Lin Song dan Lin Feng mengernyitkan dahi mereka. Tidak berapa lama Lin Song menatap tajam Jing Yang sambil mengeluarkan aura pembunuh berwarna hitam pekat dalam jumlah yang besar.
“Dasar sampah! Setelah semua ini kau masih dapat berbicara!” Lin Feng memukul wajah Jing Yang yang telah bersimbah darah.
“Bunuh aku! Tapi aku tidak akan mati!” Jing Yang menatap balik Lin Feng dan Lin Song dengan tajam.
“Katakan sekali lagi!” Lin Song melepas jambakan tangannya dan menatap dingin Jing Yang yang terbaring di atas tanah.
“Aku bilang, aku telah mengingat wajah kalian dan aku tidak akan mati!” Jing Yang memaksakan dirinya untuk berteriak. Mulutnya mengeluarkan darah segar dalam jumlah banyak.
Lin Feng tertawa terbahak-bahak melihat Jing Yang yang sudah tidak berdaya.
“Lagipula kau akan mati. Ayo pergi, Feng'er.” Lin Song berjalan meninggalkan Jing Yang, namun Lin Feng menendang perut Jing Yang dengan tendangan yang dialiri tenaga dalam.
Tendangan Lin Feng dengan telak mengenai perut Jing Yang. Hanya dalam satu kali tendangan, tubuh Jing Yang terlempar ke belakang dan terjatuh ke dalam Jurang Kesepian.
“Feng'er, kau berlebihan. Tapi kau memang anakku. Dia pantas mendapatkan itu. Jika kau kuat maka kau bisa mendapatkan Yue'er dengan mudah.” Tanpa menyesal sedikitpun, Lin Song meninggalkan Tebing Kesepian bersama Lin Feng.
Tanah bersalju di sekitar Tebing Kesepian dipenuhi darah. Untuk menghindari kecurigaan, Lin Feng menggunakan kekuatannya untuk menebas pohon hanya dengan pisau tangannya yang mengeluarkan sabit angin.
Sementara itu Lin Song tersenyum lebar melihat tindakan anaknya. Kedua ayah dan anak itu kembali ke Paviliun Salju Merah dengan tawa penuh rasa kepuasan tanpa penyesalan sedikitpun.
__ADS_1