Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 212 - Musnah Tanpa Perlawanan


__ADS_3

“Bukankah ini terlalu cepat? Kau Patriark Gunung Pedang Tunggal bukan?” Jing Yang menginjak kepala Yan Kang dan menghancurkannya. Sungguh pemandangan mengerikan saat isi kepala Yan Kang berceceran. Terlebih tatapan suram dan dingin Jing Yang yang memandang semua orang membuat seisi Aula Temu Tetua menjaga jarak darinya.


Melihat Yan Kang mati, Yan Zhang larut dalam emosi. Dengan melepaskan seluruh tenga dalam dan aura tubuhnya, Yan Zhang tidak sedikitpun menyembunyikan niatnya untuk membunuh Jing Yang.


“Aku akan membunuhmu!” Yan Zhang melompat keatas dan melayangkan sebuah tebasan.


Jing Yang memejamkan matanya dan berkata, “Membunuhku? Jangan bercanda! Kau pikir dirimu ini siapa hah?!” Jing Yang dengan aura tubuhnya menciptakan sepuluh pedang tak kasat mata sebelum sepuluh pedang itu memotong-motong bagian tubuh Yan Zhang.


Mulai dari kepala Yan Zhang yang putus, disusul kedua tangan dan kedua kakinya. Dalam sekejap Yan Zhang mati ditangan Jing Yang. Seluruh pendekar Gunung Pedang Tunggal mendadak lemas melihat Ketua Sekte dan Tetuanya mati ditangan Jing Yang tanpa perlawanan.


“Senior Ju, dia adalah Pangeran Jing Yang, pewaris sah Kaisar Jiang!" Saat semua ornag mnejaga jarak dari Jing Yang, justru Lei Wu berseru lantang.


Terakhir kali Lei Wu bertemu Jing Yang saat di Hutan Kegelapan. Melihat perkembangan pesat Jing Yang melampaui dirinya dan semua orang di Aula Temu Tetua tentu saja membuat Lei Wu bertanya-tanya.


“Kau masih mengingatku rupanya.” Jing Yang menatap dingin Lei Wu dan Zhuo Lu yang melepaskan aura pembunuh dan tidak menurunkan kewaspadaannya.


“Ini lebih cepat! Dia memang kuat tetapi kita menang dalam jumlah! Bukan Saudara Yan yang lemah, melainkan dia yang terlalu kuat!” Ju Kai melepaskan aura pembunuh dan mulai memanipulasi aura tubuhnya menciptakan seratus pedang yang dilapisi angin tajam.


Jing Yang mengerutkan keningnya, “Apa kau pikir aku takut dengan pedang ini?” Jing Yang menunjuk seratus pedang yang berterbangan mengitari dirinya.


Sambil melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar. Jing Yang menciptakan seribu pedang tak kasat mata dari Aura Raja Neraka membuat hawa panas memenuhi ruangan Aula Temu Tetua.


“Jangan sombong pangeran! Dengan semua orang yang ada disini kau pikir dirimu bisa melarikan diri?!” Ju Kai memasang senyum lebar dan terlihat tidak percaya akan kemampuan Jing Yang.


“Apa kau ingin berakhir seperti Kakekmu? Sepertinya aku akan memajang kepalamu disamping kepala Kakekmu!” Provokasi Ju Kai berhasil memancing amarah Jing Yang.

__ADS_1


“Matilah!” Ju Kai menggerakkan seratus pedang aura yang mengitari Jing Yang.


Dari seratus pedang itu tidak ada satupun yang menyentuh tubuh Jing Yang, semua pedang berjatuhan diiringi suara teriakan tertahan dan potongan tubuh pendekar Istana Naga Api dan Gunung Pedang Tunggal.


“Apa yang terjadi?!” Ju Kai melebar matanya, belum dia menyadari apa yang terjadi. Dirinya merasakan ada beberapa pedang yang menahan pergerakannya terutama dileher dan perutnya.


“Jika ingin mati, bergeraklah! Kalian tidaklah lemah, hanya aku yang terlalu kuat.” Jing Yang tersenyum dingin dan berjalan mendekati Ju Kai sebelum menendang perut pria sangat telak.


Ju Kai muntah darah dan merasakan seluruh tubuhnya kepanasan. Darah segar dalam jumlah banyak keluar dari mulutnya disusul dengan sebuah pukulan yang menghantam wajahnya.


“Kau siapa?! Aku sama sekali tidak mengenalmu dan kau berani mengusik kenalanku!” Jing Yang kembali melepaskan pukulan demi pukulan pada wajah Ju Kai hingga wajah pria itu tidak dapat dikenali.


Jing Yang mendecakkan lidahnya saat mengetahui Ju Kai sudah tak bernyawa, “Aura ini sangat mengerikan bahkan seorang Pendekar Langit tidak berkutik sedikitpun!”


Jing Yang berdiri dan memperhatikan seisi ruangan Aula Temu Tetua yang berlumuran darah. Dia menghampiri Murong Qiaomi, Tao Qiaoli dan Chi Rong. Saat dihadapan ketiga wanita dewasa itu, Jing Yang tersenyum hangat.


Murong Qiaomi memperhatikan Jing Yang yang terlihat lebih tampan dan berubah. Seolah-olah Jing Yang yang sekarang berubah karena telah mengalami sesuatu yang besar dan memaksanya untuk menjadi pribadi seperti ini.


“Aku sudah mendengarnya dari Tetua Ziwei. Sekarang Ketua Qiaomi tidak perlu khawatir, aku akan membereskan mereka semua.” Jing Yang menjentikkan jarinya dan menciptakan sebuah tanah yang melindungi tubuh Murong Qiaomi, Tao Qiaoli dan Chi Rong dari tatapan buas Lei Wu, Zhen Wang, Zhuo Lu dan Zhen Feng.


“Masih tersisa empat orang.” Jing Yang membunyikan lehernya sebelum melepaskan aura tubuhnya dalam jumlah besar membuat pergerakan keempat orang itu tertahan.


Nafas Lei Wu seakan berhenti saat merasakan aura tubuh Jing Yang mengarah padanya. Bukan hanya Lei Wu saja melainkan Zhen Wang, Zhuo Lu dan Zhen Feng juga merasakan hal yang sama.


“Jadi siapa yang mau mati duluan?” Jing Yang menatap dingin Lei Wu dan berganti menatap Zhen Wang, Zhen Feng dan Zhuo Lu secara bergantian.

__ADS_1


‘Ini tidak mungkin! Bocah ini sangat berbahaya! Seolah-olah aku menghadapi Mao Gang dari Pulau Iblis Tengkorak!’ Lei Wu menelan ludah dan memutar otak untuk menyelamatkan dirinya, tetapi saat dia sedang berpikir keras pintu masuk Aula Temu Tetua ditendang seorang wanita dewasa dengan lekuk tubuh aduhai.


“Yang‘er, kau sangat berlebihan! Apa kau tidak peduli jika aura pembunuhmu menjadi pekat?!” Bai Xianlin menegur Jing Yang karena dari tubuh pemuda itu memancarkan aura pekat mematikan yang membuat siapapun yang menatapnya seolah-olah tunduk padanya.


“Bibi Xianlin, kau sendiri menghabisi seluruh pendekar Istana Naga Api dan Gunung Pedang Tunggal diluar. Kau tidak mempunyai hak untuk menegurku.” Mulut Xue Bingyue terbuka saat mendengar Jing Yang berkata demikian.


Xue Bingyue mengingat jelas jika Jing Yang sangat menghormati orang yang lebih tua darinya. Tetapi sekarang bahkan dihadapan Bai Xianlin sekalipun, Jing Yang terlihat tidak takut dan menatap Bai Xianlin setara.


“Bibi Xianlin, sebenarnya apa yang terjadi saat di Menara Dewa? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?” Xue Bingyue bertanya. Dia tidak tahan melihat Jing Yang berpura-pura tegar dihadapannya.


Bai Xianlin melebar matanya. Dia dan Xue Rong sudah sepakat untuk menyembunyikan tentang kejadian sebenarnya di Menara Dewa pada Xue Bingyue.


“Yueyue, apa aku terlihat menyembunyikan sesuatu darimu?” Bai Xianlin tersenyum kearah Xue Bingyue.


“Jelas! Bibi Xianlin kelihatan jelas menyembunyikan sesuatu dariku!” Xue Bingyue menatap tajam Bai Xianlin penuh selidik.


“Yueyue, sekarang bukan waktunya untuk itu." Shi Surao memegang pundak Xue Bingyue gemetaran dengan perasaan mual karena melihat banyak mayat berserakan. Terlebih bau darah yang sangat menyengat.


Xue Bingyue menghela nafas panjang melihat Shi Surao yang ketakutan. Kemudian dia memalingkan wajahnya saat Bai Xianlin tersenyum kearahnya.


Saat Xue Bingyue sedang berbicara dengan Shi Surao, Zhen Feng bergerak dengan kecepatan tinggi hendak menyandera salah dari mereka berdua. Tetapi sebelum menyentuh Xue Bingyue ataupun Shi Surao, kepala Zhen Feng menggelinding dilantai Aula Temu Tetua.


“Bergerak sedikit saja, maka kalian akan mati! Aku sudah memberi peringatan bukan?" Jing Yang terlihat tidak peduli dengan kematian Zhen Feng. Sekarang pandangan matanya tertuju pada Lei Wu, Zhen Wang dan Zhuo Lu.


“Sepertinya tidak ada yang perlu kita bicarakan." Tanpa ampun Jing Yang membunuh Lei Wu, Zhen Wang dan Zhuo Lu dengan pedang tak kasat mata.

__ADS_1


Dalam sekejap ketiganya mati ditangannya. Hari itu juga Jing Yang berhasil menghabisi seluruh Ketua Istana Naga Api, Gunung Pedang Tunggal dan Pedang Tiga Raja termasuk para Tetuanya.


__ADS_2