Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 22 : Fang Baihu


__ADS_3

Roh Sang Hitam menatap dengan tatapan menyelidik karena melihat Binatang Roh yang terikat kontrak darah dengan Jing Yang adalah anak Harimau Putih.


“Anak manusia, ini Binatang Roh-mu? Kucing?” Dahi Roh Sang Hitam mengkerut.


“Bukan, dasar perempuan yang mirip dengan...” Harimau Putih terdiam dan tidak melanjutkan perkataannya karena merasa melihat seorang Dewi yang turun dari langit.


“Hei, siapa dia? Bagaimana dia bisa terbang?” Anak Harimau Putih berteriak kepada Jing Yang.


Jing Yang langsung menarik belakang leher anak Harimau Putih dan mengangkatnya, “Jaga bicaramu, kau sedang berbicara dengan Guruku?”


Anak Harimau Putih mencoba mencakar wajah Jing Yang namun kesulitan, “Turunkun aku! Kembalikan aku ke Dunia Roh! Anak manusia bodoh!”


Jing Yang menaruh anak Harimau Putih di tanah. Kemudian dia menjelaskan pada Roh Sang Hitam jika anak Harimau Putih yang sekarang bersamanya adalah Binatang Roh yang akan menjadi rekannya.


“Guru, apa dia perlu nama?” Jing Yang menaikan alisnya menatap Roh Sang Hitam.


“Lakukan sesukamu. Jika memberinya nama membuatmu senang, maka berilah dia sebuah nama.” Roh Sang Hitam terlihat tidak peduli walau sebenarnya dia sangat peduli kepada Jing Yang.


“Fang Baihu...” Jing Yang menatap anak Harimau Putih yang juga sedang menatapnya.


“Mulai sekarang dan seterusnya. Namamu adalah Fang Baihu.”


Sontak anak Harimau Putih langsung melompat dan mencakar perut Jing Yang.


“Jangan seenaknya saja memberiku sebuah nama, anak manusia!”


Jing Yang hendak menghindari cakaran anak Harimau Putih namun tubuhnya ambruk ke tanah. Seketika anak Hairmau Putih menghilang dan kembali ke Dunia Roh karena Jing Yang kehabisan aura tubuhnya beserta tenaga dalamnya.


Roh Sang Hitam menggelengkan kepalanya dan menjentikkan jarinya. Tubuh Jing Yang melayang di udara dan dia menaruhnya di atas batu.


”Apa ini perasaan manusia jika mempunyai anak manusia?” Roh Sang Hitam memerah wajahnya melihat Jing Yang tertidur pulas.


Keesokan harinya Jing Yang terbangun lebih awal, bahkan saat hari masih gelap. Sambil menunggu pagi, Jing Yang masuk ke dalam hutan mencari keringat dengan bertarung melawan Binatang Iblis Tahap Bumi Tingkat Tiga.


Seperti biasa Jing Yang mengambil Permata Iblis dari Kuda Bertanduk Hitam. Tak lupa juga dia memotong daging Kuda Bertanduk Hitam untuk sarapan paginya.


Jing Yang melihat Roh Sang Hitam terus mengamatinya, ”Guru, apa sekarang aku sudah bisa membuka segel Tebing Dimensi Hitam?”


“Belum bisa. Mungkin jika aku membantumu, kau bisa keluar. Tetapi aku merasa ini kesalahanku karena terlalu sayang padamu. Jadi aku tidak tega dan terlalu khawatir padamu jika kau masih lemah, anak manusia.”

__ADS_1


Roh Sang Hitam memerah wajahnya setelah mengatakan itu. Berbeda dengan Jing Yang yang melompat kegirangan, Roh Sang Hitam justru membuang wajahnya pura-pura tidak melihat reaksi Jing Yang.


“Jadi guru selama ini khawatir padaku? Aku sayang guru!” Jing Yang hendak memeluk Roh Sang Hitam namun lagi-lagi perempuan berparas cantik itu terbang melayang di udara lebih tinggi.


Jing Yang hanya tersenyum dan membakar daging Kuda Bertanduk Hitam untuk sarapan paginya.


Selesai sarapan pagi. Roh Sang Hitam mengajak Jing Yang memasuki gua yang menurutnya dahulu dihuni Binatang Iblis Tahap Dewa Tingkat Tiga. Namun Roh Sang Hitam membunuhnya karena dia merasa kesal dengan Serigala Api Berkepala Tiga yang merupakan Binatang Iblis Tahap Dewa Tingkat Tiga.


Jing Yang terkejut mendengar penjelasan Roh Sang Hitam. Di saat yang bersamaan ada perasaan kuat karena penasaran dengan apa saja yang ada di dalam gua tersebut.


“Guru, jika aku menemukan pedang yang melegenda. Tidak, sepertinya aku lebih menyukai tombak. Tetapi aku juga menyukai pedang. Argh! Bagaimana ini Guru?”


Jing Yang meremas rambutnya dan menatap Roh Sang Hitam yang terbang di sampingnya.


“Disana ada tiga pedang. Sisanya barang-barang yang terjatuh dari atas....”


Mendengar itu, Jing Yang langsung berlari memasuki gua dan mencari sesuatu yang berguna untuknya.


Mata Jing Yang melebar ketika melihat tiga pedang yang tertancap di kerangka tulang Serigala Api Berkepala Tiga.


Pedang yang paling kiri berwara putih dan memancarkan hawa dingin yang mencekam. Kemudian pedang yang di tengah berwarna hitam legam dengan bilah yang tipis, unik serta terlihat sangat tajam. Sedangkan pedang yang paling kanan berwarna merah dengan corak api yang memancarkan hawa panas yang membara.


“Guru, kenapa Guru tahu nama tiga pedang ini?” Jing Yang bertanya karena penasaran.


“Aku ini adalah Roh Dewi Naga Hitam. Sang penguasa dunia kegelapan. Namun itu dulu, sekarang aku hanya roh yang terbang dan tersegel...” Roh Sang Hitam menutup mulutnya dengan telapak tangannya sambil tertawa.


“Ketiga pedang itu ditempa oleh Dewa Perang. Ini bukan senjata sembarangan. Kau bisa menggunakannya, tapi aku tidak bisa mengajarimu teknik berpedang.” Roh Sang Hitam menambahkan.


Jing Yang menatap pedang yang di tengah karena pedang itu yang membuatnya tertarik untuk mengambilnya dan menggunakannya sebagai senjata.


“Apa nama pedang hitam yang di tengah itu, Guru?”


Roh Sang Hitam dan Jing Yang saling berpandangan lama. Tak lama Roh Sang Hitam menjawabnya.


“Itu adalah Pedang Gravitasi, Yue Wang.” Roh Sang Hitam menjawab sambil menatap pedang hitam legam tersebut.


Jing Yang menganggukkan kepalanya pelan dan berjalan mendekati tumpukan emas beserta barang-barang yang ada di kerangka tulang Serigala Api Berkepala Tiga.


Di tumpukan emas itu terdapat cincin berwarna hitam dan masih banyak benda pusaka lainnya. Jing Yang mengambil cincin berwarna hitam kemudian menunjukkannya pada Roh Sang Hitam.

__ADS_1


“Guru, cincin apakah ini? Apa ini cincin tunangan?” Jing Yang bertanya kepada Roh Sang Hitam yang menggelengkan kepalanya.


“Yang di tanganmu itu adalah Cincin Dewa. Berbeda dengan Cincin Penyimpanan yang terbatas dalam menyimpan banyak barang di dalamnya. Cincin Dewa bisa menyimpan barang tak terbatas di dalamnya.” Roh Sang Hitam menjelaskan tentang cincin yang baru saja diambil oleh Jing Yang.


“Apa aku bisa menyimpan semua ini Guru?” Jing Yang terlihat antusias menatap tiga pedang beserta emas yang menumpuk di kerangka tulang Serigala Api Berkepala Tiga.


“Bisa, tapi kau harus melakukan kontrak darah dengan Cincin Dewa, Hei Huan. Tata caranya ssama seperti kau melakukan kontrak darah dengan anak kucing itu.” Roh Sang Hitam terbang lebih rendah dan mendekati Jing Yang.


“Anak kucing? Oh, Fang Baihu...” Jing Yang sedikit kebingungan sesaat, namun setelahnya dia telah menyadari maksud perkataan Roh Sang Hitam.


Di dunia ini terdapat Pusaka yang konon dibuat langsung oleh tangan-tangan Para Dewa-Dewi. Pusaka itu diantara lainnya adalah Pusaka Alam, Pusaka Bumi, Pusaka Langit, Pusaka Dewa dan Pusaka Surgawi.


“Bisa dibilang Pusaka Alam adalah yang terendah dan yang paling tinggi adalah Pusaka Surgawi...”


Roh Sang Hitam kembali menjelaskan kepada Jing Yang. Semua benda pusaka tersebar ke seluruh belahan dunia, bahkan kekuatannya bisa mengguncang dunia sehingga mengancam keseimbangan dunia.


Jing Yang memahami jika dirinya harus menjadi orang yang lebih kuat bahkan dia bertekad menjadi yang terkuat di antara pendekar yang ada di Benua Dataran Tengah, agar dapat menghentikan kekacauan yang dimaksud Roh Sang Hitam.


Cincin Dewa yang ada di tangan Jing Yang bernama Hei Huan. Sebelum melakukan kontrak darah dengan Cincin Dewa, Jing Yang mengaliri cincin tersebut dengan aura tubuhnya dan tenaga dalamnya.


“Hei Huan. Mulai hari ini, aku, Jing Yang, akan menjadi pemilik dari Cincin Dewa ini. Terimalah kontrak darahku ini...”


Jing Yang membatin dalam hatinya sambil menggigit jari jempolnya. Setetes demi setetes darah mengenai Cincin Dewa hingga cincin itu berwarna putih keemasan.


“Aku terima kau sebagai pemilikku, Jing Yang...” Suara seperti pria paruh baya terdengar dari Cincin Dewa.


“Apa kau bisa berbicara, Hei Huan?” Jing Yang bertanya karena penasaran.


“Ya,” jawab Cincin Dewa cepat.


“Sungguh?” Jing Yang kembali bertanya dan ingin memastikan.


“Kau ini bodoh atau apa? Aku bisa berbicara. Jangan bertanya padaku lagi. Aku lebih suka diam!”


Sontak Jing Yang diam tanpa ekspresi dan menunjukkan kekesalannya, “Cincin ini beraninya menceramahiku!”


Roh Sang Hitam tertawa lirih melihat tingkah Jing Yang yang terlihat lucu dimatanya.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, Jing Yang mengambil Cincin Dewa. Kemudian dia menyentuh emas dan tiga pedang yang dia masukkan ke dalam Cincin Dewa.

__ADS_1


Masih banyak barang di bongkahan emas yang ada di dalam kerangka tulang Serigala Api Berkepala Tiga. Tak lupa Jing Yang juga mengambil benda pusaka lainnya. Jing Yang menaruh semuanya ke dalam Cincin Dewa karena dia berpikir suatu hari nanti dia akan membutuhkannya.


__ADS_2