
Dalam beberapa menit, pendekar aliran hitam yang tertangkap tidak dapat berkutik sedikitpun dan mereka menyerahkan senjata. Sementara beberapa anggota Gunung Pedang Tunggal diikat dan di awasi secara bertahap oleh pendekar Istana Sembilan Naga.
Qiao Xi mengenal sedikit Yan Hexia. Sehingga dia mengajak Mei Hua dan Qiu Mei untuk berbincang dengan gadis tersebut.
Pertempuran ini membuat kekuatan Istana Sembilan Naga melemah. Sementara Istana Bunga Persik mendapatkan dukungan yang kuat karena dengan ini mereka menjadi sekte aliran putih terbesar. Untuk Gunung Pedang Tunggal dan Istana Naga Api, sudah dianggap sebagai aliran sesat oleh Sheng Long dan Murong Qiaomi.
Saat semua orang menaruh perhatian mereka pada Jing Yang. Sesuatu terjadi, karena Jing Yang dan Ye Xiaoya pergi ke suatu tempat. Keduanya terbang menaiki Elang Salju.
Jing Yang bersama Ye Xiaoya duduk di atas punggung Xue Ying. Sedangkan Jin Hou telah kembali ke Dunia Roh dengan tatapan iri pada Xue Ying yang mendapat kepercayaan Jing Yang.
Jing Yang menjelaskan ilmu yang dia pelajari pada Ye Xiaoya. Nampak wajah cantik Ye Xiaoya memiring sebelum menghela napas panjang.
“Dewi Naga? Kekuatan menyerap aura yang kau gunakan saat membunuh itu sangat cocok untukku. Bisakah kau ajarkan itu padaku, Yang‘er?”
Setelah berkata demikian, Ye Xiaoya menatap Jing Yang dengan wajah yang memohon dan terlihat menggemaskan.
“Tidak bisa, Guru mengatakan padaku hanya orang yang menjadi istriku yang dapat berlatih ilmu ini.” Jing Yang menjelaskan singkat, kemudian memakan Buah Api dengan lahap.
“Aku tahu wajahku ini cantik dan tubuhku ini berisi, tetapi beraninya pemuda polos sepertimu mengatakan itu pada calon Gurumu ini, hah?! Apa kepalamu terbentur sesuatu?!” Ye Xiaoya menjitak kepala Jing Yang cukup keras.
Roh Sang Hitam terkekeh melihat tingkah Ye Xiaoya, ‘Sepertinya perkataanku menyinggung perasaan Guru manusiamu...’
Jing Yang memegang kepalanya dan memalingkan wajahnya, ‘Aku hanya menjelaskan apa yang dikatakan Guru.’
“Kembali! Kita bantu mereka!” Ye Xiaoya menatap Jing Yang dengan tatapan dingin.
Jing Yang merasa bersalah karena telah menyinggung perasaan Ye Xiaoya, tetapi memang begitu adanya penjelasan dari Roh Sang Hitam. Tak lama Roh Sang Hitam membisikkan sesuatu pada Jing Yang dan dijawab anggukan kepala oleh Jing Yang. Kepolosan Jing Yang membuat Roh Sang Hitam menahan tawanya menunggu reaksi dari Ye Xiaoya.
“Guru, aku ada tempat yang dipenuhi dengan daging. Apakah Guru mau pergi kesana bersamaku?” Jing Yang berbicara pelan, sambil menggaruk kepalanya.
“Heh? Yang‘er, aku tertarik dengan ajakanmu. Tetapi maaf, aku sama sekali tidak tertarik dengan laki-laki yang lebih muda dariku. Lagian kau ini berani berbicara hal seperti itu, seingatku kau itu adalah bocah polos. Sepertinya kau belum sepenuhnya sadar, jadi nanti beristirahatlah. Anggap aku tidak mendengar apa yang kau katakan barusan.”
Jing Yang langsung terdiam tanpa ekspresi setelah mendengar jawaban Ye Xiaoya. Roh Sang Hitam tertawa terbahak-bahak di alam bawah sadar Jing Yang. Roh perempuan berparas cantik itu merasa begitu puas telah menghasut Jing Yang untuk mengikuti perkataannya.
Sesampainya di stadion, Ye Xiaoya langsung melompat. Kemudian disusul Jing Yang dari belakang.
__ADS_1
“Xue Ying, kembalilah!”
Setelah Elang Salju masuk ke dalam udara berwarna ungu, kembali ke Dunia Roh. Jing Yang menghampiri Qiao Xi, Mei Hua dan Qiu Mei.
“Saudara Jing Yang, kau berhasil mencabutnya...” Mei Hua menghampiri Jing Yang dengan wajah yang penuh dengan kekaguman.
Jing Yang tersenyum dan menatap wajah gadis muda yang terlihat menatap wajahnya dengan mata yang berbinar.
‘Kenapa mereka bertiga menatapku seperti itu...’ Jing Yang menutup mata kirinya, tetapi bagi ketiga gadis muda yang sedang menatapnya itu adalah kedipan.
‘Tadi dia mengedipkan matanya padaku? Eh? Apa ini berarti Saudara Jing Yang...’ Mei Hua salah tingkah, bahkan Qiu Mei merah padam wajahnya.
“Saudara Jing Yang, sepertinya kau dipanggil.” Qiao Xi menunjuk Ye Xiaoya, kemudian dia menatap Mei Hua dan Qiu Mei setelah Jing Yang pergi.
“Qiao Xi, sudahlah. Lagipula kita terikat aturan Istana Bunga Persik, selama kita bertiga belum menjadi Tetua Bunga Persik, setidaknya kita bertiga pernah memiliki pengalaman jatuh cinta pada orang yang sama.”
Perkataan Mei Hua membuat Qiao Xi dan Qiu Mei tersipu malu, mematung menatap punggung Jing Yang.
___
Ye Xiaoya mengamati senjata dan beberapa pakaian sutra yang termasuk dalam jenis pusaka. Disampingnya terlihat Jing Yang sedang mendengarkan penjelasan Sheng Long yang berniat mengangkat dirinya menjadi Tetua Naga Muda.
Saat Sheng Long dan Jing Yang berbincang, tiba-tiba Ye Xiaoya mengambil sebuah baju berwarna merah muda yang melayang di udara. Kemudian Ye Xiaoya memakainya hingga sinar merah muda terang muncul memenuhi tubuhnya selama lima menitan.
‘Tidak mungkin...’ Sheng Long tersentak. Membuat Jing Yang dan Ye Xiaoya kebingungan.
“Maaf, bukankah Junior Jing Yang adalah muridmu?” Sheng Long bertanya pada Ye Xiaoya dengan wajah yang terlihat bahagia.
“Belum resmi, tetapi Yang‘er akan menjadi muridku setelah dia diangkat menjadi Tetua Naga Muda.” Ye Xiaoya menjawab, dia pikir Sheng Long akan marah padanya karena sembarangan mengambil harta pusaka.
‘Baju yang aku pakai menghilang. Padahal aku hanya ingin mencobanya, tetapi kekuatan yang mengalir ini seperti Pusaka Dewa.’ Ye Xiaoya membatin dan berharap Sheng Long memberikan baju yang telah dia kenakan secara sukarela.
“Zirah Dewi Malam adalah baju yang baru saja kau kenakan. Konon hanya seorang perempuan yang menjadi pendamping hidup pria yang dapat memegang Pedang Dewa Naga, yang dapat mengenakan baju tersebut.” Sheng Long menjelaskan sesingkat mungkin dan langsung membuat Ye Xiaoya dan Jing Yang terperanjat kaget.
“Tidak, tidak, tidak. Pasti anda ini membual bukan? Zirah Dewi Malam? Aku menjadi istri dari muridku ini? Bercanda juga ada batasnya, Senior Sheng!” Ye Xiaoya menghela napas panjang, lalu menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Aku tidak dengar apapun, aku tidak dengan apapun. Ini tidak mungkin. Aku akan menikahi Yueyue. Saat itu kami berdua telah berjanji...” Jing Yang tanpa sadar menggumam pelan dan terlihat mempercayai perkataan Sheng Long karena kepolosannya.
Ye Xiaoya yang mendengar Jing Yang menggumam sendiri segera menaikkan alisnya, ‘Kakek tua beraninya kau bicara sembarangan! Dia telah membuat Yang‘er syok!’
“Sudahlah, lebih baik kita mulai pertemuan dan pengangkatan Tetua Naga Muda.” Ye Xiaoya membelai rambut Jing Yang dan menatap Sheng Long.
“Baiklah, aku juga akan mengangkatmu sebagai Tetua Sembilan Naga.” Sheng Long tersenyum tipis sambil menatap Ye Xiaoya sebelum berjalan di depan mereka.
“Yang‘er, kenapa kau mempercayai perkataannya. Lupakan saja, dan kita bergegas. Bukankah kau mengkhawatirkan kondisi Nenekmu di Istana Bunga Persik?” Ye Xiaoya menarik tangan Jing Yang secara paksa.
“Benarkah? Jadi perkataan Kakek Sheng tidak sungguhan?” Jing Yang kembali ceria dan menatap Ye Xiaoya.
“Hah? Kau ini polos sekali. Lagipula aku ini tidak akan menikah. Suamiku adalah dua pedang yang telah menemani pertempuranku dari waktu ke waktu.” Ye Xiaoya menjawab, dan merasa sedikit kesal melihat ekspresi polos Jing Yang.
“Syukurlah...” Ucap Jing Yang sambil menghela napas panjang.
“Syukurlah?” Ye Xiaoya menaikkan alisnya kembali.
“Aku pikir perkataan Kakek Sheng adalah sungguhan. Lagipula umur murid dan Guru terpaut jauh. Dan Guru walaupun terlihat muda dan cantik, tetapi tetap saja sudah tua, berumur dua puluh dua tahun...” Jing Yang berjalan mendahului Ye Xiaoya yang melepaskan pegangan tangannya. Wajah Jing Yang terlihat lega, tetapi tidak dengan Ye Xiaoya yang terlihat marah.
Tangan Ye Xiaoya menjitak kepala Jing Yang dan langsung menatap Jing Yang penuh tatapan intimidasi.
“Aku tua?”
Jing Yang berkeringat dingin dan menggelengkan kepalanya.
“Semenjak kau kerasukan aura hitam itu, kau mulai berani mengatakan hal yang membuatku kesal. Selanjutnya jika kau masih berkata seperti barusan kepadaku, maka aku akan membuatmu menjadi daging bakar.”
Ye Xiaoya berjalan mendahului Jing Yang.
‘Guru sangat menakutkan.’ Jing Yang membatin dan mengikuti Ye Xiaoya dari belakang.
‘Anak manusia, kau harus lebih sopan pada Gurumu, walau dia bersikap seperti gadis muda. Tetapi dia lebih tua darimu.’ Roh Sang Hitam terkekeh pelan di alam bawah sadar Jing Yang.
Jing Yang melangkahkan kakinya menuju Paviliun Pedang Naga. Menuju pertemuan dan pengangkatan Tetua Naga Muda setelah sekian lamanya.
__ADS_1