
Di suatu tempat di tengah hutan belantara Jing Yang berjalan tanpa arah selama satu minggu. Di bawah derasnya hujan dia tidak sadar telah masuk ke sarang Hewan Buas dan Binatang Iblis.
Tempat yang gelap bernama Hutan Kegelapan merupakan wilayah yang sedang dia pijak.
“Pandanganku gelap... Tidak, sejak awal dunia tetaplah sama. Langit yang kutatap tetaplah gelap. Hanya saja selama ini aku telah salah paham. Yang kuat menindas yang lemah. Dunia busuk yang mudah ditebak. Andai aku memiliki kekuatan yang besar, maka aku dapat melindungi mereka...” Jing Yang menyandarkan tubuhnya pada pohon dan menatap tidak peduli puluhan Hewan Buas yang mengepungnya. Bahkan ketika ada puluhan pendekar sedang bertarung di dekat tempat dia bersandar juga tidak dia pedulikan.
___
Hari yang gelap, di bawah guyuran hujan terlihat dua orang berlari menapaki tanah yang basah.
“Kakek Que! Kita tidak bisa membiarkan Guru sendirian!” Gadis yang sedang dalam masa pertumbuhan enggan melangkahkan kakinya.
“Yueyue! Disana ada tiga pendekar bumi! Guru pasti memiliki rencana!” Gadis berambut hitam keperakan menarik tangan adik seperguruannya dan terus berlari.
Raut wajah kedua gadis ini terlihat mengkhawatirkan seseorang.
“Mau lari kemana? Nona muda?”
Tiba-tiba ada aura pembunuh yang mendekat. Puluhan pria yang merupakan pendekar raja datang bersama lima pendekar kaisar.
“Guru! Lepaskan aku Kakek Que! Jika aku kehilangan Guru, maka aku akan menyesal!” Gadis berambut hitam yang memiliki paras cantik menatap tajam puluhan pendekar yang mengepungnya.
“Kulit kalian berdua seputih salju. Gadis muda seperti kalian akan matang jika menuruti perkataan kami.”
“Guru kalian pasti telah menjadi mainan di tangan Senior Xun.”
Raut wajah kedua gadis ini memburuk setelah mendengar perkataan para pendekar dihadapan mereka.
“Yueyue, aku akan membuka jalan. Kau pergilah dan kembali ke Pegunungan Suxue!” Gadis yang berkata tak lain adalah Xue Que dari Istana Bulan Biru.
__ADS_1
“Kakak Que, aku tidak ingin menyesal! Aku tidak ingin kehilangan seseorang berharga lagi!” Gadis yang menjawab adalah Xue Bingyue.
Xue Que melepaskan aura pembunuh untuk mengulur waktu, “Apa kau ingat nama orang yang paling berharga dihidupmu itu?”
Raut wajah Xue Bingyue merasa menyesal, tetapi dia tidak mengingat mengapa dirinya bisa berkata demikian.
“Drama yang menyedihkan. Bukankah kalian berdua kedinginan? Lebih baik kita saling menghangatkan!” Satu pendekar kaisar melepaskan pukulan yang dipenuhi tenaga dalam. Xue Que segera menyambutnya.
“Sebelum pendekar suci datang! Pergi!” Xue Que berteriak pada Xue Bingyue, lalu memainkan pedangnya dengan gemulai.
Xue Bingyue tidak menggubris perkataan Xue Que, melainkan membuka telapak tangannya dan menatap tajam puluhan pendekar yang menyeringai menatapnya.
“Yueyue! Kenapa kau sangat keras kepala!” Xue Que tidak habis pikir melihat Xue Bingyue yang biasanya tenang bertindak sedemikian rupa. Wajar saja, walau ingatannya menghilang tetapi tubuh dan perasannya masih sama.
Perasaan tidak asing akan kehilangan seseorang membuat Xue Bingyue diam dan tidak banyak berbicara ketika Xue Que memarahinya.
Xue Que menggelengkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya, lalu dia memainkan pedangnya lebih lincah sebelum bertukar belasan jurus dengan pendekar yang dia hadapi. Satu serangannya yang mematikan mengakhiri nyawa lawannya.
Xue Que memang telah mencapai pendekar putih, sementara Xue Bingyue telah mencapai pendekar kaisar. Tetapi pengalaman antara mereka dan orang-orang yang mengepung sangat berbeda. Selain itu ada puluhan pendekar putih dan pendekar suci yang sedang bertarung melawan Hewan Buas jauh di dalam Hutan Kegelapan.
Xue Bingyue mengerti jika Xue Que hendak memarahinya, tetapi saat ini dia mengkhawatirkan keadaan Xue Rong.
Ketika empat pendekar kaisar datang menyerangnya, Xue Bingyue mengayunkan pedangnya. Setiap tebasan pedang lawannya mengincar tubuhnya, maka serpihan es mulai bergerak melindunginya.
“Gadis ini?!” Salah satu pendekar kaisar mengangkat alisnya karena merasa Xue Bingyue memiliki tubuh istimewa.
“Seni Napas Dewi Naga Salju!” Xue Bingyue mengolah pernapasan sebelum bergerak dengan lugas dan melepaskan tebasan dalam ke tubuh empat pendekar kaisar, “Salju Yang Terhempas!”
Darah keluar dengan derasnya dari dada empat pendekar kaisar yang terkena tebasan pedangnya, sebelum darah itu membeku dan berjatuhan disekitarnya.
__ADS_1
Pemandangan ini membuat puluhan pendekar raja menjaga jarak. Namun mereka langsung dihabisi satu demi satu oleh Xue Que.
Xue Que dan Xue Bingyue memang berhasil mengatasi orang yang mengepung mereka, tetapi semua tak berlangsung lama karena satu pendekar suci datang dengan kecepatan tinggi ke arah mereka.
Satu tebasan tajam yang membentuk pusaran angin membuat tubuh Xue Bingyue dan Xue Que terhempas jauh ke belakang.
Xue Que menabrak pohan, sementara tubuh Xue Bingyue menabrak seseorang yang sedang bersandar di pohon.
___
“Aku tidak menyangka Partai Hewan Buas juga mengincar Reruntuhan Kristal. Bukankah lebih baik kita bekerjasama?”
Di tengah guyuran hujan yang deras terlihat empat pendekar bumi saling berhadapan. Orang yang berbicara dan memegang golok adalah Xun Ji dari Pulau Iblis Tengkorak.
“Salah satu dari Lima Jari Iblis, Xun Ji. Walau kita sama-sama bergerak di dunia yang gelap. Tetapi aku tidak akan bekerjasama dengan kalian! Penjahat sepertiku punya prinsip sendiri.” Salah satu dari lima anggota Parta Hewan Buas bernama Sheng Yuwen menjawab sengit.
Sementara pria paruh baya yang memegang pedang masih mengamati pertarungan, sedangkan perempuan yang telah melakukan pertarungan sengit berusaha menjauh karena mengkhawatirkan kondisi kedua muridnya.
Perempuan itu tak lain adalah Xue Rong. Saat Xue Rong hendak melompat ke atas dan terbang dengan kecepatan tinggi, pria paruh baya langsung menyerangnya.
“Aku tidak akan melepaskan perempuan secantik dirimu ini! Aku akan membawamu ke Pedang Tiga Raja!”
Telapak tangan kanan Xue Rong membuka. Api menyala, namun seketika redup. Xue Rong segera mengalirkan tenaga dalam berjumlah besar sebelum tapak tangan kirinya menangkis tebasan tajam pria itu.
Dua pria yang berbincang setelah bertarung sengit menatap ke arah Xue Rong. Pikiran mereka sama, perempuan cantik yang memakai gaun putih itu memiliki tubuh yang menjadi idaman setiap laki-laki.
Melihat tatapan tiga pendekar yang berbeda kelompok menatapnya penuh nafsu, Xue Rong melepaskan hawa dingin yang besar dari tubuhnya. Sekejap guyuran hujan berubah menjadi pusaran angin bercampur salju sebelum berubah menjadi badai yang menghilangkan jarak pandang.
“Badai Salju!”
__ADS_1