Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
Arc 5 - Kain Putih DWP 188 - Bai Xianlin


__ADS_3

“Kenapa selama ini aku bisa melupakannya?”


Xue Bingyue meneteskan air mata setelah mendapatkan seluruh ingatannya kembali. Gadis kecil itu memandang seluruh pegunungan bersalju dimana dirinya tidak menemukan keberadaan sosok Jing Yang.


“Yangyang, maafkan aku...” Mengingat ekspresi Jing Yang saat mengetahui dirinya tidak dapat mengingat pemuda itu membuat tubuh Xue Bingyue lemas dipenuhi rasa bersalah.


Kini setelah mendengar cerita Xue Que, akhirnya Xue Bingyue dipenuhi perasaan bersalah kepada Jing Yang. Selain tidak dapat melindungi pemuda itu saat di Pulau Salju Rembulan, Xue Bingyue membuat Jing Yang menanggung semuanya sendirian.


“Yangyang, kali ini giliranku. Sama seperti dimalam itu, kau adalah tujuanku dan kau adalah orang yang menyelamatkan hidupku.” Bersamaan dengan itu Xue Bingyue memejamkan matanya, air mata terakhirnya menetes singkat sebelum kedua telapak tangannya membentuk es dan melukai jari jempolnya.


“Bulan tidak bisa bersinar sendirian... Aku mengerti itu dan aku akan melengkapimu...” Setelah itu Xue Bingyue melompat kebawah dari atas pegunungan. Gadis kecil itu jatuh dengan kecepatan tinggi sebelum melayang diudara.


“Yueyue?” Xue Que yang mengawasi Xue Bingyue terkejut melihat Xue Bingyue jatuh dari ketinggian. Dia mengira Xue Bingyue hendak bunuh diri, tetapi gadis kecil itu tidak melakukannya.


“Kakak Que, aku sudah baik-baik saja.” Xue Bingyue tersenyum. Jelas senyuman itu tidaklah manis terasa hambar dan Xue Que mengetahui itu.


“Yueyue, apa kau baik-baik saja?” Xue Que bertanya dan menatap tajam Xue Bingyue.


Xue Bingyue mengalihkan pandangannya, “Kakak Que, apa maksudmu?”


Xue Que mendengus kesal, “Kau! Jangan pikir aku tidak mengetahuinya! Keluarkan semua kesedihanmu itu, tidak perlu menahannya! Tidak ada orang yang mengetahui kau menangis disini!”


Xue Que memeluk tubuh Xue Bingyue dan mengelus belakang kepala juniornya itu. Kehangatan Xue Que membuat Xue Bingyue menangis keras dan meraung meluapkan seluruh kesedihannya.


Xue Bingyue memeluk tubuh Xue Que dan mengekspresikan segala kesedihannya lewat tangisannya, mengekspresikan suasana hatinya lewat suaranya.


Xue Bingyue butuh waktu beberapa saat untuk kembali tenang. Dengan Xue Que disampingnya, akhirnya Xue Bingyue dapat mencurahkan segala kesedihannya.


“Terimakasih Kakak Que...” Xue Bingyue menyeka air matanya dan tersenyum, “Kita sudah saling mengenal sejak lama. Aku beruntung memiliki seorang senior sepertimu.”


“Hentikan, Yueyue. Aku sendiri merasa bersyukur memiliki junior sepertimu.” Xue Que tertawa pelan dan mengusap rambut Xue Bingyue.


Lalu Xue Que memegang pipi Xue Bingyue dan menariknya lembut, “Tersenyum. Kau lebih manis saat tersenyum. Kau ini sangat cantik, Yueyue. Aku yakin Saudara Jing akan senang melihatmu tersenyum.”


“Benarkah?” Ekspresi Xue Bingyue membuat Xue Que kembali tertawa.

__ADS_1


“Siapa yang tahu.” Xue Que menggelengkan kepalanya lalu menambahkan, “Yueyue, Saudara Jing itu populer dikalangan perempuan. Aku yakin saat mencarimu, dia sudah memiliki banyak kenalan perempuan.”


Xue Bingyue mengembungkan pipinya dan mencubit lengan Xue Que cukup keras hingga membuat gadis muda itu menjerit.


“Dia adalah orang yang mengagumkan. Jadi wajar banyak orang yang menyukainya.” Singkat Xue Bingyue menjawab membuat Xue Que menghela nafas panjang.


Saat Xue Bingyue dan Xue Que mengobrol, gadis cantik datang menghampiri mereka.


“Que‘er, Yueyue. Mendekatlah.” Gadis cantik itu tidak lain adalah Xue Rong. Segera Xue Bingyue dan Xue Que memberi hormat pada Xue Rong.


“Guru...” Xue Que melihat ekspresi sedih Xue Rong. Dia peka dan memahami perasaan dua orang yang dekat dengannya.


Sementara Xue Bingyue menatap Xue Rong penasaran. Tak lama gadis cantik itu memeluk tubuhnya dan Xue Que begitu erat.


“Yueyue, maafkan aku...” Xue Rong terisak. Suara yang terdengar begitu sedih itu membuat Xue Bingyue menebak-nebak.


Xue Rong menceritakan kejadian di Menara Dewa secara perlahan dan membuat Xue Bingyue tersenyum kecut.


Namun Xue Rong tidak menceritakan pada Xue Bingyue orang yang membunuh Xue Qinghua adalah kakak Jing Yang yang bernama Jing An. Gadis cantik itu sepakat dengan Selendang Nafsu akan menyembunyikan kebenaran ini dari Xue Bingyue.


Xue Bingyue menenangkan dirinya. Dalam hati dia menyalakan semua kejadian ini pada dirinya. Tetapi dia sadar Jing Yang tidak ingin semua terjadi. Xue Bingyue harus tegar dan tidak menyia-nyiakan perjuangan Jing Yang.


“Guru, aku mengerti.” Xue Bingyue berkata singkat dan mengepalkan tangannya, “Kali ini giliranku menyelamatkannya.”


Xue Bingyue memantapkan tekadnya untuk meninggalkan Istana Bulan Biru dan berkelana. Tujuannya adalah Pulau Iblis Tengkorak. Berbeda dengan Jing Yang yang mengerti perbedaan besar kekuatan pembunuh orang tuanya, Xue Bingyue larut dalam emosi dendamnya.


“Yue‘er, apa yang ingin kau lakukan?” Saat Xue Rong melepaskan pelukannya pada Xue Bingyue, Selendang Nafsu muncul.


“Kau...” Xue Bingyue mengingat wanita ini saat ingatannya membeku. Dia adalah orang yang bersama Xue Qinghua.


“Aku... Ingin...” Xue Bingyue mengepalkan tangannya dengan erat dan hendak melanjutkan perkataannya namun Selendang Nafsu tertawa pelan.


“Jangan melakukan tindakan bodoh, Yue‘er. Menurutmu untuk apa dia berjuang? Untukmu! Jika kau berpikir semua ini adalah kesalahanmu, maka itu benar apa adanya!” Selendang Nafsu menatap tajam Xue Bingyue dari balik topengnya.


“Senior Bai!” Xue Rong menatap Selendang Nafsu tidak percaya.

__ADS_1


“Tenang, aku mengerti.” Selendang Nafsu membuang topengnya dan memperlihatkan wajahnya yang masih cantik diusianya yang tidak lagi muda.


“Nenekmu menitipkanmu padaku.” Selendang Nafsu mengelus kepala Xue Bingyue dan menatap hangat kedua bola mata gadis kecil itu.


“Kau bisa memanggilku Bibi Xianlin. Namaku Bai Xianlin.” Selendang Nafsu memperkenalkan dirinya pada Xue Bingyue.


“Bibi Xianlin, apa yang harus aku lakukan?” Xue Bingyue memeluk tubuh Bai Xianlin tanpa sadar karena wanita itu mengingatkannya pada mendiang Ibunya.


“Pertama-tama tetaplah hidup. Jadi kita akan makan terlebih dahulu setelah itu kita bicarakan yang lainnya.” Bai Xianlin dengan enteng menjawab membuat Xue Bingyue heran.


Xue Rong tersenyum melihat Bai Xianlin yang beberapa hari ini membuatnya merasa kagum pada wanita itu.


“Perkataan Senior Bai ada benarnya.” Xue Rong menatap Xue Bingyue dan Xue Que lalu kembali berkata, “Lebih baik kita makan terlebih dahulu sebelum membicarakan hal yang penting.”


“Guru?” Xue Que merasa aneh melihat kepribadian Xue Rong barusan. Namun dia mengerti Xue Rong menemukan pelajaran berharga dalam perjalanannya ke Negeri Kabut Tersembunyi.


“Adik Rong, bukankah sudah aku katakan untuk memanggilku Kakak Xianlin?” Bai Xianlin mencubit pipi Xue Rong dan terlihat gemas memarahi sosok Matriark Istana Bulan Biru itu.


Xue Rong tertawa pelan, “Maafkan aku, Senior-”


“Ah, kau mengatakannya lagi.” Bai Xianlin mendengus kesal, “Lagipula aku merasa tidak kalah cantik darimu, jadi kau harus memanggilku Kakak Xianlin.”


Xue Que memperhatikan Bai Xianlin dengan seksama. Memang benar Bai Xianlin terlihat seperti seorang gadis berumur sembilan belas tahun walau umurnya yang sebenarnya adalah tiga puluh satu tahun.


Xue Que menelan ludah melihat bagian dada Bai Xianlin, “Kencang, padat dan besar...”


“Hah?” Xue Rong dan Bai Xianlin menoleh kearah Xue Que.


“Ada apa Que‘er?” Xue Rong bertanya pada Xue Que.


“Ah, itu... Aku tidak mengatakan apapun. Hanya saja aku ingin memakan semangka yang besar hehe...” Xue Que gelagapan menjawab.


Xue Bingyue berjalan disamping Xue Que sambil memperhatikan Bai Xianlin. Bagi Xye Bingyue sosok Bai Xianlin membuat suasana sedihnya menghilang.


Entah apa yang direncanakan Bai Xianlin, tetapi Xue Bingyue akan mendengarnya sendiri sebelum memutuskannya.

__ADS_1


__ADS_2