
Suara kicauan membangunkan Hua Quin yang tertidur pulas dan bermimpi indah. Terlihat diranjangnya ada Jing Yang yang masih bermeditasi. Hua Quin berniat membangunkan Jing Yang namun dia mengurungkan niatnya.
‘Sebaiknya aku mandi...’ Hua Quin berjalan menuju kamar mandi dengan langkah kaki penuh gembira.
Sedangkan Jing Yang sedang fokus memulihkan tenaga dalam sampai mengabaikan keberadaan Hua Quin.
Setelah mandi dan memakai pakaian terbaiknya, Hua Quin menemukan Jing Yang sudah berdiri didekat pintu kamarnya. Hua Quin berjalan mendekati Jing Yang dan tersenyum manis kearahnya.
“Bagaimana aku memanggilmu?” Hua Quin bertanya karena Jing Yang lebih muda darinya.
“Adik Yang?” Hua Quin menaruh jari telunjuknya di bibirnya dan terlihat seperti orang yang sedang berpikir.
“Hmm...” Jing Yang menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar ruangan menuju lantai dua yang merupakan lantai teratas tempat dimana ruangan yang disiapkan Chu Yui untuk sarapan pagi dan berkumpul bersama.
“Bocah monster, semalam aku mendengar teriakan dari bawah-” Mulut Chu Yui berhenti berbicara saat melihat gadis yang dibelakang Jing Yang berjalan.
“Nona Quin berjalan...” Setengah tidak percaya Chu Yui melihat Hua Quin berjalan. Menurutnya kedua kaki Hua Quin yang lumpuh sulit untuk disembuhkan.
“Bagaimana mungkin?” Chu Yui menatap serius Hua Quin yang tersenyum kearahnya.
“Bibi Yui, panggil aku Quin‘er. Bukankah aku selalu bilang begitu padamu.” Hua Quin cemberut karena Chu Yui selalu bersikap formal padanya.
Chu Yui mendekati Hua Quin dan memegang kedua lengan gadis itu sambil memperhatikan wajah Hua Quin yang berseri-seri.
“Nona- Quin‘er, siapa menyembuhkanmu?” Chu Yui bertanya, kemudian dia melihat kearah Jing Yang saat Hua Quin menunjuk pemuda itu.
“Dia. Dia yang menyembuhkanku.” Hua Quin tersenyum sambil menunjuk Jing Yang.
“Bocah monster, apakah itu benar?” Chu Yui melepaskan pegangan tangannya pada lengan Hua Quin dan menatap Jing Yang tajam.
“Ya, semalam aku mengobati Kakak Quin.” Jing Yang menjawab santai dan menatap hidangan sarapan pagi.
Jing Yang duduk disamping Xue Bingyue dan mengambil sambal lalu memasukkannya kedalam mangkuk sup hangat yang telah dibuat Hua Minha.
“Yangyang, bukankah kau menaruh sambal terlalu banyak?” Xue Bingyue menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Jing Yang. Memang Jing Yang sangat menyukai makanan pedas, tetapi menurut Xue Bingyue sambal yang ditaruh Jing Yang sangat berlebihan.
__ADS_1
“Aku menyukai makanan pedas. Jika tidak pedas, maka makanan akan terasa hambar saat aku mengunyahnya. Daripada itu, apa kau tidak mencobanya?” Jing Yang tersenyum dan menawarkan semangkuk sup hangat pada Xue Bingyue.
Xue Bingyue menggelengkan kepalanya menolak tawaran Jing padanya, “Tidak, aku tidak ingin mencobanya. Singkirkan itu dariku.”
Jing Yang tertawa pelan sebelum mengambil sayap ayam dan menaruhnya kedalam sup hangat, kemudian dia menyantap sarapan terlebih dahulu sebelum yang lainnya.
Chu Yui melihat sikap Jing Yang menggelengkan kepalanya dan berkata, “Apa kau tidak ingin sarapan pagi bersama?”
Jing Yang menggelengkan kepalanya dan tidak berbicara. Chu Yui menghela nafas melihat sikap gemas Jing Yang seperti anak kecil.
“Semalam aku mendengar suara teriakan dibawah. Keras sekali. Apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan, Yang‘er?” Bai Xianlin menguap setelah bertanya demikian.
Jing Yang menghabiskan semangkuk sup hangat sebelum menjawab, “Seperti yang Bibi Xianlin lihat. Aku mengobati kaki Kakak Quin yang lumpuh.”
‘Aku sudah menduganya...’ Xue Bingyue memejamkan matanya dan mendengar pembicaraan antara Jing Yang dan Bai Xianlin.
Tak lama satu demi satu orang datang ke ruang makan dan sarapan pagi bersama. Jing Yang sendiri masuk kedalam kamar dan memfokuskan diri untuk memulihkan tenaga dalamnya.
‘Dengan kemampuanku yang sekarang, aku percaya diri bisa membunuh sepuluh ribua pasukan dari Ma.' Jing Yang mengunci pintu kamar dan menatap telapak tangan kanannya.
____
Tak terasa dua hari telah berlalu. Hua Minha dan Hua Quin meminta bantuan pada penduduk asli Rongma bersama Jing Yang. Seluruh penduduk bahu-membahu membuat busur dan panah, sedangkan sebagian memfokuskan untuk membenahi benteng yang hancur menggunakan kayu.
“Aku telah melakukan dosa besar karena telah mengajak kalian menjadi pembunuh. Aku tidak memungkiri itu, tetapi aku bisa melihat tekad kalian hari ini...” Jing Yang berdiri diatas benteng dan menatap kebawah, dimana seluruh penduduk Rongma bersatu dan berkumpul mendengarkan ucapannya.
“Kita pertahankan Rongma dan hancurkan pasukan dari Ma!” Saat Jing Yang berseru, seluruh penduduk Rongma ikut berseru dan berteriak.
Teriakan semangat menggema ke segala penjuru Rongma. Jing Yang tersenyum mendengarnya dan membalikkan badannya sambil menciptakan bayangan dirinya.
“Awalnya aku akan menggunakan Bibi Yui dan Yueyue sebagai pendekar utamanya, tetapi aku tidak menyangka kau akan datang Bibi Xianlin. Aku memiliki tiga pendekar utama dan bantuan lainnya. Ini akan memudahkan pergerakanku untuk mengamati kekuatan tempur musuh sebelum mengambil tindakan.” Jing Yang menciptakan seribu pedang tak kasat mata yang berterbangan diudara lalu menyuruh bayangan dirinya untuk memantau pergerakan pasukan dari Kekaisaran Ma.
“Yang‘er, kami semua telah siap dan menunggu perintahmu.” Bai Xianlin sendiri tidak menyangka akan terlibat dengan pertempuran ini.
Dalam perjalanan menuju Kota Xuedong, Bai Xianlin sempat terlibat bentrok dengan anggota Tiga Tengkorak Abadi, namun dirinya berhasil melarikan diri berdama Shi Surao. Sekarang Shi Surao berada dibawah perlindungan Murong Qiaomi, sedangkan dirinya memutuskan untuk ikut campur dengan pemerintahan Jing Yang.
__ADS_1
“Matahari sudah terbit dan mereka belum menampakkan diri...” Jing Yang duduk bersila sambil memejamkan matanya dan mengendalikan bayangan dirinya.
Bayangan Jing Yang terbang dengan kecepatan tinggi menapaki udara menuju arah matahari terbit. Dalam kurun waktu satu jam, akhirnya bayangan Jing Yang menemukan pasukan Kekaisaran Ma dalam jumlah besar.
Sesuai perkiraan Chu Yui jumlah pasukan Kekaisaran Ma berjumlah sepuluh ribu. Selain itu ada beberapa pendekar yang kemampuannya hampir setara dengannya.
“Ada tiga orang Pendekar Langit yang sudah berada dipuncak. Selain itu aku melihat beberapa pendekar yang membawa bendera Lentera Iblis Tunggal, sepertinya mereka juga Tetua Lentera Iblis Tunggal.” Jing Yang melihat semuanya dari bayangan dirinya.
Saat bayangannya hendak terbang lebih tinggi, tiba-tiba sebuah tebasan yang memenggal kepalanya datang dari atas. Sebelum lenyap tak berbekas, Jing Yang melihat seorang pria paruh baya yang kemampuannya telah mencapai Pendekar Roh.
“Aku baru saja menembus Pendekar Roh dan bertemu dengan tikus kecil sialan.” Pria paruh baya tersenyum menyeringai.
Jing Yang menghela nafas, “Bayanganku telah dikalahkan...” Jing Yang berdiri lalu kembali berseru.
“Semuanya bersiap! Jika diantara kalian ragu, maka mundurlah sekarang juga! Dan siapa yang telah membulatkan tekad! Tajamkan pedang dihati kalian untuk mempertahankan kemerdekaan Rongma!”
Teriakan Jing Yang membuat para penduduk Rongma bersemangat. Entah mengapa seluruh penduduk Rongma merasa tidak akan kalah saat Jing Yang menjadi pemimpin mereka semua.
“Akhirnya mereka tiba.” Xue Bingyue tersenyum tipis, “Apa kita bisa memulainya, Yangyang?”
Jing Yang tersenyum dan mengangkat tangannya. Serentak penduduk Rongma mengarahkan busur mereka kearah langit dan menunggu perintah Jing Yang selanjutnya.
Terlihat bendera kebesaran Kekaisaran Ma serta Lentera Iblis Tunggal datang dari arah matahari terbit diiringi suara hentakan tanah yang menggema.
“Serang!” Jing Yang akhirnya berseru memulai pertempuran di Rongma.
Dalam seketika anak panah berterbangan diudara, Jing Yang menggerakkan seribu pedang tak kasat mata untuk mengetahui kemampuan tempur musuhnya.
“Bibi Yui, ada empat orang yang harus diwaspadai. Apa mereka berempat merupakan orang yang melukai Kakak Quin?” Jing Yang bertanya.
Chu Yui menajamkan matanya dan melihat dua dari empat orang yang dimaksud Jing Yang melesat dengan kecepatan tinggi kearah Rongma.
“Tiga dari empat orang itu adalah orang yang melukai Quin‘er. Tidak ada Iblis Kembar Mematikan Ren Xing dan Ren Xin disana.” Chu Yui menjelaskan kemudian bertanya kepada Jing Yang.
“Jadi siapa yang akan menghadang dua orang disana?” Chu Yui menunjuk dua orang yang sudah mempersingkat jaraknya dengan Rongma.
__ADS_1
“Yueyue, Bibi Xianlin, kalian berdua maju dan hadapi dua orang itu.” Jing Yang sendiri memusatkan perhatiannya untuk melakukan serangan tidak terduga.