Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 253 - Kisah Pilu Hua Quin


__ADS_3

Setelah Ho Xing menyandera Hua Minha, Hua Quin hidup sengsara dan berada dalam perlindungan penduduk Rongma. Namun setelah empat tahun Rongma dikuasai Lentera Iblis Tunggal, Ho Xing datang dengan sendirinya ke Rongma dan mengatakan kepada penduduk Rongma agar menyerahkan dirinya.


Tidak ada penduduk Rongma yang mau menyerahkan Hua Quin dan pada akhirnya Ho Xing menjelaskan jika mulai detik itu juga Hua Minha bukan melayaninya saja melainkan seluruh petinggi Lentera Iblis Tunggal.


Mendengar ucapan Ho Xing tentu saja Hua Quin naik pitam. Alih-alih berniat membunuh Ho Xing yang menghabiskan malam dengan istri para buruh di Rongma, justru Hua Quin masuk dalam perangkap Ho Xing.


“Tubuhmu itu tidak kalah dengan Ibumu. Malam ini sepertinya aku beruntung, karena kebetulan aku belum bermain dan hanya menonton pertunjukan orang-orang kepercayaanku.” Ho Xing menahan pisau yang diarahkan pada lehernya lalu meraba tubuh Hua Quin.


“Patriark Ho, kita adakan pesta hingga pagi.” Terlihat lima pria kepercayaan Ho Xing mengelilingi Hua Quin.


Berniat melarikan diri, Hua Quin justru dilumpuhkan oleh Ho Xing. Tubuh Hua Quin lumpuh dibagian kakinya membuat Hua Quin dengan mudah digerayangi tubuhnya oleh Ho Xing.


“Aku yang pertama, setelah itu kalian.” Ho Xing menggerayangi tubuh Hua Quin yang saat itu baru berumur tujuh belas tahun dengan buas.


“Lepaskan aku! Hiks... Hiks... Tolong-” Pipi Hua Quin ditampar Ho Xing.


“Berteriaklah! Aku ingin mendengar suara teriakanmu!” Ho Xing tersenyum lebar membuat Hua Quin bergidik ketakutan.


“Jangan... Jangan... Jangan mendekat!” Hua Quin hendak melahirkan diri namun kedua tangannya dipegang oleh kedua pria yang bersama Ho Xing.


“Ah... Ah... Ah... Tolong berhenti...” Hua Quin tidak berdaya dan hanya bisa menangis malam itu. Dirinya digilir secara bergantian oleh Ho Xing dan kelima petinggi Lentera Iblis Tunggal.


Kurang lebih Hua Quin harus menjalani neraka itu selama setahun lebih sebelum akhirnya Chu Yui menyelamatkan dirinya dengan memalsukan kematiannya.


Setelah selesai menceritakan masa lalu pilunya, Hua Quin tersenyum kecut, “Beruntung, aku tidak hamil karena diperkosa mereka. Aku meminta Bibi Yui merahasiakan ini dari Ibu karena aku mengetahui Ibu diperlakukan lebih parah dariku demi melindungiku. Jika dia mengetahui diriku diperkosa, maka pengorbanannya akan sia-sia...”

__ADS_1


Hua Quin terlihat ketakutan dan tatapan matanya redup, “Masa depanku sudah hancur. Kau tidak berhak melanjutkan perjodohan ini, aku sudah tidak suci lagi. Kau seorang kaisar sedangkan aku hanyalah gadis malang yang kehilangan keperawanannya diusia muda.”


Jing Yang memegang kedua tangan Hua Quin dan berkata, “Itu tidak masalah. Aku berjanji padamu, aku akan membunuh orang yang memperkosamu. Satu-satunya agar kau terbangun dari mimpi burukmu adalah dengan menyaksikan kematian mereka yang memperkosamu.”


Mata Hua Quin melebar mendengar ucapan Jing Yang, “Apa kau tidak mendengarku? Dasar bocah polos.”


“Aku sendiri tidak mengetahui perasaanku padamu, tetapi aku tidak bisa membiarkan orang-orang yang membuatmu seperti ini berkeliaran bebas diluar sana.” Jing Yang mengepalkan kedua tangannya setelah itu.


Hua Quin memeluk tubuh Jing Yang dan berbisik, “Sikapmu ini membuatku merasakan cinta pandangan pertama. Kau tahu itu?”


“Boleh aku memelukmu? Mungkin aku sepuluh tahun lebih tua darimu, tetapi aku tidak keberatan jika dimasa depan kau masih menginginkan diriku ini.” Hua Quin tersenyum dan membenamkan wajahnya ke leher Jing Yang.


“Cinta memang penuh misteri. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada seorang bocah berusia tiga belas tahun yang memiliki penampilan seperti pemuda tujuh belas tahun.” Hua Quin tersenyum manis sambil memeluk erat leher Jing Yang.


Jing Yang mengelus kepala Hua Quin tanpa sadar dan keduanya berpelukan dalam waktu yang lama sebelum akhirnya Hua Quin melepaskan pelukannya dan menatap wajah Jing Yang penuh makna.


“Aku akan menyembuhkanmu.” Jing Yang berniat melakukan sebuah metode yang kurang lebih sama seperti yang dia lakukan kepada Xue Bingyue, Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei.


“Ini akan menyakitkan dan semua tergantung dirimu. Jika kau mempercayakan masa depanmu padaku, aku akan menyembuhkanmu.” Jing Yang mempertaruhkan nyawa Hua Quin untuk mengembalikan kelumpuhan pada kedua kaki Hua Quin.


“Apa yang ingin kau lakukan? Terasa menyakitkan, apa maksudmu?” Hua Quin menelan ludah melihat ekspresi serius Jing Yang.


“Tentu saja aku akan menyembuhkanmu. Apa kau ingin melihat matahari dan menari dibawahnya? Aku akan mewujudkannya jika kau menginginkan itu.” Detik itu juga mata Hua Quin berbinar-binar menatap Jing Yang.


Bagi Hua Quin, Jing Yang adalah sosok pria yang menjadi idamannya dan penyelamat hidupnya. Hua Quin menganggukkan kepalanya dan menyerahkan segalanya kepada Jing Yang.

__ADS_1


Jing Yang melepaskan Aura Phoenix dalam jumlah besar dan berniat menyalurkannya pada tubuh Hua Quin. Jika metode ini berhasil, maka Hua Quin akan kembali berjalan dan kelumpuhannya akan sembuh, selain itu Hua Quin akan memiliki Aura Phoenix.


“Ini akan menyakitkan, kau bisa memelukku.” Sekujur tubuh Jing Yang dipenuhi api dan Hua Quin penuh keraguan memeluk Jing Yang. Sebelumnya Hua Quin tidak ragu memeluk Jing Yang, tetapi sekarang dirinya merasa malu sekaligus merasakan debaran kencang yang luar biasa.


Jing Yang memeluk tubuh Hua Quin dan mengalirkan Api Phoenix pada tubuh Hua Quin. Awalnya Hua Quin berteriak kesakitan, namun setelahnya Hua Quin merasakan kehangatan yang luar biasa pada tubuhnya.


Jing Yang melakukan konsentrasi secara penuh dan mengendalikan aura tubuh milik Hua Quin. Aura tubuh milik Hua Quin berwarna merah muda dan itu menyatu sepenuhnya dengan Aura Phoenix.


Proses itu berlangsung sekitar lima jam lebih sebelum akhirnya Hua Quin telah bisa berjalan. Hua Quin tersenyum lebar dan menindih tubuh Jing Yang sambil memeluk tubuhnya erat.


“Terimakasih!” Hua Quin tersenyum bahagia dan meneteskan air matanya karena Jing Yang benar-benar memberikan kesempatan pada dirinya untuk kembali berjalan.


“Kau menindihku...” Jing Yang sendiri sedang mengatur nafasnya. Dia sedikit risih saat gunung kembar Hua Quin menempel didadanya. Hua Quin membaringkan tubuhnya kesamping dan tersenyum.


“Tidurlah disini. Besok kita buat kejutan untuk yang lainnya.” Hua Quin tersenyum manis dan menatap Jing Yang penuh harap.


“Tetapi...” Jing Yang ragu karena bagaimanapun dia belum pernah seranjang dengan perempuan seperti Hua Quin.


“Andai saja kau berumur tujuh belas tahun dan memiliki ketertarikan padaku, aku bersedia malam ini membiarkanmu menyentuhku.” Hua Quin dengan pipi bersemu merah mengatakan itu.


“Aku akan bermeditasi dikamar ini. Sebaiknya kau tidur dan beristirahat.” Jing Yang bangkit duduk dan berniat melakukan meditasi untuk mengembangkan tenaga dalamnya.


Hua Quin mengerti dan memperhatikan Jing Yang yang sedang bermeditasi. Berniat mengobrol, tetapi Hua Quin mengurungkan niatnya karena takut mengganggu Jing Yang.


‘Dia begitu serius...’ Hua Quin tersenyum melihat ekspresi serius wajah Jing Yang.

__ADS_1


‘Sebaiknya aku tidur dan bermimpi indah...’ Untuk sekian lama akhirnya Hua Quin tertidur dengan ekspresi wajah berseri-seri.


__ADS_2