Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 233 - Pendahuluku Tidak Berguna


__ADS_3

Dua bulan menuju Festival Api. Situasi dunia persilatan Kekaisaran Jiang nampak tenang berbeda dari yang dipikirkan orang. Pergerakan aliran hitam tidak lagi terjadi setelah binasanya Bulan Purnama Merah.


Baru pertama kalinya terjadi di Kekaisaran Jiang, seorang Kaisar melatih langsung ribuan prajurit dan pendekar yang bergabung ke dalam Lentera Naga Fajar. Bisa dibilang hanya dalam masa kepemimpinannya selama satu bulan, Jing Yang sudah mendapatkan tempat istimewa dihati para rakyatnya.


Jing Yang sendiri sekarang sedang berada di Kota Xuedong dan sedang berbincang dengan Shen Mi. Sementara Xue Bingyue sedang menjalani ritual pengangkatan Matriark Pulau Salju Rembulan.


Jing Yang sempat menemani ritual tersebut, namun saat ritual khusus dijalankan, Xue Lihua meminta Jing Yang untuk tidak ikut menyaksikan karena ritual pengangkatan yang sebenarnya dijalankan Xue Bingyue adalah cara menguasai Tubuh Yin.


Jing Yang mengerti terlebih saat melihat Xue Bingyue hanya mengenakan kain putih yang melilit tubuhnya begitu juga dengan Xue Lihua dan Xue Liwen. Jing Yang mengisi waktu luangnya dengan berjalan mengelilingi Pulau Salju Rembulan dan berakhir di Kota Xuedong saat melihat Shen Mi sedang berjalan di pesisir pantai bersama Bai Xianlin dan Shi Surao.


Jing Yang terkejut saat mengetahui Rumah Lima Warna dikenal masyarakat luas sebagai lembaga panti asuhan terbesar. Dengan adanya Rumah Lima Warna, sekarang anak yatim-piatu diluar sana tidak lagi merasakan kelaparan atau tidak memiliki tempat.


Jing Yang selalu disinggung soal sosok Shen Mi yang selalu menolak lamaran dari setiap pria. Mendengar ini Jing Yang bisa melihat jelas jika Shen Mi memiliki perasaan yang mendalam padanya.


Mungkin karena penglihatan misterius masa depan yang diperlihatkan Raja Neraka, pendewasaan Jing Yang lebih terlihat.


“Yang Mulia, bagaimana rasanya?” Shen Mi bertanya setelah menyiapkan secangkir teh hangat untuk Jing Yang.


Jing Yang tidak berani menatap wajah Shen Mi dan mengalihkan pandangannya, ‘Saat meminum ini seketika aku merasa tenang dan hangat...’


Shen Mi kebingungan melihat ekspresi Jing Yang yang tidak menatap wajahnya dan memejamkan matanya. Sesekali terlihat Jing Yang tersenyum sendiri.


“Shen- Shen Mi!” Jing Yang tersentak kaget. Pipinya bersemu merah saat kedua matanya melihat penampilan Shen Mi.


“Iya ada apa, Yang Mulia?” Suara lembut dan penuh kesopanan itu kembali bertanya.


“Shen Mi. Bisa panggil aku Jing Yang. Aku lebih menyukai itu dibandingkan Yang Mulia. Rasanya terdengar menggelikan.” Jing Yang kembali meminum teh hangat setelah berkata demikian.


Shen Mi tertawa renyah melihat ekspresi Jing Yang. Wajah pemuda itu adalah wajah yang sangat dia rindukan. Shen Mi mengangguk lembut dan tersenyum manis.


“Tidak, aku ingin memanggilmu dengan sebutan Kaisar Yang. Boleh?” Shen Mi memperhatikan ekspresi wajah Jing Yang yang perlahan mulai terlihat tenang.


“Terserahmu. Jika kau menyukainya, itu tidak masalah.” Jing Yang menghela nafas ringan saat menjawab.

__ADS_1


“Jadi apa aku bisa memanggilmu Nona Shen?” Kini giliran Jing Yang yang bertanya.


“Hmmm, terserah. Jika Kaisar Yang menyukainya, kau bisa memanggilku dengan sebutan itu.” Jawaban renyah Shen Mi membuat Jing Yang kembali menghela nafas ringan.


“Baiklah. Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Shen Mi. Ini mengenai dua Klan di Jiu dan Daejong. Aku mendengar dirimu telah mempekerjakan beberapa Shinobi bukan?” Seketika ekspresi Jing Yang terlihat serius.


“Ya, mereka semua juga membawakan pesan terakhir dari Shogun Jiu untukmu, Kaisar Jiang dimasa depan.” Shen Mi memasang ekspresi serius saat puluhan Shinobi tiba-tiba muncul dibelakangnya.


Jing Yang melepaskan aura pembunuh karena mengira para Shinobi tersebut hendak mencelakai Shen Mi.


“Sentuh dia satu jarimu, aku akan membunuhmu!” Jing Yang tidak main-main saat melepaskan aura pembunuh yang membuat sejumlah Shinobi menunduk lemas.


Wajah Shen Mi memerah melihat ekspresi marah Jing Yang karena kesalahpahaman. Shen Mi berdiri dan tersenyum sumringah karena mengetahui Jing Yang peduli padanya.


“Kaisar Yang, mereka adalah bawahanku!” Shen Mi berdiri dihadapan Jing Yang dan menatap tajam pemuda itu.


“Hah?” Jing Yang sendiri terkejut saat mengetahui seluruh Shinobi terlihat ketakutan. Terlebih ekspresi Shen Mi saat ini membuatnya salah tingkah.


Shen Mi duduk disamping Jing Yang dan menatap pemuda itu penuh makna. Sungguh Shen Mi tidak menyangka Jing Yang akan mengatakan kata-kata yang membuat jantungnya berdegup kencang.


“Hentikan lelucon yang kalian bicarakan. Calon istri? Aku dan Shen Mi belum memiliki ikatan apapun.” Jing Yang menanggapi ucapan Shinobi tersebut tegas.


“Sekarang jelaskan padaku tentang kata-kata terakhir dari Shogun Jiu dan perjanjian kuno Keluarga Jiang, Klan Mangetsu dan Keluarga Lee. Aku ingin mengetahuinya.” Jing Yang segera memberikan perintah pada Shinobi yang sekarang menundukkan dihadapannya.


“Kaisar Yang, ini cerita yang panjang. Kau tidak perlu terburu-buru.” Shen Mi yang menanggapi ucapan Jing Yang, sedangkan para Shinobi terdiam.


Salah satu Shinobi yang berbicara kepada Jing Yang memperkenalkan dirinya sebagai Toramasa. Toramasa menceritakan sejarah panjang Negeri Jiu dan Daejong yang dahulu merupakan bagian dari Kekaisaran Jiang.


Setelah Negeri Jiu dan Daejong terbentuk, Kaisar Jiang terdahulu membuat perjanjian dengan Negeri Daejong dan Negeri Jiu, jika tidak ada gencatan senjata ataupun peperangan dimasa depan yang melibatkan ketiga negeri ini.


Perjanjian itu sirna saat Pulau Iblis Tengkorak yang dipimpin Mao Gang menjajah Negeri Jiu dan Daejong dengan bantuan Tang Mu. Selain itu Mao Gang membunuh Shogun Jiu dan Raja Daejong.


Selain melanggar perjanjian, Kekaisaran Jiang juga tidak melakukan apapun terhadap Pulau Iblis Tengkorak selama puluhan tahun. Bahkan dari generasi ke generasi tidak ada hubungan kerjasama dengan Negeri Jiu dan Negeri Daejong.

__ADS_1


“Sepertinya para pendahuluku sangat tidak berguna.” Jing Yang menanggapi ucapan Toramasa.


“Benar sekali, Kaisar.” Toramasa tanpa sadar menyahuti ucapan Jing Yang.


“Maafkan aku, Kaisar. Aku tidak bermaksud-”


Jing Yang mengangkat tangannya, “Tidak apa, lagipula itu semua adalah faktanya. Aku sebagai Kaisar Jiang akan menebus kesalahan para pendahuluku.”


Shen Mi mengangkat alisnya mendengar Jing Yang berkata demikian. Pemuda disampingnya ini sudah berbeda dari yang pertama kali dia ingat. Sekarang Jing Yang terlihat lebih berwibawa bahkan tatapan dinginnya yang sesekali terlihat membuat jantung Shen Mi semakin berdebar kencang.


“Perjanjian kuno itu dirusak oleh orang-orangku. Jadi apa kata-kata terakhir Shogun Jiu?” Jing Yang menatap Toramasa tajam.


Toramasa menundukkan kepalanya, “Dia ingin seorang bermarga Jiang membebaskan Negeri Jiu dan menikahi putri semata wayangnya.”


Jing Yang tersedak mendengarnya, “Menikah? Hah, kenapa akhir-akhir ini kata-kata ini selalu aku dengar?” Jing Yang memegang secangkir teh dengan tangan yang gemetaran.


Shen Mi menahan tawanya melihat ekspresi rumit Jing Yang. Ada keterkejutan dan kebingungan disana.


“Apa hanya itu keinginan terakhir Shogun Jiu?” Jing Yang kembali bertanya.


Toramasa menganggukkan kepalanya, “Benar, Kaisar. Hanya itu kata-kata terakhir yang diucapkan beliau.”


Jing Yang menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya, “Ini sangat rumit." Jing Yang merebahkan badannya ke belakang.


“Aku pikir aku akan mendengar informasi mengenai Pulau Iblis Tengkorak ataupun Mao Gang, tetapi aku justru mendengar informasi ini...”


Mendengar Jing Yang kesal, Toramasa dan Shen Mi kebingungan harus bersikap apa. Walaupun tadi sempat terlihat begitu berwibawa, pada akhirnya Jing Yang tetaplah seorang bocah berumur tiga belas tahun.


Setelah mendengarkan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikirannya, Jing Yang menjadi kesal. Namun kekesalan itu tidak bertahan lama saat Toramasa mengatakan kepada Jing Yang jika selama dirinya berhasil melarikan diri dari Pulau Iblis Tengkorak, Toramasa bersama teman-temannya telah mencari beberapa informasi mengenai sosok Tang Mu.


“Selain itu, kami juga telah menemukan informasi tentang Tiga Tengkorak Abadi, walaupun informasi mengenai mereka sangat sedikit.” Toramasa menambahkan.


Jing Yang kembali bangkit dan berkata, “Tiga Tengkorak Abadi?” Jelas Jing Yang mengingat nama kelompok ini. Menurutku Tiga Tengkorak Abadi memiliki potensi lebih mengerikan dibandingkan Pulau Iblis Tengkorak.

__ADS_1


__ADS_2