Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 34 : Guru Ye Xiaoya


__ADS_3

Malam ini Jing Yang sedang membakar daging Hewan Buas Tahap Petarung, Kelinci Merah. Setelah melihat Ye Xiaoya begitu kelaparan bahkan sampai pingsan. Jing Yang memilih berisitirahat di dalam hutan dan mencari sumber makanan.


“Daging...” Gadis cantik itu kembali menggumam dengan suara perutnya yang keroncongan.


Jing Yang mengambil daging yang sudah dia bakar dengan matang dan memberikannya pada Ye Xiaoya.


“Ini—” Dengan cepat Ye Xiaoya duduk, sedangkan tangannya merebut dan langsung memakan daging bakar tersebut. Jing Yang terdiam tanpa ekspresi. Bagaimana bisa ada gadis secantik ini memakan daging bakar dengan begitu lahap. Bagi Jing Yang itu bukanlah lahap, melainkan rakus.


“Terimakasih banyak! Ngomong-ngomong siapa namamu, anak kecil?” Ye Xiaoya memegang perutnya dan mengambil sebotol air milik Jing Yang.


“Senior, perkenalkan namaku Jing Yang...” Dengan kedua tangan yang menyatu Jing Yang memberi hormat kepada Ye Xiaoya. Ketika matanya melirik Ye Xiaoya, betapa terkejutnya dia persediaan minumnya yang terakhir dihabiskan oleh Ye Xiaoya hingga tak bersisa.


“Tunggu! Itu air minum persediaan terakhirku? Jangan dihabiskan!” Jing Yang setengah berteriak ketika melihat Ye Xiaoya meneguk habis air dalam botol.


“Heh?” Ye Xiaoya menggaruk kepalanya dan menaruh botolnya di depan Jing Yang.


“Maaf, aku menghabiskannya. Aku akan membalas kebaikanmu. Apa yang bisa kubantu?” Ye Xiaoya tidak merasa bersalah. Justru sekarang dia terlihat menggoda Jing Yang.


“Senior...” Jing Yang sulit untuk berkata, karena perilaku Ye Xiaoya menurutnya tidak bisa dia anggap sebagai gurunya. Matanya melirik Roh Sang Hitam yang sedang tertawa lirih.


“Yang‘er, nama yang bagus. Kau layaknya matahari yang selalu bersinar, walau awan menutupi ataupun langit menghalangi, tetapi bukankah matahari akan selalu tetap bersinar dan memberi manfaat bagi kehidupan.” Ye Xiaoya berkata dengan suara yang merdu. Jing Yang bergemetar mendengarnya karena cukup terkejut juga.


“Apa kau takut padaku?” Ye Xiaoya bertanya pada Jing Yang sambil memasang wajah yang serius.


“Tidak. Hanya saja bagaimana bisa Senior membunuh mereka semua tanpa ragu. Menurutku itu sangat berlebihan.” Selesai berkata, mata Jing Yang mengalihkan pandangannya menatap api unggun yang dia buat. Jing Yang tanpa sadar menyinggung perbuatan Ye Xiaoya yang membunuh puluhan pria dengan sadis.


“Mereka pantas dibunuh. Jika kau melepaskan mereka atau memberi ampunan kepada manusia seperti mereka itu. Yang ada kau hanya akan membuat orang tak bersalah terkena imbas dari perbuatan mereka...” Ye Xiaoya menjawab, sembari membakar daging Kelinci Merah.


“Maksud, Senior?” Tanpa sadar Jing Yang mulai menghormati Ye Xiaoya dan kembali bertanya.


“Orang yang kubunuh telah membunuh ratusan nyawa tak bersalah. Percuma memberi kesempatan kedua pada orang seperti mereka.” Ye Xiaoya memakan daging bakar, menelannya secara perlahan, kemudian melanjutkan perkataannya, “Sedikit contoh. Ada seorang pembunuh yang telah membunuh lusinan orang, dan kau tidak membunuhnya, walau pada saat itu kau memiliki kesempatan untuk membunuh pembunuh tersebut. Walaupun kau melepaskannya. Aku yakin pembunuh itu akan melakukan kejahatannya kembali. Mungkin saja dia tidak menjadi pembunuh lagi, tetapi beralih profesi menjadi pencuri. Tindakan seperti itu sama saja menambah kejahatan lainnya. Apakah kau merasa tindakanku tadi siang adalah kesalahan?”


Jing Yang tidak menjawab dan diam dalam waktu yang lama. Tak lama dia menyantap daging bakar, namun perutnya sedikit mual mengingat orang-orang yang telah terbunuh di tangan Ye Xiaoya. Mengingat bagaimana darah yang berceceran serta potongan tubuh yang bergelimpangan di tanah.

__ADS_1


“Jika aku bertemu dengan penjahat. Aku tidak akan melepaskan mereka. Aku akan membunuhnya, karena aku tidak ingin jika membiarkan mereka hidup justru menjadi masalah di masa depan nanti...” Ye Xiaoya menepuk perutnya yang kenyang.


“Ngomong-ngomong, namaku Ye Xiaoya. Aku berasal dari Benua Bintang Timur. Umurku masih muda seperti tubuhku ini.” Ye Xiaoya kembali menggoda Jing Yang. Namun Jing Yang menolak dan membantah pengakuan Ye Xiaoya.


“Bohong! Aku yakin umurmu sudah tua!” Ye Xiaoya langsung menjitak kepala Jing Yang.


“Beraninya kau berbicara seperti itu pada orang yang lebih tua darimu!” Jing Yang berkeringat dingin melihat Ye Xiaoya terlihat begitu menakutkan di matanya.


“Aku merasa kau bukanlah anak sembarangan. Aura dan tenaga dalammu berbeda dari pendekar yang pernah kutemui. Mungkin kau telah menyelamatkanku, tetapi bisa saja aku akan membunuhmu disini.” Ye Xiaoya memegang salah satu pedang dan menatap tajam Jing Yang.


“Tunggu, Senior. Sebenarnya aku bermimpi, suatu hari aku akan bertemu dengan seorang pendekar pedang. Dia akan menjadikanku sebagai seorang murid.” Jing Yang berkeringat dingin karena telah berbohong kepada Ye Xiaoya. Dia melakukan ini karena Roh Sang Hitam memaksanya. Entah apa yang dilihat oleh Roh Sang Hitam dari gadis misterius bernama Ye Xiaoya ini. Tetapi Jing Yang sendiri merasa Ye Xiaoya adalah orang yang baik.


“Jangan membual! Kau pasti berbohong dan mengarang cerita bukan?” Ye Xiaoya mengemut tulang dan menatap Jing Yang dengan tatapan menyelidik.


Jing Yang membuka mulutnya. Namun tidak ada suara yang keluar. Melihat itu, Roh Sang Hitam dan Ye Xiaoya tertawa terbahak-bahak. Wajah Jing Yang merah padam menahan malu.


“Syarat untuk menjadi muridku hanya satu. Menembus Tradisi. Kau harus mempunyai mental baja dan menjadi seorang pemenang. Aku tidak sudi memiliki murid seorang pecundang.” Ye Xiaoya mendadak menjadi serius. Auranya begitu berbeda saat dia sedang bercanda.


“Oh, iya. Kau harus memberiku makanan enak setiap hari. Daging saja cukup, tidak ada ilmu yang gratis, bocah polos.” Ye Xiaoya mencolek pipi Jing Yang dan membaringkan tubuhnya di tanah.


Jing Yang kebingungan harus bersikap seperti apa. Saat ini dia melihat Roh Sang Hitam yang tersenyum lembut padanya.


“Manusia ini menarik bukan?” Roh Sang Hitam berkata pada Jing Yang, sambil menerbangkan dirinya lebih rendah, “Umurnya dua puluh dua tahun...”


Jing Yang tersenyum setelah mengetahui umur Ye Xiaoya dari Roh Sang Hitam. Kemudian dia membaringkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya tanpa penjagaan sedikitpun.


___


Sinar matahari mulai menyeruak di atas langit. Jing Yang membuka matanya secara perlahan dan melihat Ye Xiaoya sedang tidur dengan pulas.


“Guru, bangun!” Jing Yang menggoyangkan tubuh Ye Xiaoya.


“Berisik! Lima menit lagi...” Ye Xiaoya berteriak lalu menggumam pelan, dan melanjutkan tidurnya.

__ADS_1


Jing Yang berburu Kelinci Merah sambil menunggu Ye Xiaoya bangun. Dia membuat api unggun dan membakar daging Kelinci Merah yang telah dipotong.


“Sebaiknya aku mencari air minum...” Jing Yang mencari sungai yang dekat dengan lokasinya. Kebetulan hutan yang sedang Jing Yang singgahi adalah bukit. Suara air yang mengalir terdengar. Jing Yang mencari sumber suara dan melihat mata air yang bening airnya.


Jing Yang mulai mengisi dua botol air sebelum kembali ke tempat Ye Xiaoya tertidur. Setelah sampai di depan api unggun, Jing Yang menaikan alisnya melihat Ye Xiaoya memakan daging bakar dengan lahap.


‘Makan, tidur, makan, tidur...’ Pikir Jing Yang.


“Sini Yang‘er, kau sungguh berbakti kepada Gurumu ini. Aku bangga mempunyai murid sepertimu...” Tangan Ye Xiaoya mengambil sebotol air dan meminumnya. Dengan wajah yang tak bersalah, Ye Xiaoya makan dan minum dengan raut wajah yang santai.


“Kenyangnya!” Ye Xiaoya berteriak puas dan membaringkan tubuhnya kembali.


“Sebenarnya apa tujuanmu berkelana sendirian?” Ye Xiaoya bertanya serius walau jarinya sedang membersihkan gigi-giginya yang putih.


“Guru, sebenarnya aku...” Jing Yang menceritakan pada Ye Xiaoya tentang masa lalunya. Karena Roh Sang Hitam mempercayai Ye Xiaoya, tentu Jing Yang tanpa sungkan berbagi cerita masa lalunya saat dia melarikan diri dari Kota Yunfei hingga sekarang ini.


Ye Xiaoya berubah menjadi serius setelah mendengarkan cerita Jing Yang. Perempuan berumur dua puluh dua tahun yang terlihat seperti gadis itu duduk dan menatap Jing Yang.


“Aku jadi penasaran dengan Naga Hitam. Tetapi, aku sebagai Gurumu akan membantumu memberi pelajaran pada Lin Song dan Pulau Salju Rembulan yang sekarang. Aku ada ide cemerlang.” Ye Xiaoya tersenyum licik.


“Tujuan kita selanjutnya adalah Kota Shendong. Mari kita bergegas, Yang‘er...” Sekejap wajah Ye Xiaoya begitu ceria, sembari bangkit berdiri, Ye Xiaoya berjalan mendahului Jing Yang.


“Baik, Guru...” Jing Yang meminum air dan mematikan api unggun sebelum menyusul Ye Xiaoya.


Jing Yang berlari bersama Ye Xiaoya. Keduanya menuju Kota Shendong bersama-sama. Ye Xiaoya memiliki ilmu bela diri yang tinggi, ilmu meringankan tubuhnya sangat ahli, bahkan Jing Yang kesulitan untuk menyusulnya.


‘Sepertinya aku bertemu anak ini juga bagian dari takdir. Untuk sementara ini, aku harus membantunya menemukan kedua orang yang paling berharga dalam hidupnya itu...’


Ye Xiaoya meneteskan air mata, sambil menoleh melihat Jing Yang.


“Guru, kenapa menangis?” Jing Yang mempercepat langkah kakinya dan mendekati Ye Xiaoya.


“Tidak, aku hanya masih mengantuk...” Ye Xiaoya menyeka air matanya dan mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


‘Sebenarnya apa yang dilihat Guru dari Guru Ye Xiaoya?’ Jing Yang melirik Roh Sang Hitam yang terbang seperti berenang di udara.


Mereka berdua terus berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh. Dengan kecepatan penuh, Jing Yang dan Ye Xiaoya bergegas menuju Kota Shendong.


__ADS_2