Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 20 : Tubuh Dewi Naga Hitam


__ADS_3

Untuk menguasai Teknik Tubuh Dewi Naga Hitam, Jing Yang terus bertarung melawan Binatang Iblis dan mencari sumber daya disekitar hutan.


Roh Sang Hitam sadar jika perkembangan Jing Yang melebihi perkiraannya, namun untuk mendukung kemampuan Jing Yang yang semakin meningkat pesat, Roh Sang Hitam menyuruh Jing Yang agar mandiri selama satu tahun ini.


Perempuan berparas cantik itu menunggu Jing Yang berumur sepuluh tahun untuk mempelajari Pernapasan Dewi Naga. Roh Sang Hitam ingin Jing Yang dapat mengolah Teknik Tubuh Dewi Naga Hitam terlebih dahulu dengan berlatih secara mandiri.


Walau Roh Sang Hitam terus mengamati Jing Yang, namun banyak perkembangan Jing Yang yang diluar dugaannya. Pertarungan antara Jing Yang melawan Binatang Iblis selalu dia lihat dari hari ke hari. Menjelang sore, dia melihat Jing Yang membawa puluhan Permata Iblis dan mencari sumber daya untuk menopang perkembangannya.


Tanpa terasa Roh Sang Hitam telah mengamati perkembangan Jing Yang selama setahun penuh. Arahan dan apa saja yang dia ajarkan kepada Jing Yang akhirnya berbuah hasil.


Kini Jing Yang genap berumut sepuluh tahun. Sekarang dia telah dapat menggunakan Teknik Tubuh Dewi Naga berkat arahan dari Roh Sang Hitam.


“Anak manusia. Sekarang coba serap Permata Iblis dan bermeditasi. Habiskan seratus Permata Iblis dari Serigala Berbulu Hijau itu.” Roh Sang Hitam ingin melihat keberhasilan Jing Yang yang telah dapat menggunakan Teknik Tubuh Dewi Naga Hitam.


Jing Yang memejamkan matanya, “Baik, Guru.” Lalu Jing Yang mulai menyerap khasiat yang terkandung dalam Permata Iblis dari Serigala Berbulu Hijau yang termasuk dalam Binatang Iblis Tahap Kaisar Tingkat Satu.


Sekarang Jing Yang merasakan perbedaan pada tubuhnya. Permata Iblis yang biasanya dia serap memakan waktu berjam-jam, kini selesai dalam waktu satu jam.


Teknik Tubuh Dewi Naga Hitam membantu proses penyerapan Permata Iblis meningkatk cepat. Namun Jing Yang merasakan efeknya, rasa sakit karena sempat tidak terlalu fokus dalam proses penyerapan membuat Jing Yang menyerap hawa negatif dari Permata Iblis secara tidak sadar.


Roh Sang Hitam tersenyum melihat perkembangan Jing Yang yang telah dapat menggunakan Teknik Tubuh Dewi Naga Hitam, “Bagaimana? Sekarang kau sudah dapat berlatih Pernapasan Dewi Naga. Jadi jangan terlalu puas, justru rintangan yang berat, baru akan dimulai...”


Jing Yang menyipitkan matanya, ”Guru, mohon bimbingannya ke depan. Sekarang umurku sepuluh tahun. Apa Guru tidak ingin mengatakan apapun padaku?”


Roh Sang Hitam melebar matanya dan wajahnya merah merona melihat Jing Yang yang bersikap manja padanya.


“Ehem!” Roh Sang Hitam batuk pelan dan menggelengkan kepalanya.


“Aku harap kau menjadi anak yang baik. Itu saja kata-kata dariku.” Walau terlihat cuek dan tidak peduli, tetapi Roh Sang Hitam sangat peduli kepada Jing Yang.

__ADS_1


Senyuman lebar menghiasi wajah Jing Yang, “Terimakasih, Guru. Aku sayang Guru.” Dengan polosnya Jing Yang berlari hendak memeluk tubuh Roh Sang Hitam, namun perempuan berparas cantik itu menghindari pelukan Jing Yang dengan menerbangkan dirinya lebih tinggi.


“Aku merasa seperti memelihara anak manusia dan merawatnya baik-baik.” Roh Sang Hitam membatin lirih dalam hatinya.


Tak lama Roh Sang Hitam menyuruh Jing Yang melakukan kuda-kuda tengah di bawah air terjun. Hari ini dia memulai latihan dan mengajari Jing Yang Teknik Pernapasan Dewi Naga.


Selama seharian Jing Yang melakukan kuda-kuda tengah hingga kedua kakinya berulang kali merasa keram. Sambil melakukan kuda-kuda tengah, Jing Yang juga mengolah pernapasan.


“Tahan di ulu hati!” Roh Sang Hitam memberi arahan pada Jing Yang. “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. Lepas...”


Jing Yang mendengarkan setiap aba-aba dari Roh Sang Hitam dengan baik. Selama enam bulan dia terus berlatih mengolah pernapasan di bawah bimbingan Roh Sang Hitam.


Sekarang dia sedang mencoba menggunakan Teknik Pernapasan Dewi Naga dengan bertarung langsung melawan Binatang Iblis.


“Seni Napas Dewi Naga Api.” Jing Yang menarik napas dalam-dalam dan menyalurkannya pada kedua telapak tangannya.


Saat Serigala Bertanduk Hitam hendak menyerangnya, Jing Yang dapat mematahkan tulang leher Serigala Bertanduk Hitam dengan pukulan tapak tangannya.


“Kenapa bulu-bulu serigala ini terbakar?” Jing Yang melanjutkan perkataannya dalam hati.


Roh Sang Hitam bisa mengetahui alasan Jing Yang terlihat kebingungan. Kemudian dia menghampiri Jing Yang untuk menjelaskan.


Setelah Roh Sang Hitam menjelaskan tentang kekuatan dari Teknik Pernapasan Dewi Naga, Jing Yang baru menyadarinya.


“Aku ingin mencoba melawan Binatang Iblis Tahap Dewa Tingkat Satu. Sepertinya aku cukup percaya diri, Guru.” Terlihat Jing Yang tersenyum dan cukup percaya diri berjalan mendekati Singa Petir yang merupakan Binatang Iblis Tahap Dewa Tingkat Satu.


Roh Sang Hitam menggelengkan kepalanya, “Jangan gegabah, anak manusia! Kekuatanmu yang sekarang hanya setara dengan Binatang Iblis Tahap Bumi Tingkat Tiga.”


Jing Yang terlihat kecewa dan menghentikan langkah kakinya, “Baiklah, Guru. Aku akan berlatih menguasai Teknik Pernapasan Dewi Naga terlebih dahulu.”

__ADS_1


Roh Sang Hitam tersenyum melihat sikap Jing Yang yang masih kekanak-kanakan, dirinya sendiri juga sadar jika Jing Yang masih butuh kasih sayang dan perhatian.


Setelah hidup selama tiga tahun bersama Jing Yang, kini Roh Sang Hitam merasa Jing Yang sering bersikap manja kepadanya karena pemuda tersebut menganggap dirinya seperti ibu kandungnya sendiri. Bukan hanya Jing Yang yang merasa seperti itu, bahkan Roh Sang Hitam sendiri menganggap Jing Yang sebagai anaknya.


Seperti biasa Jing Yang kembali berlatih mengolah pernapasan secara penuh. Pemuda itu duduk bersila di bawah air terjun yang turun dari atas mengenai tubuhnya.


Jing Yang sekarang sedang melakukan konsentrasi secara penuh yang mendalam. Perhatiannya dia fokuskan pada pernapasan dan merasakan udara yang masuk ke dalam tubuhnya.


Jing Yang mencoba merasakan udara-udara tersebut menyatu dengan pembuluh darahnya. Lalu masuk ke dalam paru-parunya dan udara itu menjadi bagian dalam tubuhnya. Aliran napasnya sangat tenang dan dia terlihat sedang menyatu dengan alam di sekitarnya.


Roh Sang Hitam mengawasi Jing Yang dengan tubuhnya yang terbang melayang di udara, “Sepertinya dia sudah dapat memahami penjelasanku, aku bangga padamu, anak manusia.” Roh Sang Hitam membatin lirih dalam hatinya.


Tak lama Roh Sang Hitam menjentikkan jarinya untuk menggerakkan Permata Iblis yang diperoleh Jing Yang. Permata Iblis berterbangan di udara dan terjatuh tepat di depan Jing Yang yang sedang bermeditasi.


Terlihat di bawah derasnya air terjun, Jing Yang langsung menyerap khasiat yang terkandung dalam Permata Iblis sambil mengolah pernapasan secara tidak sadar. Pemuda itu duduk bersila selama seharian penuh sebelum dia kembali membuka matanya pelan-pelan.


“Tidak makan dan tidak minum selama seharian penuh. Sepertinya aku sudah terbiasa dengan ini...” Jing Yang membatin dalam hatinya sambil tersenyum tipis.


Tak lama matanya terarah pada Roh Sang Hitam yang sedang membakar daging Ayam Kristal untuknya. Dengan cepat Jing Yang membasuh tubuhnya terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya sebelum bergabung bersama Roh Sang Hitam.


“Terimakasih, Guru.” Dengan wajah yang gembira, Jing Yang tersenyum lembut pada Roh Sang Hitam, kemudian dia langsung melahap daging Ayam Kristal yang dibakar oleh Roh Sang Hitam.


“Hari ini kau harus mencari Permata Iblis lebih banyak. Lima puluh Permata Iblis milikmu sudah habis.” Roh Sang Hitam menjelaskan sambil mengamati Jing Yang yang sedang makan.


Jing Yang tersedak mendengar perkataan Roh Sang Hitam. Tangannya memukul dadanya, “Habis? Siapa yang menghabiskannya, Guru?”


Roh Sang Hitam menggelengkan kepalanya karena Jing Yang secara tidak sadar menyerap Permata Iblis, “Kau yang menghabiskannya dan aku yang menaruh Permata Iblis itu di depanmu saat kau bermeditasi.”


Setelah itu Jing Yang menghela napas panjang, “Baiklah, Guru. Setelah aku tidur dua jam, maka aku akan mencari Permata Iblis.”

__ADS_1


Roh Sang Hitam tersenyum mendengarnya, “Bagus, kau sudah tumbuh dan paham dimana batasanmu.”


Kemudian Roh Sang Hitam menatap ke arah Jing Yang yang membaringkan tubuhnya di atas batu. Sekarang Roh Sang Hitam berniat mengajari Jing Yang cara melakukan kontrak darah dengan Binatang Roh dan Siluman.


__ADS_2