Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 176 - Kepergian


__ADS_3

Jing Yang dan Xue Rong sampai disebuah tempat yang letaknya jauh dari Desa Api. Bahkan memakan waktu dua jam dengan berlari.


Sesampainya disebuah danau yang dimaksud oleh Li Ho, mata Jing Yang dan Xue Rong terpana melihat sejuta kunang-kunang yang berterbangan diatas permukaan air danau, ditambah pohon persik yang tumbuh disekitar danau membuat perasaan nyaman dihati keduanya.


“Apa Senior Rong menyukainya?” Jing Yang bertanya dan menatap Xue Rong serius.


Wajah Xue Rong memerah dan mengangguk lembut, “Aku sangat menyukainya.”


Jing Yang menjawab, “Syukurlah. Aku pikir kau tidak menyukainya, Senior Rong.”


‘Tunggu jadi seharian ini dia ingin menunjukkan semua ini padaku. Aku jadi merasa bersalah karena sempat penasaran dengan sifat Bing Mu. Tetapi pada akhirnya aku bisa mengetahui jika Bing Mu tertarik akan kecantikanku.’ Xue Rong memegang dadanya, jantungnya berdebar hebat saat melihat Jing Yang.


‘Sadarlah dia ini bocah, kenapa aku bisa jatuh cinta padanya?’ Xue Rong kebingungan.


“Aku ingin menunjukkan pemandangan ini kepada Yueyue juga, mungkin Lu Xiuyu dan Shen Mi juga.” Jing Yang berkata serius sambil mencoba menangkap kunang-kunang.


“Lu Xiuyu? Shen Mi?” Xue Rong mengerutkan keningnya, “Siapa mereka berdua?”


“Ah, mereka adalah dua anak bangsawan yang sangat membantuku.” Jing Yang menjawab dan terus mengejar kunang-kunang.


Xue Rong kebingungan harus bersikap apa, dia merasa bodoh karena terlalu memikirkan perasaannya. Tetapi tidak ada salahnya dia menaruh hati kepada Jing Yang.


Setelah cukup lama keduanya menikmati pemandangan yang memanjakan mata ini, akhirnya Jing Yang dan Xue Rong tidur berdua bersandar pada pohon persik yang ada ditepi danau.

__ADS_1


Jing Yang tertidur lelap dipangkuan Xue Rong, dimana gadis muda itu mengusap rambut Jing Yang penuh kasih sayang.


Setelah pagi tiba, Jing Yang dan Xue Rong kembali ke Desa Api tetapi sesampainya di Desa Api keduanya dikejutkan dengan keadaan desa yang porak-poranda terlebih kondisi kali ini membuat Desa Api benar-benar hancur seluruhnya.


Setiap kali Jing Yang dan Xue Rong mencoba menemukan penduduk yang masih hidup, keduanya selalu melihat bekas cakaran ataupun sayatan dari tubuh penduduk. Tidak ada satupun orang yang masih hidup.


“Ini tidak mungkin, kemarin malam desa ini terlihat begitu damai. Kapan ini terjadinya?” Jing Yang tidak percaya dengan pemandangan ini, pemandangan pembantaian yang telah berakhir.


“Siapa orang yang melakukan ini?!” Jing Yang mengepalkan kedua tangannya dan matanya mencari setiap orang di sudut desa.


Hingga pada akhirnya dia melihat tubuh Liang Fan dan Cao Ji yang telah tercerai-berai, tak jauh dari kedua pria itu terlihat tubuh Li Ho yang berlumuran darah.


Kepala Li Ho terpisah dari badannya, mata Jing Yang melebar sepenuhnya melihat pemandangan ini. Muncul kenangan pahit bagaimana kedua orang tuanya berakhir.


Walau belum mengenal sosok Li Ho terlalu jauh, tetapi Jing Yang tidak menyangka keduanya akan berpisah secepat ini.


Sambil mencari petunjuk tentang penyerang yang menghancurkan Desa Api, Jing Yang menemukan sosok Bing Hen yang masih hidup dan dalam keadaan sekarat.


“Jing Yang, aku... Aku gagal melindungi siapapun-” Bing Hen menangis saat melihat wajah Jing Yang, pemuda itu hendak berbicara namun tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa.


Disamping Bing Hen terlihat Bing Mu yang terkapar dengan tubuh berlumuran darah dan luka dimana-mana.


“Jangan berbicara, kau bisa mati.” Jing Yang memberi peringatan karena kondisi Bing Hen sudah diambang batas.

__ADS_1


Kemudian dia memandang seluruh Desa Api sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Mayat dari nenek tua yang ditolong Xue Rong juga dia lihat, kemudian mayat para anak-anak yang mati mengenaskan juga dilihatnya.


Muncul sebuah pertanyaan dalam benaknya. Mengapa mereka semua harus berakhir seperti ini, tentu saja kejadian ini membuat mental Jing Yang goyah.


Cukup lama Jing Yang terdiam sebelum akhirnya membawa tubuh Bing Hen dan Bing Mu keluar desa, lalu dia memakamkan seluruh orang di Desa Api bersama Xue Rong.


Xue Rong memperhatikan raut wajah Jing Yang yang menunjukkan kesedihan mendalam. Sangat berbeda dengan dirinya, walau berduka tetapi Xue Rong tidak terlalu merasa kehilangan.


Selesai memakamkan jenazah korban pembantaian, Jing Yang menatap makan Li Ho cukup lama sebelum menyuruh Xue Rong untuk melakukan pertolongan pertama pada Bing Hen dan Bing Mu.


‘Mungkin hanya kau yang berani menyuruhku dan entah mengapa aku tidak bisa menolaknya...’ Xue Rong bisa melihat Jing Yang merasa kehilangan.


Namun kejadian ini membuat Jing Yang semakin jatuh kedalam lubang kehampaan. Namun beruntung karena keinginan kuat mengembalikan ingatan Xue Bingyue menyadarkannya.


“Beristirahatlah dalam kedamaian Kakek Li. Sisanya serahkan pada diriku.” Ucap Jing Yang sambil menatap makan Li Ho.


___


Ditengah keadaan yang penuh ketidakpastian dan keresahan. Sulit memang kembali rutin menulis. Tahun lalu kalau ada yang ingat aku pernah kasih pengumuman di novel LTI bahwa aku dikarantina. Ya, ditahun sekarang pengin kembali nulis cuma membagi waktu didunia nyata sulit. Terserah kalian mau bilang gak konsisten, labil, ini itu. Kebanyakan dari kalian yang selalu membaca pengumuman pasti tahu kalau aku baru lulus SMK langsung kerja. Karena suatu kejadian memaksaku hiatus, kejadian yang benar membuatku down terlebih harus bersikap profesional ditempat kerja, jujur ini adalah pertama merasakannya jadi aku perlu waktu untuk membiasakannya. Jadi aku pribadi selaku penulis Pena Bulu Merah pengin menyampaikan permintaan maaf kalau mengecewakan kalian.


Melihat komentar kalian yang menunggu itu membuatku berpikir ingin kembali menulis. Minder? Jelas, karena aku berpikir tidak ada lagi yang membawa karyaku. Tetapi mungkin dengan kembali menulis jadi satu-satunya cara melampiaskan masalah kedalam tulisan. Dan alur mungkin berubah, karena plot cerita yang aku tulis di hp udah hilang sama HP-nya. Semoga kalian tetap menyukainya, bulan ini aku mulai dari DWP. Untuk yang nunggu Kagutsuchi Nagato atau LTI maaf ya, aku ngetik di dua novel itu masih lama.


Tetap jaga kesehatan kalian ditengah situasi ini, sekian.

__ADS_1


__ADS_2