
“Guru, murid tidak bermaksud...” Xue Que merasa lancang karena menanyakan hal ini kepada Xue Rong.
“Tenang saja, apa aku semenakutkan itu?” Xue Rong tersenyum. Bibirnya yang berwarna merah muda layaknya kelopak bunga merekah, melihatkan sederet gigi putih susu pada kedua muridnya. Senyumannya membuat Xue Que langsung ambruk ke pangkuan paha Xue Bingyue.
“Ugh, aku kalah Guru. Siapa saja yang melihat senyuman ini pasti akan pingsan seketika...” Melihat sikap Xue Que. Xue Rong dan Xue Bingyue menahan tawa sampai wajah putih mereka sedikit memerah.
Xue Que selalu merasa Xue Rong dan Xue Bingyue memiliki kecantikan tersendiri, dia yakin Xue Bingyue akan lebih cantik dari sekarang setelah berumur dan dewasa.
“Hanya dengan kalian aku bisa bercanda seperti ini...” Xue Rong melirik Xue Bingyue yang menundukkan kepalanya menatap wajah Xue Que yang merah padam dan menahan tawanya.
Xue Que yang paling mengetahui bagaimana masa kecil Xue Rong. Umur keduanya tidak terlalu terpaut jauh, tetapi Xue Rong memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Dia sangat berterimakasih karena Matriark Istana Bulan Biru ini mengangkatnya sebagai murid.
Sebenarnya Xue Rong sudah mendapatkan banyak lamaran dari orang-orang yang memiliki latar belakang besar di dunia persilatan Kekaisaran Yin. Bahkan keluarga kaisar dan bangsawan dari Kekaisaran Ma berulang kali mencoba melakukan penculikan paksa.
Mengingat itu, Xue Rong mendesah lirih, “Andai ada seorang pria yang tidak memandang tubuh dan fisikku. Mungkin aku ingin jatuh cinta...”
Ruangan di Kolam Petir hening seketika. Xue Que bangkit dan menundukkan kepalanya, sementara Xue Bingyue terdiam membisu.
Xue Que lebih dewasa dari Xue Bingyue dan berumur empat belas tahun, kecantikannya tidak kalah dengan Xue Rong ataupun Xue Bingyue yang masih muda. Xue Que terkadang memiliki angan-angan untuk menjalani hidup dengan seseorang yang dia cintai, tetapi dia memiliki pandangan yang sama dengan Xue Rong. Dia ingin menemukan laki-laki yang mencintainya secara tulus, tanpa memandang fisiknya.
Xue Bingyue sering mendengar cerita dari Xue Que ketika keduanya sedang beristirahat dalam latihan, Xue Bingyue tertarik dengan cerita romantis dari Xue Que, tetapi tetap saja yang menjadi panutannya adalah Xue Rong. Dia ingin mengetahui siapa sebenarnya pemuda bernama Jing Yang dan Xue Qinghua.
“Yue‘er, Pedang Salju Suxue memilihmu menjadi penggunanya. Kau pernah mengajakku ke suatu tempat yang dipenuhi sumber daya. Dunia ini adalah tempat yang luas, semua bisa terjadi. Selagi kita hidup, aku ingin merasakan kebahagiaan dan mengetahui kebenaran tentang Sembilan Kekacauan Surgawi.”
Xue Rong memegang dadanya, dan matanya menatap Kolam Petir. Pemandangan ini membuat Xue Bingyue semakin kagum terhadap Matriark Istana Bulan Biru. Sementara Xue Que bergetar tubuhnya karena bagaimanapun pemandangan ini sungguh membius.
“Murid akan mengikuti Guru.” Xue Bingyue menatap Xue Rong yang memusatkan perhatiannya menatap Kolam Petir.
“A... Aku juga Guru...” Xue Que menjawab gugup dan menelan ludahnya.
Guru dan dua murid ini mengobrol layaknya kakak beradik yang saling menyayangi. Jika Tetua Agung mengetahuinya, maka Matriark Istana Bulan Biru ini akan terkena teguran.
Bagaimanapun Xue Rong ingin merasakan masa kecil seperti anak pada umumnya, jatuh cinta, tumbuh dewasa seperti orang-orang di luar sana. Tetapi takdir menjebaknya dalam keadaan ini.
Sangkar yang mengurungnya terbuka ketika Xue Que dan Xue Bingyue menjadi muridnya, dan teman pertama dalam hidupnya.
__ADS_1
___
Keesokan harinya di salah satu rumah sederhana terlihat Xue Bingyue dan Xue Que mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa dalam perjalanan. Misi kali ini sangat rahasia karena hanya Tetua Agung dan Matriark Istana Bulan Biru yang mengetahuinya.
Tetua Agung tidak ingin menyerahkan tugas ini pada Matriark Istana Bulan Biru, tetapi bagaimanapun di Istana Bulan Biru hanya Xue Rong yang dapat melakukan tugas ini.
“Keluarlah, Suxue...” Telapak tangan Xue Bingyue terbuka. Sementara pandangan matanya menatap Xue Que yang juga sudah menarik pedangnya.
Lokasi aula lapangan latihan tampak ramai ketika Xue Bingyue dan Xue Que sedang berlatih. Gadis kecil berumur lima tahun sampai perempuan dewasa berumur tiga puluhan tahun menonton dua jenius paling berbakat di Istana Bulan Biru.
Sebenarnya tujuan mereka datang hanya untuk melihat kecantikan Xue Bingyue yang menyaingi Xue Rong. Kepopuleran Xue Rong dan Xue Bingyue bukan hanya terkenal di Kekaisaran Yin, tetapi Istana Bulan Biru yang merupakan seluruh anggotanya adalah perempuan juga tergila-gila dengan kecantikan mereka.
“Yueyue, seperti biasa kau memiliki banyak penggemar...” Gadis berambut hitam keperakan yang memakai gaun putih dan selendang biru tersenyum.
“Kakak Que, aku tidak pantas disamakan dengan Guru Rong...” Gadis muda berpenampilan anggun yang memakai gaun putih dan selendang biru menggelengkan kepalanya pelan. Yang paling mencolok darinya adalah rambut hitam yang memanjang sampai ke punggungnya, dengan hiasan jepit rambut kupu-kupu berwarna merah muda sama persis seperti Xue Rong. Hiasan rambutnya menambah kesan kecantikannya.
Banyak yang beranggapan jika Xue Bingyue sengaja dilatih di bawah bimbingan Xue Rong karena akan dijadikan calon Matriark Istana Bulan Biru selanjutnya. Tetapi tujuan Xue Rong berbeda, karena dia ingin teman sekaligus muridnya ini mendapatkan kembali ingatannya yang tersegel.
“Junior Yueyue! Apa kemarin kau pergi ke puncak bersama Matriark?”
Wajah Xue Bingyue sedikit memerah. Dialah orang yang selalu menjadi pusat perhatian di Istana Bulan Biru karena memiliki hubungan erat dengan Xue Rong.
“Kakak Que, kau tidak lupa dengan hasil pertarungan kita selama ini bukan?” Pedang Pusaka Dewa, Pedang Salju Suxue keluar dari telapak tangan Xue Bingyue.
Xue Que tersenyum ketika melihat kecantikan Xue Bingyue dan keanggunannya dalam setiap pergerakannya, “Yueyue, sebelum melakukan perjalanan. Hal yang paling utama dilakukan adalah pemanasan. Aku akan melayanimu karena aku juga akan mengalahkanmu!”
Pedang Xue Que dipenuhi cahaya berwarna biru, dia dan Xue Bingyue bergerak ke depan hampir bersamaan. Pedang keduanya saling berbenturan.
Pedang Salju Suxue mulai melepaskan hawa dingin yang mencekam. Xue Bingyue memainkan pedang dengan indahnya. Gerakannya lugas dan memukau seluruh perempuan yang menonton di aula lapangan latihan.
Gadis berambut hitam keperakan juga melakukan hal yang kurang lebih sama dengan Xue Bingyue. Keduanya memainkan pedang dengan indah, setiap gerakannya lembut dan gemulai membius semua mata yang memandang.
Sebenarnya Tetua Agung baru saja datang hendak mengantarkan kepergian Matriark Istana Bulan Biru yang akan melakukan misi penting menuju Makam Ratu Kuno, namun setelah melihat dua jenius Istana Bulan Biru bertarung, Tetua Agung ikut terbius karena melihat permainan pedang dua gadis muda yang cantik itu.
“Ehem!” Tetua Agung berdeham. Seketika seluruh perempuan yang menonton laithan Xue Bingyue dan Xue Que memberi hormat.
__ADS_1
“Murid memberi hormat pada Tetua Agung...”
Ekspresi wajah Xue Bingyue dan Xue Que membeku karena keduanya terlalu asik bertarung sampai lupa dengan kehadiran Tetua Agung.
“Murid memberi hormat pada Tetua Agung...”
Tetua Agung mengamati Xue Bingyue cukup lama, ‘Jika dilihat dari wajah dan tubuhnya, gadis kecil ini akan tumbuh seperti Rong‘er. Mereka berdua sangat mirip, tetapi Yue‘er akan mengalahkan kecantikan Rong‘er. Aku yakin itu...’
Tetua Agung menatap seksama bentuk tubuh Xue Bingyue. Merasa ditatap dengan tajam, Xue Bingyue merasa risih.
Saat semua pendekar Istana Bulan Biru memberi hormat pada Tetua Agung, sesosok gadis cantik yang memakai gaun putih dan selendang biru yang sama dengan kedua muridnya datang membuat semua orang terpana dengan kecantikannya.
“Hormat pada Matriark.”
Xue Rong menatap Tetua Agung sengit, bibirnya membuka pelan dan berbisik, “Kenapa keluar dari rumah? Aku tidak ingin kau mati kedinginan di luar karena mengantarku!”
Tetua Agung menggelengkan kepalanya. Walau Xue Rong menjadi idaman setiap laki-laki dan panutan pendekar perempuan dari Istana Bulan Biru, tetapi bagaimanapun dia adalah gadis muda yang terkadang bersikap kekanak-kanakan padanya.
“Hati-hati di jalan Rong‘er, jangan lupa untuk menyembunyikan identitas kalian dan jangan tidur sembarangan. Bawa pakaian hangat...”
“Hmmm...”
Xue Rong mengangkat alisnya, kemudian memberi isyarat pada Xue Bingyue dan Xue Que agar segera berjalan keluar dari kediaman Istana Bulan Biru. Gadis ini bosan dengan ucapan Tetua Agung yang selalu khawatir padanya.
“Hati-hati dalam perjalanan Matriark!”
“Junior Yueyue! Jangan sampai tanganmu terkena gigitan nyamuk!”
“Senior Que! Tolong lindungi Junior Yueyue!”
Lambaian tangan pendekar perempuan Istana Bulan Biru mengiringi kepergian Xue Rong, Xue Bingyue dan Xue Que menuju Reruntuhan Kristal, Makam Ratu Kuno yang ada di Hutan Kegelapan.
Xue Bingyue kemudian melewati dinding pembatas kediaman Istana Bulan Biru yang membentang luas di Pegunungan Suxue.
Sebelum pergi Xue Bingyue menatap lama Istana Bulan Biru dari luar dinding pembatas, kemudian dia kembali berjalan bersama Xue Rong dan Xue Que menuju Makam Ratu Kuno untuk melakukan misi tersembunyi. Petualangan tak terduga yang dilakukan Xue Bingyue akhirnya dimulai.
__ADS_1