
Jing Yang dan Ye Xiaoya meninggalkan Kota Shendu setelah mendapatkan perbekalan yang cukup.
Shen Yunxuan dan Yuan Xia mengantar kepergian mereka. Sebelum pergi Ye Xiaoya berbicara cukup lama dengan Yuan Xia. Sementara perempuan ini terlihat enggan berbicara kepada Jing Yang.
Hutan dengan pepohonan tinggi menjulang ke atas. Jing Yang dan Ye Xiaoya melewati perbatasan Kekaisaran Jiang dan Kekaisaran Qing. Keduanya mulai memacu kecepatan menuju tempat yang jauh dari Hutan Kegelapan guna menjauhi sarang Hewan Buas dan Binatang Iblis.
Jing Yang menatap punggung Ye Xiaoya. Perasaan bersalah menyeruak merayapi sekujur tubuhnya. Ini sebenarnya bukanlah kesalahannya, tetapi bagaimanapun mendiang ayahnya telah melukai hati mendiang ibu Ye Xiaoya.
Ketika Ye Xiaoya semakin menjauh, perempuan ini menghentikan langkahnya.
“Kita akhiri hubungan kita ini. Aku bukanlah gurumu. Aku tidak pernah mengajarimu apapun. Kau hanya menolongku, dan aku membalas kebaikanmu.”
Seketika hati Jing Yang terasa sakit. Ye Xiaoya sama sekali tidak mau menatapnya.
“Guru Xiaoya...”
“Jangan panggil aku dengan sebutan guru! Jing Yang!” Untuk pertama kalinya Ye Xiaoya berteriak padanya, “Suruh gurumu itu keluar! Dia adalah gurumu!”
Ye Xiaoya membalikkan badannya menatap Jing Yang. Tatapannya kali membuat Jing Yang tidak dapat berkata apapun selain menggigit bibir bawahnya dengan keras.
Cahaya berwarna hitam memenuhi tubuh Jing Yang sebelum memisahkan diri dan berubah wujud menjadi perempuan berparas cantik. Perempuan ini terbang melayang di udara menatap Jing Yang dan Ye Xiaoya.
“Ratu Neraka. Ini bukan salahnya. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu.” Roh Sang Hitam berbicara kepada Ye Xiaoya dengan lembut.
“Makhluk agung yang gagal melindungi dunia sepertimu tidak akan mengerti perasaanku! Perasaan manusia! Dan kau tahu! Aku sama sekali tidak pernah dianggap sebagai manusia! Apa kau tahu tatapan mereka setiap hari menatap diriku?!”
Ye Xiaoya meneteskan air matanya. Roh Sang Hitam berdiri di depan Ye Xiaoya, tubuh rohnya dipukul Ye Xiaoya namun tembus pandang.
Jing Yang bisa merasakan kesedihan Ye Xiaoya. Di mata perempuan itu dirinya hanyalah seorang bocah, bagaimanapun dia telah terjebak dalam kenyataan yang memilukan.
“Jing Yang. Orang yang telah meracunimu adalah ayahmu bukan?” Ye Xiaoya menatap Jing Yang yang terdiam membisu, “Tidak ada masa depan untuk orang seperti kita berdua. Kau beruntung memiliki makhluk agung ini, tetapi aku?!”
__ADS_1
Jing Yang mencoba mendekati Ye Xiaoya, ketika jarak diantara keduanya semakin mendekat. Telinga Roh Sang Hitam bergetar.
BOOOMM!!!
GROOOARRR!!!
Suara ledakan keras tiba-tiba menggema disertai auman Hewan Buas. Jing Yang dan Ye Xiaoya menatap satu sama lain sebelum Jing Yang ingin mengucapkan permintaan maafnya.
“Jing Yang. Lihat senjata yang dapat menghancurkan Hewan Buas itu. Namanya adalah bom. Bangsa Trost, orang-orang keji tak berperasaan membuat itu dengan kemampuan otak mereka!” Ye Xiaoya melepaskan aura pembunuh dengan tetesan air mata yang membasahi wajahnya, “Kekaisaran Qing dijajah oleh bangsa bengis ini! Kekasih kecilmu tidak ada disana! Kita berpisah disini!”
Ye Xiaoya langsung menghilang dari pandangan Jing Yang dan Roh Sang Hitam. Perempuan cantik yang sekarang menggunakan gaun berwarna biru bercampur putih itu sudah menyerang lusinan pria yang mempunyai hidung mancung dan rambut pirang.
Jing Yang mengejar Ye Xiaoya, bagaimanapun dia tidak ingin hubungannya berakhir seperti ini.
Senjata yang pertama kali baru dilihat Jing Yang mengenai lengan kirinya.
Ye Xiaoya menatap Jing Yang. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran, “Itu adalah pistol! Jika peluru dari senjata itu menembus jantungmu atau menghancurkan kepalamu. Maka nyawamu akan berakhir!”
“Kalian?! Beraninya manusia rendahan seperti kalian membunuh anggotaku!” Pria berbadan kekar dengan rambut berwarna pirang serta tatapan tajam memegang sebuah pistol.
Ye Xiaoya bergerak cepat dan memotong tubuh pria berbadan kekar itu. Kemudian mengibaskan pedangnya sebelum menatap tumpukan mayat Hewan Buas bercampur manusia.
“Senior, aku boleh memanggilmu senior kan? Terimakasih karena telah mengajariku dan terimakasih karena telah mengkhawatirkan masa depanku...” Jing Yang mengingat saat Ye Xiaoya menyuruhnya membuat sebuah kelompok bisnis perdagangan.
Perempuan yang memakai gaun berwarna biru bercampur putih ini terlalu rapuh untuk dia genggam.
“Jing Yang, kembalilah ke Kekaisaran Jiang dan jangan pernah menginjakkan kaki di Kekaisaran Qing. Cepat atau lambat Bangsa Trost akan mengincar tanah kelahiranmu itu. Kau adalah pemuda yang dapat diandalkan, cari kekasih kecilmu itu dan jadilah seorang pemimpin yang hebat di masa depan. Aku yakin kekasih kecilmu itu masih hidup di suatu tempat, dan tempat itu bukanlah Kekaisaran Qing pastinya.” Ye Xiaoya hendak melangkahkan kakinya namun Jing Yang memeluknya dari belakang.
“Senior, aku akan tumbuh lebih kuat agar kau dapat bergantung padaku dan aku akan membunuh mereka! Makhluk seperti mereka seharusnya tidak ada di dunia ini! Aku akan melenyapkannya! Aku akan membuang jati diriku yang lemah ini agar kau dapat menerimaku! Sampai saat itu tiba, tolong jangan lupakan aku!”
Ye Xiaoya melepaskan pelukan Jing Yang dan menatap wajah pemuda itu dalam, “Jangan kejar aku dan jangan pernah mencariku.”
__ADS_1
Kata-kata Ye Xiaoya sebelum pergi meninggalkannya, membuat Jing Yang terdiam membisu.
Di tengah-tengah tumpukan mayat Hewan Buas dan manusia, Jing Yang tertawa. Dia menertawakan dunia yang membuatnya menjadi seperti ini. Takdir benar-benar mempermainkannya.
Dua Roh Pedang keluar karena mereka merasakan mental Jing Yang goyah. Perasaan yang sekarang pemuda itu rasakan begitu memilukan.
“Ayah, andai sekarang kau masih hidup. Pasti aku akan memintamu menjelaskan semua ini padaku...”
Bersamaan dengan kepergian Ye Xiaoya, hujan membasahi hutan yang penuh dengan pepohonan. Jing Yang terduduk lemah di tanah.
“Bagaimana bisa kau mewarisi kekuatan ini pada anakmu! Padahal kau adalah orang yang menjadi panutanku!
Aku selalu berpikir kalian berdua melihatku tumbuh dewasa... Ayah, kau selalu memikirkan anakmu dan ibu ketimbang dirimu sendiri...
Aku... Aku bahkan selalu ingin menjadi seperti dirimu... suatu hari nanti.”
Yue Wang dan Lingling ikut menangis ketika melihat Jing Yang terlihat begitu rapuh. Pemuda ini berteriak keras mengeluarkan kesedihannya. Orang tuanya yang telah tiada justru meninggalkan kepingan pertanyaan di benaknya.
“Kakak...” Lingling mencoba mendekati Jing Yang begitu juga dengan Yue Wang.
“Saudaraku Jing Yang...”
Jing Yang menyeka air matanya dan menatap langit yang kian menggelap. Dia membiarkan hujan membasahi wajah dan tubuhnya.
“Kakak Yue Wang... Lingling... Biarkan aku sendiri...”
Yue Wang dan Lingling menjauh dari Jing Yang begitu juga dengan Roh Sang Hitam. Mereka melihat air mata pemuda itu bercampur dengan hujan yang menerpa tubuh dan wajahnya.
___
Hmm. Jadi sampai sini jelas kan. Kenapa Jing Yang dan Ye Xiaoya terlihat seperti bukan guru dan murid. Dan kenapa Roh Sang Hitam nyuruh Jing Yang untuk memperlakukan Ye Xiaoya dengan baik.
__ADS_1
Mengungkapkan lewat kata-kata aja sulit, apalagi lewat ucapan. Terimakasih untuk komentar positifnya, buat yang komen negatif, tenang aku gak akan peduli kata-kata anda. Jika tidak suka dengan gaya penulisan novelku yang begini begitu silahkan tinggalkan, gak maksa juga kan. Cuma ngingetin aja, capek loh baca novel gratis seratus chapter lebih, hah!