Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 33 : Ye Xiaoya, Gadis Tertidur Yang Sadis.


__ADS_3

Satu hari telah berlalu sejak Jing Yang meninggalkan Kota Cunfei. Sekarang matahari terlihat mendung, rintik-rintik gerimis hujan mengundang Jing Yang untuk berteduh di bawah pohon besar yang ada di hutan.


Bekal yang diberikan penduduk kota sudah mulai dingin, namun masih belum sepenuhnya basi. Daging Kelinci Petinju menjadi peneman makan siangnya. Setelah matahari menampakkan wujudnya, dan langit mendung perlahan memudar. Jing Yang kembali melanjutkan perjalanannya.


Hutan yang dia lewati memang ditempati Hewan Buas, tetapi tidak terlalu mengganggu perjalanannya. Jing Yang terus berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh dan menuruni sebuah lereng bukit. Tempat yang dia tuju masih jauh, di dalam peta tercatat butuh waktu tiga hari untuk sampai di Kota Shendong, jika berjalan dari Kota Cunfei.


Malam ini dia terus berlari dan melangkahkan kakinya tanpa henti karena ingin lebih cepat sampai di Kota Shendong. Empat jam sebelum matahari terbit, Jing Yang berbaring di atas padang rumput untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


“Lebih cepat dari yang kukira...” Jing Yang tersenyum tipis ketika sinar matahari mengenai wajahnya. Perlahan dia mulai berdiri dan mencari sumber suara gemercik air yang terdengar jelas di telinganya.


“Itu dia...” Jing Yang tersenyum lebar setelah melewati semak belukar dan mendapati sungai yang cukup besar dengan air yang jernih.


Jing Yang membasuh wajahnya dan menyatukan kedua telapak tangannya untuk mengambil air sebelum menyiramkannya pada wajahnya sendiri.


“Segarnya...” Jing Yang menggumam penuh kepuasan. Kemudian dia kembali melanjutkan perjalanannya menuju Kota Shendong.


Ketika siang hari, Jing Yang berada di bukit yang tinggi. Ada jalan setapak menuju ke bawah, Jing Yang berlari dengan cepat menuruni jalan setapak tersebut. Sekilas dia melihat bayangan Kota Shendong yang terlihat dari atas bukit.


Jing Yang melihat ada sebuah bukit tinggi yang ada disekitar Kota Shendong. Langkah kakinya dia percepat karena telah melihat Kota Shendong. Dengan tidak sabaran Jing Yang ingin sampai di Kota Shendong ketika sore hari tiba.


Namun dari kejauhan terlihat ada siluet manusia yang tergeletak di tanah.


“Mayat?” Jing Yang menyipitkan matanya melihat bayangan didepannya. Walau masih jauh, tetapi mata Jing Yang dengan jeli melihat seorang manusia dengan pakaian serba hitam tertidur di jalan.


“Itu manusia. Dari arah hutan ada sekelompok manusia yang memiliki kemampuan. Aku bisa merasakannya, hati-hati...” ucap Roh Sang Hitam mengingatkan.


Jing Yang mempercepat langkah kakinya. Bayangan tubuh manusia itu terlihat semakin jelas, Jing Yang melebar matanya karena melihat seorang gadis cantik yang tertidur di tanah dengan dua pedang yang menjadi gulingnya.


Wajah gadis itu terlihat masih muda, Jing Yang berpikir jika umur gadis dihadapannya berkisar sekitar 17 sampai 22 tahun. Rambut hitam yang panjang, dengan hiasan rambut yang menambah kesan kemanisannya.


“Daging...” Gadis itu menggumam dalam tidurnya. Jing Yang memeriksa kondisi gadis tersebut untuk sekedar memastikan.


“Dia masih bernyawa. Apa yang harus aku lakukan, Guru?” Jing Yang melirik Roh Sang Hitam yang menunjuk sesuatu di belakang.

__ADS_1


“Gadis itu harus dibunuh!” Suara pria terdengar. Jing Yang langsung menoleh dan melihat ratusan pria bersenjata lengkap dengan pakaian yang terlihat jika mereka bukan berasal dari Kekaisaran Jiang.


“Kenapa kalian ingin membunuhnya?” Jing Yang mewaspadai pria yang berada paling dekat dengannya. Tanpa menjawab perkataannya, pria itu mengayunkan pedangnya pada gadis yang masih tidur dengan lelap di tanah.


Jing Yang segera menarik pedangnya dan menahan tebasan pedang pria yang mengincar gadis tersebut. Puluhan orang terkejut melihat sekilas tangan Jing Yang mengambil pedang dari udara.


“Kau punya cincin itu? Sepertinya aku juga harus membunuhmu!” Setelah melihat Jing Yang mengambil Pedang Gravitasi dari dalam Cincin Dewa. Pria yang menyerangnya mulai memainkan pedangnya dengan lincah.


Jing Yang tidak punya pilihan lain selain mempertahankan dirinya, karena menurutnya gadis yang sedang tertidur di tanah tidak punya salah. Permainan pedangnya semakin lincah, perlahan tebasan pedang Jing Yang mulai membuat pria dengan wajah yang sangar itu mengerutkan dahinya.


Setelah terdesak karena betukar serangan dengan Jing Yang, pria itu mengumpat dalam hatinya dan menatap bawahannya.


“Kalian semua serang dia!” Serangan dari berbagai arah dapat diatasi Jing Yang dengan mudah. Namun posisi Jing Yang semakin lama semakin terdesak. Posisi Jing Yang bagaikan seekor singa yang tidak ingin membunuh kawanan kerbau, walau singa itu sendiri diserang kawanan kerbau habis-habisan.


“Apakah mereka terlalu baik untuk kau bunuh?” Jing Yang melirik ke arah Roh Sang Hitam, namun suara perempuan yang terdengar di telinganya bukanlah suara milik Roh Sang Hitam.


“Hoaam!” Gadis yang tertidur menguap dan menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


Jing Yang mengernyitkan dahinya karena dirinya berniat menolong gadis itu, justru mendaparkan ceramah dari gadis yang dia tolong.


“Sepertinya kalian tidak akan melepaskanku begitu saja. Aku sudah naik kapal melewati lautan, tetapi kalian masih bisa mengejarku. Tidak ada pilihan lain!” Gadis itu menarik pedangnya dan membunuh puluhan pria yang mengeroyok Jing Yang dalam sekejap.


Permainan pedangnya begitu indah, walau terkesan brutal. Cipratan darah dari tebasan pedang gadis itu membentuk seni. Darah mengalir di udara membentuk lingkaran dan bunga. Bagaikan seorang penari handal, gadis itu terus bergerak kesana-kemari sambil mengayunkan pedangnya.


Jing Yang mengerjapkan matanya berkali-kali. Entah dia harus marah atau kagum dengan hal yang dia lihat sekarang.


“Tunggu! Kenapa kau membunuh mereka semua?!” Jing Yang setengah berteriak, tubuhnya berkeringat dingin karena sudah lama dia tidak melihat potongan tubuh manusia yang ditebas dengan pedang. Bahkan tebasannya juga begitu rapi.


Gadis itu tidak kesulitan ketika membunuh sekelompok orang yang menyerangnya. Permainan pedangnya sangat anggun dan penuh seni. Jing Yang justru saat ini menjadi kagum dengan gsdis tersebut. Kagum akan permainan pedangnya sekaligus kesadisannya dalam membunuh.


“Ye Xiaoya! Serahkan kitab itu! Kau tidak akan hidup tenang jika membunuhku!” Pria yang menyerang Jing Yang berkeringat dingin walau mengancam gadis yang ternyata bernama Ye Xiaoya.


“Aku tidak peduli dengan hal itu. Di tempat yang baru ini, aku juga akan memulai kehidupan yang baru...” Gadis itu kembali menebaskan pedangnya membunuh pria tersebut dalam sekali tebasan. Tebasannya dalam langsung mengarah pada dada pria yang sekarang tergeletak di tanah.

__ADS_1


Setelah membunuh seluruh pria yang mengejarnya, gadis bernama Ye Xiaoya ambruk kembali ke tanah. Sekilas terdengar suara keroncong dari perutnya.


“Lapar...” Mulutnya menggumam lirih dan matanya terpejam.


Jing Yang bergidik ngeri melihat darah yang menyatu dengan tanah. Darah segar itu mengalir layaknya air. Potongan tubuh manusia juga berceceran, bahkan bau amis yang menyengat membuat Jing Yang segera menggendong tubuh Ye Xiaoya dan membawanya ke pinggiran hutan.


“Aku harus mengubur semua orang itu...” Jing Yang berkata lirih, setelah menaruh tubuh gadis yang bernama Ye Xiaoya di tanah.


“Anak manusia, suruh kera untuk menguburkan mayatnya. Makhluk itu ahli dalam hal seperti ini.” Perkataan Roh Sang Hitam membuat Jing Yang menggunakan Cincin Roh dan menyuruh Raja Kera Emas, Jin Hou, untuk menguburkan mayat pria yang berserakan di jalanan.


“Tuan, apa kata dunia jika Hewan Buas Tahap Dewa hanya menguburkan mayat dan tidak melindungi tuannya...” Jin Hou terlihat enggan untuk menguburkan mayat-mayat yang berserakan. Tentu saja dia enggan karena Raja Kera Emas memiliki harga diri yang tinggi.


“Ini adalah perintah Dewi Naga.” Jing Yang asal menjawab. Tak butuh sedetik bagi Jin Hou untuk langsung membuat lubang dan mulai menguburkan mayat-mayat pria yang berserakan.


Jing Yang mengamati Jin Hou yang membersihkan jalanan tanah itu, bahkan membersihkannya sampai tanah itu tidak memiliki bekas pertempuran.


“Semua makhluk di Tebing Dimensi Hitam sangat takut kepada Guru. Sebenarnya aku malah jadi penasaran bagaimana Guru bisa membuat mereka ketakutan seperti ini...” Jing Yang membatin dan menghela napas panjang.


“Ehem!” Roh Sang Hitam batuk pelan dan terbang rendah mendekati gadis yang sedang tertidur pulas itu.


“Anak manusia, manusia perempuan ini dapat menjadi gurumu. Perlakuan dia dengan baik, ini perintahku.” Roh Sang Hitam terbang lebih tinggi dan tidak memberikan penjelasan lebih kepada Jing Yang.


“Baik, Guru...” Jing Yang menjawab setengah hati, sambil menggendong tubuh Ye Xiaoya di depan. Kemudian Jing Yang kembali melanjutkan perjalanannya menuju Kota Shendong.


“Jin Hou, kembali!” Jing Yang berteriak, ketika dia melihat Raja Kera Emas, Jin Hou, selesai membersihkan dan menguburkan.


Lalu Jing Yang bergegas menuju Kota Shendong karena gadis yang sedang dia gendong terlihat begitu kelaparan. Tubuhnya bergoyang ketika Ye Xiaoya bangun.


“Turunkan aku!” Ye Xiaoya bangun dan langsung menampar pipi Jing Yang.


Dalam satu kali gerakan, serta lompatannya yang pasti. Ye Xiaoya berdiri dengan terhuyung menatap Jing Yang.


“Daging...” Mulutnya menggumam, lalu dia kembali terjatuh setelah perutnya mengeluarkan bunyi, yang menandakan bila dirinya sangat lapar.

__ADS_1


__ADS_2