Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 41 : Menuju Istana Bunga Persik


__ADS_3

“Jing Yang! Tolong ampuni aku!” Lin Feng dengan begitu menyedihkan memohon kepada Jing Yang.


“Tolong jangan bunuh aku! Aku akan pergi dari sini!” Kini Lin Xiang yang memohon kepada Jing Yang.


“Saat kalian menghina dan merendahkanku. Apa aku pernah memohon seperti yang kalian lakukan ini...” Jing Yang melepaskan aura pembunuh yang begitu besar. Mungkin itu adalah aura pembunuh dengan menggunakan seluruh auranya. Jing Yang sebisa mungkin tidak ingin membuat pemuda dihadapannya pingsan.


Tubuh Lin Feng dan Lin Xiang gemetaran. Tekanan aura pembunuh yang dilepaskan Jing Yang membuat mereka berdua sadar jika tidak ada cara untuk lepas dari pemuda yang dahulu mereka hina dan tindas habis-habisan.


“Jing Yang, kau adalah orang yang baik. Kau tidak dendam padaku kan?” Lin Feng memberanikan diri menatap Jing Yang.


“Dendam?” Jing Yang tertawa dan kepalanya mendongak ke atas, setelah menatap langit beberapa menit, Jing Yang menatap dingin Lin Feng, “Setelah kau menceburkan darah pada orang yang tak bersalah. Beraninya kau membicarakan tentang dendam denganku ini, hah?!”


Wajah Lin Feng langsung memucat melihat kemarahan Jing Yang. Bahkan Lin Xiang yang berada disampingnya tidak bisa berbicara sepatah kata karena begitu ketakutan dengan tekanan aura pembunuh yang dilepaskan Jing Yang.


“Yang‘er! Jangan lepaskan mereka!” Ye Xiaoya datang menghampiri Jing Yang.


Ye Xiaoya menatap tajam Lin Feng dan Lin Xiang dalam waktu yang lama. Kedua pemuda dihadapannya itu telah melakukan kejahatan yang keterlaluan. Walau semua itu karena kesombongan dan keangkuhan mereka, tetapi Ye Xiaoya bisa merasakan ada perasaan yang membuatnya ingin membunuh Lin Feng dan Lin Xiang.


“Anak manusia. Kedua manusia buruk rupa ini telah merenggut kesucian puluhan gadis di pulau tempat tinggalmu. Bukan itu saja, semua pendekar yang telah mati juga melakukan kesalahan besar karena membunuh penduduk disana...” Roh Sang Hitam memberitahu kepada Jing Yang tentang Lin Feng dan Lin Xiang.


“Kalian pasti berpikir, aku adalah anak yang menyedihkan dan menderita. Mungkin kalian telah lupa setiap kali mulut kalian mencaciku, tangan kalian memukulku dan kaki kalian menendangku. Manusia seperti kalian akan melupakan semua itu dengan mudah. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa di masa lalu. Aku berbeda dengan diriku yang dulu, jadi akan kukatakan secara langsung...” Jing Yang berkata penuh emosi, sambil mengaliri tenaga dalamnya pada bilah pedangnya.


“Kalian semua telah melukai orang yang kusayangi! Kalian telah membuat mereka menderita! Dan kalian tidak pernah mencoba berpikir sekalipun untuk memikirkan perasaan mereka!”


Lin Feng menatap Lin Fang dan hendak meminta pertolongan, namun terlihat Lin Fang bersama bawahannya tidak peduli dengannya.


“Kalian sudah menyakiti seseorang yang sangat kusayangi dan membuat mereka menderita! Jika berani melukai seseorang, maka harus siap untuk terluka! Jangan pikir semua ini bisa diselesaikan hanya dengan meminta maaf! Berani berbuat, harus bersiap menerima akibatnya! Inilah balasan karena kalian telah melukai orang yang kusayangi!”


Jing Yang menebaskan pedangnya memotong lautan hingga terbelah membentuk ombak besar. Petir menyambar ketika Jing Yang menyarungkan pedang miliknya sepenuhnya.


“Kalian pikir dengan meminta maaf semuanya akan selesai! Jangan bercanda! Berani melukai orang yang kusayangi! Kalian harus merasakan akibatnya!” Jing Yang membunuh Lin Feng dan Lin Xiang dalam satu tarikan pedangnya yang tidak sepenuhnya terlepas dari sarungnya.


Tubuh Lin Feng dan Lin Xiang hancur berkeping-keping. Tubuh keduanya masuk ke dalam tanah yang berlubang karena kekuatan gravitasi dari pedang milik Jing Yang.


Setelah membunuh Lin Feng dan Lin Xiang. Tubuh Jing Yang terhuyung sebelum ambruk ke tanah. Ye Xiaoya membawa tubuh Jing Yang dan mengajak Lin Fang bersama kelima pendekar yang menjadi bawahannya menuju permukiman penduduk kota.


___


Beberapa jam setelah pertempuran di pelabuhan kota. Malam hari di depan Penginapan Pondok Kelapa. Tangis haru dari Shen Mi pecah ketika bertemu dengan kedua orang tuanya dan adiknya. Sementara itu Jing Yang masih tertidur pulas di ranjang ditemani Ye Xiaoya.


Ye Xiaoya beranjak pergi dan ingin mengetahui keberadaan Xue Qinghua dan Xue Bingyue dari Lin Fang.


Lin Fang memberitahu Ye Xiaoya jika Xue Qinghua berada di Negeri Kabut Berdarah. Negeri tersembunyi, tempat yang tidak ada di peta Benua Dataran Tengah. Konon tempat itu sulit untuk ditemukan dan dimasuki.

__ADS_1


Sedangkan Xue Bingyue dijual ke Kekaisaran Qing lewat bisnis perdagangan manusia milik Pangeran Jiang Feng.


Ye Xiaoya memijat keningnya dan menggelengkan kepalanya karena dirinya benar-benar merasa telah terjebak oleh sebuah takdir karena mengenal Jing Yang.


“Nona Ye, kami berlima ada misi untuk menemukan keberadaan Negeri Kabut Berdarah. Setidaknya, aku mewakili pendekar yang dahulu diselamatkan mendiang suami Ketua Xue Qinghua, akan melanjutkan perjalanan menuju Negeri Kabut Berdarah...” Lin Fang tidak menjelaskan secara detail. Sebelum pergi, Lin Fang memberikan sebuah peta menuju Istana Bunga Persik.


“Ini...” Ye Xiaoya menerima peta pemberian Lin Fang dan menatapnya lama.


“Tetua Xue Lihua berada disana bersama pendekar Pulau Salju Rembulan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa menjelaskannya, jika Nona Ye ingin mengetahuinya. Maka tanyakan langsung pada Tetua Xue Lihua...” Lin Fang mengakhiri pembicaraan dan pergi dari Penginapan Pondok Kelapa.


Ye Xiaoya tidak menghentikan tindakan Lin Fang bersama bawahannya itu. Sekarang dia sedang penasaran dengan kekuatan yang ada di belakang Pangeran Jiang Feng.


Keesokan harinya setelah pergelojakan hebat yang terjadi di Kota Xuedong. Akhirnya Jing Yang terbangun. Ketika matanya membuka, pelukan hangat dari Shen Mi membuat Jing Yang kebingungan.


“Shen Mi, syukurlah. Kupikir kau sudah...” Jing Yang tidak menyelesaikan perkataannya dan menutup matanya dengan telapak tangannya.


”Terimakasih Jing Yang. Terimakasih...” Shen Mi masih memeluk Jing Yang dengan erat, “Aku akan memberikan segalanya...”


“Sudah cukup. Aku tidak memerlukan semua itu...” Jing Yang menjawab lirih sambil mendorong tubuh Shen Mi pelan.


“Shen Mi. Seharusnya aku yang meminta maaf. Aku terlalu naif, seandainya aku langsung membunuh mereka. Kalian tidak akan—” Shen Mi menyentuh pipi Jing Yang. Pemuda itu meneteskan air matanya karena merasa bersalah dengan tindakannya yang membuat Shen Mi bersama pelayanan penginapan menderita.


“Jangan salahkan dirimu sendiri, Jing Yang. Ini bukan salahmu...” Shen Mi ikut menangis karena mengingat pelayannya banyak yang mati demi melindungi dirinya. Bahkan kedua pelayan yang telah bersamanya sejak kecil juga telah mati dengan cara yang mengenaskan.


“Guru...” Jing Yang sudah melepas pelukan Shen Mi dan berdiri.


Shen Mi keluar dari kamar Jing Yang dengan wajah yang memerah. Sedangkan Ye Xiaoya tersenyum tipis karena merasa ada yang disembunyikan Jing Yang.


“Apa dia menyembunyikan daging sapi milikku?” Ye Xiaoya menebak dalam hati. Kemarin malam, Jendral Besar Huan Chen membelikan daging sapi untuk Ye Xiaoya. Sehingga gadis berparas cantik yang sebenarnya berumur dua puluh dua tahun itu, berpikir jika Jing Yang telah mencuri daging sapi miliknya.


“Ah, itu tidak mungkin. Lagipula bocah polos ini selalu mengikutiku...” Ye Xiaoya menggumam dan menghela napas panjang. Kemudian dia memukul pipinya sendiri.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Jing Yang datang menghampiri Ye Xiaoya yang sedang duduk bersantai di depan Penginapan Pondok Kelapa.


“Apa kalian ingin pergi sekarang?” Walikota Shen An datang menghampiri Ye Xiaoya dan Jing Yang.


“Ada masalah yang harus diselesaikan. Aku hanya ingin membantu muridku ini...” Ye Xiaoya tersenyum lebar sambil merangkul Jing Yang.


“Nona Ye, aku akan sampaikan kepada Panglima Besar Shen Ho. Aku rasa kekuatan kalian berdua sangat dibutuhkan. Aku yakin di sana ada orang yang kalian cari...” Jendral Besar Huan Chen menatap Ye Xiaoya dengan serius sebelum memberikan surat kepada salah satu bawahannya, “Pria bernama Lin Song dan anggota yang tersisa dari Pulau Salju Rembulan. Aku yakin mereka sekarang berada di Ibukota Huaran, tepatnya di Kediaman Pangeran Jiang Feng.”


“Lin Song...” Jing Yang tersentak kaget sesaat, setelahnya dia menatap Ye Xiaoya yang tersenyum padanya.


“Yang‘er, di Ibukota Huaran akan terjadi kekacauan besar. Kita berdua harus pergi ke Istana Bunga Persik sebelum pergi ke Ibukota Huaran...” ujar Ye Xiaoya kepada Jing Yang.

__ADS_1


“Maksud, Guru?” Jing Yang bertanya karena kebingungan.


“Aku akan jelaskan di perjalanan. Aku juga akan mengajarimu beberapa cara meningkatkan tenaga dalam di perjalanan...” Ye Xiaoya menjawab sambil meremas rambut Jing Yang.


Selepas Ye Xiaoya, Jing Yang, Jendral Besar Huan Chen dan Shen An berbincang. Shen Liu datang bersama istri dan anaknya.


“Sekarang Kota Xuedong telah kembali seperti dulu. Semoga Nenek Hua cepat ditemukan.” Shen Liu menyeka air matanya dan menatap Ye Xiaoya beserta Jing Yang.


“Terimakasih banyak, Nona Ye, Tuan Muda Jing Yang. Kami, penduduk kota ini mungkin akan terus menderita jika tidak ada kalian...” Ucap Shen Liu sambil membungkuk kepada Ye Xiaoya dan Jing Yang.


“Tidak apa—”


“Daging tadi malam enak. Aku ingin daging lagi. Aku akan sangat berterimakasih jika Keluarga Shen menganggap ini menjadi hutang seumur hidup kalian...” Ye Xiaoya memotong perkataan Jing Yang dan menatap Shen An dan Shen Liu dengan wajah yang datar.


‘Kenapa Guru terlihat seperti ingin menjadi orang yang terlihat tidak baik?!’ Jing Yang berkata dalam hatinya dan menghela napas panjang karena sikap Ye Xiaoya.


“Kalau itu, aku sudah siapkan Nona Ye...” Shen An tersenyum canggung dan menunjuk gerobak yang berisi daging bakar dan segala jenis daging sapi yang telah dimasak matang-matang dengan berbagai macam hidangan.


“Wah, sungguh! Terimakasih Walikota Shen!” Ye Xiaoya langsung mendorong gerobak tersebut dan tersenyum puas, “Yang‘er, ayo berangkat!”


“Kuharap kau menemukannya, aku akan mendoakan yang terbaik untukmu, Jing Yang!” Shen Mi memegang kedua tangan Jing Yang, kemudian kedua bola matanya menatap lurus Jing Yang, “Aku akan selalu menantimu. Aku harap bisa seperti perempuan yang kau cintai itu...”


“Kakak Jing Yang, terimakasih telah menyelamatkan kami...” Adik Shen Mi memeluk Jing Yang dan menangis.


“Terimakasih, Yang‘er. Aku sangat berhutang budi padamu. Mungkin Mi‘er terlalu tua untukmu, jika kau menyukainya, maka aku akan menitipkan anakku ini padamu. Aku harap kau bisa menjaganya dan membuatnya bahagia...” Perkataan Ibu Shen Mi membuat Jing Yang dan Shen Mi tersedak.


“Untuk saat ini, aku akan melanjutkan perjalananku ini. Aku belum memikirkan tentang hal ini. Jadi, maaf...” Jing Yang merasa bersalah, namun Ibu Shen Mi justru tersenyum lembut.


“Semoga kau cepat bertemu dengannya, Yang‘er..." Ibu Shen Mi mengelus rambut Jing Yang sebelum berdiri di samping suaminya.


Jing Yang berpamitan dengan Shen Mi sebelum menyusul Ye Xiaoya. Banyak penduduk kota yang mengantar Jing Yang dan Ye Xiaoya sampai ke gerbang depan, Kota Xuedong.


“Apa itu Cincin Dewa?” Jing Yang terkejut melihat Ye Xiaoya memasukkan daging sapi ke udara.


“Oh, ini Cincin Penyimpanan...” Ye Xiaoya memperlihatkan isi Cincin Penyimpanan miliknya. Wajah Jing Yang tersentak kaget menatap ruangan putih yang isinya hanya daging dan beberapa kain yang entah isi didalamnya itu apa.


”Aku mendapatkannya dari mereka semua...” Ye Xiaoya menunjuk penduduk kota yang melambaikan tangannya.


‘Aku tidak peduli dengan itu!’ Jing Yang berteriak dalam hatinya dan membiarkan Ye Xiaoya berjalan di depan.


“Anak manusia, gurumu itu sangat unik...” Roh Sang Hitam terkekeh melihat tingkah Ye Xiaoya. Sedangkan Jing Yang menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan dirinya.


Setelah mengakhiri kegelapan yang menyelimuti Kota Xuedong. Kini Jing Yang bersama Ye Xiaoya pergi menuju Istana Bunga Persik.

__ADS_1


__ADS_2