
Layaknya sang bayangan, Jing Yang terus terjaga dan menatap sinar rembulan dari kejauhan. Menatap bulan di atas sana membuat Jing Yang teringat akan malam yang berapi-api itu.
Sosok Xue Bingyue bagi Jing Yang adalah cahaya yang terang, gadis itu menjadi alasan utamanya terus bertahan hidup. Mungkin dia sudah tidak bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya, tetapi dia bisa pergi ke masa depan agar masa lalu yang memilukan itu tidak terulang lagi.
Guyuran air menerpa setiap tubuhnya. Jing Yang menikmati dinginnya air pagi sebelum sarapan pagi di dalam Istana Yin.
Sementara di kamar sebelah, Xue Rong, Xue Bingyue dan Xue Que sedang sarapan pagi bersama di dalam kamar.
“Yueyue berikan minuman hangat ini pada Rubah Putih. Ini merupakan air rebusan dari Ginseng Dewa dan Jahe Dewa...” Xue Rong memberikan segelas minuman hangat para Xue Bingyue.
“Baik, Ka-” Xue Bingyue hampir menyebut nama Xue Rong dengan sebutan kakak. Dia langsung berjalan memasuki kamar sebelah dan mengetuk pintu kamar berkali-kali.
Saat ini Jing Yang baru selesai sarapan pagi bersama Keluarga Yin Ruo setelah mandi. Ketika kembali ke kamar dia mendapati Xue Bingyue yang sedang berdiri di pintu kamar.
“Ada apa?” Jing Yang menyapa sambil memperhatikan Xue Bingyue yang terlihat cantik dan manis.
“Rubah Putih, aku hanya mengantarkan minuman hangat ini...” Xue Bingyue memberikan gelas itu kepada Jing Yang.
“Terimakasih...” Jing Yang menerima gelasnya dan menatap Xue Bingyue yang memasuki kamar sebelah.
Kemudian dia duduk di ranjang sambil meminum air hangat rebusan Ginseng Dewa dan Jahe Dewa. Setelah itu Jing Yang melihat peta menuju Negeri Kabut Tersembunyi sambil menikmati minuman hangat.
____
Setelah berada di Istana Yin selama dua hari, akhirnya Jing Yang mulai melakukan pergerakan kembali ke Kota Shuyang bersama Xue Rong, Xue Bingyue dan Xue Que.
Yin Ruo, Liu Mengda dan Ma Lizi yang akan ikut dalam perjalanan, sementara istri dan anak mereka tetap tinggal di Istana Yin, Ibukota Huayin.
__ADS_1
Yin Ruo berdecak kagum saat Jing Yang mengeluarkan pedang besar sebagai pijakan, bahkan yang lebih membuatnya kagum adalah kemampuan gravitasi dan bagaimana Jing Yang menerbangkan pedang ke angkasa.
Dalam perjalanan Jing Yang tidak banyak mengobrol bersama Yin Ruo, Liu Mengda dan Ma Lizi, melainkan dia mengobrol serius dengan Xue Rong yang berniat menemani perjalanannya menuju Negeri Kabut Tersembunyi.
Jing Yang sudah menolaknya setelah diberitahu langsung oleh Xue Que tentang identitas Xue Rong dan bagaimana aturan Istana Bulan Biru.
“Senior Rong, mohon maaf. Tetapi aku tidak pantas menjadi orang yang kamu harapkan. Bagaimanapun aku hanyalah seorang bocah. Bahkan dia sama sekali tidak mengandalkanku dan mempercayaiku...” Jing Yang berbicara sambil mengingat dirinya sendiri yang sama sekali tidak mengetahui apapun tentang Ye Xiaoya.
Xue Rong tersenyum tipis, “Aku juga tidak pernah merasakan ini sebelumnya. Aku tahu kamu hanya menaruh perhatianmu pada Yueyue, dan aku tidak keberatan dengan itu.”
“Junior Yang, kamu mungkin belum sehebat harapanmu, tetapi kamu juga tidak selemah apa yang kamu pikirkan...” Xue Rong jujur dalam perasaanya dan dia tidak memungkirinya, “Maaf, Junior Yang karena aku telah menyukaimu. Tetapi kamu harus tahu, saat bersamamu aku merasa menemukan jati diriku yang dulu. Aku hanya bisa berharap, walau sekecil apapun harapan itu...”
Semenjak orang tuanya meninggal, Xue Rong kecil sudah memiliki kondisi tubuh yang tidak wajar. Salju Kekal yang menjadi aura tubuhnya bangkit dan Nadi Api membuatnya semakin menjadi seorang anak yang benar-benar memiliki kekuatan dahsyat di masa kecilnya. Hari itu Xue Rong selalu menangis ketika melihat kedua orang tuanya yang telah meninggal. Meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
“Saat itu aku hanya ingin mati. Dunia yang aku tatap tidak ada yang indah. Tetapi Nenekku yang sekarang menjabat menjadi Tetua Agung juga merasa sedih karena melihatku yang terus-menerus murung dan bersedih...” Xue Rong tersenyum manis dan menceritakan kisahnya.
Sejak melihat Tetua Agung yang mengkhawatirkan kondisinya, Xue Rong mulai berhenti menangis, dia memilih untuk tidak menunjukkan emosinya. Menjadi gadis anggun yang dingin terhadap lelaki karena demi menjaga kehormatan Istana Bulan Biru. Dan itu bukan kemauannya.
Jika Xue Rong memilih untuk mengejar Jing Yang, maka dia harus melepaskan tugas menjadi seorang Patriark Istana Bulan Biru dan meninggalkan Pegunungan Suxue.
Tetapi bagi Jing Yang, gadis ini tidak perlu bertindak sampai sejauh itu. Jing Yang merasa dirinya tidak pantas untuk Xue Rong, bahkan Xue Bingyue sekalipun.
“Senior Rong, kamu harus tetap memegang posisi Patriark Istana Bulan Biru. Suatu saat aku akan membawamu pergi dari tempat yang mengekang kebebasanmu itu. Dan terimakasih karena telah percaya padaku...”
Jing Yang memerah wajahnya melihat senyuman Xue Rong. Dia mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikirannya karena mengikuti alur cerita Xue Rong.
Roh Sang yang mengamati Jing Yang hanya tersenyum manis. Dia berharap pemuda ini dapat memikul pemilik Takdir Ilahi yang lainnya.
__ADS_1
____
Kota Shuyang tampak sunyi, bahkan semua penduduk memakai pakaian serba putih. Mereka berkumpul di tengah kota yang sekarang menjadi sebuah lapangan luas.
Kebanyakan penduduk menangis karena ibu, anak dan istri mereka telah mati. Walau beberapa masih hidup, tetapi mental mereka telah hancur dan butuh waktu yang tidak sedikit untuk pulih seperti sedia kala.
“Aku tidak menyangka akan seperti ini kondisinya...” Yin Ruo mengepalkan tangannya dan wajahnya dipenuhi kemarahan, “Aku telah gagal menjadi seorang pemimpin!”
Liu Mengda dan Ma Lizi sendiri tidak bisa menyalahkan kejadian ini sepenuhnya kepada Yin Ruo. Karena bagaimanapun pergerakan Bangsawan Ji dan Kekaisaran Ma tidak pernah mereka perkirakan sebelumnya.
“Paman Ruo, aku menaruh orang itu di sana...” Jing Yang mendaratkan pedang terbang tepat di depan kediaman Walikota Kota Shuyang.
Yin Ruo segera turun dan langsung melepaskan pukulan pada Ji Xuan. Tidak peduli tubuh Ji Xuan telah lemas ataupun lebih kurusan, tetapi apa yang dilakukan Keluarga Bangsawan Ji sungguh keterlaluan.
“Bunuh... Aku...” Ji Xuan sudah tidak memiliki tenaga lagi.
Yin Ruo langsung memerintahkan Liu Mengda untuk mengumpulkan seluruh penduduk kota di alun-alun, dia sendiri yang akan mengeksekusi Ji Xuan.
Jing Yang membiarkan Yin Ruo, Liu Mengda dan Ma Lizi mengurus masalah mereka. Sekarang yang menjadi perhatiannya adalah dokumen yang dia ambil dari Sekte Kalajengking Merah.
Xue Bingyue melihat dokumen itu dan membacanya, “Rubah Putih, bukankah waktu kita terlalu singkat. Besok adalah waktu kedatangan pasukan dari Kekaisaran Ma...”
“Tetapi pasukan militer dan pendekar yang mereka bawa masih bisa kita atasi, yang jadi masalah adalah empat orang ini...” Jing Yang menunjukkan nama pendekar yang menurutnya memilki kemampuan pendekar agung dan pendekar bumi.
Xue Rong dan Xue Que melihat dokumen yang baru saja dibaca Xue Bingyue. Setelah membacanya, Xue Rong merasa bahwa Kekaisaran Ma mengira di Kota Shuyang tidak ada pendekar yang datang membantu sehingga mengirimkan sekitar dua ratus pendekar tingkat tiga.
Jing Yang melihat wajah Xue Bingyue dan yang tertutup topeng rubah putih, kemudian dia menatap Xue Rong dan Xue Que yang sama-sama telah membulatkan tekad mereka untuk menghadang pasukan dari Kekaisaran Ma diluar Kota Shuyang.
__ADS_1
____
Tunjukkan suport kalian kepada penulis dengan memberikan, rate bintang lima, like, komentar dan vote poin/koin. Dukungan kalian sangat berarti bagi saya selaku penulis untuk semangat update di setiap chapternya.