Dragon Warrior Pair

Dragon Warrior Pair
DWP 240 - Api Ilahi


__ADS_3

“Saudara-, emmm, Kaisar, bagaimana kau dan Yueyue bisa tumbuh secepat ini? Kalian berdua adalah pasangan pendekar terbaik dinegeri ini sekarang.” Mei Hua bertanya setelah dirinya bersama Qiao Xi dan Fan Ziwei mendapatkan tugas dari Murong Qiaomi untuk mengawasi Jing Yang.


Walaupun Jing Yang tidak perlu dijaga atau diawasi karena sekarang Jing Yang adalah sosok pendekar terkuat di aliansi, tetapi sifat keras kepala dan kekhawatiran Murong Qiaomi mengalahkan segalanya bahkan Jing Yang sekalipun.


“Ini cerita yang panjang. Tetapi, tunggu sebentar..." Jing Yang berhenti terbang serta berhenti menggerakkan pedangnya yang menjadi tempat Qiao Xi dan Mei Hua berpijak.


“Saudari Mei, kau bisa memanggilku seperti yang biasa. Aku lebih menyukai itu dibandingkan panggilan formal. Aku ingin Saudari Qiao dan Senior Ziwei juga melakukan hal yang sama.” Jing Yang mengatakan itu pada Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei.


“Baik, Kaisar.” Jawab ketiganya serentak.


“Hah?” Jing Yang mengerutkan keningnya karena ekspresi ketiganya terlihat enggan menuruti perkataannya.


Tentu saja Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei merasa tidak enak memanggil Jing Yang dengan panggilan biasa. Tetapi karena tuntutan Jing Yang akhirnya ketiganya mengalah.


“Saudari Mei, Saudari Qiao, apa kalian berdua ingin bertambah kuat?” Jing Yang tiba-tiba mengingat perkataan Raja Neraka tentang Api Ilahi dalam tubuhnya.


Kembali beberapa jam sebelumnya saat Jing Yang tertidur dan bertemu dengan Raja Neraka. Percakapan keduanya membahas tentang Sembilan Permata Bunga Persik.


“Sembilan Permata Bunga Persik?” Jing Yang mengerutkan keningnya saat Raja Neraka mengatakan kepada Jing Yang jika didunia ini pemegang Takdir Ilahi tidak akan pernah memiliki satu pasangan hidup.


“Kau tidak akan percaya jika dalam empat dunia yang berbeda ada empat pemilik Takdir Ilahi, salah satunya adalah dirimu bukan?” Raja Neraka bertanya balik kepada Jing Yang.


“Guru pernah mengatakan padaku jika aku dan Yueyue adalah pemilik Takdir Ilahi...” Jing Yang bergumam pelan dan tidak menjawab pertanyaan balik Raja Neraka.


“Takdir pemilik Tubuh Yin, Tubuh Yang, dan para Jelmaan Dewi serta Sembilan Permata Bunga Persik telah terikat denganmu. Roh Sang Hitam dan Roh Sang Putih telah menandai dirimu sebagai pemilik Takdir Ilahi. Kau hanya perlu menemukan setengah pemilik Tubuh Roh Dewi dan serpihan setengah lainnya didalam tubuh beberapa wanita, setelah itu kau akan mengetahui jawabannya.” Raja Neraka menjelaskan.


“Berarti ada orang yang memegang Takdir Ilahi selain diriku?” Jing Yang menatap api yang memutari tubuhnya.


“Ya, pastinya tiga orang itu tidak berada dalam satu dunia. Kau harus mencaritahu sendiri karena aku sudah menjelaskannya.” Raja Neraka mengingatkan. Jing Yang berdiri dan menghela nafas sebelum bertanya.


“Bagaimana aku bisa mengetahuinya? Kau mengatakan padaku untuk mencari pemilik Tubuh Roh Dewi bukan?Apa maksudmu dengan setengah pemilik Tubuh Roh Dewi dan serpihan setengah lainnya?” Jing Yang penasaran akan hal ini.


“Itu... Kau terlalu kecil, ah tidak juga lagipula kau sudah meremas gunung indah wanita bernama Bai Xianlin bukan?” Raja Neraka tertawa cekikikan mengeledek Jing Yang.


“Apa hanya perasaanku saja? Entah mengapa akhir-akhir ini kau sangat lembek padaku...” Jing Yang mengerutkan keningnya memperhatikan api kecil yang berhenti bergerak dan tak lama api kecil itu bersuara.


“Si-si-siapa yang lembek? Aku hanya...” Suara Raja Neraka terdengar kebingungan mencari alasan, “Aku hanya membimbingmu! Ya, aku hanya membimbingmu menjadi Kaisar Penakluk Wanita.”


“Bukankah masa depanku suram? Kau memperlihatkannya padaku bukan? Jujur semua ucapanmu waktu itu ternyata benar. Jika aku naif, aku tidak bisa melindungi siapapun. Dan seperti katamu, saat aku membunuh berlandaskan emosi, aku tidak merasakan apapun. Hatiku terasa kosong dan aku tidak merasakan apapun.” Jing Yang menanggapi ucapan Raja Neraka sambil membuka telapak tangannya menciptakan api sebelum meremas erat tangannya.


“Tenang saja, kau memiliki para wanita yang akan menyadarkanmu. Semua akan baik-baik saja karena cepat atau lambat aku akan mengakuimu dan memberikan seluruh kekuatanku padamu.” Raja Neraka terdengar tertawa bahagia.


Jing Yang tersenyum lebar mengetahui ini, “Jadi apa permintaanmu?” Jing Yang bertanya dan akan memenuhi apapun permintaan Raja Neraka karena jujur saja selama ini Raja Neraka selalu mengawasi dirinya selain Roh Sang Hitam.


“Dua permintaan.” Raja Neraka menanggapi cepat.


“Apa itu?” Jing Yang penasaran.


“Pertama kau harus berjanji padaku untuk mematahkan kutukanku dan menemukan pemilik Tubuh Roh Dewi. Jangan ragu membentuk Kekaisaran Haremmu sendiri. Cintai mereka semua dan lindungi semuanya.” Raja Neraka tertawa setelah mengatakan permintaan pertamanya.


Jing Yang mengerutkan keningnya dan menggerutu kesal, “Sial, pasti kau sudah merencanakannya bukan? Aku tidak tahu harus menjawab apa, tetapi aku akan berusaha memenuhi permintaan pertamamu ini. Jadi apa permintaanmu yang kedua?”

__ADS_1


Raja Neraka terdiam lama sebelum hembusan angin menerpa tubuh Jing Yang dengan segala kesejukannya.


“Jing Yang, aku serahkan segalanya padamu. Ciptakan kedamaian dibumi ini.” Kata-kata terakhir Raja Neraka terdengar sedih dihati Jing Yang dan membuat pemuda itu tanpa sadar menetes air matanya.


“Eh? Kenapa aku menangis?” Jing Yang menyeka air matanya dan tak lama muncul penglihatan misterius yang disana terlihat pemuda tampan yang tak lain adalah dirinya berdiri dihadapan ketujuh orang asing yang tidak dia kenal.


Pemuda itu tidak berdiri sendiri melainkan dibelakangnya ada dua perempuan dan laki-laki. Ketiga orang dibelakangnya semuanya membawa pedang. Salah satu dari perempuan itu bertubuh kecil dan menggemaskan, sedangkan yang satunya sangat dewasa dan menggairahkan.


“Ini! Ingatan ini!” Jing Yang memegang kepalanya yang terasa sakit, “Ini milik siapa?”


“Sepertinya kau melihat masa depan lagi karena diriku. Tenang saja, setelah aku menghilang kau tidak akan merasakan sakit seperti ini lagi. Berjanjilah padaku, Jing Yang jika kau akan memenuhi permintaanku.” Raja Neraka kembali berkata.


“Ya, aku berjanji.” Jing Yang menyambut keinginan Raja Neraka dan memejamkan matanya.


“Aku akan mengakhiri semuanya.” Tanpa sadar Jing Yang mengatakan itu dengan tatapan suram dan tak lama dia mengerutkan keningnya bingung karena dirinya mengatakan hal barusan.


“Tadi kita sampai kau bertanya padaku tentang cara mengetahui tentang tiga pemilik Takdir Ilahi dan dunia ini bukan? Gampang saja, kau hanya perlu melakukan hubungan badan dengan pemilik Tubuh Roh Dewi. Itu saja.” Jawaban Raja Neraka membuat wajah Jing Yang merah padam.


“Tidak ada cara lain?” Jing Yang bertanya.


“Tidak.” Enteng Raja Neraka menjawab sebelum suara tawa menggema.


“Tenang saja, kau pasti bisa menaklukkan setengah pemilik Tubuh Roh Dewi karena dia adalah orang yang paling dekat denganmu. Selain itu, tidak tidak, aku berbicara terlalu panjang.” Raja Neraka menghela nafas panjang sebelum kembali bersuara.


“Bisa dibilang Sembilan Permata Bunga Persik merupakan setengah serpihan pemilik Tubuh Roh Dewi. Jika kau ingin mengetahui perempuan yang memiliki hati Sembilan Permata Bunga Persik, kau bisa menggunakan Api Ilahi untuk mengetahuinya. Selain itu, Api Ilahi bisa menjadi kekuatanmu untuk membantu mereka meningkatkan kemampuan lagipula mereka semua akan menjadi milikmu.” Raja Neraka tertawa saat melihat ekspresi malu Jing Yang lalu api kecil wujud Raja Neraka masuk kedalam kepala Jing Yang sebelum menghilang.


“Selamat tinggal dan jangan lupa mencoba Api Ilahi pada penasehatmu dan bawahannya itu. Jika mereka memiliki hati Sembilan Permata Bunga Persik maka Api Ilahi akan membungkus tubuh perempuan itu, jika tidak Api Ilahi akan padam.” Keheningan memenuhi Dimensi Neraka untuk sesaat sebelum suara Raja Neraka kembali terdengar.


Jing Yang mendecakkan lidahnya kesal, “Benar-benar menyebalkan.” Decakan kesalnya tidak berlangsung lama.


“Tetapi terimakasih Raja Neraka. Aku akan mencobanya sesuai keinginan sendiri.” Jing Yang tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali dari alam bawah sadarnya.


Saat ini Jing Yang sedang melakukan perjalanan bersama Xue Bingyue, Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei. Dalam perjalanan saat Mei Hua menyinggung soal meningkatnya kemampuan Jing Yang dan Xue Bingyue secara pesat tiba-tiba Jing Yang justru bertanya pada keduanya.


“Saudari Mei, Saudari Qiao, apa kalian berdua ingin bertambah kuat?” Jing Yang dengan perasaan yang tak menentu.


Keduanya terlihat bingung namun tak lama ekspresi antusias Mei Hua menjawab segalanya.


“Tentu aku ingin bertambah kuat, Kaisar.” Mei Hua menjawab penuh antusias sedangkan Qiao Xi terlihat sepemikiran dengan Mei Hua walaupun hanya menganggukkan kepalanya.


Fan Ziwei yang melihat Jing Yang mengobrol dengan Mei Hua dan Qiao Xi membatin, ‘Apa aku tidak ditanya? Aku juga ingin kuat.’


Jing Yang melepaskan aura tubuhnya sebelum membuka telapak tangannya. Dari telapak tangannya muncul setitik api yang redup.


“Saudari Mei, Saudari Qiao, ulurkan tangan kalian. Senior Ziwei juga, jika api ini membungkus tubuh kalian. Aku akan melatih kalian berdua setidaknya sampai kalian mendekati Yueyue.” Jing Yang berkata dengan santai dihadapan Fan Ziwei yang lebih tua darinya.


“Ini apa? Api ini sangat redup dan terlihat akan padam...” Fan Ziwei mengulurkan tangannya mengikuti perintah Jing Yang.


“Kenapa ini menjadi mendebarkan.” Mei Hua ikut mengulurkan tangannya.


Qiao Xi mengikuti Mei Hua dan Fan Ziwei sambil menatap Jing Yang penuh makna.

__ADS_1


“Yangyang, api ini sangat berbeda dari yang pernah kulihat disana. Api ini sebenarnya apa?” Xue Bingyue berdiri disamping Jing Yang dan bertanya.


Jing Yang tersenyum sebelum menjawab, “Ini adalah Api Ilahi. Api ini sangat cocok untuk kalian, maksudku pendekar perempuan.” Pipi Jing Yang bersemu merah.


Mei Hua, Qiao Xi, Fan Ziwei bahkan Xue Bingyue memandang Jing Yang keheranan.


“Apa kalian bertiga siap? Saudari Mei, Saudari Qiao, Senior Ziwei?” Jing Yang bertanya lebih dulu sebelum membagi Api Ilahi menjadi tiga bagian.


“Kami siap.” Ketiganya menjawab. Setelah itu Jing Yang mengarahkan Api Ilahi pada telapak tangan Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei.


Dari telapak tangan ketiganya, api itu menyebar keatas semakin menyala dan membesar sebelum membungkus tubuh ketiganya.


“Aku terbakar?” Mei Hua tersentak kaget, namun saat merasakan api yang membakar tubuhnya sangat hangat bahkan dirinya tidak merasakan sakit, Mei Hua tersenyum.


“Ini sangat nyaman seolah-olah tubuhku sedang dipeluk seseorang.” Mei Hua menambahkan.


“Api ini tidak melukaiku?” Qiao Xi memperhatikan tangannya dan berulang kali menyentuh bagian tubuhnya.


Sementara Fan Ziwei merasakan sensasi kehangatan luar biasa karena tubuhnya terasa dibelai dari segala arah, ‘Perasaan apa ini? Kenapa ini sangat nyaman dan nikmat?’


Fan Ziwei kebingungan namun matanya tak lepas menatap wajah Jing Yang yang terlihat terkejut melihat mereka bertiga.


“Kenapa mereka terbakar?” Xue Bingyue bertanya.


Jing Yang menelan ludah karena tidak percaya jika ketiga perempuan dihadapannya memilki hati Sembilan Permata Bunga Persik. Pikirannya tertuju pada Tetua Istana Bunga Persik dan membuat Jing Yang berpikir jika para Tetua Istana Bunga Persik pasti memiliki hati Sembilan Permata Bunga Persik.


‘Sialan!’ Jing Yang merasa kesal sekaligus malu.


“Yueyue, mereka bertiga memiliki potensi untuk bertambah kuat.” Jing Yang menjawab asal, Xue Bingyue mempercayainya.


“Jadi apa kau akan melatih kami, Yang Mulia?” Qiao Xi bertanya.


“Untuk itu, tunggu Saudari Qiao, kau bisa memanggilku Saudara Jing.” Jing Yang menghela nafas panjang dan tersenyum kecut.


Qiao Xi menggelengkan kepalanya, “Tidak, Yang Mulia. Aku rasa tidak sopan memanggilmu seperti dulu lagi."


“Baiklah, aku mengerti. Aku akan melatih kalian setelah kita berada dekat dengan wilayah Rongma.” Jing Yang menjelaskan metode latihannya yang simple namun menyakitkan. Ada cara untuk menghilangkan rasa sakit itu karena Jing Yang berpikir Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei tidak akan mampu menahan rasa sakit itu.


“Aku akan menjelaskan dalam perjalanan.” Jing Yang menambahkan sebelum mereka berlima kembali melanjutkan perjalanan.


Dalam perjalanan, Fan Ziwei dan Xue Bingyue mengobrol ringan, sedangkan Mei Hua mengobrol dengan Qiao Xi. Hanya Jing Yang yang menjadi pendengar baik mendengarkan obrolan empat perempuan didepannya.


‘Sepertinya aku tidak bisa mundur lagi. Metode Penyiksaan Petir dan Metode Penyiksaan Api sangatlah menyakitkan. Mereka bertiga tidak akan menahannya karena metodi ini setara dengan dibunuh oleh seorang Pendekar Dewa.’ Jing Yang berpikir keras hingga muncul suatu ide dalam pikirannya.


Dia menghela nafas panjang sebelum mempercepat langkahnya menyusul keempat perempuan yang melakukan perjalanan bersamanya.


‘Sepertinya aku harus mengorbankan diriku menerima sembilan puluh persen penyiksaan itu. Jika aku mengorbankan semuanya, maka bertambah kuatnya mereka akan percuma.’ Jing Yang membatin memperhatikan Mei Hua, Qiao Xi dan Fan Ziwei.


____


Ada yang bisa menebak siapa dua perempuan dan satu laki-laki yang berada dibelakang Jing Yang serta tujuh orang asing yang duduk melingkar.

__ADS_1


__ADS_2