
“Kalian berlagak mengenal Guru! Dasar Hewan Buas!” Jing Yang menatap Elang Salju dan Raja Kera Emas dengan angkuh.
“Kita cukup menjadi teman latihannya bukan? Percuma saja, aku yakin dia lemah!” Raja Kera Emas memukul dadanya dan mengorek hidungnya dengan jarinya.
“Bicara yang sopan? Dasar kau otak kera!” Elang Salju terbang dan mengejek Raja Kera Emas.
“Apa katamu, burung?!”
Jing Yang mengernyitkan dahinya melihat kedua Hewan Buas saling bertengkar. Kemudian dia menatap Roh Sang Hitam yang memberi tanda padanya agar menyerang kedua Hewan Buas tersebut.
“Jangan meremehkanku, Hewan Buas!” Jing Yang melepaskan aura tubuhnya dan menarik pedangnya secara perlahan, “Pedang Gravitasi!”
Tangan Jing Yang secara perlahan melepaskan Pedang Gravitasi dari sarungnya. Tubuh Elang Salju yang sedang terbang langsung terhempas ke bawah, sedangkan tubuh Raja Kera Emas langsung menempel dengan tanah.
“Burung! Apa kau yang melakukan ini?!” Raja Kera Emas merasa seperti ada bongkahan batu besar yang menindih tubuhnya.
Sedangkan Elang Salju merasa ada sesuatu yang menekannya ke bawah hingga bersentuhan dengan tanah.
“Bukan aku, kera! Sialan! Apa-apaan ini?!”
Elang Salju dan Raja Kera Emas berusaha berdiri namun tubuh mereka merasa di tekan ke bawah.
“Aku akan membunuh kalian!” Senyuman menyeringai di wajah Jing Yang namun kedua Hewan Buas itu dengan cepat menyadari karena merasakan aura yang samar-samar seperti aura milik Dewi Naga pada tubuh Jing Yang. Kedua Hewan Buas itu menyadari jika Jing Yang adalah orang yang membuat tubuh mereka seperti itu.
“Tunggu!”
Elang Salju dan Raja Kera Emas saling berpandangan dan memohon kepada Jing Yang agar tidak membunuh mereka.
“Guru, aku harus seperti apa. Mereka terlihat sedang memohon. Apa aku harus membunuh mereka dan menyerap Mutiara Roh Hewan?”
__ADS_1
Wajah Elang Salju dan Raja Kera Emas berkeringat dingin. Memang mereka bisa merasakan samar-samar aura yang mirip dengan Roh Sang Hitam sehingga kedua Hewan Buas itu merasa harus tunduk pada Jing Yang.
‘Sepertinya aku harus mengajarinya agar bertindak sesuai kata hati. Merawat, maksudku, mengajari anak manusia memang merepotkan. Dia hanya tahu cara mengambil dan menyerap Permata Iblis dan Mutiara Roh Hewan...’ Pikir Roh Sang Hitam.
“Apa kau tertarik menjadikan kedua Hewan Buas ini menjadi pelindungmu?” Roh Sang Hitam turun mendekati Jing Yang.
“Mereka lebih meyakinkan dibandingkan dengan Fang Baihu...” Jing Yang menggumam lirih sambil menatap Elang Salju dan Raja Kera Emas.
Sementara itu Fang Baihu yang sedang berada di dalam Dunia Roh batuk dan mengeluarkan bersin.
‘Apa ada Binatang Roh betina yang membicarakanku?’ Pikir Fang Baihu sambil menoleh menatap pepohonan berwarna putih sebelum kembali tertidur.
Di sisi lain, Jing Yang sedang menatap Elang Salju dan Raja Kera Emas. Tak lama dia mengeluarkan Cincin Roh sambil menggigit jari jempolnya.
“Mulai hari ini, aku, Jing Yang, akan menjadi teman kalian berdua. Kau, Elang Salju, akan kuberi nama Xue Ying. Dan kau, Raja Kera Emas, akan kuberi nama Jin Hou.”
Jing Yang tersenyum dan menggunakan Cincin Roh pada kedua Hewan Buas didepannya.
Elang Salju dan Raja Kera Emas masuk ke dalam Dunia Roh yang ada di Cincin Roh milik Jing Yang tanpa menyelesaikan perkataan mereka.
“Apa kau sudah siap berlatih. Aku akan mengajarimu cara membuka segel Tebing Dimensi Hitam.”
Raut wajah Roh Sang Hitam mendadak serius. Sedangkan Jing Yang menatap Roh Sang Hitam dan ingin menanyakan sesuatu yang mengganjal pikirannya.
”Guru, apakah Guru tidak bisa membuka segel ini sendiri? Kenapa harus menunggu aku menguasai beberapa ilmu yang diajarkan Guru?”
Roh Sang Hitam menatap Jing Yang dalam. Kemudian dia mendongak ke atas menatap langit.
“Aku tidak ingin kehilangan kekuatanku karena membuka segel. Walau kehilangan kekuatan untuk sementara, aku selalu merasa diriku tidak bisa membiarkanmu menjalani hidup tanpa arahanku. Mungkin kau akan cepat mati jika tidak kuawasi. Aku akan tetap menemanimu sampai kau menemukan manusia yang dapat kau sebut dengan Guru...”
__ADS_1
Jing Yang tidak menyangka Roh Sang Hitam sangat peduli padanya. Untuk membalas kebaikan hati Roh Sang Hitam yang sangat berjasa dalam hidupnya. Jing Yang mulai melakukan meditasi dan mengingat apa saja yang diajarkan Roh Sang Hitam sebelum memulai latihan membuka segel Tebing Dimensi Hitam.
___
Genap usia Jing Yang dua belas tahun. Tebing Dimensi Hitam akan menjadi tempat yang akan sangat dia rindukan. Kini dia sedang membentuk lingkaran segel dan mendengarkan arahan dari Roh Sang Hitam.
“Pakai Cincin Portal ini. Kekuatan Cincin Portal hanya bisa menandai satu tempat. Kau bisa kembali ke Tebing Dimensi Hitam, jika suatu saat nanti kau ingin kembali mengalahkan semua makhluk yang ada disini atau mengambil sumber daya.”
Jing Yang tersenyum mendengar penjelasan Roh Sang Hitam kemudian melakukan kontrak darah dengan Cincin Portal.
“Teknik Penyegelan : Penyucian Dimensi Hitam!”
Sebuah kubah seperti aura yang membungkus dan membentuk tulisan segel menghilang di langit. Tubuh Jing Yang berkeringat dingin dan tersungkur ke tanah setelah berhasil membuka segel Tebing Dimensi Hitam.
Roh Sang Hitam tersenyum bangga dan mengubah wujudnya menjadi Naga Hitam.
“Kita akan mencari manusia yang bisa kau sebut sebagai Guru?” Roh Sang Hitam menatap Jing Yang yang sedang berdiri dengan kedua tangan yang memegang lututnya.
“Guru, di atas tebing ini adalah Pulau Salju Rembulan. Aku bisa menemukan orang yang bisa kusebut sebagai Guru. Di sana ada Nenek, orang yang akan menjadi Guruku dan Xue Bingyue, perempuan yang ingin kutemui Guru...”
Jing Yang sudah tidak sabar bertemu dengan Xue Bingyue dan Xue Qinghua. Perlahan dia menaiki Naga Hitam yang merupakan wujud dari Roh Sang Hitam sebelum terbang ke atas keluar dari Tebing Dimensi Hitam.
“Syukurlah. Kau bisa bertemu dengannya lebih cepat. Dan aku bisa tenang, jika manusia bernama Xue Qinghua bisa menjadi Gurumu...” Roh Sang Hitam melirik Jing Yang yang sedang duduk menungganginya.
“Terimakasih, Guru. Setelah aku bertemu dengan Nenek dan Yueyue. Aku janji, kita akan mencari saudara jauh Guru!”
Setelah lama tidak berjumpa. Jing Yang sudah ingin melepas rindu pada Xue Bingyue, orang yang paling berharga dalam hidupnya.
Dengan terbang menunggangi Naga Hitam untuk keluar dari Tebing Dimensi Hitam, Jing Yang terus menatap ke atas dan hatinya tidak sabar ingin melihat Pulau Salju Rembulan.
__ADS_1
Senyuman lebar dan sedikit tangisan menghiasi wajah Jing Yang.
‘Nenek, Yueyue, aku pulang...”’